Selasa, 30 September 2014

Pentingnya Memahami Makna Hakiki "Syafaat" dan "Wasilah" Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman Ini



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


 Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   328

  Pentingnya Memahami Makna Hakiki  Syafaat dan Wasilah   Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman Ini.  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai   orang-orang yang diberi wewenang untuk  menerima baiat (jual-beli), persahabatan, dan memberikan syafaat, yaitu Rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) --  firman-Nya:     
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ  فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu  مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ -- sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli di dalamnya, tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat,  وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ --  dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim. (Al-Baqarah [2]:255).

Orang yang mendapat Izin Allah Swt.  Memberikan Syafaat &  Makna Wasilah (Perantara)  yang benar

        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai siapa yang mendapat izin dari Allah Swt. untuk menjadi washilah (perantara) sebagai pemberi syafaat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ ﴿۲﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia   Yang Maha Hidup, Yang  Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ  --  kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun  yang ada di bumi.  مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --  Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ     -- Dia mengetahui apa pun yang ada di hadapan mereka dan apa pun di belakang me-reka, وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  --  dan mereka tidak meliputi sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.  وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ  --  Singgasana ilmu-Nya  meliputi seluruh langit dan bumi,  dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:255).
        Makna   yang diizinkan sebagai  pemberi syafaat dalam ayat مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --  Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?” mengisyaratkan kepada para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw., sebab  setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna – yaitu agama Islam (Al-Quran – QS.5:4)  -- maka hanya dengan beriman dan patuh-taat kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. sajalah, bukan saja     keagamaan  mereka akan diterima Allah Swt. (QS.3:20 & 86), bahkan mereka akan memperoleh syafaat dari Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71),  karena  beliau sajalah satu-satunya washilah (perantara) yang diizinkan Allah Swt. untuk memberikan syafaat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ  وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah. وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ   -- dan  carilah jalan pendekatan diri  kepada-Nya,  وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ  --  dan  berjihadlah  di jalan-Nya supaya kamu berhasil. (Al-Māidah [5]:36).
          Wasilah artinya  satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lexicon Lane). Kata itu bukan berarti “penengah antara Tuhan dan manusia,” sebagaimana  banyak yang keliru menafsirkan  wasilah  -- sebab arti yang kedua ini bukan hanya tidak-didukung oleh kelaziman pemakaian bahasa Arab, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan hadits-hadits  Nabi Besar Muhammad  saw..

Nabi Besar Muhammad Saw. Satu-satunya Pemberi Syafaat dan Wasilah yang Hakiki

       Bahwa Nabi Besar Muhammad saw.    --   setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna  yaitu agama Islam (Al-Quran – QS.5:4)    -- beliau saw. merupakan satu-satu pemberi wasilah, mengebnai hal tersebut Allah Swt. berfirman: 
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
 Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allāh sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
       Ada pun yang dimaksud dengan ilmu (pengetahuan) dan āyat (Tanda-tanda) dalam ayat tersebut adalah agama Islam (Al-Quran) atau Nabi Besar Muhammad saw., sebab kedengkian yang diperagakan golongan  Ahlikitab  adalah terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan agama Islam (Al-Quran)
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran [3]:86).
        Bahwa Nabi Besar Muhammad saw. merupakan satu-satunya wasilah (perantara) yang diizinkan Allah Swt. memberikan syafaat, mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ  فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:   Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ    -- maka ikuti-lah398 aku,  یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Katakanlah:    Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
         Jadi, kembali kepada makna  kata wasilah yang benar:  Wasilah artinya  satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lexicon Lane). Kata itu bukan berarti “penengah antara Tuhan dan manusia,” sebagaimana  banyak yang keliru menafsirkan  wasilah  -- sebab arti yang kedua ini bukan hanya tidak-didukung oleh kelaziman pemakaian bahasa Arab, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan hadits-hadits  Nabi Besar Muhammad  saw..

Kemusyrikan Akibat Keliru Memahami  Makna  Syafaat dan Wasilah & Empat Golongan Martabat Ruhani di Hadirat Allah Swt.

       Sehubungan orang-orang yang keliru  memaknai arti wasilah  tersebut, ketika ditanyakan  kepada orang-orang yang datang menziarahi kuburan para  nabi Allah atau wali Allah  atau ditanyakan kepada mereka yang menyembah berbagai bentuk berhala    --  yang kepada tempat-tempat atau benda-benda tersebut mereka menyampaikan permohonan   -- maka jawaban mereka adalah bahwa semua itu hanya sekedar wasilah  yang memperantarai permohoan (doa) mereka dengan Allah Swt.
       Berikut jawaban Allah Swt. berkenaan makna  wasilah (perantaraan) yang hakiki, yaitu Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ  --   orang-orang  yang Allāh memberi nikmat kepada mereka, مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati.      ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
       Sesuai dengan makna hakiki wasilah (perantara) sebelum ini  – yakni    satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lexicon Lane)  -- maka  maka dalam pandangan   Allah Swt., tidak ada kedudukan atau martabat atau pertalian atau ikatan atau perhubungan dengan Allah Swt  selain orang-orang beriman dan bertakwa yang karena ketaatannya kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. termasuk ke dalam salah satu dari keempat martabat keruhanian di hadirat Allah Swt. tersebut, yakni:  مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati.      ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
          Mereka yang menolak  keempat macam martabat keruhanian yang  disediakan Allah Swt. bagi mereka yang benar-benar menginginkan syafaat dan wasilah dari Nabi Besar Muhammad saw.   – dengan alasan  bahwa semua jenis kenabian dan wahyu Ilahi telah tertutup rapat dengan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41) dan diturunkan-Nya agama Islam (Al-Quran) sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4).

Turunnya Karunia Allah Swt. Tidak dapat Dihalangi  & Berulangnya Sunnatullah Berkenaan Istri-istri Durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. di Akhir zaman

        Pemahaman keliru mereka itu (QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8); sama sekali tidak dapat menghalangi Allah Swt. untuk menganugerahkan turunnya karunia-Nya berupa empat macam nikmat (martabat) ruhani yang hakiki tersebut kepada orang-orang yang benar-benar  memahami masalah (makna)  syafaat dan wasilah dengan benar:      ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
         Sesuai dengan Sunnatullah, mereka yang menolak karunia Allah Swt. melalui syafaat dan wasilah Nabi Besar Muhammad saw.     termasuk di Akhir Zaman ini --    mereka, insya Allah, akan mengalami nasib buruk seperti istri-istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat  kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).
     Jadi, betapa sakralnya kedudukan pernikahan dalam ajaran Islam  (Al-Quran), karena di dalamnya mengandung berbagai hikmah yang sangat dalam berkenaan dengan masalah ketakwaan kepada Allah Swt. dan ketaatan kepada Rasul-Nya, terutama Nabi Besar Muhammad saw.. demikian juga sakralnya "penikahan ruhani" dengan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. di Akhir Zaman ini.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  8 September     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar