Jumat, 18 Juli 2014

Cara Allah Swt. "Mempersatukan Hati" Manusia Melalui Pengutusan Rasul Allah yang Dijanjikan & Pewaris Hakiki "Negeri yang Djanjikan"




 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   269

Cara Allah Swt. “Mempersatukan Hati” Manusia Melalui Pengutusan Rasul Allah yang Dijanjikan &   Pewaris Hakiki “Negeri yang Dijanjikan


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai  pentingnya  persiapan untuk menjalani  kehidupan di Akhirat:
  قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾ اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ﴾ اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ ﴿﴾
Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, jodoh-jodoh suci dan  keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.    Yaitu orang-orang yang berkata:  رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ   -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah beriman maka  ampunilah dosa-dosa kami,  dan peliharalah kami dari azab Api.”   Orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang membelanjakan di jalan Allah dan  orang-orang yang memohon ampun di bagian akhir malam. (Ali ‘Imran [3]:16-18).
        Ciri-ciri khas orang beriman sejati yang disebut dalam ayat ini melukiskan empat tingkat kemajuan ruhani:
      (1) Bila seseorang memeluk agama sejati biasanya ia menjadi sasaran kezaliman,  maka tingkat pertama yang harus dilaluinya ialah tingkat   اَلصّٰبِرِیۡنَ  -- “kesabaran dan kegigihan.”  Keadaan ini hanya terjadi  di masa pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37; QS.41:31-33; QS.46:14).
      (2) Bila penzaliman  berakhir dan ia bebas untuk berbuat menurut kehendaknya, ia mengamalkan ajaran-ajaran yang sebelum itu ia tidak dapat mengerjakan sepenuhnya. Tingkat kedua ini bertalian dengan  الصّٰدِقِیۡنَ  -- “hidup berpegang pada kebenaran,” yaitu hidup sesuai dengan keyakinannya.
     (3) Apabila  sebagai akibat melaksanakan perintah-perintah agama dengan setia,   orang beriman sejati memperoleh kekuasaan, ketika itu pun sifat merendahkan diri tidak beranjak dari mereka. Mereka tetap bersikap  الۡقٰنِتِیۡنَ  -- “merendah” yakni “patuh-taat” seperti sediakala.
       (4) Bukan sampai di situ saja, bahkan rasa pengabdian mereka bertambah besar  الۡمُنۡفِقِیۡنَ -- mereka “membelanjakan” apa yang direzekikan Allah Swt.  kepada mereka untuk kesejahteraan umat manusia.

Cara Allah Swt. “Mempersatukan Hati” Manusia & Penegakan Kembali “Khilāfatun ‘alā Minhājin- Nubuwwah” di Akhir Zaman

        Tetapi seperti kata-kata penutup ayat ini  وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ --  “dan  orang-orang yang memohon ampun di bagian akhir malam, ” menunjukkan, sepanjang masa itu mereka terus-menerus mendoa kepada Allah  Swt.  agar memaafkan setiap kekurangan mereka dalam mencapai cita-cita luhur mereka untuk berbakti kepada umat manusia di tengah keheningan malam.
       Itulah tanda-tanda “khayra  ummah” (umat terbaik – QS.1:44; QS.3:111) yang telah diperagakan   oleh umat Islam di    di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  yang penuh berkat dan juga  di masa para Khulafatur-Rasyidah. Dan    kenyataan seperti itu  terulang kembali  di kalangan umat Islam di Akhir Zaman ini  dengan perantaraan  Rasul Akhir Zaman, sehingga jelaslah mengenai makna bahwa “agama Islam” akan mengungguli agama-agama lainnya dalam berbagai segi, bukan menang dalam arti berhasil mengalahkan lawan secara fisik, seperti yang dilakukan oleh golongan Islam penganut “garis keras”, yang malah semakin merusak citra suci agama Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai.  (Ash-Shaff [61]:10).
        Mengapa demikian? Sebab menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, hanya melalui pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya  dijanjikan sajalah  (QS.7:35-37; QS.61:10; QS.62:3-4) -- bukan dengan harta-kekayaan duniawi yang berlimpah-ruah atau dengan cara kekerasan dan paksaan secara fisik – cara  Allah Swt. mempersatukan  hati umat manusia  dalam “persaudaraan Muslim” yang hakiki, yang didasari kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
       Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ حَسۡبُکَ اللّٰہُ وَ مَنِ اتَّبَعَکَ  مِنَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ﴿٪﴾
Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   Hai Nabi,   Allah mencukupi bagi engkau dan bagi  orang-orang yang mengikuti engkau di antara orang-orang beriman. (Al-Anfāl [8]:64-65).
        Keempat keadaan “orang-orang beriman” sejati  yang digambarkan sebelumnya tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. berikut  ini mengenai akan ditegakkan-Nya  kembali silsilah khilafat ‘ala minhaj nubuwwah   di kalangan umat Islam di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿ ﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka. (An-Nūr [24]:46).

Pentingnya  Umat Islam Mentaati Allah Swt. dan Rasul-Nya

        Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai pentingnya ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai  sangat pentingnya tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam, sebab ia merupakan penerus  (pewaris) kedudukan Rasul Allah, sebagaimana  arti dari khalifah  yaitu  pengganti atau penerus (QS.6:166; QS.10:15 & 74;  QS.35:40).
          Kepatuh-taatan kepada Rasul Allah dan para Khalifah Rasul  akan menyebabkan terciptanya “kesatuan dan persatuan umat”, sebaliknya jika umat Islam tidak memperlihatkan ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya    -- yang merupakan “tali Allah” (QS.3:104)   -- maka mereka akan menjadi “kaum yang terpecah belah”,  yang identik dengan kemusyrikan (QS.30:31-33). Berikut firman-Nya  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ  تَوَلَّوۡا فَاِنَّمَا عَلَیۡہِ مَا حُمِّلَ وَ عَلَیۡکُمۡ مَّا حُمِّلۡتُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوۡہُ تَہۡتَدُوۡا ؕ وَ مَا عَلَی الرَّسُوۡلِ  اِلَّا الۡبَلٰغُ الۡمُبِیۡنُ ﴿ ﴾
Katakanlah:  Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul,” lalu jika kamu berpaling  maka ia (rasul)  bertanggung-jawab hanya mengenai apa yang dibebankan kepadanya, dan kamu bertanggungjawab mengenai apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya kamu akan mendapat petunjuk,  dan tidak lain  kewajiban Rasul melainkan menyampaikan dengan jelas. (An-Nūr [24]:55).
      Kemudian dalam ayat selanjutnya    Allah Swt. berjanji kepada bahwa orang-orang Muslim    -- yang beriman dan beramal shaleh  (QS.49:15-19) -- akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi. Janji itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam.
        Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham, dan karena  kini  Nabi Besar Muhamm saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, maka khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
         Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.   -- sebagai Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41)  --yang menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. Dan di Akhir Zaman ini  Allah Swt.  sesuai janji-Nya tersebut  telah membangkitkan khalifah ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang   atas perintah Allah Swt.  beliau  juga mendakwakan diri sebagai Rasul Akhir Zaman, yang kedatangannya  ditunggu-tunggu oleh  semua umat beragama dengan sebutan (nama) yang berbeda-beda (QS.61:10).

Jemaat Muslim Ahmadiyah

         Keempat ciri khas “orang-orang beriman” sejati yang dikemukakan sebelumnya telah dibuktikan oleh orang-orang yang beriman kepada Rasul Akhir Zaman tersebut yaitu Jemaat Muslim Ahmadiyah. Mereka  selama lebih dari 1 abad  hingga saat ini sekali pun terus menerus mendapat  berbagai macam fitnah keji dan berbagai perlakuan zalim  dari berbagai fihak yang menentang keras Rasul Akhir Zaman tersebut, tetapi  mereka tetap teguh dalam keimanannya seperti halnya  pendahulu mereka, yaitu umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw..
      Dengan demikian benarlah nubuatan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini mengenai dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di masa awal dan di masa akhir umat Islam dalam wujud “Khalifah ruhani” beliau saw. terbesar, yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya, dan  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ  --   Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
       Huruf   وَ  di awal ayat   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ      adalah   wau ataf  yang  memberitahukan bahwa  berbagai keadaan dan peristiwa yang diceritakan dalam ayat sebelumnya, akan kembali terjadi sepenuhnya  di Akhir Zaman ini      ketika  Allah  Swt. mengutus  Nabi Besar Muhammad saw. kedua kali secara ruhani  di kalangan اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  -- (kaum lain dari antara mereka), لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ    -- “yang belum bertemu dengan mereka” yaitu dalam wujud Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s..

Pelarangan  Melakukan  Ibadah Haji oleh “Pemelihara” Ka’bah (Baitullah)

    Dari sekian banyak persamaan antara keadaan Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di masa awal dengan keadaan yang dialami  Jemaat Ahmadiyah  adalah ketika secara berjama’ah dilarang keras  untuk mengunjungi Ka’bah (Baitullah)  oleh pihak yang menganggap diri mereka sebagai “pemelihara” Ka’bah (Baitullah), yakni mereka dilarang keras  melaksanakan ibadah haji karena dianggap sebagai golongan  Non-Muslim  serta dianggap golongan yang “sesat dan menyesatkan”,  dengan  alasan bahwa Jemaat Muslim Ahmadiyah telah beriman kepada Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada semua umat beragama (QS.61:10; QS.77:12).
   Dengan demikian jelaslah,  bahwa pihak-pihak  yang melakukan  pelarangan  melakukan ibadah haji  kepada sesama Muslim, mereka itu telah menjadi penentang  yang nyata terhadap  perintah  Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اَذِّنۡ فِی النَّاسِ بِالۡحَجِّ  یَاۡتُوۡکَ  رِجَالًا وَّ عَلٰی کُلِّ ضَامِرٍ یَّاۡتِیۡنَ مِنۡ کُلِّ فَجٍّ عَمِیۡقٍ ﴿ۙ﴾
”Dan umumkanlah  kepada manusia untuk ibadah haji, mereka akan datang kepada engkau berjalan kaki dan menunggang unta yang kurus, datang dari segenap penjuru yang jauh-jauh. (Al-Hājj [22]:28).
       Mereka pun telah menjadi penentang perintah Allah Swt.  dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَوۡفُوۡا بِالۡعُقُوۡدِ ۬ؕ اُحِلَّتۡ لَکُمۡ بَہِیۡمَۃُ الۡاَنۡعَامِ  اِلَّا مَا یُتۡلٰی عَلَیۡکُمۡ غَیۡرَ مُحِلِّی الصَّیۡدِ وَ اَنۡتُمۡ حُرُمٌ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  یَحۡکُمُ مَا یُرِیۡدُ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآئِرَ اللّٰہِ وَ لَا الشَّہۡرَ الۡحَرَامَ وَ لَا الۡہَدۡیَ وَ لَا الۡقَلَآئِدَ وَ لَاۤ  آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رِضۡوَانًا ؕ وَ اِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا ؕ وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی ۪ وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah  perjanjian-perjanjian kamu. Dihalalkan bagi kamu binatang binatang  berkaki empat, kecuali  apa yang akan diberitahukan kepada kamu,  dengan tidak menghalalkan binatang buruan selama kamu dalam keadaan ihram, sesungguhnya Allah menetapkan hukum mengenai apa yang Dia kehendaki.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah mencemari Syiar-syiar Allah,  jangan mencemari Bulan  Haram,  jangan mencemari binatang-binatang kurban, jangan mencemari binatang-binatang kurban yang ditandai kalung,   وَ لَاۤ  آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رِضۡوَانًا   -- dan jangan mencemari yakni menghalangi orang-orang yang   menziarahi Baitul Haram untuk  mencari karunia dan keridhaan dari  Rabb (Tuhan) mereka. Tetapi apabila kamu telah melepas pakaian ihram maka kamu boleh berburu.  وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا   -- Dan  janganlah kebencian sesuatu kaum kepada kamu  karena mereka telah  menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram mendorongmu melampaui batas. وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی   -- Dan tolong-menolonglah kamu dalam birr (kebajikan) dan takwa,   ۪ وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ  -- janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan,  وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ  --  dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya siksaan Allah sangat keras. (Al-Maidah [5]:1-3).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  24 Juni    2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar