Jumat, 19 September 2014

Pentingnya "Kejujuran" Bagi Pasangan Suami-istri & Doa Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah Untuk Istri dan Keturunannya



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


 Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   321

Pentingnya  Kejujuran” Bagi Pasangan Suami-istri   & Doa Hamba-hamba “Tuhan yang Maha Pemurah” Untuk Istri dan Keturunannya    

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai ayat Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi mengenai  apa yang telah diwajibkan Allah     kepadanya,”      bahwa ialah pernikahan Nabi Besar Muhammad saw.     dengan Sitti Zainab r.a..  Kata-kata itu menunjukkan bahwa pernikahan beliau saw. terjadi dalam menaati suatu peraturan Ilahi yang khusus sifatnya, yang memang sangat rawan menimbulkan fitnah.
     Tetapi karena agama Islam merupakan agama terakhir yang paling sempurna (QS.5:4) karena itu ajaran Islam  harus menjawab berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan manusia, walaupun berkenaan dengan hal-hal yang sangat sensitive sifatnya dalam masalah pernikahan.
     Contohnya adalah diperbolehkannya seorang ayah angkat  menikahi janda (mantan istri) anak-angkatnya, karena ayah-angkat tidak memiliki hubungan darah dengan anak-angkat  (QS.33:6) -- seperti halnya dengan anak kandung   -- sehingga  pernikahan tersebut tidak akan mengacaukan  hubungan darah keturunan  mereka, firman-Nya:
مَا کَانَ عَلَی النَّبِیِّ مِنۡ حَرَجٍ فِیۡمَا فَرَضَ اللّٰہُ  لَہٗ ؕ سُنَّۃَ اللّٰہِ  فِی الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ وَ کَانَ  اَمۡرُ  اللّٰہِ   قَدَرًا مَّقۡدُوۡرَۨا ﴿۫ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یُبَلِّغُوۡنَ  رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ یَخۡشَوۡنَہٗ  وَ لَا یَخۡشَوۡنَ  اَحَدًا  اِلَّا اللّٰہَ ؕ وَ کَفٰی  بِاللّٰہِ  حَسِیۡبًا ﴿﴾
Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi mengenai  apa yang telah diwajibkan Allah     kepadanya. Inilah sunnah Allah yang Dia tetapkan terhadap orang-orang yang telah berlalu sebelumnya, dan perintah Allah adalah suatu keputusan yang telah dite-tapkan.  الَّذِیۡنَ یُبَلِّغُوۡنَ  رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ یَخۡشَوۡنَہٗ    -- orang-orang yang menyam-paikan amanat Allah dan  takut kepada-Nya,  وَ لَا یَخۡشَوۡنَ  اَحَدًا  اِلَّا اللّٰہَ ؕ   -- dan tidak ada yang mereka takuti siapa pun selain Allah,  وَ کَفٰی  بِاللّٰہِ  حَسِیۡبًا  -- dan cukuplah Allah sebagai Penghisab. (Al-Ahzāb [33]:39-40).

Perempuan-perempuan  Beriman yang Boleh Dinikahi & Beratnya “Memikul” Amanat “Syariat Islam”

       Contoh  peraturan pernikahan lainnya dalam Islam yang sangat sensitive yang apabila dilakukan rawan menimbulkan fitnah,  adalah seorang laki-laki yang telah menikahi seorang janda yang punya anak perempuan,  setelah ia bercerai dengan  janda tersebut, maka laki-laki itu diperbolehkan  menikahi anak tirinya   asalkan saja sebelum bercerai dengan ibunya   ia belum berhubungan badan dengan ibu  anak tirinya tersebut, firman-Nya:
حُرِّمَتۡ عَلَیۡکُمۡ اُمَّہٰتُکُمۡ وَ بَنٰتُکُمۡ وَ اَخَوٰتُکُمۡ وَ عَمّٰتُکُمۡ وَ خٰلٰتُکُمۡ وَ بَنٰتُ الۡاَخِ وَ بَنٰتُ الۡاُخۡتِ وَ اُمَّہٰتُکُمُ الّٰتِیۡۤ  اَرۡضَعۡنَکُمۡ وَ اَخَوٰتُکُمۡ مِّنَ الرَّضَاعَۃِ  وَ اُمَّہٰتُ نِسَآئِکُمۡ  وَ رَبَآئِبُکُمُ الّٰتِیۡ فِیۡ  حُجُوۡرِکُمۡ مِّنۡ نِّسَآئِکُمُ  الّٰتِیۡ دَخَلۡتُمۡ بِہِنَّ ۫ فَاِنۡ  لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا دَخَلۡتُمۡ بِہِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ ۫ وَ حَلَآئِلُ اَبۡنَآئِکُمُ الَّذِیۡنَ مِنۡ اَصۡلَابِکُمۡ ۙ  وَ اَنۡ تَجۡمَعُوۡا بَیۡنَ الۡاُخۡتَیۡنِ اِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿ۙ ﴾
Telah diharamkan atas kamu menikahi ibu-ibu kamu, anak-anak perempuan kamu, saudara-saudara peremuan kamu, saudara-saudara perempuan bapak kamu, saudara-saudara perempuan ibu kamu,  anak-anak perempuan saudara laki-laki kamu, anak-anak perempuan saudara perempuan kamu, ibu-ibu kamu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuan sepesusuan kamu,   ibu-ibu istri-istri kamu,  anak-anak tiri perempuan kamu yang ada dalam pemeliharaanmu yang lahir dari istri-istri kamu yang telah kamu campuri;  فَاِنۡ  لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا دَخَلۡتُمۡ بِہِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ    -- tetapi jika kamu belum bercampur dengan mereka maka tidak ada dosa bagi kamu menikahi anak tiri itu; dan  diharamkan pula istri-istri anak-anak lelaki kamu yang lahir dari sulbi kamu (anak kandung), dan juga diharamkan bagi kamu mengumpulkan dua orang perempuan bersaudara sebagai istri-istri kamu dalam satu waktu kecuali apa yang telah lampau. Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nisa [4]:24).
         Pendek kata, begitu lengkap serta sempurnanya hukum syariat Islam (Al-Quran)   -- termasuk dalam masalah pernikahan --  dan dari seluruh Rasul Allah hanya Nabi Beear Muhammad saw. sajalah yang mampu “mengembannya” sekali pun akan menjadi “batu sandungan” yang menggelincirkan orang-orang yang berhati bengkok, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ  اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ  وَجِیۡہًا  ﴿ؕ﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ قُوۡلُوۡا  قَوۡلًا  سَدِیۡدًا  ﴿ۙ﴾ یُّصۡلِحۡ  لَکُمۡ  اَعۡمَالَکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ  وَ رَسُوۡلَہٗ  فَقَدۡ  فَازَ  فَوۡزًا عَظِیۡمًا ﴿﴾  اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾  لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾ 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti   orang-orang yang telah menyusahkan  Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan.  Dan ia di sisi Allah adalah orang yang terhormat.   Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang jujur.   Dia akan memperbaiki  bagi kamu amal-amalmu dan akan meng-ampuni bagimu dosa-dosa kamu.  Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia akan meraih kemenangan besar.  اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  ---  Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, akan sedangkan insan  memikulnya, sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.   لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا   -- supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan, an Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki dan perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzāb [33]:70-74).

Orang-orang Yahudi yang Senantiasa  Menyusahkan Nabi Musa a.s. & Beratnya “Memikul”  Syariat Islam (Al-Quran)

         Firman Allah Swt. tersebut merupakan peringatan Allah Swt. kepada umat Islam agar mereka tidak berlaku seperti kelakuan golongan Ahlikitab, yang  dengan ucapan dan perbuatan mereka selalu menyusahkan para rasul Allah di kalangan Bani Israil, terutama  keada Nabi Musa a.s., Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang karena ulah buruk mereka itu kedua rasul Allah tersebut telah mengutuk orang-orang kafir di kalangan Bani Israil (QS.5:79-81).
         Dengan demikian, selain merupakan peringatan keras bagi umat Islam, firman Allah Swt. tersebut pun merupakan nubuatan  mengenai umat Islam, sebab Nabi Besar Muhammad saw. telah menubuatkan bahwa keadaan umat Islam jauh sepeninggal beliau saw., bahwa mereka  akan  melakukan seperti  apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, sehingga persamaannya seperti persamaan sepasang sepatu.
       Berikut   terjemahan sabda (hadits) Nabi Besar Muhammad saw. mengenai keadaan umat Islam  sepeninggal beliau saw. dan para Khalifah Rasyidin    – terutama  di masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6), setelah mengalami masa kejayaan Islam yang pertama selama 3 abad: 
Abdullah ibnu Umar r.a. berkata: "Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Pasti akan datang pada umatku sebagaimana yang telah terjadi pada   umat  Bani Israil, seperti sepasang sepatu, hingga kalau umat Bani Israel berzina dengan ibunya secara terang-terangan maka umatku juga akan berbuat demikian. Ketahuilah bahwa umat Bani Israel akan pecah belah hingga 72 firqah dan umatku akan berpecah belah hingga 73 firqahKesemuanya akan menjadi bahan api neraka terkecuali satu golongan”. Sahabat-sahabat bertanya: “Golongan yang manakah itu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab dengan bersabda:  “Yang  mengamalkan apa yang aku dan sahabat-sahabatku amalkan".........(Tirmidzi, Kitabul Iman).
 Jadi, kembali kepada  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ  اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ  وَجِیۡہًا  ﴿ؕ﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ قُوۡلُوۡا  قَوۡلًا  سَدِیۡدًا  ﴿ۙ﴾ یُّصۡلِحۡ  لَکُمۡ  اَعۡمَالَکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ  وَ رَسُوۡلَہٗ  فَقَدۡ  فَازَ  فَوۡزًا عَظِیۡمًا ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti   orang-orang yang telah menyusahkan  Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan. Dan ia di sisi Allah adalah orang yang terhormat.   Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang jujur. Dia akan memperbaiki  bagi kamu amal-amalmu dan akan meng-ampuni bagimu dosa-dosa kamu.  Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia akan meraih kemenangan besar.  (Al-Ahzāb [33]:70-72).
         Ādzahu berarti, ia melakukan atau mengatakan apa yang tidak disenanginya atau yang dibencinya, mengganggu atau menjengkelkan atau melukai perasaan dia.   Nabi Musa a.s.  telah dijadikan sasaran fitnahan-fitnahan berat, antara lain:
1.      Qarun (Qorah) menghasut seorang perempuan mengada-adakan tuduhan terhadap Nabi Musa a.s.  bahwa beliau pernah mengadakan hubungan gelap dengan dirinya.
2.     Karena timbul iri hati melihat semakin meningkatnya pengaruh Nabi Harun a.s.di tengah kaum beliau, Nabi Musa a.s. dituduh berusaha membunuh Nabi Harun a.s.
3.   Nabi Musa a.s.  dituduh mengidap penyakit lepra dan rajasinga atau syphilis.
4.     Samiri menuduh  Nabi Musa a.s.  berbuat syirik.
5.  Adik perempuan Nabi Musa a.s., Miryam,   sendiri melemparkan tuduhan palsu terhadap beliau (Bilangan 12:1).

Nasihat Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Khutbah  Nikah

         Ayat selanjutnya merupakan salah satu ayat Al-Quran yang selalu dibacakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw. pada acara khutbah nikah atau nasihat pernikahan, yang sangat menekankan kepada pasangan suami istri untuk selalu berkata dan berbuat jujur terhadap satu-sama lain, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ قُوۡلُوۡا  قَوۡلًا  سَدِیۡدًا  ﴿ۙ﴾ یُّصۡلِحۡ  لَکُمۡ  اَعۡمَالَکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ  وَ رَسُوۡلَہٗ  فَقَدۡ  فَازَ  فَوۡزًا عَظِیۡمًا ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اتَّقُوا اللّٰہَ وَ قُوۡلُوۡا  قَوۡلًا  سَدِیۡدًا    -- bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang jujur,  Dia akan memperbaiki  bagi kamu amal-amal kamu dan akan mengampuni bagimu dosa-dosa kamu.  وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ  وَ رَسُوۡلَہٗ  فَقَدۡ  فَازَ  فَوۡزًا عَظِیۡمًا --  Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia akan meraih kemenangan besar.  (Al-Ahzāb [33]:70-72).
        Berkata dan berperilaku  jujur  pasangan suami istri  -- sebagai salah satu  buah ketakwaan kepada Allah Swt. dan ketaatan kepada Rasul-Nya --   merupakan modal dasar  bagi pasangan suami-istri untuk meraih  kesuksesan dalam upaya mempersiapkan keturunan yang akan menjadi “penyejuk mata” (QS.25:75), firman-Nya:
  یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ  وَ لۡتَنۡظُرۡ  نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ ۚ وَ اتَّقُوا     اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  خَبِیۡرٌۢ   بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾   وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ نَسُوا اللّٰہَ فَاَنۡسٰہُمۡ  اَنۡفُسَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  لَا یَسۡتَوِیۡۤ  اَصۡحٰبُ النَّارِ وَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ؕ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  اتَّقُوا اللّٰہَ  وَ لۡتَنۡظُرۡ  نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ  -- bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang didahulukan untuk esok hari,  وَ اتَّقُوا     اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  خَبِیۡرٌۢ   بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ   -- dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ نَسُوا اللّٰہَ فَاَنۡسٰہُمۡ  اَنۡفُسَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ  --  Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah   me-lupakan Allah maka Dia pun menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik. لَا یَسۡتَوِیۡۤ  اَصۡحٰبُ النَّارِ وَ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ؕ اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ --  Tidak sama penghuni neraka dengan penghuni surga, penghuni   surga  yang akan memperoleh kemenangan. (Al-Hasyr [59]:19-21).
         Salah satu tanda dari sekian banyak tanda-tanda orang yang melupakan Allah Swt.  adalah orang-orang yang melakukan pernikahan bertentangan dengan ketentuan  Allah Swt. berikut ini:
وَ لَا تَنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکٰتِ حَتّٰی یُؤۡمِنَّ ؕ وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ  خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ  وَّ لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ ۚ وَ لَا تُنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا ؕ وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ  اِلَی النَّارِ ۚۖ وَ اللّٰہُ  یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ الۡمَغۡفِرَۃِ  بِاِذۡنِہٖ ۚ وَ یُبَیِّنُ  اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan  janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik حَتّٰی یُؤۡمِنَّ -- hingga mereka terlebih  dulu beriman, لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ  وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ  خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ  وَّ --  dan niscaya  hamba-sahaya perempuan yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun ia mempesona hati kamu. Dan janganlah kamu menikahkan perempuan yang beriman dengan laki-laki musyrik  حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا  --  hingga mereka terlebih dulu  beriman,  وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ   -- dan niscaya  hamba-sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun ia mempesona hati kamu.  اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ  اِلَی النَّارِ  --   mereka mengajak ke dalam Api, وَ اللّٰہُ  یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ الۡمَغۡفِرَۃِ  بِاِذۡنِہٖ  -- sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. وَ یُبَیِّنُ  اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ  -- Dan Dia menjelaskan Tanda-tanda-Nya kepada manusia supaya mereka  mendapat nasihat. (Al-Baqarah [2]:222).

Doa ‘ibādu- rahmān (Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah)

      Bahwa  adanya kesamaan iman atau agama pada pasangan suami istri  sangat mutlak diperlukan bagi terkabulnya doa  ibādu- rahmān (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah -  QS.25:64-74) berikut ini, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqān [25]:75).
      Mengenai  ibādu- rahmān (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ  بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً  وَّ  سَلٰمًا ﴿ۙ﴾  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾  قُلۡ  مَا یَعۡبَؤُا بِکُمۡ  رَبِّیۡ  لَوۡ لَا دُعَآؤُکُمۡ ۚ فَقَدۡ کَذَّبۡتُمۡ  فَسَوۡفَ  یَکُوۡنُ  لِزَامًا﴿٪﴾
Mereka itulah yang akan dianugerahi  kamar-kamar tinggi di surga karena mereka bersabar, dan mereka akan disambut di dalamnya denggan penghormatan dan doa selamat.   Mereka akan  kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. قُلۡ  مَا یَعۡبَؤُا بِکُمۡ  رَبِّیۡ  لَوۡ لَا دُعَآؤُکُمۡ ۚ فَقَدۡ کَذَّبۡتُمۡ  فَسَوۡفَ  یَکُوۡنُ  لِزَامًا --  Katakanlah: Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan mempedulikan kamu jika tidak karena doa kamu, maka sungguh kamu telah mendustakan maka segera   azab  menimpa kamu.” (Al-Furqān [25]:75).
          ‘aba ‘ubihi berarti:  aku tidak peduli, pikirkan, hiraukan atau pandangan baik akan dia, atau aku tidak menganggap dia berarti atau berharga apa pun; atau aku tidak menghargainya (Lexicon Lane & Al-Mufradat).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  28 Agustus     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar