Jumat, 08 November 2013

Hubungan Sifat Maaliki Yaumid-Diin (Pemilik Hari Pembalasan) Allah Swt. dengan Sikap Adil

ِ


ِۡ بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ



Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab  64

    Hubungan Sifat Māliki Yaumid-Dīn (Pemilik Hari Pembalasan) Allah Swt. dengan Sikap Adil 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam akhir  Bab sebelumnya  telah dikemukakan penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s., mengenai  khazanah ruhani yang terkandung dalam  empat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah --  dan sebagai kesimpulan di bagian akhir Bab sebelumnya -- Al-Masih Mau’ud a.s.  yang juga  juga  Imam Mahdi a.s.   – tersebut menjelaskan pertama mengenai hakikat Rabbul- ‘ālamīn (Rabb  seluruh alam).

Hakikat Sifat Rabbubiyyat Allah Swt.

        Beliau bersabda:   “Apa yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah dari sifat Rabbul ‘Ālamīn sampai Māliki Yaumiddīn adalah 4 kebenaran akbar yang akan dijelaskan berikut ini. Kebenaran yang pertama ialah Allah Yang Maha Perkasa itu bersifat    Rabbul ‘Ālamīn yang  berarti bahwa Tuhan itu adalah Rabb dan Penguasa segala sesuatu yang ada di alam semesta, dan bahwa segala yang muncul, nampak, dirasakan atau disadari oleh logika, semuanya adalah ciptaan-Nya, dan eksistensi (perwujudan) yang haqiqi hanya milik Allah Yang Maha Kuasa dan tidak kepada apa pun selain Wujud-Nya.
    Dengan kata lain, alam semesta berikut semua isinya diciptakan oleh dan merupakan ciptaan  Allah  Swt..  Tidak ada suatu apa pun di alam ini yang bukan ciptaan Tuhan. Melalui Sifat Rabbubiyyat-Nya yang sempurna, Allah Yang Maha Kuasa mengatur dan mengendalikan setiap noktah yang ada di alam. Sifat Rabubiyat-Nya berfungsi sepanjang waktu.
      Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa setelah Dia menciptakan alam ini, lalu Dia mengundurkan diri dan menyerahkan kendalinya kepada hukum alam. Tidak benar jika dikatakan bahwa sebagai seorang pencipta mesin maka Dia lalu tidak lagi peduli setelah mesin tersebut selesai dicipta. Ciptaan  Maha Pencipta tetap selalu terkait dengan Wujud-Nya.
    Wujud Rabbul ‘ālamīn melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya yang sempurna sepanjang waktu di seluruh alam semesta,  dan hujan rahmat Rabubiyat-Nya itu tetap selalu dicurahkan ke seluruh alam.  Tidak pernah sekali pun alam ini dikucilkan dari manfaat Sifat rahmat-Nya. Bahkan setelah selesai penciptaan alam semesta ini, kebutuhan akan Sumber rahmat itu akan tetap diperlukan setiap saat seolah-olah Dia belum menciptakan apa-apa.
      Sebagaimana dunia ini bergantung kepada Sifat Rabubiyat-Nya untuk mewujud, maka dunia ini tetap bergantung kepada Sifat itu untuk kelangsungan dan pemeliharaannya. Adalah Dia yang menopang dunia ini setiap saat, dan setiap noktah (partikel) di alam ini terpelihara dan berkembang karena Dia. Dia melaksanakan Sifat Rabubiyat-Nya atas segala hal menurut kehendak-Nya.
      Singkat kata, kebenaran ini bermakna bahwa segala sesuatu di alam diciptakan dan tergantung kepada Sifat Rabbubiyyat Allah  Swt..,  baik dalam kesempurnaan, kondisi maupun masanya. Tidak ada keunggulan ruhani atau jasmani yang bisa dicapai makhluk dari dirinya sendiri tanpa ketergantungan pada pengaturan dari Sang Maha Pengatur.
     Adalah suatu hal yang latent dari Sifat ini dan kebenaran-kebenaran lainnya, bahwa Sifat    Rabbul ‘ālamīn  merupakan Sifat yang khusus hanya bagi Diri-Nya dan tidak ada suatu apa pun yang menjadi sekutu-Nya. Ayat pembuka dari Surat yaitu Alhamdulillāh   menjelaskan secara tegas bahwa segala puji hanyalah bagi Allah Swt.  semata.”
      Mengisyaratkan kepada kebenaran penjelasan Mirza Ghulam Ahmad a.s. itulah Allah Swt. dalam Al-Quran menyatakan,  bahwa apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi serta  apa pun yang ada di antara keduanya, semuanya bertasbih (menyanjungkan kesucian Allah Swt.) dengan puji-pujian-Nya (QS.17:45; QS.24-42; QS.61:2; QS.2:2; QS.64:2), sebagaimana pernyataan para malaikat ketika Allah Swt. akan menjadikan seorang Khalifah Allah di bumi (QS.2:31-35).

Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah);  Al-Rahīm (Maha Penyayang) dan
Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan)

     Selanjutnya beliau a.s. bersabda mengenai Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah), Al-Rahīm (Maha Penyayang) dan  Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan) Allah Swt.:
      Kebenaran akbar yang kedua adalah Sifat Rahmān (Maha Pemurah) yang menempati urutan berikutnya setelah Sifat Rabbul ‘Ālamīn.  Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa semua makhluk hidup --  yang berakal maupun yang tidak, baik atau jahat --  telah dibantu dan akan selalu ditopang oleh rahmat umum Allah Yang Maha Perkasa dengan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan dan kelanjutan spesi mereka. Semuanya itu merupakan karunia mutlak yang tidak tergantung kepada amalan atau upaya siapa pun.
      Kebenaran akbar yang ketiga setelah Sifat Rahmān  (Maha Pemurah) adalah Sifat Rahīm (Maha Penyayang). Hal ini berarti bahwa sesuai kehendak-Nya maka Allah Swt.  akan memberikan imbalan hasil baik atas dasar permohonan makhluk-Nya. Dia mengampuni dosa mereka yang bertobat. Dia menganugrahkan karunia kepada mereka yang memohon. Dia membukakan pintu kepada mereka yang mengetuknya.
      Kebenaran akbar keempat adalah Māliki Yaumiddīn. Berarti Allah Yang Maha Kuasa adalah Penguasa segala ganjaran yang sempurna yang bebas dari ujian dan  cobaan serta intervensi dari segala yang merancukan, suci dari segala yang tidak bersih, bebas dari keraguan dan cacat dan merupakan manifestasi kekuasaan-Nya yang akbar.  Dia tidak kekurangan kekuatan untuk memanifestasikan pengganjaran-Nya yang sempurna yang secerah siang hari.

Tiga  Alasan Mengapa Pengganjaran (Pembalasan) yang Sempurna
Dilaksanakan Allah Swt.  di Alam Akhirat

      Manifestasi kebenaran akbar ini bertujuan untuk mencerahkan hal-hal berikut ini agar menjadi jelas bagi setiap orang sebagai suatu kepastian:
      Pertama, bahwa ganjaran dan  hukuman adalah suatu hal yang pasti   dikenakan kepada semua makhluk oleh Sang Maha Penguasa, sebagai bagian dari kehendak-Nya. Hal ini tidak mungkin ditunjukkan (dilakukan) di dunia ini karena merupakan hal-hal yang tidak jelas bagi rata-rata orang,  yang tidak mengerti mengapa mereka akan mengalami kemaslahatan atau kemudharatan, mau pun kesenangan atau kesakitan.
      Di dunia ini tidak akan ada orang yang mendengar suara dari mana pun yang menjelaskan bahwa apa yang dialaminya itu adalah ganjaran dari amal perbuatannya, dan juga tidak akan ada yang menyadari atau merasa bahwa apa yang sedang dialaminya adalah sebagai akibat dari tindakannya.
       Kedua, penampakan itu ditujukan untuk memperlihatkan bahwa sarana duniawi itu tidak mempunyai arti dan bahwa Sang Maha Wujud atau Allah Swt.  adalah Sumber dari semua berkat dan Penguasa dari segala ganjaran.
      Ketiga, perlu adanya penegasan apa itu karunia yang baik (keberuntungan akbar) dan apa yang namanya kemudharatan besar. Keberuntungan akbar adalah keadaan kemenangan tertinggi dimana nur, kebahagiaan, kesenangan dan  ketentraman  merasuk di dalam dan di luar dari tubuh dan jiwa seseorang dimana tidak ada bagian tubuhnya yang terlewat.
      Kemudharatan besar adalah siksaan yang berasal dari akibat ketidak-patuhan, kekotoran jiwa, menjauhkan diri dari Tuhan-nya, yang akan membakar hati dan meliputi seluruh tubuh sehingga seluruh dirinya terasa bagai berada dalam api di neraka.
     Manifestasi (perwujudan) seperti ini tidak bisa dilihat di dunia,  karena dunia yang sempit dan picik,  yang terselaput oleh segala keduniawian dan yang kondisinya tidak sempurna, tidak akan tahan menanggung manifestasi demikian. Dunia ini adalah ajang ujian dan cobaan dimana kesenangan dan kesakitan yang ada hanya bersifat sementara dan tidak sempurna.
      Apa pun yang dialami seseorang dalam hidupnya berada di bawah tabir sarana jasmani yang menyembunyikan Wujud Sang Penguasa Pemberi ganjaran. Dengan demikian dunia ini bukan wadah ganjaran yang benar dan sempurna. Yang menjadi hari ganjaran yang sempurna dan terbuka adalah dunia yang akan datang setelah kehidupan dunia sekarang ini.  Dunia yang akan datang (akhirat)  itu akan menjadi wadah manifestasi akbar dan penampakan dari keagungan dan keindahan yang sempurna.
      Kesulitan hidup atau kemudahan, kesenangan atau kesakitan, kesedihan atau pun kegembiraan, semua yang dialami manusia di dunia yang sekarang tidak selalu menggambarkan atau merupakan akibat dari karunia Ilahi atau pun kemurkaan-Nya. Sebagai contoh, seorang yang kaya bukanlah merupakan bukti bahwa Tuhan berkenan atas dirinya, begitu pula kemiskinan atau kesulitan dianggap menjadi tanda bahwa Allah Swt.  memusuhi dirinya.
      Bisa jadi keadaan mereka itu menjadi cobaan agar yang kaya diuji karena kekayaannya sedangkan yang miskin dicoba karena kemiskinannya. Semua kebenaran akbar ini dijelaskan secara rinci di dalam Al-Quran.” (Brahin-i- Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. 14, hlm. 444-461, London, 1984).

Hubungan  Sifat  Māliki Yaumiddīn
(Pemilik Hari Pembalasan)  dengan Sikap Adil

      Apa yang dijelaskan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. mengenai makna  Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan)  sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾  اِذَا  زُلۡزِلَتِ الۡاَرۡضُ  زِلۡزَالَہَا  ۙ﴿۱﴾ وَ اَخۡرَجَتِ الۡاَرۡضُ اَثۡقَالَہَا ۙ﴿﴾  وَ  قَالَ الۡاِنۡسَانُ مَا لَہَا ۚ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ تُحَدِّثُ  اَخۡبَارَہَا ۙ﴿﴾ بِاَنَّ  رَبَّکَ اَوۡحٰی لَہَا ؕ﴿﴾  یَوۡمَئِذٍ یَّصۡدُرُ  النَّاسُ اَشۡتَاتًا ۬ۙ لِّیُرَوۡا اَعۡمَالَہُمۡ ؕ﴿﴾  فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ ؕ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ  شَرًّا یَّرَہٗ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila bumi digoncangkan segoncang-goncangnya,  dan bumi  mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya,  dan manusia berkata: “Apakah yang  terjadi dengannya?”  Pada hari itu bumi  mencerita-kan beritanya,  karena sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan kepadanya.  Pada hari itu manusia akan ke-luar dalam golongan-golongan terpisah supaya kepada mereka dapat di-perlihatkan amal mereka.  Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom  sekali pun ia akan melihat hasil-nya,    dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom sekali pun ia akan melihat hasilnya.  (Al-Zilzāl  [99]:1-9).
      Sehubungan dengan ayat:
فَمَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ خَیۡرًا یَّرَہٗ ؕ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّۃٍ  شَرًّا یَّرَہٗ ٪﴿﴾
“Maka barangsiapa berbuat kebaikan seberat atom  sekali pun ia akan melihat hasil-nya,   dan barangsiapa berbuat keburukan seberat atom sekali pun ia akan melihat hasilnya” (Al-Zilzāl  [99]:8-9) --  dalam Surah lain Allah Swt. berfirman:
   وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ فَتَرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ مُشۡفِقِیۡنَ  مِمَّا فِیۡہِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ یٰوَیۡلَتَنَا مَالِ ہٰذَا الۡکِتٰبِ لَا یُغَادِرُ صَغِیۡرَۃً وَّ لَا کَبِیۡرَۃً  اِلَّاۤ  اَحۡصٰہَا ۚ وَ  وَجَدُوۡا مَا عَمِلُوۡا حَاضِرًا ؕ وَ لَا یَظۡلِمُ  رَبُّکَ  اَحَدًا ﴿٪﴾  
Dan kitab amalannya akan diletakkan di hadapan mereka, maka engkau akan melihat orang-­orang yang berdosa itu ketakutan dari apa yang ada di dalamnya itu, dan mereka akan berkata: "Aduhai  celakalah kami! Kitab apakah ini? Ia tidak me-ninggalkan sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar melainkan telah mencatatnya."  Dan mereka menjumpai apa yang telah mereka kerjakan itu berada di hadapan mereka, dan Rabb (Tuhan) engkau tidak menzalimi (menganiaya) seorang pun. (Al-Kahf [18]:50).
       Atas  dasar kenyataan itulah dalam Bab-bab  sebelumnya  bahwa   Sifat  Māliki Yaumiddīn  (Pemilik Hari Pembalasan)   Allah Swt. tersebut  dalam hubungannya  dengan firman-Nya berikut ini  adalah  berkaitan dengan sikap adil:  
اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ یَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡبَغۡیِ ۚ یَعِظُکُمۡ   لَعَلَّکُمۡ   تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan  memberi  seperti kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, mungkar, dan pemberontakan.  Dia nasihatkan kepada kamu  supaya kamu mengambil pelajaran. (An-Nahl [16]:91).

Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad Saw. 
tentang  Pentingnya Sikap Adil

      Jadi, jelaslah bahwa  Sifat Māliki Yaumiddīn (Pemilik Hari Pembalasan)  hubungannya dengan 3 tingkatan landasan akhlak baik manusia  -- yaitu adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan  memberi  seperti kepada kaum kerabat --  adalah dengan sifat adil, yang merupakan tingkatan yang pertama dari landasan akhlak baik  yang harus dilakukan manusia.
      Mustahil manusia bisa melakukan tingkatan akhlak baik yang disebut ihsan  (berbuat kebaikan yang lebih) dan īytā-i-dzil-qurba  (memberi seperti terhadap kerabat sendiri) sebelum bisa mengamalkan tingkatan akhlak yang disebut adil sebagaimana yang dilakukan Allah Swt. dalam kapasitas-Nya sebagai  Māliki Yaumiddīn  (Pemilik Hari Pembalasan).
      Atas dasar kenyataan itu pulalah Nabi Besar Muhammad saw. dalam berbagai hadits Shahih telah memberikan nasihat mendasar mengenai pentingnya manusia – terutama orang-orang yang beriman --  untuk berlaku adil,   baik terhadap dirinya mau pun terhadap orang lain, di antaranya beliau saw. bersabda  -- yang maknanya adalah – sebagai berikut:
“Jika kalian  menginginkan atau tidak menginginkan  orang-orang lain memperlakukan kalian dengan sesuatu  perlakuan, maka kalian pun harus berbuat yang sama terhadap orang-orang lain”.
      Berikut adalah 3  buah hadits  Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan pentingnya berlaku adil.  Hadits pertama:
        Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallāhuanhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallāhualaihi wa  sallam: “Sesungguhnya mereka-mereka yang berbuat adil di sisi Allah Ta’ala, kelak mereka akan berada di atas mimbar dari cahaya, dari tangan kanan Allah Ar-Rahmān ‘Azza wa Jalla. Dan kedua tangan Allah Ta’ala adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam menghukumi sesuatu bahkan terhadap keluarga mereka sendiri, juga terhadap orang-orang yang mereka pimpin.” (Hr. Imam Muslim).
      Hadits kedua:
مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ
Artinya: “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”
      Takhrij Hadits-hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim (2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.
Hadits ketiga:
       Dalam memutuskan perkara, keadilan mesti menjadi landasan berpijak. Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, bersabda:
إِذَا حَكَمْتُمْ فَاعْدِلُوْا
Artinya: “Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” (Dinyatakan Hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. 469]).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  27 Oktober    2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar