Sabtu, 07 Desember 2013

Target "Da'wah Islam" adalah Mengubah "Musuh" Menjadi "Sahabat Hakiki" di Jalan Allah Swt.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  94

Target Da’wah Islam adalah Mengubah  Musuh Menjadi Sahabat Hakiki di Jalan Allah Swt.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam Akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai  pemberian Amnesti secara umum  oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada penduduk Makkah pada waktu peristiwa Fatah Makkah.   
  Kembali  kepada pokok pembahasan mengenai hubungan pengamalan  keempat Sifat Tasybihiyyah utama Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah  -- Rabbubiyyat, Rahmāniyyat, Rahīmiyyat, dan Malikiyyat (Māliki yaumid- dīn) --  serta hubungannya dengan pengamalan sifat adil, ihsan dan iytā-i-dzil qurba (memberi seperti kepada kerabat – QS.16:91) telah dilaksanakan secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw.,  baik itu di lingkungan keluarga (ahli bait) beliau saw. dalam kapasitas beliau saw.  sebagai kepala keluarga, mau pun sebagai Kepala Negara atau Malik (Mālik/Pemilik).
       Pada peristiwa Fatah Makkah    Nabi Besar Muhammad saw.  hanya menghukum mati beberapa penduduk Makkah   -- karena mereka benar-benar layak untuk dijatuhi hukuman mati  atas kejahatan dan kezaliman mereka di masa lalu terhadap umat Islam --  tetapi beliau saw.  memberikan “pengampunan umum” (amnesti umum) terhadap penduduk Makkah yang lainnya,  termasuk terhadap Ikrimah bin Abu Jahal,  pada saat  ia akan melarikan diri lewat laut dari  wilayah Arabia, sebagaimana keinginan mereka ketika Nabi Besar Muhammad saw. menanyakan kepada mereka tindakan apa yang mereka inginkan dari beliau saw.?

Pengampunan Nabi Yusuf a.s. Terhadap Saudara-saudaranya

       Mereka menjawab agar diperlakukan seperti Nabi Yusuf a.s. memperlakukan saudara-saudaranya yang bersalah, beliau saw. pun menjawab sebagaimana perkataan Nabi Yusuf a.s. لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡم   – “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini“, firman-Nya:
قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ  اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata:  Demi Allah, sungguh Allah benar-benar telah melebihkan engkau di atas kami dan sesungguhnya kami benar-benar  orang-orang yang bersalah.” (Yusuf [12]:92). 
قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ  لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿﴾
Ia (Yusuf) berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini,  semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah Yang Paling Penyayang dari semua penyayang.  (Yusuf [12]:93). 
      Nabi Yusuf a.s. tidak membiarkan saudara-saudaranya dalam kegelisahan, dan seketika itu juga melenyapkan segala kekhawatiran dan kecemasan mereka mengenai cara bagaimanakah beliau akan memperlakukan mereka, dengan segera mengatakan bahwa beliau akan mengampuni semua kesalahan mereka tanpa batas dan tanpa syarat apa pun.
      Pengampunan Nabi Yusuf  a.s. terhadap saudara-saudaranya dengan kelapangan dan kemurahan hati merupakan persamaan yang paling besar dan menonjol dengan Nabi Besar Muhammad saw., karena seperti Nabi Yusuf a.s., demikian pula Nabi Besar Muhammad saw. pun  pun mencapai kemuliaan dan kekuasaan dalam masa hijrah dan pembuangan, dan ketika sesudah bertahun-tahun mengalami pembuangan, beliau saw. memasuki kota kelahiran beliau saw. sebagai penakluk  dengan memimpin 10.000 Sahabat, dan Makkah bertekuk-lutut dan mencium duli telapak kaki beliau.
      Jadi, perlakuan mulia Nabi Besar Muhammad saw. terhadap musuh-musuh beliau saw. yang haus darah, yakni kaum Quraisy Mekkah, yang tidak ada suatu kesempatan pun mereka biarkan untuk membunuh beliau  saw. dan membinasakan Islam sampai ke akar-akarnya, adalah tidak ada bandingannya sepanjang sejarah umat manusia.

Sabda Pendiri Jemaat Ahmadiyah  Mengenai Ikrimah r.a.

  Pengampunan Nabi Besar Muhammad saw. atas Ikrimah bin Abu Jahal pun terbukti benar, yakni:
 (1)  dengan berimannya Ikrimah bin Abu Jahal maka  genaplah kasyaf (penglihatan ruhani) Nabi Besar Muhammad saw. tentang anggur surga untuk  Abu Jahal, karena Ikrimah  bukan hanya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. tetapi juga memperoleh derajat syahid   bersama para syuhada lainnya pada saat  pasukan Muslim pimpinan Khalid bin Walid r.a. berperang melawan  pasukan kerajaan Romawi yang jumlahnya sangat besar.
 (2) Ikrimah bin Abu Jahal yang selama itu hatinya penuh dengan kebencian kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan hanya memikirkan bagaimana caranya    dapat membunuh Nabi Besar Muhammad saw., namun setelah mendapat pengampunan beliau saw. ia menjadi orang yang sangat mencintai Nabi Besar Muhammad saw. dan siap mati di jalan Allah untuk membela beliau saw.  dan untuk agama Islam yang beliau saw. ajarkan.
 Setelah Nabi Besar Muhammad saw. wafat pun, Ikrimah bin Abu Jahal terbukti merupakan “pedang Allah” di kalangan   pasukan Muslim,  termasuk pada saat perang melawan pasukan kerajaan  Romawi  di masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq r.a. dan kepemimpinan Khalid bin Walid r.a.,  dan  Ikrimah r.a.  meraih kematian sebagai syahid bersama para syuhada hakiki lainnya.
 Mengenai hal tersebut  Pendiri Jemaat Ahmadiyah,  Mirza Ghulam Ahmad a.s. --  Al-Masih Mau’ud a.s. ­­  -- bersabda:
     “Kalian tentu telah mendengar tentang Ikrimah. Beliau inilah yang merupakan timbulnya petaka di [perang] Uhud, dan ayahnya adalah Abu Jahal. Namun akhirnya suri teladan para sahabah r.a. telah membuatnya malu.
    Aku berpendapat, bahwa mukjizat-mukjizat pun tidak memberikan dampak seperti ketakjuban yang telah ditimbulkan oleh suri teladan suci dan perubahan-perubahan yang dilakukan para sahabah. Orang-orang menjadi takjub (heran), betapa besarnya perubahan  yang dialami oleh sepupu-sepupu mereka. Akhirnya mereka pun memahami bahwa merekalah yang keliru.
      Di satu masa, Ikrimah telah menyerang diri Rasulullah saw., dan di masa lain beliau telah memporak-porandakan bala tentara orang-orang kafir. Ringkasnya, di masa Rasulullah saw. suri teladan suci yang diperlihatkan oleh para sahabah r.a. maka sekarang ini dapat kita paparkan dalam corak dalil-dalil dan tanda-tanda.
      Lihatlah suri teladan Ikrimah. Pada masa kekufuran di dalam dirinya terdapat keingkaran, keangkuhan dan sifat-sifat buruk lainnya, dan dia menghendaki – jika mampu -- untuk menghancurkan Islam dari dunia ini. Namun tatkala karunia Allah Ta’ala telah mendukungnya dan dia sudah masuk Islam, maka di dalam dirinya telah timbul akhlak sedemikian rupa, sehingga keangkuhan dan kesombongan tidak lagi tersisa sedikit pun. Yang timbul adalah kerendahan hati, dan kerendahan hati itu telah menjadi dalil bagi Islam serta telah menjadi bukti bagi kebenaran Islam.
      Pada suatu kesempatan sedang berlangsung pertempuran dengan orang-orang kafir. Ikrimah adalah panglima lasykar Islam.  Orang-orang kafir melakukan perlawanan yang keras, sampai-sampai kondisi lasykar Islam sudah mendekati kekalahan. Ketika hal itu disaksikan oleh Ikrimah maka beliau turun dari kuda.
      Orang-orang mengatakan kepada beliau mengapa turun dari kuda, sebab jika ada peluang untuk menghindar ke sana ke mari kuda itu sangat membantu.   Beliau berkata, “Saat ini aku  teringat pada zaman ketika aku dulu melawan Rasulullah saw.. Aku ingin melepaskan nyawa ini sebagai tebusan bagi dosa-dosaku.”
     Lihatlah, betapa kondisinya telah berubah jauh sekali, dan hal itu dikenang berkali-kali dengan penuh pujian. Ingatlah, keridhaan Allah Ta’ala menyertai orang-orang yang mengumpulkan keridhaan Ilahi di dalam diri mereka. Allah Taala di setiap tempat menyebut mereka radhiallāhu ’anhum (Allah meridhai mereka). Nasihatku  adalah, terapkanlah akhlak­-akhlak tersebut dengan penuh disiplin”. (Malfuzat, jld. I, hlm. 148-149).

Musuh  Berubah Menjadi Sahabat Sejati &
Berbondong-bondong Masuk Islam

    Jadi, Itulah buah  pengampunan  yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. pada persitiwa Fatah Makkah, sehingga dengan demikian  sempurnalah  kebenaran  firman Allah Swt. berikut ini:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya daripada orang yang mengajak manusia kepada Allah dan be-ramal saleh serta berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri. Dan tidaklah sama kebaikan dengan keburukan.  Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya  maka tiba-tiba ia  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagian besar dalam kebaikan.   Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, sesungguhnya Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-FushilatHa Mim as-Sajdah [41]:34-37).
    Dengan terjadinya Fatah Makkah serta pemberian amnesti (pengampunan) secara umum  oleh Nabi Besar Muhammad saw. terhadap  penduduk Makkah, maka firman Allah Swt. berikut ini menjadi kenyataan:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,  maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
  Makna   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ   --   “Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan” adalah kemenangan yang dijanjikan. Dan karena janji Allah Swt.  telah menjadi sempurna dimana  manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw.   dalam ayat selanjutnya  diperintahkan agar bersyukur kepada Rabb  beliau saw. karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau menyanjungkan tasbih (kesucian Tuhan) mendendangkan puji-pujian bagi-Nya فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ  --  “maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau.

Makna Perintah Memohon Ampunan kepada Allah Swt.

  Selanjutnya dikatakan   وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾  -- “dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat”, dalam ayat ini  dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri dan musuh-musuh beliau saw. dahulu telah menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa, supaya Allah Swt. memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw. pada masa lampau.
   Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada  Nabi Besar Muhammad waw.  supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.. Atau artinya ialah bahwa beliau saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammad saw.,   beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang -- ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam --  semoga kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
Jadi, di sini sama sekali bukan berarti bahwa, Nabi Besar Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri, sebab menurut Al-Quran, beliau menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

***
Pajajaran Anyar,   24 November    2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar