Senin, 18 Agustus 2014

Kesinambungan Pengutusan "Rasul" di Kalangan Malaikat dan Manusia & Orang-orang yang Memusuhi Allah Swt. dan Malaikat Jibril a.s.




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


 Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   297

    Kesinambungan Pengutusan Rasul di Kalangan Malaikat dan Manusia & Orang-orang  yang Memusuhi Allah Swt. dan Malaikat Jibril a.s.  


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai dua Sifat Allah Swt.  مُنۡذِرِیۡنَ  -- (yang selalu memberi peringatan) dan    مُرۡسِلِیۡنَ (yang selalu mengutus rasul-rasul), sama kekalnya dengan Sifat-sifat Allah Swt. lainnya, termasuk Sifat Al-Mutakallīm  (Yang Maha Berbicara), firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ    -- bahwa Allah berbicara kepadanya,  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ --  kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.   وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا  -- dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami.  مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ  -- engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu,  وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا  -- tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami ke-hendaki dari antara hamba-hamba Kami.  وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ  -- dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurus, صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ   --  jalan  Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi. اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ   -- ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali.  (Asy-Syura [42]:52-54).

Lailatul-Qadar (Malam Takdir) Hakiki adalah Kedatangan Rasul Allah

        Allah Swt. berfirman bahwa pada  Lailatul-Qadr (Malam Takdir) turun para malaikat dan Ruh, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿ۖ﴾  اِنَّاۤ  اَنۡزَلۡنٰہُ  فِیۡ  لَیۡلَۃِ  الۡقَدۡرِ ۚ﴿ۖ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا لَیۡلَۃُ  الۡقَدۡرِ ؕ﴿﴾   لَیۡلَۃُ  الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ  مِّنۡ  اَلۡفِ شَہۡرٍ ؕ﴿ؔ﴾  تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ﴾  سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ  الۡفَجۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam Takdir,       dan apakah engkau mengetahui apa Malam Takdir itu? لَیۡلَۃُ  الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ  مِّنۡ  اَلۡفِ شَہۡرٍ   -- Malam Takdir  itu lebih baik daripada seribu bulan. تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ  -- di dalamnya turun  malaikat-malaikat dan ruh  dengan izin Rabb (Tuhan) mereka  mengenai segala perintah. سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ  الۡفَجۡرِ  --  Malam itu penuh kesejahtaraan  hingga fajar terbit.  (Al-Qadr [97]:1-6).
        Makna lain dari ayat   لَیۡلَۃُ  الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ  مِّنۡ  اَلۡفِ شَہۡرٍ   -- Malam Takdir  itu lebih baik daripada seribu bulan” bahwa orang yang dengan karunia Allah Swt. beriman  kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.QS.7:35-37)    pada zaman kegelapan akhlak dan ruhan  -- yang merupakan Lailatul-Qadr (Malam Takdir) hakiki  --  jauh lebih baik daripada belajar agama seumur hidup selama 1000 bulan atau 83 tahun kepada guru agama mana pun yang tidak mendapat petunjuk Allah Swt. melalui wahyu Ilahi.
        Mengapa demikian? Sebab تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ  -- “di dalamnya turun  malaikat-malaikat dan Ruh  dengan izin Rabb (Tuhan) mereka  mengenai segala perintah. سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ  الۡفَجۡرِ  --  Malam itu penuh kesejahtaraan  hingga fajar terbit,”   hal tersebut sesuai dengan firman-Nya:
اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾
Allah  senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Al Hajj  [22]:76).
Kalimat  یَصۡطَفِیۡ   adalah fi’il mudhari  yaitu kata-kerja telah, sedang dan akan, dengan demikian kalimat  اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ  -- “Allah  senantiasa memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia.
       Hal  tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. bahwa hanya kepada Rasul-Nya sajalah Allah Swt. membukakan berbagai rahasia ghaib-Nya, Dia berfirman:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾ 
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,     اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ  -- kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  -- maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,     لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ  -- supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mere-ka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا  -- dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29). Lihat pula QS.3:180.
     Jadi, ayat   فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  -- maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,     sesuai dengan ayat   تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ  فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ  کُلِّ  اَمۡرٍ  -- “di dalamnya turun  malaikat-malaikat dan Ruh  dengan izin Rabb (Tuhan) mereka  mengenai segala perintah. سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ  الۡفَجۡرِ  --  Malam itu penuh kesejahtaraan  hingga fajar terbit.”    (Al-Qadr [97]:5-6).

Mereka yang Memusuhi Allah Swt. dan Malaikat Jibril a.s..

      Jadi, orang-orang yang menolak ketiga Sifat Allah Swt.   Al-Mundzirīn, Al-Mursilīn, dan Al-Mutakallīm  --  yang berhubungan erat dengan  pengutusan rasul-rasul  dari kalangan malaikat dan manusia  (QS.22:76) serta kesinambungan turunnya wahyu Ilahi  (QS.42:52-54) -- maka  berarti mereka secara sadar telah memposisikan diri mereka  menjadi musuh Allah Swt. dan musuh malaikat Jibril a.s. yang tugas utamanya adalah menyampaikan wahyu Ilahi kepada para Rasul Allah, firman-Nya:
مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah pun menjadi musuh bagi orang-orang kafir.  (Al-Baqarah [2]:99)
        Jibril itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti, orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allah. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti, khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh William Geseneus; (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-al-Mawarid).
       Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari Jibril ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir). Malaikat  Jibril a.s. sebagai penghulu di antara para malaikat (Durr Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran.   Menurut para ahli tafsir Al-Quran malaikat Jibril a.s. itu searti dengan Ruhulqudus  dan Ruhul-Amin.
        Menurut Bible pun tugas malaikat Jibril a.s.  adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19).  Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini, menetapkan tugas yang sama kepada malaikat Jibril a.s. Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica pada Gabriel). Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw. orang-orang Yahudi menganggap Jibril a.s. sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad Ahmad bin Hanbal).
          Mikal (Mikail) pun salah  satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian  terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
     Malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian karena itu  barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya, ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu. Seorang yang demikian memahrumkan (meluputkan) diri dari rahmat dan karunia yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar, dan menjadikan dirinya layak menerima siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar.

Mereka yang Berada Dalam “Kegelapan di Atas Kegelapan”

     Jadi, orang-orang yang menolak ketiga Sifat Allah Swt.   Al-Mundzirīn, Al-Mursilīn, dan Al-Mutakallīm  -- pasti  mereka akan berada dalam “kegelapan” yang pekat  dan mereka  tidak akan pernah dapat keluar dari “malam   kegelapanakhlak dan ruhani yang meliputi mereka,  termasuk di   Akhir Zaman ini,  firman-Nya:
اَوَ مَنۡ کَانَ مَیۡتًا فَاَحۡیَیۡنٰہُ وَ جَعَلۡنَا لَہٗ نُوۡرًا یَّمۡشِیۡ بِہٖ فِی النَّاسِ کَمَنۡ مَّثَلُہٗ فِی الظُّلُمٰتِ لَیۡسَ بِخَارِجٍ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ زُیِّنَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا فِیۡ کُلِّ قَرۡیَۃٍ اَکٰبِرَ مُجۡرِمِیۡہَا لِیَمۡکُرُوۡا فِیۡہَا ؕ وَ مَا یَمۡکُرُوۡنَ  اِلَّا بِاَنۡفُسِہِمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apakah  orang yang telah mati lalu Kami menghidupkannya dan Kami menjadikan baginya cahaya dan ia berjalan dengan cahaya itu  di tengah-tengah manusia, sama  seperti keadaan  orang yang berada di dalam berbagai macam kegelapan  dan ia  sekali-kali tidak  dapat keluar darinya?  Demikianlah telah ditampakkan indah bagi orang-orang kafir apa yang senantiasa mereka kerjakan.  Dan demikianlah Kami  menjadikan di dalam tiap negeri pendosa-pendosa besarnya, supaya mereka melakukan makar di dalam negeri itu, tetapi sekali-kali tidak ada yang ter-kena makar mereka kecuali dirinya sendiri tetapi mereka tidak menyadarinya. (Al-An’ām [6]:123-124).
Firman-Nya lagi:
وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ کَسَرَابٍۭ بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ  لَمۡ  یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ  اللّٰہَ عِنۡدَہٗ  فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿ۙ﴾  اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir   amal-amal mereka seperti fatamorgana di padang pasir, orang-orang  yang haus menyangkanya air,  hingga apabila ia mendatanginya  ia tidak mendapati sesuatu pun, dan ia mendapati Allah di sisinya lalu Dia membayar penuh peritungannya, dan Allah sangat cepat dalam perhitungan.   Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ  -- kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain.  اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا  -- apabila ia mengulurkan tangannya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya,   وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ  -- dan barangsiapa baginya   Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur(An-Nūr [24]:40-41).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  28 Juli     2014
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar