Selasa, 05 November 2013

"Kedekatan" Sempurna Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. & Hakikat "Dua Kalimah Syahadat"




ۡ بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab  61

    “Kedekatan” Sempurna  Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt. & Hakikat “Dua Kalimah Syahadat”     

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir  Bab sebelumnya  telah dijelaskan   mengenai   tiga tingkatan landasan akhlak, firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ یَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡبَغۡیِ ۚ یَعِظُکُمۡ   لَعَلَّکُمۡ   تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan  memberi  seperti kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, mungkar, dan pemberontakan.  Dia nasihatkan kepada kamu  supaya kamu mengambil pelajaran. (An-Nahl [16]:91).
      Ayat ini mengandung tiga macam perintah dan tiga macam larangan, yang secara singkat membahas semua macam derajat perkembangan akhlak dan keruhanian manusia -- bersama segi kebaikan dan keburukannya masing-masing. Ayat ini menganjurkan (1) berlaku adil, (2) berbuat  ihsan (kebajikan) kepada orang lain, dan (3) berlaku kasih sayang antara kaum kerabat; dan sebaliknya (1) melarang berbuat hal yang tidak senonoh (fahsyaa-i), (2) berbuat keburukan (munkar), dan (3) pelanggaran yang nyata (baghyi)
   Keadilan (‘adl) mengandung arti bahwa seseorang harus memperlakukan orang-orang lain seperti ia diperlakukan oleh mereka. Ia hendaknya membalas kebaikan dan keburukan orang-orang lain secara setimpal menurut besarnya dan ukurannya yang diterima olehnya dari mereka.
      Lebih tinggi dari ‘adl (keadilan) adalah derajat ihsan (kebajikan) bila manusia harus berbuat  ihsan (kebaikan yang lebih) kepada orang-orang lain tanpa mengindahkan macamnya perlakuan yang diterima dari mereka --  atau sekalipun ia diperlakukan buruk oleh mereka -- perbuatannya tidak boleh digerakkan oleh pertimbangan-pertimbangan menuntut balasan, sekali  pun sekedar ucap  “terima kasih”  dari orang yang diperlakukan ihsan (QS.92:18-22; QS.76:6-11).
      Pada derajat perkembangan akhlak terakhir dan tertinggi, ialah ītā’i dzil qurbā (memberi seperti kepada kerabat), yakni seorang beriman  diharapkan untuk berlaku baik terhadap orang-orang lain, bukan sebagai membalas sesuatu kebaikan yang diterima dari mereka (‘adil) , begitu pun tidak dengan pertimbangan untuk berbuat lebih baik (ihsan) dari kebaikan yang ia peroleh, melainkan untuk berbuat kebaikan yang ditimbulkan oleh dorongan fitri (fitrat),  seperti ia berbuat baik kepada orang-orang yang mempunyai perhubungan darah yang dekat sekali.
     Keadaan  pada derajat akhlak tingkatan ini serupa dengan keadaan seorang ibu yang menyusui anak yang kecintaan terhadap anak-anaknya bersumber pada dorongan fitri (fitrat) seorang ibu terhadap anak kandungnya. Sesudah orang mukmin mencapai derajat  akhlak ini ini perkembangan akhlaknya menjadi sempurna.

Kesempurnaan akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad saw.

     Jadi, kembali kepada hubungan   keempat Sifat Tasybihiyyah utama Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah dengan ketiga tingkatan akhlak baik manusia tersebut adalah  (1) Sifat  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --“Pemilik Hari Pembalasan  memiliki hubungan dengan  tingkatan akhlak  baik yang disebut   ‘adl;  (2)  Sifat  الرَّحِیۡمِ   --  “Maha Penyayang” memiliki hubungan dengan  tingkatan akhlak  baik yang disebut ihsan; (3) Sifat   الرَّحۡمٰنِ  -- “Maha Pemurah”,  memiliki hubungan dengan     tingkatan akhlak   اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی (memberi seperti kepada kerabat dekat).
      Manusia tidak akan dapat melebihi ketiga tingkatan (derajat) akhlak tersebut  lalu  memperagakan secara sempurna  Sifat Tasybihiyyah  Allah Swt.  Rabbul- ‘ālamīn (Pencipta dan Pemelihara seluruh alam),  karena  hubungannya adalah dengan seluruh alam semesta.
      Kalau pun ada seorang manusia yang -- sampai batas  teringgi kemampuannya sebagai manusia -- melakukan Sifat Rabbubiyyat Allah Swt.  hanyalah Nabi Besar Muhammad saw.,  hal itu sesuai dengan firman Allah Swt. kepada beliau saw.:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiyya p21]:108).
      Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam  mulai dari benda-benda (makhluk-makhluk) yang tidak  bernyawa   (anorganik) sampai  makhluk-makhluk yang bernyawa (organik) dari golongan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, sebab amanat Islam (Al-Quran) yang diemban beliau saw. tidak terbatas kepada suatu   negeri atau kaum tertentu,  demikian pula rahmat beliau saw. tidak hanya terbatas pada golongan manusia (‘alam-ul-ins) saja tetapi juga meluas ke alam-alam lainnya, sebagaimana makna al-‘alamīn (seluruh alam) dalam ayat  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾         --   Segala  puji  hanya bagi  Allah, Tuhan  seluruh alam,   (Al-Fatihah [1]:2). 
      Dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw.  bangsa-bangsa dunia  bahkan lingkungan alam pun telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu. Itulah makna lain dari firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiyya [21]:108).

Kesempurnaan Mi’raj (Kenaikan Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw.

     Sesuai dengan pernyataan Allah Swt. tersebut, dalam sebuah Hadits Qudsi terkenal, Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Besar Muhammad saw.: ”Lawlaka lamā khalaqtul-aflāq  --  kalau bukan karena engkau Aku tidak akan menjadikan alam semesta”. (Maudhu’at al- Kabīr oleh Mullah Ali Al-Qari).
        Berikut adalah firman-Nya lagi  mengenai peristiwa mi’raj (kenaikan ruhani)  Nabi Besar Muhammad saw., yang mendukung pernyataan Allah Swt.  berkenaan dengan kesempurnaan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dalam hubunganhya dengan keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt.  – seakan-akan  keduanya telah “menyatu” bagaikan “seutas tali dua buah busur” -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang apabila  jatuh.  Sahabat kamu tidaklah sesat   dan tidak pula keliru.  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa  mengajarinya, Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi. Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat.  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,   dekat pohon Sidrah tertinggi,  yang di dekatnya ada surga  tempat tinggal. Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.   Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rab-Nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19). 
      An-najm berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh“ (Bintang Kartika atau Pleiades). Kata an-najm (bintang) itu dalam ayat   وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی    -- “Demi bintang  apabila  jatuh” dianggap juga oleh beberapa ulama sebagai mengandung arti penurunan (pewahyuan) Al-Quran dari Allah Swt. secara berangsur-angsur (QS.17:107; QS.25:33; QS.73:5), dan oleh beberapa sumber lainnya dianggap mengisyaratkan kepada diutus-Nya  wujud Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri.
   Kata jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Kasysyaf, Taj-ul-‘Arus & Ghara’ib-al-Quran). Mengingat akan arti yang berbeda-beda maka kata an-najm (bintang) dalam ayat ini dapat diterangkan:
 (1) Menurut sebuah hadits yang masyhur,  Nabi Besar Muhammad saw.     pernah mengatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang Tsuraya (QS.17:86-89; QS.32:6), maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (Bukhari, Tafsir Surah Al-Jumu’ah).
 (2) Kata an-najm (bintang) itu dapat berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri (QS.2:24-25; QS.4:83; QS.15:10; QS.47:25).
(3) Pohon Islam yang masih lemah, kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah, dan di bawah naungannya yang sejuk, bangsa-bangsa besar akan berteduh (QS.14:26-26; QS.48:30).
 (4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing dalam perjalanan mereka di padang pasir Arabia oleh peredaran bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang, yaitu  Nabi Besar Muhammad saw.    (5) Ayat ini dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam  QS.54:2 mengenai “terbelahnya bulan”.

Kemurnian Wahyu Ilahi Al-Quran yang Diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad saw.

 Makna ayat مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی  -- “Sahabat kamu tidaklah sesat dan tidak pula keliru”, bahwa cita-cita dan asas-asas ajaran Islam (Al-Quran) yang dikemukakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.      tidak salah  lagi pula beliau saw. sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu (yakni beliau juga tidak tersesat). Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia beliau  saw. dan mengingat pula cara beliau  saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikutnya.
 Kalau ayat  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --  Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” ini membicarakan sumber asal wahyu yang diterima Nabi Besar Muhammad saw. yaitu Allah Swt., maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat, firman-Nya:  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی -- “Sahabat kamu tidaklah sesat   dan tidak pula keliru,”      وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی   -- “Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.”
 Ayat  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  -- “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa  mengajarinya” yaitu bahwa   Al-Quran adalah wahyu Ilahi  yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya.
 Ayat  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    -- “Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy.”    Mirrah berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, keteguhan (Aqrab-al-Mawarid). Dzū  mirrah dapat juga berarti  orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari.
   Ayat فَاسۡتَوٰی  -- “lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy”,  ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i berarti  bahwa  ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., ungkapan itu akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya.
 Ayat وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- “Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi”, yaitu bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mi’raj beliau saw. , ketika Allah Swt. menampakkan wujud-Nya (tajjali) kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna, yang bahkan Nabi Musa a.s. pun tidak sanggup  menerimanya (melihatnya) ketika Allah Swt. bertajjali  (menampakkan kebesaran-Nya) pada  sebuah gunung (QS.7:144), demikian pula Nabi Ibrahim a.s. dan Malaikat Jibril a.s. pun  -- yang sejak awal  mi’raj mendampingi Nabi Besar Muhammad saw. – tidak mampu mendaki (naik – mi’raj) lebih tinggi lagi dari maqam (martabat keruhanian) yang telah ditetapkan Allah Swt..
Atau, ayat  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- “Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi”, ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  Lihat juga ayat 10.

Makna “Seutas Tali Dua Buah Busur” &  Hakikat Disandingkannya
 Kata Allah dan Muhammad  dalam “Dua Kalimah Syahadat”
   
       Makna ayat selanjutnya   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ   --    Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی   --    “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi.  Dalla al-dalwa berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-‘Arab).
  Ayat ini berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.      mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. condong kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.,  dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu (makrifat Ilahi) kepada segenap umat manusia.
   Qāb berarti: (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
   Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya  (Lexicon Lane;   Lisan-al-‘Arab   dan Zamakhsyari).
    Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini (seutas tali dua busur) menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   terus menaiki (mendaki)  jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah Swt.,  sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan  Nabi Besar Muhammad saw.   seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur” ,  اَوۡ اَدۡنٰی     --  “atau lebih dekat lagi”.
  Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
   Bila kata tadalla (Dia kian dekat kepadanya) dianggap mengenai Allah Swt.,  maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    naik menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
   Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw. menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Rabb-nya (Tuhan-nya) serta Pencipta-nya, sehingga beliau  saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Sendiri, maka di pihak lain beliau saw.  turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan.
   Kata-kata “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran. Dengan demikian jelaslah mengapa dalam “Dua Kalimah Syahadat” – yang merupakan Rukun Islam yang pertama – nama Nabi Besar Muhammad saw. disandinglan dengan sebutan Allah Swt., yakni:
 “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.
 Hal itu berarti bahwa sejak diwahyukan  agama Islam (Al-Quran) sebagai agama terakhir dan tersempurna kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4), maka kecuali beriman sepenuhnya kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan mengamalkan ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang beliau saw. ajarkan maka   tidak akan ada seorang pun akan mendapat kecintaan dan  pengampunan Allah Swt.  (QS.3:20, 32, 86-87; QS.33:22; QS.4:70-71).

Kedekatan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt.

  Ayat-ayat 8 sampai 18 menggambarkan mikraj  Nabi Besar Muhammad saw. ketika beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan suatu penjelmaan   ruhani Allah Swt., dan secara ruhani beliau saw. naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani, yakni (1) kenaikan ruhani (mi’raj) Nabi Besar Muhammad saw.  dan (2) turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Allah Swt. kepada beliau.
  Dalam pikiran umum, mi’raj telah dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam ke Yerusalem – QS.17:2), sedangkan masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Peristiwa Isra  terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal  Nabi Besar Muhammad saw.   telah lebih dahulu mengalami  mikraj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi peristiwa  isra’.
  Penelaahan saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits  juga mendukung pendapat ini. Untuk keterangan lebih  terinci  mengenai kedua peristiwa  mikraj dan isra  keduanya merupakan kejadian yang terpisah dan berbeda satu sama lain.  
 Kata     dalam ayat  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan”, kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-al-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu Al-Quran kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
 Makna ayat مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- “Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta mengenai apa yang dia lihat  hakikatnya  ialah bahwa  apa yang telah dilihat oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj tersebut     adalah pengalaman hakiki, dan pengalaman itu adalah kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..
   Makna ayat  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی     -- “ Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali” yakni   kasyaf  (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.   itu suatu pengalaman ruhani berganda. Menurut ayat-ayat tersebut, pada waktu mikraj,  Nabi Besar  Muhammad saw.  telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau saw. samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.
 Sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan (QS.15:10), tetapi   juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan.
 Atau, ayat ini mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. mengikat janji setia kepada beliau saw. pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.  Kata-kata “yang menyelubungi”  dalam ayat  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, maknanya ialah penjelmaan Ilahi yang paling sempurna kepada agama Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw..
 Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. mengenai dasar tingkatan akhlak tertinggi  yaitu  iytā-i-dzil-qurba  (memberi seperti terhadap kerabat) --  dan hubungannya dengan  Sifat Rabbubiyyat Allah Swt. --   firman-Nya: 
اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ یَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡبَغۡیِ ۚ یَعِظُکُمۡ   لَعَلَّکُمۡ   تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan memberi  seperti kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, mungkar, dan pemberontakan.  Dia nasihatkan kepada kamu  supaya kamu mengambil pelajaran. (An-Nahl [16]:91).
      Kenyataan tersebut hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang  mampu mengamalkannya sebagaimana digambarkan mengenai kedekatan sempurna beliau saw.  dengan Allah Swt. dalam peristiwa mi’raj dan yang diabadikan dalam “Dua Kalimah Syahadat”.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

***

Pajajaran Anyar,  24 Oktober    2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar