Senin, 04 November 2013

"Suluk" Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt. & Tiga Tingkatan Akhlak: "Adil, Ihsan dan Iytaa-i dzil-Qurba (Memberi Seperti Terhadap Kerabat)




ۡ بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab  60

    “Suluk” Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt.  & Tiga Tingkatan Akhlak:  Adil, Ihsan (Kebajikan) dan Îtā-i dzil-qurba (Memberi Seperti Terhadap Kerabat)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam akhir  Bab sebelumnya  telah dijelaskan   mengenai   makna Sifat Allah Swt. Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), keduanya berasal dari akar kata yang sama, Rahima, artinya: ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah yakni   kehalusan dan ihsan  yakni  kebaikan,   kebajikan” (Mufradat). Ar-Rahmān dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahīm dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tata-bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata makin luas dan mendalam pula artinya (Kasysyaf).
     Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”, kata Ar-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas  tetapi  ditampakkan berulang-ulang.”

Sifat Rahmaaniyyat Hanya Untuk Allah Swt.

     Mengingat arti-arti di atas, Ar-Rahmān  adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang secara  cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal makhluk-makhluk tersebut;  sedangkan Ar-Rahīm  adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal   manusia, tetapi menampakkannya dengan kemurahan hati dan berulang-ulang.
     Kata Ar-Rahmān hanya dipakai untuk Allah Swt., sebab hanya Allah Swt., sajalah Wujud yang memiliki kekuasaan  melaksanakannya  secara sempurna Sifat Rahmāniyyat tersebut;  sedangkan Ar-Rahīm dipakai pula untuk manusia. Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. tidak hanya meliputi orang-orang beriman  dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang) Allah Swt. terutama tertuju kepada orang-orang beriman saja.
      Menurut sabda  Nabi Besar Muhammad saw.,  sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang) umumnya bertalian dengan kehidupan  akhirat (Muhith). Artinya, karena dunia (alam jasmani) ini pada umumnya adalah  dunia perbuatan, sedangkan alam akhirat itu adalah suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa,  maka sifat Allah Swt. Ar-Rahmān (Maha Pemurah) menganugerahi manusia alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan sifat Allah Swt.  Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang (akhirat).
       Segala benda (sarana) yang  diperlukan manusia dan atas itu kehidupan  manusia bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan, itulah makna Sifat Rahmaniyyat Allah Swt.
      Sedangkan karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang (akhirat) akan dianugerahkan kepada  orang-orang yang beriman dan beramal saleh sebagai ganjaran atas usaha atau amal  mereka. Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahmān itu Pemberi karunia yang mendahului kelahiran manusia, sedangkan Ar-Rahīm itu Pemberi nikmat-nikmat yang mengikuti amal   manusia sebagai ganjarannya.

Sifat Mālikiyyat Allah Swt.  & Cara Allah Swt. Menampakan
Urutan Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya kepada Umat Manusia

      Ayat Surah Al-Fatihah selanjutnya mengemukakan Sifat Tasybihiyyah Allah Swt, yang keempat yaitu “Pemilik Hari Pembalasan”,  firman-Nya:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾
Segala  puji  hanya bagi  Allah, Tuhan  seluruh alam,  Maha Pemurah,  Maha Penyayang,  Pemilik   Hari  Pembalasan. (Al-Fatihah [1]:2-4). 
      Mālik berarti majikan  atau orang yang memiliki (pemilik) hak atas sesuatu serta memiliki (pemilik) kekuasaan  untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya (Aqrab-ul-Mawarid).
       Yaum berarti: waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang (Aqrab-ul-Mawarid).  Dīn berarti: pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya. (Lexicon Lane).
       Keempat Sfat Tasybihiyyah  Allah Swt. yakni:   رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --   Rabb (Tuhan) seluruh alam”,   الرَّحۡمٰنِ  -- “Maha Pemurah”,  الرَّحِیۡمِ   --  “Maha Penyayang” dan  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --“Pemilik Hari Pembalasan” adalah Sifat-sifat pokok (utama) Allah Swt.. Sifat-sifat Tasybihiyyah lainnya hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran tentang keempat Sifat utama Allah Swt.  tadi,  laksana empat buah tiang di atasnya terletak ‘Arasy (Singgasana) -- yakni Sifat-sifat Tanzihiyyah yang hanya dimiliki oleh Allah Swt.  -- Tuhan Yang Maha Kuasa.
    Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas, memberikan penjelasan bagaimana Allah Swt. menampakkan sifat-sifat-Nya Tasybihiyyah tersebut kepada manusia secara berurutan. Sifat Rabb-ul-’ālamīn (Tuhan seluruh  alam) mengandung arti, bahwa seiring dengan dijadikannya manusia sebagai puncak ciptaannya sebagai Khalifah bagi  seluruh ciptaan-Nya (makhluk-Nya)  yang lain, Allah Swt.  pun menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan ruhaninya sesuai tujuan utama diciptakan-Nya manusia, yakni untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57).
   Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dan dengan perantaraan itu, Dia  seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan ruhaninya. Dan jika manusia memakai  sarana-sarana yang dianugerahkan kepadanya itu secara tepat maka sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mulai berlaku untuk mengganjar amalnya. Yang terakhir sekali sifat Māliki yaum-id-dīn (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukkan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia, dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.
   Sungguhpun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan,  tetapi proses pembalasan itu terus berlaku  bahkan dalam kehidupan di dunia ini juga, dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan di dunia  ini perbuatan manusia seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain — para raja, para penguasa, dan sebagainya — oleh karena itu  senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan.
      Tetapi pada  Hari Pembalasan, sepenuhnya  kedaulatan Allah Swt  itu mandiri dan mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil, sehingga dan tidak akan  ada seorang  manusia pun yang akan merasa dizalimi, baik  ia itu sebagai penghuni surga mau pun sebagai penghuni neraka.

Makna Penggunaan Kata Mālik (Pemilik)  &
Tiga Tingkatan  Pengamalan Sifat atau  Akhlak“ Allah Swt.

     Pemakaian kata Mālik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada ke-nyataan bahwa  Penghakiman  yang dilakukan Allah Swt. .  tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Mālik (Pemilik), Allah Swt.  dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya.
      Dengan mengambil dīn dalam arti  agama,  maka kata-kata “Māliki yaumid-dīn  (Yang memiliki  waktu agama) akan berarti bahwa  bila suatu agama sejati diturunkan maka  umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur  maka nampaknya seolah-olah seluruh alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Khāliq (Pencipta) dan Al-Mālik (Pemilik), yakni Allah Swt.  Rabb (Tuhan Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam.
      Walau pun menurut urutannya dalam Surah Al-Fatihah    penjelmaaan   Sifat Maaliki Allah Swt. pada  Surah Al-Fatihah  adalah  pada posisi terakhir yakni    مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --“Pemilik Hari Pembalasan”, yaitu setelah Sifat-sifat Rabbubiyyat, Rahmāniyat dan Rahīmiyyat, tetapi dalam pengamalannya oleh manusia susunan urutannya menjadi sebaliknya, yakni (1) Mālikiyyat, (2) Rahīmiyyat, (3) Rahmāniyat, dan  (4) Rabbubiyyat, hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.:
اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَ الۡاِحۡسَانِ وَ اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ یَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡبَغۡیِ ۚ یَعِظُکُمۡ   لَعَلَّکُمۡ   تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan (kebajikan), dan  memberi  seperti kepada kaum kerabat, serta melarang dari perbuatan keji, mungkar, dan pemberontakan.  Dia nasihatkan kepada kamu  supaya kamu mengambil pelajaran. (An-Nahl [16]:91).
       Ayat ini mengandung tiga macam perintah dan tiga macam larangan, yang secara singkat membahas semua macam derajat perkembangan akhlak dan keruhanian manusia -- bersama segi kebaikan dan keburukannya masing-masing. Ayat ini menganjurkan (1) berlaku adil, (2) berbuat baik (ihsan) kepada orang lain, dan (3) berlaku kasih sayang antara kaum kerabat; dan  (1) melarang berbuat hal yang tidak senonoh, (2) berbuat keburukan dan (3) pelang-garan yang nyata.
    Keadilan (‘adl) mengandung arti bahwa seseorang harus memperlakukan orang-orang lain seperti ia diperlakukan oleh mereka. Ia hendaknya membalas kebaikan dan keburukan orang-orang lain secara setimpal menurut besarnya dan ukurannya yang diterima olehnya dari mereka.
        Lebih tinggi dari ‘adl (keadilan) adalah derajat ihsan (kebajikan) bila manusia harus berbuat kebaikan yang lebih kepada orang-orang lain tanpa mengindahkan macamnya perlakuan yang diterima dari mereka, atau sekalipun ia diperlakukan buruk oleh mereka. Perbuatannya tidak boleh digerakkan oleh pertimbangan-pertimbangan menuntut balasan, sekali  pun sekedar ucap  “terima kasih”  dari orang yang diperlakukan ihsan.
        Pada derajat perkembangan akhlak terakhir dan tertinggi, ialah ītā’i dzil qurbā (memberi seperti kepada kerabat), yakni seorang beriman  diharapkan untuk berlaku baik terhadap orang-orang lain, bukan sebagai membalas sesuatu kebaikan yang diterima dari mereka (‘adil) , begitu pun tidak dengan pertimbangan untuk berbuat lebih baik (ihsan) dari kebaikan yang ia peroleh, melainkan untuk berbuat kebaikan yang ditimbulkan oleh dorongan fitri (fitrat),  seperti ia berbuat baik kepada orang-orang yang mempunyai perhubungan darah yang dekat sekali.
       Keadaan  pada derajat akhlak tingkatan ini serupa dengan keadaan seorang ibu yang menyusui anak yang kecintaan terhadap anak-anaknya bersumber pada dorongan fitri (fitrat) seorang ibu terhadap anak kandungnya. Sesudah orang mukmin mencapai derajat  akhlak ini ini perkembangan akhlaknya menjadi sempurna.

Kesempurnaan akhlak Nabi Besar Muhammad saw.

      Jadi, kembali kepada hubungan   keempat Sifat Tasybihiyyah utama Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah dengan ketiga tingkatan akhlak baik manusia tersebut adalah  (1) Sifat  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ  --“Pemilik Hari Pembalasan memiliki hubungan dengan tingkatan akhlak  baik yang disebut   ‘adl;  (2)  Sifat  الرَّحِیۡمِ   --  “Maha Penyayang” memiliki hubungan dengan  tingkatan akhlak  baik yang disebut ihsan; (3) Sifat   الرَّحۡمٰنِ  -- “Maha Pemurah”,  memiliki hubungan dengan     tingkatan akhlak   اِیۡتَآیِٔ ذِی الۡقُرۡبٰی (memberi seperti kepada kerabat dekat).
      Manusia tidak akan dapat melebihi ketiga tingkatan (derajat) akhlak tersebut  lalu  memperagakan secara sempurna  Sifat Tasybihiyyah  Allah Swt.  Rabbul- ‘ālamīn (Pencipta dan Pemelihara seluruh alam),  karena  hubungannya adalah dengan seluruh alam semesta.
      Kalau pun ada seorang manusia yang sampai batas tertentu  mampu melakukan Sifat Rabbubiyyat Allah Swt.  hanya Nabi Besar Muhammad saw.,  hal itu sesuai dengan firman Allah Swt. kepada beliau saw.:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiyya p21]:108).
      Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam  mulai dari benda-benda (makhluk-makhluk) yang tidak  bernyawa sampai  makhluk-makhluk yang bernyawa dari golongan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, sebab amanat Islam (Al-Quran) yang diemban beliau saw. tidak terbatas kepada suatu   negeri atau kaum tertentu,  demikian pula rahmat beliau saw. tidak hanya terbatas pada golongan manusia saja tetapi juga meluas ke alam-alam lainnya, sebagaimana makna al-‘alamīn (seluruh alam) dalam ayat  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾         --   Segala  puji  hanya bagi  Allah, Tuhan  seluruh alam,   (Al-Fatihah [1]:2). 
      Dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw.  bangsa-bangsa dunia  bahkan lingkungan alam pun telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu. Itulah makna lain dari firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (Al-Anbiyya p21]:108).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

***

Pajajaran Anyar,  23 Oktober    2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar