Kamis, 14 November 2013

Peran Utama "Kecintaan" dan "Musyawarah" Nabi Besar Muhammad saw dalam Penciptaan Tatanan "Bumi Baru dan Langit Baru" Ruhani



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  70

          Peran Utama “Kecintaan dan “Musyawarah” Nabi Besar Muhammad saw. dalam Penciptaan Tatanan “Bumi Baru dan Langit Baru” Ruhani

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam akhir  Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai Nabi Besar Muhammad Saw. dan  peragaan Sifat Rabbubiyyat Allah Swt., bahwa  sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab 61 dan Bab 62 tentang hakikat mi’raj (kenaikan ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.  sampai Sidratul-Muntaha (QS.53:1-19),   bahwa pada umumnya   suluk peragaan akhlak  yang dimulai  dari adil, ihsan, dan iytā-i dzil- qurba (memberi seperti terhadap kerabat).
      Tetapi  dalam hubungannya dengan keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, pada umumnya  manusia – termasuk para Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. -- hanya mampu memperagakan mulai dari Sifat Mālikiyat  yaitu adil,  Rahīmiyyat  yaitu ihsan dan Rahmāniyyat  yaitu iyta-I dzil- qurba  (memberi seperti kepada kerabat).
         Ada pun  mengenai Sifat Rabbubiyyat  Allah Swt.,  yang mampu memperagakan secara sempurna  hanyalah  Nabi Besar Muhammad saw., sebab beliau  saw. adalah satu-satunya Rasul Allah yang missi kerasulannya adalah  rahmat bagi seluruh alam” (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29) serta  serta selain mendapat gelar Khātaman Nābiyyin  (QS.33:41) beliau saw. pun satu-satunya Rasul Allah yang Allah Swt., para malaikat  dan orang-orang yang beriman senantiasa mengirimkan  shalawat untuk beliau saw..

Berbagai Bukti Kesempurnaan Akhlak dan Ruhani
Nabi Besar Muhammad Saw.

      Bahkan dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. telah berfirman mengenai Nabi Besar Muhammad saw.: “Law laka lamā  khalaqtul-aflāq – “kalau bukan untuk engkau, Aku  tidak akan  menciptakan alam semesta.”   Berikut beberapa firman Allah Swt. mengenai kesempurnaan  kemuliaan Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.  (Al-Anbiya [21]:108).
       Firman-Nya lagi mengenai gelar “Khātaman-Nabiyyīn” yang disalah-tafsirkan secara sempit sebagai “nabi terakhir”:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki-laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
    Kemudian mengenai  shalawat  yang wajib  dimohonkan oleh orang-orang beriman  kepada  Allah Swt.  untuk  dissampaikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. Dia berfirman:
اِنَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ  یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَیۡہِ  وَ سَلِّمُوۡا  تَسۡلِیۡمًا﴿﴾
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah untuknya dan mintalah selalu doa keselamatan baginya. (Al-Ahzab [33]:57).
        Dalam Bab 48 dan 49 telah dikemukakan mengenai berbagai firman Allah Swt. tentang proses penciptaan tatanan alam semesta  berdasarkan Sifat Rabbubiyyat-Nya, antara lain adalah mengenai peristiwa “Big Bang” (ledakan besar) yang diyakini oleh para ilmuwan kosmologi sebagai awal   terjadinya tatanan alam semesta jasmani, firman-Nya:  
اَوَ لَمۡ  یَرَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ 
Tidakkah orang-orang  yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu  lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Tidakkah  mereka   mau beriman?     (Al-Anbiya [21]:31).
       Ayat ini mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran ilmiah. Agaknya ayat itu menunjuk kepada alam semesta, ketika masih belum mempunyai bentuk benda, dan ayat itu bermaksud menyatakan bahwa seluruh alam semesta khususnya tata surya, telah berkembang dari gumpalan (ratqan) yang belum mempunyai bentuk atau segumpal kabut (ratqan).
      Selaras dengan asas yang Allah Swt.  lancarkan,  Dia memecahkan gumpalan zat itu dan pecahan-pecahan yang cerai-berai menjadi kesatuan-kesatuan wujud tata-surya (“The Universe Surveyed” oleh Harold   Richards dan “The Nature of the Universe” oleh Fred Hoyle). Sesudah itu Allah Swt. menciptakan seluruh kehidupan itu dari air   وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ  شَیۡءٍ حَیٍّ    -- “Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air.

Penciptaan Bumi Baru dan Langit Baru Keruhanian

      Ayat ini nampaknya mengandung arti bahwa seperti alam kebendaan, demikian pula alam keruhanian pun berkembang dari gumpalan yang belum mempunyai bentuk, yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau dan kepercayaan-kepercayaan yang bukan-bukan.
     Sebagaimana Allah Swt. dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset -- dan sesuai dengan rencana agung -- telah memecahkan gumpalan zat itu, dan pecahan-pecahan yang bertebaran menjadi kesatuan wujud berbagai tata surya, maka persis seperti itu pula Dia mewujudkan suatu tertib ruhani yang baru (QS.14:49)  dalam suatu alam yang berguling-gantang di dalam paya-paya cita-cita yang kacau-balau.
      Apabila  umat manusia tenggelam ke dalam kegelapan akhlak yang keruh  serta angkasa keruhanian menjadi tersaput oleh awan yang padat dan sesak (QS.30:42-44), Allah Swt.  menyebabkan munculnya suatu cahaya berupa seorang utusan Ilahi (rasul Allah) yang mengusir kegelapan ruhani yang telah menyebar luas itu, dan dari gumpalan yang tidak berbentuk dan tanpa kehidupan -- yang berupa kerendahan akhlak dan ruhani --  lahirlah suatu tatanan alam semesta ruhani yang mulai meluas dari pusatnya dan akhirnya melingkupi seluruh bumi, menerima kehidupan dan pengarahan, dari tenaga penggerak yang berada di belakangnya.
      Mengenai  tatanan  atau bangunan  atau kerajaan alam semesta tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ  بِیَدِہِ  الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ  خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ  اَیُّکُمۡ  اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ  الۡغَفُوۡرُ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ  خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ  تَفٰوُتٍ ؕ فَارۡجِعِ  الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ  تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ ﴿﴾  ثُمَّ  ارۡجِعِ  الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ  یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ  الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Maha Berbarkat  Dia Yang di Tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,   Yang menciptakan kematian  dan kehidupan,  supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan   Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,   Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi. Engkau tidak akan melihat ketidakselarasan di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah,  maka lihatlah berulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu  cacat?    Kemudian pandanglah untuk kedua kali,  penglihatan engkau akan kembali kepada engkau dengan tunduk dan ia letih, (Al-Mulk [67]:1-5).
        Dalam ayat 2 Allah Swt. telah menyatakan bahwa tatanan alam semesta  jasmani ini – dengan berbagai hal yang  berlaku di dalamnya – merupakan tatanan “kerajaan” Allah Swt., dan ayat 4-5  menerangkan kesempurnaan tatanan “kerajaan” Allah Swt. tersebut.
     Ada pun makna ayat 3 ۙ  الَّذِیۡ  خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ  اَیُّکُمۡ  اَحۡسَنُ عَمَلًا  --  Yang menciptakan kematian  dan kehidupan,  supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya,”  yaitu bahwa hukum hidup dan mati berlaku di seluruh alam. Tiap-tiap makhluk-hidup tunduk kepada kehancuran dan kematian.
      Kata “kematian” di sini seperti juga dalam ayat QS.2:29 dan QS.53:45, disebut sebelum kata “kehidupan.” Alasannya ialah, rupa-rupanya kematian atau tanpa-wujud itu merupakan keadaan sebelum ada kehidupan, atau mungkin karena “mati” itu lebih penting dan lebih besar artinya daripada “hidup,” karena kematian membukakan kepada manusia pintu gerbang kehidupan kekal dan kemajuan ruhani yang tidak berhingga di alam akhirat,  sedang kehidupan di dunia ini hanyalah suatu tempat persinggahan sementara dan merupakan suatu persiapan bagi kehidupan kekal lagi abadi di balik kubur.
     Itulah sebabnya selanjutnya dikatakan  لِیَبۡلُوَکُمۡ  اَیُّکُمۡ  اَحۡسَنُ عَمَلًا  -- “supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya” maka mereka itulah yang akan menjadi pewaris nikmat-nikmat Allah Swt., termasuk “nikmat kenabian dan nikmat kerajaan”, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ  ﴿﴾
Dan ingatlah ketika  Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antara kamu, menjadikan kamu raja-raja, dan Dia memberikan kepada kamu apa yang tidak diberikan kepada kaum lain di antara bangsa-bangsa (Al-Māidah [55:21).
      Penggantian kata kum (kamu) alih-alih kata fī-kum  dalam kalimat اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا  -- “ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antara kamu, menjadikan kamu raja-raja”,  mengandung isyarat bahwa jikalau tiap-tiap dan semua anggota suatu bangsa yang hidup di bawah kekuasaan seorang raja seakan-akan mempunyai kekuasaan dan kedaulatan, maka pengikut-pengikut seorang nabi tidak mempunyai bagian dalam kenabiannya, karena pengangkatan sebagai seorang nabi (rasul) Allah sepenuhnya merupakan wewenang Allah Swt., sedangkan pengangkatan seorang raja  peran-serta rakyat  suatu kerajaan sangat menentukan.
      Itulah sebabnya berbeda dengan para raja  duniawi,  sekali pun seluruh kaumnya melakukan pendustaan dan penentangan secara zalim kepadanya  maka yang akan hancur adalah kaum itu sendiri oleh azab Ilahi,  yang merupakan bagian dari dukungan Allah Swt. kepada  Rasul-Nya tersebut. Sedangkan seorang raja duniawi apabila seluruh rakyatnya bersatu-padu melakukan penentangan terhadapnya maka raja tersebut tidak akan dapat mempertahankan  kekuasaannya lagi. 

 Keserasian    Sempurna Tatanan Alam Semesta Jasmani   &
Tiang Penunjang” yang Tidak Kelihatan

  Kata thibāq   dalam ayat الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا – “Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi”,  bersamaan arti dengan thabāq dan dengan jamaknya athbāq. Orang mengatakan sesuatu ini thabāq atau thibāq bagi  sesuatu itu, yakni sesuatu ini berpasangan dengan itu atau sejenis itu dalam ukuran atau mutunya, dan sebagainya. Thibāq berarti juga tingkat (Lexicon Lane).
   Sungguh menakjubkan ciptaan Allah Swt. itu. Tatasurya yang di didalamnya bumi kita hanya merupakan anggota kecil itu sangat luas, bermacam-macam dan teratur susunannya, namun demikian tatasurya itu pun hanyalah merupakan salah satu dari ratusan juta tatasurya  dan kelompok tatasurya (galaxy),  yang beberapa di antaranya jauh lebih besar lagi  di dalam tatanan alam semesta ini. 
  Jutaan  bahkan milyaran matahari dan bintang itu begitu rupa diatur dan disebar dalam hubungan satu sama lain, sehingga di mana-mana menimbulkan keserasian dan keindahan. Tertib yang menutupi dan meliputi seluruh tatanan alam itu, jelas nampak kepada mata jasmani  tanpa bantuan alat apa pun dan tersebar jauh melewati jangkauan pandangan yang dibantu oleh segala macam alat dan perkakas yang dunia ilmu dan teknik telah mampu menciptakannya, seperti telescop  Hubble, yaitu telescop  ruang  angkasa yang ada di orbit bumi.
   Benarlah firman-Nya berikut ini mengenai keserasian  kerja  yang sempurna   semua komponen tatanan alam semesta ini, baik secara sendiri-sendiri maupun secara berjama’ah, semuanya “bertasbih” kepada Allah Swt.:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ﴿﴾
Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit dengan tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya,  kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia  telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut arah perjalanannya  hingga suatu masa yang telah ditetapkan.  Dia mengatur segala urusan dan Dia menjelaskan Tanda-tanda itu, supaya kamu berke-yakinan teguh mengenai pertemuan dengan Tuhan-mu. (Ar-Rā’d [13]:3).
    Kata-kata بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا  -- “dengan tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya” itu berarti:  (1) Kamu  melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa tiang-tiang; (2) bahwa seluruh langit berdiri tidak atas tiang-tiang yang dapat kamu lihat; artinya, seluruh langit itu mempunyai pendukung (penopang), tetapi kamu tidak dapat melihatnya.
     Secara harfiah ayat itu berarti  bahwa seluruh bangunan alam semesta   berdiri tanpa ditunjang oleh tiang-tiang. Secara kiasan ayat itu berarti, bahwa seluruh langit atau benda-benda langit memang memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang itu tidak nampak kepada mata manusia, umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan khusus planit-planit atau cara-cara lain, yang ilmu pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang mungkin akan ditemukan lagi di hari depan.

Daya Gravitasi Kecintaan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.
Sebagai “Rahmat bagi Seluruh Alam

     Di antara para Rasul Allah  yang membawa  syariat,  hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang  pada masa hidupnya berhasil membangun suatu tatanan kerajaan (pemerintahan) jasmani mau pun  ruhani yang keadaannya sama dengan tatanan kerajaan alam semesta jasmani, yaitu tanpa   ditopang  oleh “tiang-tiang  penunjang” yang dapat dilihat oleh mata jasmani, yaitu berdasarkan gravitasi (daya tarik-menarik),   berupa cinta-kasih dan musyawarah. Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman:
فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ ۚ وَ لَوۡ کُنۡتَ فَظًّا غَلِیۡظَ الۡقَلۡبِ لَانۡفَضُّوۡا مِنۡ حَوۡلِکَ ۪ فَاعۡفُ عَنۡہُمۡ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُمۡ وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ ۚ فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ ﴿﴾
Maka karena rahmat dari Allah-lah  engkau bersikap lemah-lembut  terhadap mereka, dan seandainya engkau   berlaku kasar dan keras hati, niscaya mereka akan bercerai-berai dari sekitar engkau, karena itu maafkanlah mereka, mintalah ampunan dari Allah untuk mereka,  bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan yang penting, dan apabila engkau telah menetapkan tekad yakni keputusan maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah  mencintai orang-orang yang bertawakal. (Ali ‘Imran [3]:160).
    Kata-kata  لِنۡتَ لَہُمۡ   --  “engkau bersikap lemah-lembut  terhadap mereka” melukiskan keindahan watak  Nabi Besar Muhammad saw.. Di antara perangai (watak) yang paling baik lagi menonjol adalah kasih-sayang beliau saw. yang meliputi segala sesuatu, karena beliau saw. diutusa sebagai rahmat bagi se;uruh alam (QS.21:108).
    Nabi Besar Muhammad saw..  penuh dengan kemesraan cinta-kasih manusiawi, dan beliau saw. bukan saja berlaku baik terhadap para sahabat dan para pengikut beliau saw., bahkan  penuh kasih-sayang dan belas-kasih terhadap musuh-musuh beliau saw. yang senantiasa mencari-cari kesempatan untuk menikam dari belakang.
     Terukir di dalam sejarah bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mengambil tindakan apa pun terhadap orang-orang munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Ubay,  yang khianat dan telah meninggalkan beliau saw. pada waktu Perang Uhud, sehingga nyaris membuat beliau saw.  menjadi syahid.  Bahkan beliau saw. meminta musyawarah (pendapat) mereka dalam urusan kenegaraan.

Pentingnya Melakukan Musyawarah

     Di samping hal-hal lain, Islam mempunyai keistimewaan dalam segi ini yaitu   Islam memasukkan unsur musyawarah ke dalam asas-asas pokoknya وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ -- “bermusyawarahlah  dengan mereka dalam urusan yang penting,” Islam mewajibkan kepada negara Islam mengadakan musyawarah dengan orang-orang Muslim dalam segala urusan kenegaraan yang penting-penting.
       Nabi Besar Muhammad saw.   biasa bermusyawarah dengan para pengikut beliau saw. sebelum perang  Badar, perang Uhud, dan perang Ahzab, dan pula ketika sebuah tuduhan palsu dilancarkan  oleh orang-orang munafik Madinah terhadap istri mulia beliau saw., Siti ‘Aisyah r.a..
      Abu Hurairah r.a. mengatakan: “Rasulullah saw. mempunyai hasrat amat besar sekali untuk meminta musyawarah mengenai segala urusan penting” (Mantsur, II, 90).  ‘Umar  bin Khaththab r.a. -- Khalifah kedua  Nabi Besar Muhammad saw. --  diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada khilafat tanpa musyawarah(Izalat al-Khifa ‘an Khilafat al-Khulafa’).
       Jadi, mengadakan musyawarah dalam urusan penting merupakan perintah asasi Islam dan menjadi suatu keharusan bagi pemimpin-pemimpin ruhani maupun pemimpin-pemimpin duniawi di kalangan umat Islam. Khalifah atau Kepala negara Islam harus meminta saran (musyawarah) dari orang-orang Muslim terkemuka, meskipun putusan terakhir tetap berada di tangannya:  فَاِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ   --  “dan apabila engkau telah menetapkan tekad yakni keputusan maka bertawakkallah kepada Allah.
       Syura atau musyawarah, menurut Islam, bukan suatu bentuk parlemen dalam artian yang dipakai di Barat. Kepala negara Islam mempunyai wewenang penuh untuk menolak saran (musyawarah) yang diajukan kepadanya. Tetapi ia tidak boleh memakai wewenang itu seenaknya saja dan harus menghargai saran (musyawarah) dari golongan terbanyak.
      Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mempertegas pentingnya peran musyawarah dan bertawakkal kepada-Nya jika telah diambil keputusan terakhir oleh pemegang wewenang tertinggi, firman-Nya:
  اِنۡ یَّنۡصُرۡکُمُ اللّٰہُ فَلَا غَالِبَ لَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ یَّخۡذُلۡکُمۡ فَمَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَنۡصُرُکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ وَ عَلَی اللّٰہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  
Jika Allah menolong kamu  maka tidak ada yang akan dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Dia meninggalkan kamu maka siapakah yang akan menolong kamu selain Dia?  Dan kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal.  (Ali ‘Imran [3]:161).

Pentingnya Berpegang-teguh pada “Tali Allah

       Ungkapan min ba’dihi   diterjemahkan  “selain Dia”, dan secara harfiah berarti  “sesudah Dia”,  dan dapat disalin menjadi “untuk melawan Dia” , artinya upaya apa pun yang dilakukan tetapi apabila Allah Swt. telah meninggalkan suatu kaum karena kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya – dalam hal ini Nabi Besar Muhammad saw. --  maka upaya-upaya mereka pasti akan menemui kegagalan. Contohnya  yang terjadi di Akhir Zaman ini.
       Kepatuh-taatan kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan umat Islam adalah mutlak harus dilakukan oleh  mereka (QS.4:60), sebab hal tersebut selain merupakan “Tali Allah” yang terulur dari langit (QS.3:103-105) juga merupakan “tali pengikat kecintaan” yang sangat kokoh, dan yang mengawali terbentuknya satu  jama’ah kaum Muslimin di zaman Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ حَسۡبُکَ اللّٰہُ وَ مَنِ اتَّبَعَکَ  مِنَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾  
Dan Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanam-kan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   Hai Nabi,   Allah mencukupi bagi engkau dan bagi  orang-orang yang mengikuti engkau di antara orang-orang beriman. (Al-Anfāl [8]:64-65).
  
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   2 November    2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar