Minggu, 24 November 2013

Tidak Ada yang Merasa Aman dari "Makar" Allah Swt. & Sunnatullah Mengenai Orang-orang bertakwa dan Orang-orang Durhaka






 ۡ        بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
                               
Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  80

Tidak Ada yang Aman dari “Makar” Allah Swt.  & Sunnatullah bagi  Orang-orang Bertakwa  dan  Orang-orang Durhaka      

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam Akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai    perebutan benteng orang-orang Yahudi di Khaibar dan penebangan beberapa pohon kurma yang kualitas buahnya buruk oleh  umat Islam.   Sehubungan dengan kenyataan mengenai penghukuman atas kedurhakaan orang-orang Yahudi tersebut,  selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai  pengusiran  orang-orang Yahudi  dari Madinah di masa Nabi Besar Muhammad saw.: 
وَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ  الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ  فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ  فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ  شَآقُّوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ ۚ وَ مَنۡ یُّشَآقِّ  اللّٰہَ  فَاِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾
Dan seandainya tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga,  dan bagi mereka di akhirat ada azab Api.   Hal demikian itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan  barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya azab Allah sangat ke-ras.  (Al-Hasyr [59]:4-5). 
    Pembuangan Banu Nadhir dari Medinah  atas perintah Nabi Besar Muhammad saw. merupakan suatu hukuman yang amat ringan. Mereka selayaknya mendapat hukuman yang lebih berat lagi; dan seandainya mereka tidak dibuang, niscaya mereka telah mendapat hukuman keras dengan suatu cara lain.

Penebangan Beberapa Pohon Kurma &
Pembagian Fā-i (Harta Rampasan) tanpa Peperangan

 Karena Allah Swt. mengetahui bahwa para penentang Nabi Besar Muhammad saw. dan agama Islam (Al-Quran) akan banyak menyebarkan berbagaim fitnah keji tentang  Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran, dalam  ayat-ayat  berikut  ini Allah Swt. telah mengemukakan salah satu bukti  bahwa Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar sebagai  rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108), yaitu berkenaan dengan penebangan pohon kurma milik orang-orang  Yahudi di Khaibar,  firman-Nya:
مَا  قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ  لِّیۡنَۃٍ  اَوۡ  تَرَکۡتُمُوۡہَا قَآئِمَۃً  عَلٰۤی  اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Pohon kurma  apa saja jenisnya yang kamu tebang atau kamu membiarkannya berdiri pada akar-akarnya maka itu dengan izin Allah, supaya Dia menghinakan orang-orang durhaka.   (Al-Hasyr [59]:6).
    Yang diisyaratkan adalah penebangan  pohon-pohon korma milik Banu Nadhir oleh  orang-orang Islam (Muslim)  atas perintah  Nabi Besar Muhammad saw. seperti dinyatakan dalam  Al-Hasyr  ayat  3 sebelumnya, karena  telah mengurung diri mereka di dalam benteng-benteng mereka sebagai penentangan terhadap perintah Nabi Besar Muhammad saw. .  supaya mereka menyerah secara baik-baik.
  Setelah pengepungan berlangsung beberapa hari tetapi tidak juga ada tanda-tanda orang-orang Yahudi itu akan menyerah,  kemudian  Nabi Besar Muhammad saw.   memerintahkan untuk memaksa mereka menyerah yaitu  dengan menebangi beberapa pohon-pohon kurma milik mereka dari jenis linah  yang mutu buahnya sangat buruk dan sama sekali tidak berguna untuk dimakan manusia (Ar-Raudh-al-Unuf).
  Baru saja enam pohon kurma ditebang, mereka menyerah (Zurqani). Perintah Nabi Besar Muhammad saw. tersebut sangat ringan, lunak, dan sungguh sesuai dengan hukum perang yang beradab, sesuai yang telah dinasihatkan beliau saw. kepada pasukan Muslim jika terpaksa melakukan perang atau melakukan penyerangan kepada pihak lawan yang tidak mau menyerah secara baik-baik, di antaranya  dilarang  merusak tanaman, dan membunuh perempuan, anak-anak, orang-orang tua  serta merusak bangunan-bangunan milik mereka, kecuali jika mereka menjadikan tempat tersebut sebagai benteng pertahanan mereka seperti contohnya di Khaibar:
  وَ مَاۤ  اَفَآءَ اللّٰہُ  عَلٰی رَسُوۡلِہٖ  مِنۡہُمۡ فَمَاۤ اَوۡجَفۡتُمۡ عَلَیۡہِ مِنۡ خَیۡلٍ وَّ لَا رِکَابٍ وَّ لٰکِنَّ اللّٰہَ یُسَلِّطُ رُسُلَہٗ  عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  
Dan  harta rampasan apa pun dari mereka yang Allah berikan kepada Rasul-Nya maka kamu tidak mengerahkan kuda maupun unta untuk harta itu,  tetapi Allah memberikan kewenangan kepada rasul-rasul-Nya atas siapa pun yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu    (Al-Hasyr [59]:7).

Yang Membunuh dan yang Terbunuh” Sama-sama  Masuk Neraka

     Jadi, perlakuan lembut serta penuh rahmat yang dilakukan  oleh Nabi Besar Muhammad saw. terhadap  orang-orang Yahudi Madinah yang tidak jemu-jemunya mereka itu mencari kesempatan untuk menyusahkan bahkan membunuh Nabi Besar Muhammad saw.  benar-benar bertolak-belakang dengan keadaan umumnya umat Islam di beberapa kawasan Muslim saat ini, yang bahkan tersama saudara Muslim, hanya   karena  adanya   perbedaan dalam akidah-akidah tertentu, namun mereka tidak segan-segan untuk menumpahkan darahnya serta membunuhnya dengan cara-cara yang sangat keji, misalnya dengan  bom mobil ,  bom bunuh diri  serta tindakan-tindakan zalim lainnya yang sangat bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108).
      Jika demikian  kenyataannya yang terjadi di Akhir Zaman ini di kalangan  umumnya sesama kaum Muslimin,  maka  bagaimana mungkin Allah Swt, akan meridhai serta menolong “perjuangan” mereka,  yang oleh kedua belah pihak yang berperang   mereka yakini  sebagai “berjihad di jalan Allah” sambil meneriakan slogan “Allahu Akbar”?  Padahal yang membunuh mau pun yang dibunuh adalah sesama Muslim juga.
      Kenapa demikian? Sebab  Nabi Besar Muhammad saw.  telah bersabda bahwa jika ada dua orang Muslim berkelahi (berperang)  maka keduanya masuk neraka. Ketika salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah saw. mengapa yang terbunuh pun masuk neraka juga?” Beliau saw. menjawab, “Karena dia pun berniat (bertekad) akan membunuh saudaranya yang Muslim itu, hanya saja ia terlebih dulu  terbunuh.”   Berikut terjemahan  hadits Bukhari tersebut:
Dari Al-Ahnaf bin Qais bahwa ia berkata, "Pada suatu ketika saya hendak pergi menolong seseorang yang sedang berkelahi. Secara kebetulan saya bertemu Abu Bakar, ia pun berkata, "Mau ke mana kau?" Kujawab, "Aku akan menolong orang itu." Ia berkata lagi, "Kembalilah! Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Apabila dua orang muslim berkelahi dan masing-masing mempergunakan pedang maka si pembunuh dan yang terbunuh, keduanya masuk neraka." Aku bertanya, "Hal itu bagi pembunuh, bagaimana dengan yang terbunuh?" Beliau menjawab, "Karena orang yang terbunuh itu juga berusaha untuk membunuh saudaranya."    
      Jadi, jika pada saat ini di berbagai kawasan Muslim terus menerus  berkobar berbagai bentuk api pertentangan dan  api pertentangan  maka hal tersebut membuktikan betapa benarnya sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, sebab jika tidak demikian,  mestinya yang terjadi di kawasan umat Islam di mana pun di dunia ini yang berlaku  di sana haruslah firman-Nya berikut ini:
وَ لَوۡ اَنَّ  اَہۡلَ الۡقُرٰۤی اٰمَنُوۡا  وَ اتَّقَوۡا لَفَتَحۡنَا عَلَیۡہِمۡ بَرَکٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ  کَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰہُمۡ بِمَا  کَانُوۡا  یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾
Dan  seandainya penduduk kota-kota beriman dan bertakwa niscaya akan Kami  bukakan  keberkatan dari langit dan dari bumi bagi mereka, akan tetapi mereka telah mendustakan, maka Kami menimpakan azab kepada  mereka disebabkan  apa yang senantiasa mereka usahakan. (Al-A’rāf [7]:97).

Sunnatullah bagi “Orang-orang yang bertakwa
dan “Orang-orang  yang Durhaka

      Sunnatullah tersebut bukan hanya berlaku bagi umat Islam saja tetapi juga berlaku bagi umat beragama lainnya, termasuk golongan Ahli-KiItab, firman-Nya:
وَ لَوۡ  اَنَّ  اَہۡلَ الۡکِتٰبِ اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَکَفَّرۡنَا عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاَدۡخَلۡنٰہُمۡ  جَنّٰتِ النَّعِیۡمِ﴿ ﴾  وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ اَقَامُوا التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ  مِّنۡ رَّبِّہِمۡ لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ  مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪ ﴾
Dan   seandainya  para Ahlul Kitab benar-benar beriman dan bertakwa, niscaya Kami hapuskan dari mereka keburukan mereka dan  niscaya  Kami masukkan mereka ke dalam kebun-kebun kenikmatan.  Dan seandainya   mereka benar-benar menegakkan ajaran Taurat,  Injil,  dan apa  yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka yakni Al-Quran, niscaya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.  Di antara mereka ada umat yang mengambil jalan tengah, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan. (Al-Mādah [5]:66-67).
     Makna ayat  لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ   -- “niscaya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” adalah:
    (1) Mereka niscaya akan menerima rahmat dari langit seperti wahyu Ilahi dan hubungan dengan  Allah Swt.   juga kesejahteraan duniawi.
     (2) Mereka bukan saja akan mendapat siraman hujan pada waktunya yang tepat dan lebat dari langit, tetapi tanah pun akan memberikan hasilnya untuk mereka dengan berlimpah-limpah.
      (3) Allah Swt. niscaya akan menyediakan untuk mereka sarana-sarana bagi kemajuan ruhani maupun jasmani.
     Namun yang  kenyataan yang saat ini terjadi  di berbagai kawasan umat Islam  adalah firman Allah Swt. berikut ini:
قُلۡ ہُوَ  الۡقَادِرُ عَلٰۤی  اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ﴿﴾  
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”  Lihatlah bagaimana Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka mengerti. (Al-An’ām [6]:66).
 Azab dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan sebagainya, dan “siksaan dari bawah” berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan sebagainya.
  Kemudian ada hukuman berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir dalam perang saudara. Hal demikian ini diisyaratkan dalam kata-kata membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain, sebagaimana yang saat ini terjadi di berbagai kawasan Muslim.

Tidak ada yang Aman dari “Makar” Allah Swt.

Jadi, benarlah pernyataan Allah Swt. berikut ini,  bahwa hanya orang-orang beriman sajalah yang merasa takut terhadap “makar” Allah Swt. – seperti yang terjadi atas  Nabi Yunus a.s.  yang harus   tinggal dalam “perut ikan” selama 3 hari 3 malam  (QS.37:140-149) dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah mengalami  peristiwa penyaliban harus  tinggal  dalam  perut bumi” (gua) selama 3 hari 3 malam (4:158-159; Matius 12:38-39) --  sedang “orang-orang yang merugir” mereka merasa aman dari “makar” Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
اَفَاَمِنَ اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ  یَّاۡتِیَہُمۡ  بَاۡسُنَا بَیَاتًا  وَّ ہُمۡ  نَآئِمُوۡنَ ﴿ؕ ﴾  اَوَ  اَمِنَ  اَہۡلُ الۡقُرٰۤی اَنۡ یَّاۡتِیَہُمۡ بَاۡسُنَا ضُحًی  وَّ ہُمۡ  یَلۡعَبُوۡنَ ﴿ ﴾ اَفَاَمِنُوۡا مَکۡرَ اللّٰہِ ۚ فَلَا  یَاۡمَنُ مَکۡرَ اللّٰہِ   اِلَّا الۡقَوۡمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿٪ ﴾
Maka apakah penduduk negeri-negeri ini merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari selagi mereka tidur?   Ataukah penduduk negeri-negeri ini  merasa aman dari  kedatangan siksaan Kami kepada mereka, waktu matahari naik sepenggalah sedangkan mereka bermain-main?   Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Maka tidak ada yang merasa dirinya aman dari makar Allah kecuali kaum yang rugi. (Al-A’rāf [7]:98-100).
       “Makar” Allah Swt. tersebut terjadi pula pada  orang-orang Yahudi setelah diusir dari Madinah oleh Nabi Besar Muhammad saw. kemudian mereka membuat yang   benteng perlindungan di Khaibar, yang mereka yakini akan dapat menyelamatkan mereka dari  orang-orang Muslim yang mengepung mereka di bawah  pimpinan Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ سَبَّحَ  لِلّٰہِ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَخۡرَجَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ مِنۡ دِیَارِہِمۡ  لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ ؕؔ مَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ  یَّخۡرُجُوۡا وَ ظَنُّوۡۤا  اَنَّہُمۡ  مَّانِعَتُہُمۡ حُصُوۡنُہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ  فَاَتٰىہُمُ اللّٰہُ مِنۡ حَیۡثُ لَمۡ یَحۡتَسِبُوۡا ٭  وَ قَذَفَ فِیۡ  قُلُوۡبِہِمُ  الرُّعۡبَ یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ  بِاَیۡدِیۡہِمۡ  وَ اَیۡدِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭  فَاعۡتَبِرُوۡا یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Menyanjung kesucian    Allah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dia-lah Yang mengeluarkan orang-orang yang kafir di antara Ahlikitab dari rumah-rumah mereka pada pengusiran pertama.  Kamu sekali-kali tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun menyangka bahwa benteng-benteng akan melindungi mereka dari keputusan Allah,  maka   Allah datang kepada mereka dari arah mana yang tidak mereka sangka, dan Dia  melemparkan kecemasan dalam kalbu mereka, sehingga mereka merobohkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan. (Al-Hasyr [59]:1-3). 

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

***
Pajajaran Anyar,   11 November    2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar