Selasa, 15 Juli 2014

Kesempurnaan Al-Quran Dalam Berbagai Seginya Dibandingkan Syair-syair Terbaik Para Penyair Bangsa Arab Jahiliyah




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   259

  Kesempurnaan Al-Quran Dalam Berbagai Seginya Dibandingkan Syair-syair Terbaik Para Penyair Bangsa Arab Jahiliyah

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai makna   tabāraka dalam ayat تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ   --  Maha Beberkat  Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya,” berarti:  bahwa Allah Swt. adalah Wujud Tuhan yang benar-benar sangat mulia sekali; jauh sekali dari segala keaiban, kekotoran, ketidak-sempurnaan, dan segala macam sifat yang cemar; dan memiliki kebaikan yang berlimpah-limpah (QS.6:156 & QS.21:51), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾  ۣالَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾    وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً  لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا ﴿﴾ 
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Maha Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya, supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan seluruh langit dan bumi,  dan Dia tidak mengambil anak,   tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan, Dia telah menciptakan segala sesuatu dan telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya.  Dan  mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia   yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan me-reka yang diciptakan, dan mereka tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula  manfaat kepada diri mereka, dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan.  (Al-Furqān (25]:1-4).
       Karena Al-Quran sepenuhnya merupakan firman (kalam) Allah Swt.  maka sebagaimana halnya Allah Swt., demikian pula Al-Quran pun – sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  -- memiliki semua nilai dan sifat yang terkandung dalam kata tabāraka ini.

Makna “Al-Furqān

      Al-Quran tidak hanya bebas sepenuhnya dari segala keaiban dan ketidak-sempurnaan, bahkan juga memiliki semua nilai luhur yang dapat dibayangkan dan yang seharusnya dipunyai oleh syariat terakhir bagi seluruh umat manusia (QS.5:4), dan Al-Quran memilikinya itu dengan sepenuh-sepenuhnya   dengan keserasian yang sempurna (QS.4:83; QS.47:25) serta tetap  mendapat jaminan  pemeliharaan Allah Swt. dalam segala seginya (QS.15:10; QS.41:42-43).
          Dalam ayat tersebut Al-Quran disebut Al-Furqān, kata furqan berarti: sesuatu yang membedakan antara yang benar (haq) dan yang palsu (bathil); keterangan, bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu gunanya membedakan antara yang benar dan yang salah.
      Kata furqān itu pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab fajar memisahkan siang  dari malam. Al-Quran adalah furqan (pembeda) yang paripurna. Di antara seribu satu macam keindahan dan kebagusan yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab wahyu lainnya, dan yang menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam nampak jelas sekali, yakni:
      (a) Al-Quran tidak membuat pernyataan atau pengakuan yang tidak didukung oleh bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang sehat dan kuat,
     (b) Al-Quran membuat kebenaran itu begitu nyata bedanya dari kepalsuan sebagaimana nyata benar bedanya siang hari dari malam hari.
       Oleh karena hanya Al-Quran sajalah yang benar-benar merupakan peringatan yang paling sempurna bagi seluruh umat manusia,  yang merupakan kewajiban Nabi Besar Muhammad saw. untuk menyampaikannya  kepada seluruh alam, firman-Nya:  لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا  -- “supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam,” firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya.   Dan berilah kabar gembira  kepada orang-orang beriman  bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karunia yang besar dari Allah. (Al-Ahzāb [33]:46-48).

Hanya Wujud Allah Swt. Yang Maha Kekal & Hubungan Ketakwaan dengam Furqān (Pembeda)

      Lebih jauh lagi Allah Swt. memberi penjelasan mengenai kesempurnaan Wujud-Nya dan Sifat-sifat-Nya  serta kesempurnaan tatanan alam semesta, yang merupakan bukti nyata mengenai  kesempurnaan karya-cipta-Nya  (perbuatan-Nya)  -- termasuk kesempurnaan Kitab suci  Al-Quran  (Al-Furqān)   yang merupakan kesempurnaan firman-Nya  --  sebab  tidak mungkin ada pertentangan antara antara perkataan dan perbuatan Allah Swt. (QS.67:1-5), firman-Nya:
الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا
Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan seluruh langit dan bumi,  dan Dia tidak mengambil anak,  tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan,  Dia telah menciptakan segala sesuatu  dan telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya.  (Al-Furqān (25]:3).
       Anak kalimat   فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا  -- “maka telah menetapkan ukurannya” mengandung arti  bahwa ada batas tertentu bagi kekuatan-kekuatan dan pekerjaan-pekerjaan atau perkembangan segala sesuatu yang tidak dapat dilanggar atau dilampaui.
         Batas-batas ini menunjuk kepada satu hukum yang bekerja di seluruh jagat raya, dan dari sini menunjuk kepada satu Perancang, Pencipta dan Pengatur — Sang Pencipta Yang kekuasaan-Nya tidak terbatas, tetapi telah mengadakan pembatasan terhadap segala benda ciptaan-Nya (makhluk-Nya), yakni Allah Swt. Yang Maha Terpuji sebagai   Rabb (Tuhan) seluruh alam (QS.1:2). Benarlah firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾  وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, dan akan kekal hanyalah Wu-jud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan?   Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? (Al-Rahmān [55]:27-31).
Firman-Nya  lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ  اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ  شَیۡءٍ ہَالِکٌ  اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ  الۡحُکۡمُ  وَ  اِلَیۡہِ  تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan janganlah engkau menyeru tuhan lain  bersama Allah,  tidak ada tuhan kecuali Dia. Segala sesuatu akan binasa اِلَّا وَجۡہَہٗ   -- kecuali Wujud-Nya. Kepunyaan-Nya  segala hukum, dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan (Al-Qashash [28]:89).
       Wajh berarti: diri; muka (wajah); kepala/pemimpin suatu kaum (bangsa); tujuan atau maksud yang orang sedang kejar;  tempat yang orang tuju atau mengarahkan perhatiannya; kesenangan; karunia; kepentingan,  dan sebagainya (Lexicon Lane).
      Begitu sempurnanya petunjuk Al-Furqan (Al-Quran) tersebut, sehingga orang-orang yang meraih ketakwaan melalui pelaksananan petunjuk Al-Furqan pun  mereka akan dianugerahi furqān (pembeda) pula oleh Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  jika kamu bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan  bagi kamu   pembeda,  dan Dia akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan kamu, Dia akan mengampuni kamu, dan Allah  Memiliki  karunia yang sangat besar. (Al-Anfāl [8]:30).
 Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya  furqān berarti: (1) sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti atau dalil; (3) bantuan atau kemenangan, dan (4) fajar (Lexicon Lane).

Menelanjangi “Kemusyrikan” & Menjawab Tuduhan  Orang-orang Kafir

        Ada pun makna ayat  selanjutnya  mengenai  berbagai  kelemahan  yang dimiliki tuhan-tuhan sembahan selain Allah Swt.  bahwa mereka itu  adalah makhluk-makhluk lemah  -- seperti lemahnya para penyembah “tuhan-tuhan palsu” tersebut – sehingga  tidak layak disebut “tuhan sembahan”, firman-Nya:
وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً  لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا ﴿﴾ 
Dan  mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia   yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan mereka yang diciptakan, dan mereka tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula  manfaat kepada diri mereka, dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan (Al-Furqān (25]:4).
     Segala sesuatu  ciptaan (makhluk) Allah Swt. harus melampaui tiga tingkat perkembangan: (a) tingkat tak bernyawa; (b) tingkat mempunyai kekuatan untuk hidup, ketika sebuah benda diberi sifat-sifat dan tenaga-tenaga untuk tumbuh; dan (c) tingkat hidup yang sebenarnya. Allah Swt., Pencipta segala kehidupan, memiliki kekuasaan mutlak dan tunggal atas ketiga tingkat itu semuanya.
       Itulah dalil-dalil  akurat mengenai Allah Swt., Tuhan Sembahan Hakiki Nabi Besar Muhammad saw.. Wujud  Yang   telah mengutus beliau saw. serta Yang telah mewahyukan Al-Quran (Al-Furqan) kepada beliau saw. sebagai  peringatan bagi seluruh alam.
   Namun bagaimana  dalam kenyataannya tanggapan orang-orang yang kepada mereka Al-Quran  telah disampaikan oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai peringatan? Firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اِفۡکُۨ افۡتَرٰىہُ وَ اَعَانَہٗ  عَلَیۡہِ  قَوۡمٌ   اٰخَرُوۡنَ ۚۛ فَقَدۡ  جَآءُوۡ  ظُلۡمًا  وَّ  زُوۡرًا ۚ﴿ۛ﴾  قُلۡ اَنۡزَلَہُ الَّذِیۡ یَعۡلَمُ السِّرَّ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿﴾
Dan mereka berkata:  ”Al-Quran  adalah dongengan-dongengan  orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan lalu itu dibacakan kepadanya pagi dan petang.”  Katakanlah: ”Diturunkannya  Al-Quran oleh Dzat Yang mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Furqān [25]:6-7).
       Ayat ini dan ayat berikutnya menunjuk kepada dua tuduhan orang-orang kafir terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.   dan menjawab tuduhan-tuduhan itu. Jawaban kepada tuduhan yang pertama bahwa beliau saw.  mengada-adakan dusta, yaitu bahwa mereka tidak adil melancarkan tuduhan semacam itu.
Nabi Besar Muhammad saw.    telah tinggal di tengah-tengah mereka untuk suatu masa yang panjang sebelum itu dan mereka sendiri semuanya menjadi saksi atas ketulusan hati dan kebenaran beliau saw. (QS.10:17-18). Bagaimanakah mereka sekarang dapat menuduh beliau pemalsu?
      Jawaban kepada tuduhan kedua, yaitu bahwa siapa pun yang dikatakan pembantu  Nabi Besar Muhammad saw.  pastilah mereka menganut beberapa kepercayaan dan itikad, akan tetapi Allah Swt. dalam Al-Quran menolak dan merombak semua kepercayaan   palsu dan membatalkan serta memperbaiki kepercayaan-kepercayaan lainnya. Bagaimanakah seseorang dianggap membantu beliau saw. untuk menciptakan sebuah kitab yang telah memotong urat nadi kepercayaan dan itikad-itikad yang begitu mereka junjung dan muliakan itu?

Tuduhan yang Selalu Berubah-ubah

        Ketika tuduhan-tuduhan dusta  mereka sebelumnya tidak dapat dipertahankan lagi,  lalu mereka    melontarkan tuduhan-tuduhan baru lagi, firman-Nya:
وَ قَالُوۡا مَالِ ہٰذَا الرَّسُوۡلِ یَاۡکُلُ الطَّعَامَ وَ یَمۡشِیۡ  فِی الۡاَسۡوَاقِ ؕ لَوۡ لَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَلَکٌ فَیَکُوۡنَ مَعَہٗ نَذِیۡرًا ۙ﴿﴾
Dan mereka berkata: “Rasul macam apakah ini,  ia makan makanan dan berjalan di pasar-pasar?  Mengapa  tidak diturunkan   malaikat kepadanya supaya ia menjadi seorang pemberi peringatan bersama-sama dengannya? (Al-Furqān [25]:8).
         Makna ayat مَالِ ہٰذَا الرَّسُوۡلِ  yakni “apakah gerangan yang terjadi dengan rasul itu?” Kemudian beralih lagi kepada tuduhan baru lainnya, firman-Nya:
اَوۡ یُلۡقٰۤی اِلَیۡہِ کَنۡزٌ اَوۡ تَکُوۡنُ لَہٗ جَنَّۃٌ یَّاۡکُلُ مِنۡہَا ؕ وَ قَالَ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ   اِلَّا  رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَبِیۡلًا ﴿٪﴾ 
“Atau hendaknya diturunkan kepadanya  khazanah  atau ada baginya kebun untuk makan darinya.” Dan  orang-orang yang zalim itu ber-kata:  ”Kamu tidak mengikuti melainkan seorang laki-laki yang kena sihir.” Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat tamsilan bagi engkau, maka mereka telah sesat dan mereka tidak dapat menemukan jalan. (Al-Furqān [25]:9-10).
    Orang-orang kafir mempunyai tanggapan yang sangat rendah sekali mengenai nilai-nilai kehidupan yang sebenarnya. Mereka telah membuat patokan yang mereka ada-adakan sendiri untuk menguji kebenaran rasul-rasul Allah,  akibatnya bahwa daripada mendapatkan jalan yang lurus, malahan mereka terus meraba-raba dalam kegelapan, keraguan, dan kekafiran.
        Semua tuduhan yang diada-adakan dan sangat lemah tersebut dijawab oleh Allah Swt.:
تَبٰرَکَ الَّذِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ جَعَلَ لَکَ خَیۡرًا مِّنۡ ذٰلِکَ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ وَ  یَجۡعَلۡ  لَّکَ  قُصُوۡرًا ﴿﴾  بَلۡ  کَذَّبُوۡا بِالسَّاعَۃِ ۟ وَ  اَعۡتَدۡنَا لِمَنۡ کَذَّبَ بِالسَّاعَۃِ سَعِیۡرًا﴿ۚ﴾
Maha Beberkat Dia Yang jika Dia menghendaki akan menjadikan bagi engkau yang lebih baik daripada itu,  kebun-kebun yang di bawahnya me-ngalir sungai-sungai dan akan menjadikan bagi engkau  istana-istana.  (Al-Furqān [25]:11).
      Ayat  mengandung arti,  bahwa tanggapan orang-orang kafir  dalam ayat-ayat sebelumnya mengenai bagaimana seharusnya corak dan macam seorang nabi Allah adalah jauh sekali dari kenyataan, dan menampakkan kepicikan mereka tentang maksud dan tujuan pengutusan  nabi-nabi Allah.
        Nabi-nabi Allah dibangkitkan, demikian ayat ini memberitahukan, adalah untuk membimbing manusia keluar dari kegelapan, keraguan, dan kekafiran, masuk ke dalam cahaya keyakinan dan kenikmatan ruhani,   bukan untuk menimbun kekayaan dan berfoya-foya serta bersuka-ria.

Jawaban Allah Swt.

         Akan tetapi meskipun patokan yang dibuat sendiri oleh orang-orang kafir – yakni Nabi Besar Muhammad saw.     harus memiliki harta, pangkat, kebun-kebun, dan istana-istana – lihat pula  QS.17:91-94   -- adalah tidak berarti apa-apa. Namun untuk menyadarkan mereka tentang kepalsuan kedudukan mereka, Allah Swt.  akan memberikan kepada beliau saw. serta pengikut-pengikut beliau saw. harta yang lebih banyak, kebun-kebun, dan istana-istana yang lebih besar  lagi lebih baik daripada apa-apa yang dituntut oleh orang-orang kafir. Dan sungguh-sungguh Allah Swt. telah menganugerahkan kepada pengikut-pengikut Nabi Besar Muhammad saw.   istana-istana dan kebun-kebun kepunyaan raja  (kisra) Iran dan Kaisar Bizantina (Romawi).
       Demikianlah berbagai hikmah yang terkandung dalam  ayat-ayat awal Surah Asy-Syu’ara berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ  لِلۡعٰلَمِیۡنَ  نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾  ۣالَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ فَقَدَّرَہٗ تَقۡدِیۡرًا ﴿﴾    وَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً  لَّا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ وَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا وَّ لَا یَمۡلِکُوۡنَ مَوۡتًا  وَّ لَا حَیٰوۃً   وَّ  لَا نُشُوۡرًا ﴿﴾ 
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Maha Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya, supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan seluruh langit dan bumi,  dan Dia tidak mengambil anak,   tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan,  Dia telah menciptakan segala sesuatu  dan telah menetapkan ukurannya dengan sebaik-baiknya.  Dan  mereka telah mengambil tuhan-tuhan selain Dia  yang tidak menciptakan sesuatu pun bahkan me-reka yang diciptakan, dan mereka tidak berkuasa untuk memberi mudarat dan tidak pula  manfaat kepada diri mereka, dan mereka tidak berkuasa atas mati, atas hidup dan tidak pula atas kebangkitan.  (Al-Furqān (25]:1-4).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  16 Juni    2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar