Sabtu, 14 Desember 2013

Kesetaraan Ruhani Kaum Perempuan dengan Kaum Laki-laki, kecuali Meraih Martabat Kenabian & Keberhasilan Ratu Saba Memimpin Kerajaan Saba



  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  100

 Kesetaraan Ruhani Kaum Perempuan dengan Kaum Laki-laki, kecuali Meraih Martabat Kenabian & Keberhasilan Ratu Saba Memimpin Kerajaan Saba

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam Akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai  alasan mengapa Allah Swt. telah memperingatkan  dengan keras  para istri mulia Nabi Besar Muhammad saw. -- bahwa jika mereka melakukan keburukan atau pun kebaikan maka ganjaran atau pun hukumannya akan dua kali lipat -- karena perbuatan mereka sebagai istri seorang Rasul Allah dan juga Kepala Negara, yakni Nabi Besar Muhammad saw., pasti memberi dampak yang luas kepada perempuan-perempuan beriman lainnya, firman-Nya:
    یٰنِسَآءَ  النَّبِیِّ مَنۡ یَّاۡتِ مِنۡکُنَّ بِفَاحِشَۃٍ  مُّبَیِّنَۃٍ یُّضٰعَفۡ لَہَا الۡعَذَابُ ضِعۡفَیۡنِ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ  یَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّقۡنُتۡ مِنۡکُنَّ لِلّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ تَعۡمَلۡ صَالِحًا نُّؤۡتِہَاۤ  اَجۡرَہَا مَرَّتَیۡنِ ۙ وَ  اَعۡتَدۡنَا  لَہَا  رِزۡقًا کَرِیۡمًا ﴿﴾ یٰنِسَآءَ  النَّبِیِّ لَسۡتُنَّ کَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ  اِنِ اتَّقَیۡتُنَّ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِالۡقَوۡلِ فَیَطۡمَعَ  الَّذِیۡ  فِیۡ قَلۡبِہٖ مَرَضٌ وَّ  قُلۡنَ  قَوۡلًا  مَّعۡرُوۡفًا ﴿ۚ﴾  وَ قَرۡنَ فِیۡ بُیُوۡتِکُنَّ وَ لَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ الۡجَاہِلِیَّۃِ  الۡاُوۡلٰی وَ اَقِمۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ اٰتِیۡنَ الزَّکٰوۃَ  وَ  اَطِعۡنَ اللّٰہَ  وَ  رَسُوۡلَہٗ ؕ اِنَّمَا یُرِیۡدُ اللّٰہُ  لِیُذۡہِبَ عَنۡکُمُ الرِّجۡسَ اَہۡلَ الۡبَیۡتِ وَ یُطَہِّرَکُمۡ  تَطۡہِیۡرًا ﴿ۚ﴾  وَ اذۡکُرۡنَ مَا یُتۡلٰی فِیۡ  بُیُوۡتِکُنَّ  مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  وَ الۡحِکۡمَۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  کَانَ لَطِیۡفًا خَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Wahai istri-istri Nabi, barangsiapa di antara kamu berbuat kekejian yang nyata, baginya azab akan dilipatgandakan  dua kali lipat, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.   Tetapi barangsiapa di antara kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal saleh, Kami akan memberi kepadanya ganjarannya dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia.  Wahai istri-istri Nabi, jika kamu bertakwa kamu tidak sama dengan salah seorang dari perempuan-perempuan lain, karena itu  janganlah kamu lembut dalam berbicara, sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit akan tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.  Dan tinggallah  di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu me-mamerkan kecantikan kamu seperti cara pamer kecantikan zaman Jahiliah da-hulu,  dirikanlah shalat, bayarlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah meng-hendaki agar dia menghilangkan  kekotoran dari diri kamu, hai ahlulbait, dan Dia mensucikan kamu sesuci-sucinya.   Dan ingatlah akan apa yang dibacakan dalam rumah-rumah kamu dari Ayat-ayat Allah dan hikmah, sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Memaklumi. (Al-Ahzāb [33]:29-35).
      Jadi, melalui ayat ini  Allah Swt. memberi peringatan kepada mereka yang mendapat amanat Allah Swt.  sebagai para pemimpin keluarga mau pun sebagai pemimpin masyarakat,   mereka hendaknya berhati-hati dalam bertingkah-laku, sebab apa pun  -- baik atau buruk -- yang mereka lakukan akan memberikan dampak yang luar biasa kepada  orang-orang atau masyarakat yang dipimpinnya, dan mereka harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah Swt..

Kesetaraan Kedudukan Kaum Perempuan dengan Kaum Laki-laki

     Dalam  firman-Nya tersebut dikemukakan bahwa walau pun benar para istri mulia Nabi Besar Muhammad saw. memiliki kedudukan khusus  di bandingkan dengan kaum perempuan beriman lainnya, tetapi kelebihan tersebut hanya apabila mereka itu  patuh-taat kepada Allah Swt. dan Rasul Allah serta beramal shaleh dan terus menerus meningkatkan  ketakwaan mereka kepada Allah Swt. serta tetap berada di jalur “orbit” (jalan tempuhan) yang telah ditetapkan Allah Swt.  bagi kaum perempuan beriman,     firman-Nya:
  وَ مَنۡ یَّقۡنُتۡ مِنۡکُنَّ لِلّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ تَعۡمَلۡ صَالِحًا نُّؤۡتِہَاۤ  اَجۡرَہَا مَرَّتَیۡنِ ۙ وَ  اَعۡتَدۡنَا  لَہَا  رِزۡقًا کَرِیۡمًا ﴿﴾ یٰنِسَآءَ  النَّبِیِّ لَسۡتُنَّ کَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَآءِ  اِنِ اتَّقَیۡتُنَّ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِالۡقَوۡلِ فَیَطۡمَعَ  الَّذِیۡ  فِیۡ قَلۡبِہٖ مَرَضٌ وَّ  قُلۡنَ  قَوۡلًا  مَّعۡرُوۡفًا ﴿ۚ﴾  وَ قَرۡنَ فِیۡ بُیُوۡتِکُنَّ وَ لَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ الۡجَاہِلِیَّۃِ  الۡاُوۡلٰی وَ اَقِمۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ اٰتِیۡنَ الزَّکٰوۃَ  وَ  اَطِعۡنَ اللّٰہَ  وَ  رَسُوۡلَہٗ ؕ اِنَّمَا یُرِیۡدُ اللّٰہُ  لِیُذۡہِبَ عَنۡکُمُ الرِّجۡسَ اَہۡلَ الۡبَیۡتِ وَ یُطَہِّرَکُمۡ  تَطۡہِیۡرًا ﴿ۚ﴾  وَ اذۡکُرۡنَ مَا یُتۡلٰی فِیۡ  بُیُوۡتِکُنَّ  مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  وَ الۡحِکۡمَۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  کَانَ لَطِیۡفًا خَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Tetapi barangsiapa di antara kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal saleh, Kami akan memberi kepadanya ganjarannya dua kali lipat, dan Kami telah menyediakan baginya rezeki yang mulia.  Wahai istri-istri Nabi, jika kamu bertakwa kamu tidak sama dengan salah seorang dari perempuan-perempuan lain, karena itu  janganlah kamu lembut dalam berbicara, sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit akan tergoda, dan ucapkanlah perkataan yang baik.  Dan tinggallah  di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu memamerkan kecantikan kamu seperti cara pamer kecantikan zaman Jahiliah dahulu,  dirikanlah shalat, bayarlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah meng-hendaki agar dia menghilangkan  kekotoran dari diri kamu, hai ahlulbait, dan Dia mensucikan kamu sesuci-sucinya.   Dan ingatlah akan apa yang dibacakan dalam rumah-rumah kamu dari Ayat-ayat Allah dan hikmah, sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Memaklumi. (Al-Ahzāb [33]:29-35).
      Itulah sebab menurut Allah Swt. dalam Al-Quran  -- kecuali meraih derajat kenabian (QS.4:70-71) --  semua derajat ruhani yang dapat dicapai oleh kaum laki-laki beriman dapat pula diraih oleh mereka, firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُسۡلِمِیۡنَ وَ الۡمُسۡلِمٰتِ وَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡقٰنِتٰتِ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الصّٰدِقٰتِ وَ الصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰبِرٰتِ وَ الۡخٰشِعِیۡنَ وَ الۡخٰشِعٰتِ وَ الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ وَ الۡمُتَصَدِّقٰتِ وَ الصَّآئِمِیۡنَ وَ الصّٰٓئِمٰتِ وَ الۡحٰفِظِیۡنَ فُرُوۡجَہُمۡ وَ الۡحٰفِظٰتِ وَ الذّٰکِرِیۡنَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ الذّٰکِرٰتِ ۙ اَعَدَّ  اللّٰہُ   لَہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا  عَظِیۡمًا  ﴿﴾
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berserah diri, laki-laki  dan perempuan yang beriman,  laki-laki  dan perempuan  yang patuh,  laki-laki  dan perempuan yang benar,  laki-laki  dan perempuan yang sabar,   laki-laki  dan perempuan yang meren-dahkan diri, laki-laki  dan  perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,  laki-laki  dan perempuan yang berpuasa,  laki-laki  dan perempuan yang memelihara   kesucian mereka,  laki-laki  dan perempuan yang banyak mengingat Dia, Allah telah menyediakan bagi  mereka itu ampunan dan ganjaran yang besar.  (Al-Ahzāb [33]:36).
     Ayat ini mengandung sangkalan yang paling jitu terhadap tuduhan, bahwa Islam (Al-Quran) memberi kedudukan yang rendah terhadap kaum perempuan. Menurut Al-Quran, kaum perempuan berdiri sejajar dengan kaum laki-laki dan mereka dapat mencapai ketinggian-ketinggian ruhani yang dapat dicapai kaum laki-laki serta menikmati semua hak politik dan sosial yang dinikmati kaum laki-laki.
     Hanya saja karena lapangan kegiatan mereka berbeda maka kewajiban-kewajiban mereka pun lain. Perbedaan dalam tugas kedua golongan jenis kelamin inilah yang dengan keliru, atau mungkin dengan sengaja telah disalahartikan oleh pengecam-pengecam yang tidak bersahabat terhadap Islam, seolah-olah ajaran Islam (Al-Quran) memberikan kedudukan lebih rendah kepada kaum perempuan.

Keberhasilan Ratu Saba Memimpin Kaum Saba &
Sifat Rabbubiyyat  dan Rahmāniyyat   Allah Swt.

       Berkenaan dengan kesetaraan kaum perempuan dengan kaum laki-laki dalam hak politik mau pun hak sosial, Allah Swt. dalam Al-Quran telah menampil  Ratu Saba sebagai contoh  mengenai  hal tersebut (QS.27:16-45 & QS.34:16-22). Uraian penjang lebar mengenai kisah Nabi Sulaiman a.s. dan Ratu Saba  telah dikemukakan dalam Bab  35 s/d Bab 40.
      Dalam kisah kedua pemimpin kaum atau pemimpin  kerajaan  besar dapat diketahui bahwa dari segi keberhasilan duniawi antara Nabi Sulaiman a.s. dengan Ratu Saba  memiliki banyak persamaan  karena pada hakikatnya kedua pemimpin kaum (raja dan ratu) tersebut dalam mengelola kerajaannya (pemerintahannya)  -- sampai batas tertentu – kedua Kepala Negara (Malik)  tersebut  telah mengamalkan keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah, yakni Rabbubiyyat, Rahmāniyyat, Rahīmiyyat, dan Māliki yaumid-dīn.
        Berikut firman  Allah Swt.  mengenai keberhasilan Ratu Saba dalam mengelola SDA (Sumber daya alam) dan SDM (sumber daya manusia)  -- walau pun ia dan kaumnya adalah orang-orang musyrik  --  sesuai dengan Sifat Rabbubiyyat dan Rahmāniyyat (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.1:3), yang berlaku secara umum bagi semua makhluk hidup, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾
Sungguh  bagi kaum Saba  benar-benar terdapat satu Tanda besar di negeri  mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman: Makanlah rezeki dari Rabb (Tuhan)  kamu dan bersyukurlah (berterimakasihlah) kepada-Nya. Negeri yang indah dan  Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.”  (Saba [34]:16).
      Saba', sebagaimana tersebut dalam QS.27:23, adalah sebuah kota di negeri Yaman, terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari Shan’a yang disebut juga Ma’arib. Kota ini sering disebut-sebut dalam kitab Taurat dan dalam kepustakaan Yunani, Romawi, dan Arab; lebih-lebih pula dalam prasasti-prasasti yang terdapat di Arabia Selatan.
      Bangsa (kaum) Saba' adalah bangsa yang sangat makmur lagi berkebudayaan tinggi, dan kepadanya Allah Swt.   --  sesuai dengan    Sifat Rahmāniyyat (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.1:3)   -- telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan yang serba senang dan sentausa. Seluruh negeri dijadikan subur sekali tanahnya dengan pembuatan bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan irigasi lainnya serta sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai. Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan yang paling tersohor, ialah Bendungan Ma’ārib (Encyclopaedia of Islam, Jilid IV, hlm. 16).
       Tirmidzi menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala ditanya, adakah Saba' itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon Nabi Besar Muhammad saw.:   “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama seorang perempuan  melainkan nama seorang laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10orang anak laki-laki, 6 di antaranya menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim di sana.” (Taj-ul ’Arus).

Akibat Bersyukur  Kepada Allah Swt.

      Keberhasilan Ratu Saba dan kaumnya memanfaatkan SDM (sumber daya manusia) dan SDA (sumber daya alam) yang mereka miliki tersebut  --  sampai batas tertentu --  sesuai dengan firman Allah Swt.:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan:  ”Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku   sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).
      Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
    Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
     Syukr dari pihak Allah Swt.   ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane). Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  bila manusia  mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat.
      Jadi,  karena Ratu Saba dan kaumnya -- secara tidak mereka sadari – dalam mengelola SDM dan SDA yang mereka miliki sesuai dengan Sifat Rabbubiyyah (Maha Pencipta dan Pemelihara) dan Sifat Rahmāniyyat (Maha Pemurah) Allah Swt. itulah sebabnya  dengan membangun bendungan Al-Ma’arib  maka  mereka mampu mengubah padang pasir yang berada di sebelah kanan dan sungai di wilayah mereka berubah menjadi kebun-kebun yang sangat subur,  sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾
Sungguh  bagi kaum Saba  benar-benar terdapat satu Tanda besar di negeri  mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman: Makanlah rezeki dari Rabb (Tuhan)  kamu dan bersyukurlah (berterimakasihlah) kepada-Nya. Negeri yang indah dan  Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.”  (Saba [34]:16).
      Keberhasilan duniawi Ratu Saba   dan kaum Saba tersebut terjadi di masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., dan bahkan kaum tersebut sempat melakukan penyerangan ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman a.s.  tetapi Nabi Sulaiman a.s. dan pasukan tempur beliau mampu mengatasinya, bahkan Ratu Saba pun akhirnya bertaubat dari kemusyrikannya  (QS.27:16-45). Masalah ini telah dibahas dalam Bab 33 s/d Bab 40.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   28 November    2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar