Rabu, 29 Januari 2014

Perbantahan Pada "Hari Penghakiman" Allah Swt. antara Para "Penyembah" dengan "Sembahan" Mereka



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  141

    Perbantahan Pada “Hari Penghakiman” Allah Swt.  antara Para “Penyembah” dengan “Sembahan” Mereka

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

  
P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai   gambaran kengerian lainnya yang sama dengan  gambaran kengerian dan kepanikan hebat dalam QS.70:7-19, firman-Nya:          
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ ۚ اِنَّ  زَلۡزَلَۃَ  السَّاعَۃِ  شَیۡءٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾ یَوۡمَ تَرَوۡنَہَا تَذۡہَلُ کُلُّ مُرۡضِعَۃٍ عَمَّاۤ اَرۡضَعَتۡ وَ تَضَعُ کُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَہَا وَ تَرَی النَّاسَ سُکٰرٰی وَ مَا ہُمۡ  بِسُکٰرٰی وَ لٰکِنَّ عَذَابَ اللّٰہِ شَدِیۡدٌ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb (Tuhan) kamu, sesungguhnya  kegoncangan Saat  itu sesuatu yang sangat dahsyat.  Pada hari ketika engkau melihatnya,  setiap perempuan  yang menyusui akan lupa kepada yang disusuinya dan setiap perempuan  yang  mengandung akan  menggugurkan kandungannya, dan engkau akan melihat manusia mabuk,  padahal mereka itu tidak mabuk  tetapi azab Allah sungguh sangat keras. (Al-Hājj [22]:1-3.

Makna “As-Sā’ah” (Kiamat)  dan Kedahsyatan Peristiwanya

     As-Sā’at (saat), atau al-Qiyāmat  dalam ayat  اِنَّ  زَلۡزَلَۃَ  السَّاعَۃِ  شَیۡءٌ  عَظِیۡمٌ  -- “sesungguhnya  kegoncangan Saat  itu sesuatu yang sangat dahsyat” dipergunakan dalam 3 pengertian: (a) Kematian seorang pribadi yang besar dan ternama (assā’at ashshughra); (b) suatu bencana nasional (assā’at alwustha); (c) Hari Peradilan (assā’at alkubra).
     Kata  As-Sā’at (saat)  itu telah dipergunakan dalam Al-Quran dengan kedua pengertian yang disebut terakhir. Letaknya menunjukkan bahwa di sini kata itu dipergunakan dalam pengertian bencana nasional yang menggoncangkan sendi-sendi kekuatan suatu kaum yang mendustakan dan menentang Rasul Allah yang diutus kepada mereka. 
       Kata  As-Sā’at (saat)  itu dapat pula menunjuk secara khusus kepada nasib yang ketika itu sedang mengancam orang-orang Arab, ketika Mekkah  -- benteng kekuasaan politik mereka  -- akan jatuh serta kekuasaan politik dan sistem kemasyarakatan mereka akan patah dan ambruk; atau kata As-Sā’at (saat)   itu dapat menunjuk kepada suatu bencana amat dahsyat yang akan menimpa umat manusia berupa perang dunia, dan sebagai akibatnya akan mendatangkan perubahan-perubahan yang amat dahsyat.
      Ayat 3   jika dibaca bersama-sama dengan QS.2:213, memberikan lagi dukungan kepada kesimpulan bahwa kata-kata assā’at atau yaumalqiyāmah yang dipergunakan dalam Al-Quran pada umumnya menunjuk kepada suatu bencana nasional besar yang menimpa  suatu kaum seluruhnya.
      Ayat ini telah memakai 3  perumpamaan atau tamsil untuk menyatakan sangat kerasnya “gempa bumi Saat itu” yang disebut dalam ayat sebelumnyam, yaitu (1) Tidak ada yang lebih dicintai oleh seorang ibu selain bayi yang ia susui, dan (2) tidak ada kengerian yang lebih menakutkan akibatnya, selain kengerian yang membuat seorang perempuan gugur kandungannya dan (3) membuat kaum laki-laki jadi kalap.

Tiba-tiba Menjadi Orang  yang Sangat Egois

      Namun demikian ayat ini mengatakan, begitu tiba-tiba  dan hebatnya kengerian yang ditimbulkan oleh kejadian yang amat dahsyat begitu tidak terpikirkan, sehingga kaum ibu akan meninggalkan bayi-bayi yang sedang disusuinya serta perempuan-perempuan hamil akan menggugurkan kandungannya dan orang-orang akan menjadi gila oleh rasa takutnya dan seperti orang mabuk tidak akan menguasai perbuatannya.
       Ada hal yang menakjubkan mengenai  sikap manusia pada saat menghadapi peristiwa yang sangat mengerikan  -- yang disebut “Kiamat” –  yaitu  ia  hanya memikirkan dan mengupayakan  keselamatan dirinya sendiri, sekali pun  dengan cara mengorbankan semua orang yang dicintainya – termasuk mengorbankan semua manusia lainnya --    firman-Nya:
وَ لَا یَسۡـَٔلُ  حَمِیۡمٌ حَمِیۡمًا ﴿ۚۖ﴾  یُّبَصَّرُوۡنَہُمۡ ؕ یَوَدُّ  الۡمُجۡرِمُ لَوۡ  یَفۡتَدِیۡ مِنۡ عَذَابِ یَوۡمِئِذٍۭ بِبَنِیۡہِ﴿ۙ﴾  وَ صَاحِبَتِہٖ وَ اَخِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ فَصِیۡلَتِہِ الَّتِیۡ تُــٔۡوِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ مَنۡ  فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ ثُمَّ  یُنۡجِیۡہِ ﴿ۙ﴾
Dan tidak akan bertanya  sahabat karib kepada sahabat karib lainnya.   Hari itu akan diperlihatkan dengan jelas kepada mereka.  Orang berdosa ingin seandainya  dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya,   dan isterinya serta  saudaranya,  dan kaum kerabatnya yang melindunginya.  Dan  bahkan dengan semua orang yang ada di bumi kemudian  menyelamatkannya. (Al-Ma’arīj [70]:11-15).
     Jadi, betapa orang-orang kafir  yang menentang  Allah Swt. dan Rasul-Nya tersebut  tiba-tiba menjadi orang-orang yang sangat egois  ketika azab Ilahi yang  sebelumnya diperingatkan  oleh Rasul Allah kepada mereka itu benar-benar terjadi. Semua bentuk kecintaan dan hubungan duniawi di antara mereka sama sekali  mereka putuskan.
      Bahkan, tiba-tiba saja ketika itu mereka menjadi orang yang “berserah diri” dengan tulus-ikhlas  kepada Allah Swt., berikut  firman-Nya  mengenai para penentang Rasul Allah:
قَدۡ مَکَرَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَاَتَی اللّٰہُ بُنۡیَانَہُمۡ مِّنَ الۡقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَیۡہِمُ السَّقۡفُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ اَتٰىہُمُ الۡعَذَابُ مِنۡ  حَیۡثُ لَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یُخۡزِیۡہِمۡ وَ یَقُوۡلُ اَیۡنَ شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ  کُنۡتُمۡ  تُشَآقُّوۡنَ فِیۡہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ  اِنَّ الۡخِزۡیَ الۡیَوۡمَ  وَ السُّوۡٓءَ  عَلَی  الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah membuat makar   lalu  Allah mendatangi landasan-landasan bangunannya maka  atap dari atas mereka runtuh menimpa mereka,   dan kepada mereka datang azab dari arah yang tidak mereka ketahui.   Kemudian pada Hari Kiamat Dia akan menghinakan mereka dan Dia akan berfirman:  ”Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu yang  senantiasa kamu gunakan untuk menentang rasul-rasul-Ku?” Orang-orang yang telah diberi ilmu akan berkata: “Sesungguhnya ini hari kehinaan dan musibah atas orang-orang kafir.”  (An-Nahl [16]:27-28).
      Bukanlah kehancuran biasa yang melanda    penentang para nabi Allah yang terdahulu itu. Mereka dibinasakan dari dahan sampai ke akar-akarnya. Landasan gedung-gedung yang telah mereka bangun itu sendiri, dan tembok-tembok serta atap-atapnya runtuh menimpa mereka, dengan perkataan lain, baik pemimpin-pemimpinnya maupun pengikut-pengikut mereka tidak ada yang selamat.
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman  mengenai penyerahan diri mereka pada Hari pembalasan atau Hari penghakiman tersebut:
الَّذِیۡنَ تَتَوَفّٰىہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ فَاَلۡقَوُا السَّلَمَ مَا کُنَّا نَعۡمَلُ مِنۡ سُوۡٓءٍ ؕ بَلٰۤی  اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌۢ  بِمَا کُنۡتُمۡ  تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ فَادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ فَلَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang para  malaikat mewafatkannya  sedangkan mereka berlaku zalim terhadap dirinya,  maka mereka akan berserah diri sambil berkata:Kami sama sekali tidak  pernah berbuat keburukan apa pun.” Akan dikatakan kepada mereka: “Tidak benar, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang dahulu senantiasa kamu  kerjakan. Maka masukilah pintu-pintu Jahannam,  kamu kekal di dalamnya, maka  benar-benar sangat buruk tempat tinggal orang-orang takabur.” (An-Nahl [16]:29-30). Lihat pula QS.16:85-88.
Benarlah firman-Nya berikut ini mengenai sikap “muslim” (berserah diri) manusia ketika menghadapi  bahaya yang mengepung mereka:
اَلَمۡ تَرَ اَنَّ الۡفُلۡکَ تَجۡرِیۡ فِی الۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ اللّٰہِ  لِیُرِیَکُمۡ مِّنۡ  اٰیٰتِہٖ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ ﴿﴾  وَ اِذَا غَشِیَہُمۡ مَّوۡجٌ کَالظُّلَلِ دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ فَلَمَّا نَجّٰہُمۡ اِلَی الۡبَرِّ فَمِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ؕ وَ مَا یَجۡحَدُ بِاٰیٰتِنَاۤ  اِلَّا  کُلُّ  خَتَّارٍ  کَفُوۡرٍ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ  وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا  لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا مَوۡلُوۡدٌ  ہُوَ  جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwa  bahtera-bahtera berlayar di lautan dengan nikmat Allah,  supaya Dia memperlihatkan kepada kamu Tanda-tanda-Nya? Sesungguhnya dalam hal itu adalah Tanda-tanda bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. Dan apabila gelombang  meliputi mereka seperti naungan,  mereka berseru kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, tetapi apabila  Dia telah menyelamatkan mereka ke daratan maka  sebagian dari mereka  menempuh jalan yang benar.  Dan tidak ada yang menolak Tanda-tanda Kami melainkan setiap  orang yang khianat lagi tidak bersyukur.   Hai  manusia, bertakwalah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan Hari  ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan tidak pula seorang anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah sampai ke-hidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah. (Luqman [31]:32-34).
       Berlayarnya kapal-kapal di lautan sungguh merupakan anugerah besar dari Allah swt. Banyak kesejahteraan umat manusia bergantung pada hal itu. Negeri yang memiliki kekuatan armada laut terbesar, pada umumnya merupakan negeri terkaya dan paling gagah perkasa di dunia.
      Ayat  33   mengisyaratkan kepada ciri khas yang sangat umum mengenai seorang musyrik. Ia lemah dalam keimanannya dan sangat percaya kepada takhayul. Kemalangan kecil sekalipun sudah cukup menakutkan dan menggelisahkannya, sebab  keimanannya hanya merupakan paduan kepercayaan-kepercayaan yang dibuat-buat dan menurut kata orang dan  takhayul-takhayul.
     Itulah makna ayat  وَ اِذَا غَشِیَہُمۡ مَّوۡجٌ کَالظُّلَلِ دَعَوُا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۚ فَلَمَّا نَجّٰہُمۡ اِلَی الۡبَرِّ فَمِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ؕ -- “Dan apabila gelombang meliputi mereka seperti naungan,  mereka berseru kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, tetapi apabila  Dia telah menyelamatkan mereka ke daratan maka  sebagian dari mereka  menempuh jalan yang benar.”  Lihat pula  QS.2:49 & 124; QS.10:22-24; QS.17:65-66; QS.31:32-34; QS.82:17-20.
     Sedangkan  peringatan Allah Swt. dalam  ayat 34 selanjutnya memperkuat peringatan-Nya dalam  Surah Al-Ma’ārij sebelumnya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ  وَ اخۡشَوۡا یَوۡمًا  لَّا یَجۡزِیۡ وَالِدٌ عَنۡ وَّلَدِہٖ ۫ وَ لَا مَوۡلُوۡدٌ  ہُوَ  جَازٍ عَنۡ وَّالِدِہٖ شَیۡئًا ؕ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّکُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ٝ وَ لَا یَغُرَّنَّکُمۡ  بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Hai  manusia, bertakwalah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan takutlah akan Hari  ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan tidak pula seorang anak dapat menolong ayahnya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah sampai kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula si penipu itu  menipu kamu mengenai Allah. (Luqman [31]:34).
Firman-Nya:
وَ لَا یَسۡـَٔلُ  حَمِیۡمٌ حَمِیۡمًا ﴿ۚۖ﴾  یُّبَصَّرُوۡنَہُمۡ ؕ یَوَدُّ  الۡمُجۡرِمُ لَوۡ  یَفۡتَدِیۡ مِنۡ عَذَابِ یَوۡمِئِذٍۭ بِبَنِیۡہِ﴿ۙ﴾  وَ صَاحِبَتِہٖ وَ اَخِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ فَصِیۡلَتِہِ الَّتِیۡ تُــٔۡوِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ مَنۡ  فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ ثُمَّ  یُنۡجِیۡہِ ﴿ۙ﴾
Dan tidak akan bertanya  sahabat karib kepada sahabat karib lainnya.   Hari itu akan diperlihatkan dengan jelas kepada mereka.  Orang berdosa ingin seandainya  dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya,   dan isterinya serta  saudaranya,  dan kaum kerabatnya yang melindunginya.  Dan  bahkan dengan semua orang yang ada di bumi kemudian  menyelamatkannya. (Al-Ma’arīj [70]:11-15).

Allah Swt. Telah Mengutus Para  Saksi (Rasul Allah)
kepada Semua  Kaum (Umat Manusia)

        Jadi, pada “Hari penghakiman” Allah Swt.,   orang-orang musyrik   akan membantah dan dan mengemukakan alasan -- sambil mengatakan  kepada Allah Swt. -- bahwa kemusyrikan yang mereka lakukan itu terdorong oleh niat yang baik dan maksud yang suci, dan bahwa mereka menyembah tuhan-tuhan palsu mereka, hanya sebagai penolong untuk memusatkan pikiran kepada sifat-sifat Ilahi.
     Tetapi dalam firman-Nya berikut ini “sembahan-sembahan” --  yakni  para pemimpin --  mereka yang mereka persekutukan dengan Allah Swt. sebagai sembahan,    akan menolak penyembahan mereka  itu dan juga akan membela diri mereka di hadapan Allah Swt., firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍ  شَہِیۡدًا ثُمَّ لَا یُؤۡذَنُ  لِلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ لَا ہُمۡ یُسۡتَعۡتَبُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِذَا رَاَ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوا الۡعَذَابَ فَلَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمۡ  وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اِذَا رَاَ  الَّذِیۡنَ  اَشۡرَکُوۡا شُرَکَآءَہُمۡ  قَالُوۡا رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ شُرَکَآؤُنَا الَّذِیۡنَ کُنَّا نَدۡعُوۡا مِنۡ دُوۡنِکَ ۚ فَاَلۡقَوۡا اِلَیۡہِمُ الۡقَوۡلَ   اِنَّکُمۡ  لَکٰذِبُوۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ  اَلۡقَوۡا  اِلَی اللّٰہِ یَوۡمَئِذِۣ السَّلَمَ وَ ضَلَّ  عَنۡہُمۡ  مَّا  کَانُوۡا  یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah hari itu bila Kami membangkitkan dari setiap umat seorang saksi, kemudian tidak akan diizinkan bagi orang-orang kafir untuk membela diri, dan dalih-dalih mereka tidak akan diterima.    Dan apabila  orang-orang zalim   melihat azab maka tidak akan diringankan bagi mereka dan mereka tidak akan diberi tangguh. Dan  apabila orang-orang yang mempersekutukan Allah itu melihat tuhan-tuhan sekutu mereka, mereka akan berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, inilah tuhan-tuhan sekutu kami yang senantiasa kami   seru selain Engkau.” Lalu sekutu-sekutunya akan berkata kepada mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya kamu benar-benar pendusta!”  Dan pada hari itu  mereka menyatakan ketaatannya kepada Allah, dan akan hilanglah dari mereka apa yang dahulu mereka senantiasa ada-adakan itu. (An-Nahl [16]: 85-88).
       Ayat  وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍ  شَہِیۡدًا  -- “Dan ingatlah hari itu bila Kami membangkitkan dari setiap umat seorang saksi” ini mengatakan, bahwa Rasul-rasul Allah  dikirim kepada segenap kaum dan bangsa-bangsa di dunia. Hal itu merupakan pengakuan yang dikemukakan Al-Quran, satu-satunya di antara semua kitab yang diwahyukan.
      Kebenaran pernyataan yang dibukakan ke dunia kira-kira 1400 tahun yang lalu oleh Al-Quran itu, sekarang telah mulai nampak kepada umat manusia, sehingga ketika azab Ilahi telah meluas di mana-mana  seperti yang pernah menimpa kaum-kaum purbakala  -- termasuk di Akhir Zaman ini -- tidak ada alasan (dalih) bagi manusia  untuk mengemukakan alasan (dalih) kepada Allah Swt.,  bahwa kepada mereka  tidak pernah diutus seorang Rasul Allah sebagai pembawa kabar suka dan sebagai pemberi peringatan (QS.7:35-37; QS.39:72).

Perbantahan Antara  Pengikut  dengan Pemimpin Kemusyrikan 

      Makna ayat   فَاَلۡقَوۡا اِلَیۡہِمُ الۡقَوۡلَ   اِنَّکُمۡ  لَکٰذِبُوۡنَ -- “Lalu sekutu-sekutunya akan berkata kepada mereka dengan mengatakan: “Sesungguhnya kamu benar-benar pendusta!”  membuktikan,  bahwa perbantahan antara tuhan-tuhan palsu dan pengikut (penyembah) mereka  menunjukkan, bahwa tali persahabatan yang berlandaskan pada dosa dan penolakan terhadap kebenaran yang dikemukakan Rasul Allah  tak pernah bertahan lama.  Lihat pula   QS.4:98-101; QS.8:50-55;  QS.47:26-29.
    Dalam firman-Nya berikut ini dikemukakan  perbantahan  di kalangan orang-orang musyrik  antara para “penyembah dengan pihak  yang disembah tersebut:  
وَ اِذۡ یَتَحَآجُّوۡنَ فِی النَّارِ فَیَقُوۡلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ  اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا نَصِیۡبًا مِّنَ النَّارِ ﴿﴾  قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا  اِنَّا  کُلٌّ  فِیۡہَاۤ  ۙ اِنَّ اللّٰہَ  قَدۡ حَکَمَ  بَیۡنَ الۡعِبَادِ ﴿﴾  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا مِّنَ الۡعَذَابِ ﴿﴾  قَالُوۡۤا  اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ قَالُوۡا  بَلٰی ؕ قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿٪﴾
Dan ketika mereka akan berbantah satu sama lain dalam Api, lalu orang-orang yang lemah akan berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut kamu   maka dapatkah kamu melepaskan dari kami sebagian siksaan dari Api?”  Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah menghakimi di antara hamba-hamba-Nya.”  Dan orang-orang yang ada dalam Api berkata kepada para penjaga Jahannam: “Mohonkanlah kepada Rabb (Tuhan) kamu, supaya Dia meringankan azab bagi kami barang sehari.”   Mereka  berkata:  Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul kamu dengan Tanda-tanda nyata?” Mereka berkata: “Ya benar.” Para penjaga itu berkata: “Maka berdoalah kamu.”  Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka. (Al-Mu’mīn [40]:48-51). 
   Makna ayat وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ --  Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka”,  bukan  berarti  semua doa mereka tidak diterima, sebab Allah Swt. memang mengabulkan doa-doa orang yang sedang sengsara dan sedih, bila ia meminta pertolongan kepada-Nya  -- baik ia orang yang beriman atau orang kafir (QS.27:63) --  melainkan  ayat tersebut  adalah    bahwa usaha keras dan doa orang-orang kafir menentang nabi-nabi Allah terbukti gagal, sebab Allah Swt. telah menyatakan dengan tegas dalam  firman-Nya berikut ini:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.   Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujādilah [58]:21-22). Lihat pula QS.3:29;  QS.4:145-146;  QS.9:23 & 63.
   Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran yang dibawa oleh para Rasul Allah senantiasa menang terhadap kepalsuan yang dipertahankan oleh para penentang Rasul Allah di setiap zaman,  terutama di zaman Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾
Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap,1645 sesungguhnya kebatilan itu pasti  lenyap.” (Bani Israil [17]:82). Lihat pula QS.21:19;  QS.34:50.
        Inilah salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran, ayat ini  ngemukakan salah satu contoh semacam itu. Sesudah takluknya kota Mekkah, ketika  Nabi Besar Muhammad saw. membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw.  berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sambil  beliau saw.memukuli berhala-berhala  yang berada di Ka’bah (Bukhari).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   7 Januari      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar