Minggu, 26 Januari 2014

Tanda "Hizbullaah" (Golongan Allah) Hakiki atau Muslim Hakiki di Zaman Awal dan di Akhir Zaman



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  137

    Tanda Hizbullāh (Golongan Allah) atau Muslim Hakiki di Zaman Awal dan di Akhir Zaman

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai   ciri khas Hizbullah hakiki yang didirikan oleh Allah Swt.  melalui pengutusan Rasul  Allah  yang kedatangannya dijanjikan
  لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾  
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,   walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, dan Dia akan memasukkan mereka ke da-lam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya.  Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah Hizbullah (golongan Allah). Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil.  (Al-Mujādilah [58]:23).

Tanda Hizbullāh (Golongan Allah) yang Hakiki

   Sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh di antara orang-orang beriman  kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka dengan  orang-orang kafir. Sebab cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain.
Dan karena kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada dengan  para penentang  Rasul Allah yang mereka imani,   maka orang-orang beriman  diminta jangan mempunyai persahabatan yang erat lagi mesra dengan orang-orang kafir.
Ikatan agama harus mengatasi segala perhubungan lainnya, malahan mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun. Ayat ini nampaknya merupakan seruan umum. Tetapi secara khusus seruan itu tertuju kepada orang-orang kafir yang ada dalam berperang dengan kaum Muslim, atau  mereka yang secara aktif melakukan penentangan secara zalim kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka. Itulah makna ayat:
  لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ  
“Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,  walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka….”(Al-Mujādilah [58]:23).

Larangan Mengkompromikan Agama demi Kepentingan Duniawi   &
Kabar Gembira dan Peringatan Bagi Umat Islam

      Sehubungan dengan ciri khas Hizbullāh (golongan Allah) yang hakiki tersebut, dalam Surah lain Allah Swt. berfiman kepada umat Islam di masa Nabi Besar Muhammad saw. -- yang benar-benar merupakan Hizbullāh  -- untuk tetap mendahulukan kecintaan kepada Allah  Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw., dan sama sekali jangan berkompromi dalam  masalah akidah keagamaan  dengan pihak mana pun    -- termasuk orang-orang musyrik dan golongan Ahlikitab   -- demi memperoleh keamanan dari serangan mereka:
  قُلِ اللّٰہُمَّ مٰلِکَ الۡمُلۡکِ تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ ۫ وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ ؕ بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Katakanlah: “Wahai  Allah, Pemilik kedaulatan (Kerajaan)  Engkau  memberikan Kedaulatan (Kerajaan) kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau  mencabut Kedaulatan (Kerajaan) dari siapa yang Engkau kehendaki, Engkau  memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau  menghinakan siapa yang Engkau kehendaki, di tangan Engkau-lah segala kebaikan, sesungguhnya  Engkau Maha Kuasa atas segala se-suatu. (Ali ‘Imran ‘[3]:27).
         Ayat ini merupakan kabar gembira  -- dan sekali gus   sebagai peringatan --  kepada umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw.,  bahwa Allah Swt. sebagai Pemilik Kedaulatan di seluruh langit dan bumi akan menganugerahkan kedaulatan tersebut kepada umat Islam, sebab mereka telah dibangkitkan Allah Swt. sebagai “kaum pengganti  (QS.6:166) melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3), yang akan menggantikan kedudukan kaum  Bani Israil   atau golongan Ahlikitab (Yahudi dan Nasrani) sebagai “kaum terpilih” atau sebagai “khalifah” (QS.6:166; QS.24:56). 
       Sehubungan dengan Sunnatullāh penggantian  kaum  dengan kaum lainnya tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ ۫ وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ ۫ وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ ﴿﴾ 
Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Engkau  memasukkan siang ke dalam malam.  Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan  Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.” (Ali ‘Imran  [3]:28).
      Kata “siang” di sini menggambarkan masa kesejahteraan dan kekuasaan suatu kaum sedangkan  kata “malam” melukiskan masa kemunduran dan kemerosotan mereka akibat ketidak bersyukuran atau kekufuran (kedurhakaan) mereka kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya (QS.14:8).
       Ayat   وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ  --  “dan  Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab   dan yang mendahuluinya mengisyaratkan kepada hukum Ilahi (Sunnatullāh) yang tak berubah, bahwa bangsa-bangsa bangkit atau jatuh, karena mereka menyesuaikan diri dengan atau menentang kehendak Ilahi yang merupakan sumber segala kekuasaan dan kebesaran.
      Lebih lanjut Allah Sw. memperingatkan orang-orang Islam agar senantiasa mendahulukan kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  serta  kecintaan kepada sesama Muslim atau mempertahankan "persaudaraan Muslim" (QS.49:10-11)apa pun alasannya serta bagaimana gentingnya pun keadaan yang dihadapi mereka, firman-Nya:
 لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka  dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya. Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah.  (Ali ‘Imran  [3]:29).

Demi Kepentingan Duniawi Allah Swt. Melarang  Umat Islam 
Berlaku Munafik Terhadap Golongan Non-Muslim

     Dengan diperolehnya kekuatan politik oleh Islam, seperti dijanjikan dalam ayat-ayat sebelumnya, bagi negara Islam mengadakan persekutuan-persekutuan politik itu menjadi sangat perlu. Ayat yang sedang dibahas ini berisikan pedoman asasi bahwa tidak ada negara Islam boleh mengadakan perjanjian atau persekutuan dengan negara bukan-Islam yang sama sekali akan merugikan atau mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan negara-negara Islam lainnya.
     Kepentingan-kepentingan Islam harus berada di atas kepentingan-kepentingan lainnya. Itulah makna ayat  لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat  dengan mengenyampingkan orang-orang beriman
         Dalam ayat selanjutnya kaum Muslim diperingatkan supaya berhati-hati terhadap hasutan-hasutan dan tipu muslihat kaum kafir atau negara-negara Non-Muslim. Ungkapan اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ   -- kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka, dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya”, hal itu  bukan mengacu kepada kekuasaan musuh tetapi kepada kelicikannya yang kaum Muslimin senantiasa harus waspada dan berjaga-jaga.
    Mengenai kebencian dan kedengkian mereka terhadap Islam dan umat Islam   dijelaskan   secara terinci dalam  QS.3:119-121, dan dalam upaya memelihara ghairat terhadap kesucian agama Islam (Al-Quran) Allah Swt. dalam QS.4:140-145 melarang keras  orang-orang Islam  berlaku munafik  demi memperoleh simpati atau bantuan  mereka. 
      Makna kata nafs (nafsahu) dalam ayat selanjutnya  وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ  -- “Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah” berarti: diri pribadi seseorang; maksud, kemauan, atau keinginan; hukuman, dan sebagainya (Aqrab-ul-Mawarid), dengan demikian terjemahan ayat tersebut menjadi “Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya”.

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah Hizbullāh Hakiki di Akhir Zaman

      Pendek kata, itulah penjelasan firman Allah Swt. mengenai ciri khasHizbullāh” (golongan Allah) atau Muslim yang hakiki dalam firman-Nya sebelum ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
  لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ  
“Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,  walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka….”(Al-Mujādilah [58]:23).
     Mengenai keteguhan hati Hizbullāh (golongan Allah) atau Muslim hakiki tersebut selanjutnya Allah Swt. menjelaskan penyebabnya:
  اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾  
… Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ruh (ilham/wahyu)  dari-Nya,  dan Dia akan memasukkan mereka ke da-lam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya.  Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah Hizbullah (golongan Allah). Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil.  (Al-Mujādilah [58]:23).
     Dalam ayat tersebut Allah Swt. menyebut ilham atau wahyu-Nya  yang memperteguh hati   Hizbullāh hakiki  atau Muslim hakiki   menggunakan kata rūh yakni  وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ   -- “dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ruh (ilham/wahyu)  dari-Nya”, hal ini memdukung penjelasan dalam Bab sebelumnya mengenai pencabutan dan pengembalian “ruh” Al-Quran (QS.17:86-89; QS.32:6; QS.42:52-54) bahwa Allah Swt. telah menyebut wahyu (ilham) Ilahi dengan sebutan rūh.
       Jadi, hanya orang-orang yang hatinya (jiwanya) telah diperkuat oleh “ruh” yakni ilham atau wahyu Ilahi  dari Allah Swt. sajalah   وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ   -- “dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ruh (ilham/wahyu)  dari-Nya”,    yang  akan menjadi Hizbullāh (golongan Allah) hakiki atau Muslim hakiki, dan di Akhir Zaman ini  hanya terjadi pada  orang-orang  yang beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  kepada mereka  yakni Rasul Akhir Zaman (QS.61:QS; QS.62:3-5), dan di Akhir Zaman ini  Hizbullāh hakiki tersebut adalah Jemaat Muslim Ahmadiyah.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   3 Januari      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar