Jumat, 10 Januari 2014

Keadaan Orang-orang yang "Menjual Ayat-ayat Tuhan" & Berbagai Keadaan "Hamba-hamba Allah" Pewaris Al-Quran



  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  115

Keadaan Orang-orang yang “Menjual Ayat-ayat Tuhan” & Berbagai Keadaan Hamba-hamba Allah  Para Pewaris Al-Quran 

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai   seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura, yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s.   dan konon dahulunya ia seorang wali Allah, tetapi kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan, firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ﴿﴾  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).

Sunnatullah  “Keterusiran”    Para  Penentang Rasul Allah &
Makna  Lain “Syaitan

 Ayat-ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal – pemimpin kaum kafir Mekkah, atau kepada Abdullah bin Ubbay bin Salul --- pemimpin kaum munafik Madinah; atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran  di setiap zaman pengutusan Rasul Allah (QS.7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini.
 Jadi, makna ayat  الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا -- “orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya lalu ia melepaskan diri darinya” adalah orang-orang yang mendustakan berbagai macam Tanda Ilahi  yang diperlihatkan Rasul Allah kepada mereka, namun mereka  tetap tidak mempercayai pendakwaan Rasul Allah tersebut.
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ  -- “maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.” Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab-bab sebelumnya bahwa pada hakikatnya makna  lain dari “syaitan” yang dikemukakan dalam Al-Quran berkenaan dengan kisah para Rasul Allah, sama sekali tidak mengisyaratkan kepada makhluk gaib atau makhluk halus yang juga disebut syaitan  (QS.7:28), melainkan kepada orang-orang  yang mendustakan dan menentang para Rasul Allah (QS.2:15; QS.6:44 & 112-114; QS.8:49; QS.16:64; QS.22:53-54; QS.27:25; QS.29:39).
 Dalam dua firman-Nya berikut ini nampak jelas bahwa yang dimaksud dengan  syaithan” (setan) berkenaan dengan  para Rasul Allah adalah manusia, bukan makhluk gaib  (makhluk halus) melainkan manusia, firman-Nya:
وَ  اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚۖ وَ  اِذَا خَلَوۡا اِلٰی شَیٰطِیۡنِہِمۡ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ ۙ اِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَ یَمُدُّہُمۡ  فِیۡ طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ ﴿ ﴾
Dan  apabila mereka bertemu dengan orang-orang  beriman, mereka berkata: “Kami pun telah beriman. Tetapi  apabila  mereka pergi kepada pemimpin-pemimpinnya, mereka berkata: “Sesungguhnya kami beserta kamu,  sesungguhnya kami hanyalah berolok-olok.”  Allah akan menghukum  perolokan mereka dan   membiarkan mereka berkelana  bingung dalam kedurhakaan mereka (Al-Baqarah [15-16).
       Menurut Ibn Abbas r.a., Ibn Mas’ud r.a., Qatadah r.a. dan Mujahid r.a., makna kata syayāthin (setan-setan) dalam ayat tersebut adalah  para pemimpin pendurhaka. Sehubungan makna lain dari syayāthin (setan-setan) tersebut Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda: “Seorang pengendara sendirian adalah syaithan, dua pengendara pun sepasang syaithan, tetapi tiga orang pengendara, adalah satu pasukan pengendara” (Abu Dawud). Hadits ini mendukung pandangan bahwa  kata syaithan tidak selamanya berarti setan.
     Kalimat  اَللّٰہُ یَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ --   Allah akan menghukum perolokan mereka”. Dalam bahasa Arab hukuman untuk perbuatan jahat, kadang-kadang dinyatakan dengan kata yang dipakai untuk kejahatan itu sendiri, firman-Nya:   وَ جَزٰٓؤُا سَیِّئَۃٍ  سَیِّئَۃٌ  مِّثۡلُہَا   --  Hukuman untuk perbuatan jahat adalah kejahatan yang setimpal dengan itu” (QS.42:41).
      Ahli syair Arab yang termasyhur ‘Amr bin Kultsum berkata: Ala lā yajhalan ahadun ‘alainā, fanajhal fauqa jahl al-jahilinā, artinya: “Awas! Jangan ada yang berani berbuat kejahilan terhadap kami, karena  kami akan memperlihatkan kejahilan yang lebih besar", yakni  "kami akan membalas kejahilannya” (Mu’allaqat).

Disesali  Para   Pemimpin Kekafiran Mereka

     Masih dalam Surah Al-Baqarah,  senada dengan ayat-ayat tersebut  Allah Swt. berrfirman:
وَ اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا   ۚۖ وَ اِذَا خَلَا بَعۡضُہُمۡ  اِلٰی بَعۡضٍ قَالُوۡۤا اَتُحَدِّثُوۡنَہُمۡ بِمَا فَتَحَ اللّٰہُ عَلَیۡکُمۡ لِیُحَآجُّوۡکُمۡ بِہٖ عِنۡدَ رَبِّکُمۡ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  اَ وَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ اَنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یُسِرُّوۡنَ وَ مَا یُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang beriman mereka berkata: “Kami pun telah beriman", tetapi apabila mereka bertemu satu sama lain mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka  tentang apa yang telah dibukakan Allah kepadamu, sehingga  dengan itu nanti mereka dapat membantah kamu di hadapan Rabb (Tuhan) kamu, tidakkah kamu mengerti?” (Al-Baqarah [2]:77).  
      Ayat ini menyebut satu golongan Yahudi lain yang senantiasa berbuat munafik. Bila mereka berbaur dengan orang-orang Islam mereka mengiya-iyakan saja karena tujuan-tujuan duniawi dengan membenarkan nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab mereka mengenai  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Nabi yang seperti Musa (Ulangan 18:15-19; QS.2:147; QS.26: 193-198; QS.46:11).
     Tetapi bila mereka itu berbaur dengan kaumnya sendiri, anggauta-anggauta masyarakat lainnya biasanya menyesali mereka, karena mereka memberi penerangan kepada kaum Muslim  mengenai apa-apa yang telah diwahyukan Allah Swt. kepada mereka, yaitu yang membuat kaum Muslimin mengetahui nubuatan-nubuatan mengenai Rasulullah saw. yang terdapat dalam Kitab-kitab suci mereka sendiri.
      Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan syayāthitihim (setan-setan)  dalam ayat tersebut bukan merujuk kepada  makhluk halus yang disebut setan melainkan manusia  -- tepatnya para pemimpin kekafiran. Sebab tidak pernah diketahui ada  makhuk gaib (makhluk halus) yang disebut syaitan (setan) yang pernah menegur  atau menyesali perbuatan orang-orang munafik   ketika bertemu  mereka.

Mengubah-ubah Makna Kandungan Kitab Suci

     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai  kebiasaan  buruk di kalangan para pemuka  kaum Ahli Kitab   mengubah-ubah Kitab  atau mengubah-ubah makna Kitab atau menyembunyikan kebenaran  dalam Kitab-kitab mereka,  firman-Nya:
اَ وَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ اَنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یُسِرُّوۡنَ وَ مَا یُعۡلِنُوۡنَ ﴿﴾وَ مِنۡہُمۡ اُمِّیُّوۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ الۡکِتٰبَ اِلَّاۤ اَمَانِیَّ وَ اِنۡ ہُمۡ  اِلَّا یَظُنُّوۡنَ ﴿﴾ فَوَیۡلٌ لِّلَّذِیۡنَ یَکۡتُبُوۡنَ الۡکِتٰبَ بِاَیۡدِیۡہِمۡ ٭ ثُمَّ یَقُوۡلُوۡنَ ہٰذَا مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ  لِیَشۡتَرُوۡا بِہٖ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ؕ فَوَیۡلٌ لَّہُمۡ  مِّمَّا کَتَبَتۡ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ وَیۡلٌ لَّہُمۡ مِّمَّا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾ 
Apakah mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya  Allah mengetahui apa pun yang mereka sembunyikan dan apa  pun yang mereka nyatakan?   Dan di antara mereka ada yang buta huruf,  mereka tidak menge-tahui Alkitab kecuali beberapa khayal-an palsu belaka, bahkan mereka tidak lain kecuali hanya menduga-duga. Maka  celakalah orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri kemudian berkata: “Ini dari sisi Allah”, supaya dengan itu mereka memperoleh  sedikit keuntungan. Maka celakalah mereka dise-babkan apa yang ditulis oleh tangan mereka dan celakalah  mereka karena apa yang  mereka kerjakan. (Al-Baqarah [78-80).
     Ummiyyun  dalam ayat  وَ مِنۡہُمۡ اُمِّیُّوۡنَ  --  Dan di antara mereka ada yang buta huruf” berarti mereka yang tidak mengetahui suatu Kitab wahyu. Kata itu jamak dari ummiy yang berarti orang yang tidak dapat membaca atau menulis. SElanjutnya dijelaskan bahwa ada orang-orang Yahudi yang menulis kitab-kitab atau bagian-bagiannya dan kemudian mengemukakannya sebagai Kalamullāh.
      Perbuatan buruk itu telah biasa pada orang-orang Yahudi,  karena itu di samping Kitab-kitab Bible ada sejumlah kitab yang dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai diwahyukan, sehingga sekarang menjadi tidak mungkin membedakan Kitab-kitab Wahyu dari kitab yang bukan-wahyu.
      Semua  keburukan tersebut mereka lakukan semata-mata demi kepentingan dan keuntungan duniawi, dan mereka pun termasuk dalam  golongan orang-orang yang “hatinya cenderung ke bumi” sebagaimana firman-Nya di awal Bab ini sehubungan dengan Bal’am bin Baura (Bileam bin Beor):   وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ  -- “akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya”,  yakni  mereka lebih menyukai hal-hal yang bersifat kebendaan  -- pada khususnya kecintaan akan uang -- sebab pada hakikatnya  hanya semata-mata karena  alasan kecintaan  kepada “dunia  itulah  para pemuka kaum  di setiap zaman melakukan  pendustaan dan penentangan terhadap para Rasul Allah  dengan mengikuti keinginan  hawa-nafsu  mereka, firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ﴿﴾  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya. Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A’rāf [7]:176-178).

Menjulurkan Seperti Anjing  

  Makna yalhats  dalam ayat selanjutnya   فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ   --    “maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan   lidahnya,  berasal dari kata   lahatsa. yang berarti “nafasnya tersengal-sengal karena kelelahan atau kepenatan.”
Yakni baik diminta ataupun tidak untuk berkorban pada jalan agama, orang semacam itu nampaknya terengah-engah seperti seekor anjing kehausan, seakan-akan beban pemberian pengorbanan yang terus menerus bertambah membuatnya amat penat sekali.  Benarlah firman-Nya:
فَمَنۡ یُّرِدِ اللّٰہُ اَنۡ یَّہۡدِیَہٗ یَشۡرَحۡ صَدۡرَہٗ لِلۡاِسۡلَامِ ۚ وَ مَنۡ یُّرِدۡ  اَنۡ یُّضِلَّہٗ یَجۡعَلۡ صَدۡرَہٗ ضَیِّقًا حَرَجًا کَاَنَّمَا یَصَّعَّدُ فِی السَّمَآءِ ؕ کَذٰلِکَ یَجۡعَلُ اللّٰہُ الرِّجۡسَ عَلَی الَّذِیۡنَ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  وَ ہٰذَا صِرَاطُ رَبِّکَ مُسۡتَقِیۡمًا ؕ قَدۡ فَصَّلۡنَا الۡاٰیٰتِ  لِقَوۡمٍ  یَّذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾  لَہُمۡ دَارُ السَّلٰمِ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ وَ ہُوَ وَلِیُّہُمۡ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberi petunjuk kepadanya, Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam, sedangkan barangsiapa yang Dia hendak menyesatkannya, Dia menjadikan dadanya  sesak lagi sempit seakan-akan ia sedang naik ke langit. Seperti itulah  Allah menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak beriman.  Dan  inilah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang lurus, sesungguhnya Kami telah menjelaskan Ayat-ayat bagi kaum yang suka mengambil pelajaran.   Bagi mereka  rumah keselamatan di sisi Rabb (Tuhan) mereka dan Dia Pelindung mereka disebabkan apa yang senantiasa mereka kerjakan. (Al-An’ām [6]:126-128).
 Makna ayat  وَ مَنۡ یُّرِدۡ  اَنۡ یُّضِلَّہٗ یَجۡعَلۡ صَدۡرَہٗ ضَیِّقًا حَرَجًا کَاَنَّمَا یَصَّعَّدُ فِی السَّمَآءِ  -- “sedangkan barangsiapa yang Dia hendak menyesatkannya, Dia menjadikan dadanya  sesak lagi sempit seakan-akan ia sedang naik ke langit”,  yakni dia menganggap perintah-perintah Ilahi sebagai beban dan dihadapkan kepada kesukaran jasmani dan kesulitan mental dalam melaksanakannya, seolah-olah dadanya menyempit seperti orang sedang menaiki pendakian terjal.

Berbagai Keadaan Para Pewaris Kitab Al-Quran

  Memang benar, bahwa perjalanan ruhani berupa pengamalan hukum-hukum syariat  -- terutama syariat Islam (Al-Quran)  sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. --  atau  pelaksanaan iman dan amal shaleh,  merupakan suatu “perjalanan yang mendaki lagi sukar” menuju puncak kesempurnaan akhlak dan ruhani,   firman-Nya:  
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan  Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran yang menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat  Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.   Ganjaran mereka Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasuki-nya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.   Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai,   Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya.”   (Al-Fāthir [35]:32-36).
        Seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat. Pada tingkat pertama ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap keinginan dan nafsu rendahnya (nafs-Ammarah) serta mengamalkan peniadaan diri secara mutlak. Pada tingkat selanjutnya, kemajuan ke arah tujuannya  hanya sebagian saja (nafs Lawwamah),  dan pada tingkat terakhir ia mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata (nafs-al-Muthmainnah).
    Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt.  merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat ini dan ayat sebelumnya.  Itulah makna ayat  لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ  -- “kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   13 Desember    2013



Tidak ada komentar:

Posting Komentar