Jumat, 27 Desember 2013

Perang Badar & Penyesalan Orang-orang yang Diperdayai "Syaitan"



   بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  109
Perang Badar  & Penyesalan Orang-orang yang Diperdayai “Syaitan”    
  
Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam Akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai  masa  kemajuan dan masa kemunduran serta masa kebangkitan Islam yang kedua kali, hal  tersebut merupakan Sunnatullah  yang  berlaku bagi semua umat  -- termasuk umat Islam Bani Isma’il yang menggantikan Bani Israil  sebagai “kaum terpilih” sebelumnya (QS.2:41; QS.6:166) --  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalam-nya. (Al-‘Arāf [7]:35-37).

Makna  Ajal    (Jangka Waktu) Kaum

   Bila waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba  maka  batas waktu  (ajal) kaum tersebut  tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda. Kemudian Allah Swt. akan membangkitkan  kaum lain sebagai pengganti kaum yang sudah tiba ajalnya (batas waktunya) tersebut, sebagimana dikemukakan dalam ayat selanjutnya (ayat 36).
 Penyebutan “Hai Bani Adam” dalam ayat 36  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ   -- “Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu” patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat di zaman  Nabi Besar Muhammad saw. dan kepada generasi-generasi yang akan lahir setelah diturunkannya agama Islam (Al-Quran) kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  bukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam (kaum-kaum purbakala) dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s..  
 Kata-kata  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  --  “Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya” itu berarti bahwa mereka yang menolak rasul-rasul Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang rasul-rasul Allah.
Sudah merupakan Sunnatullah pula bahwa pihak yang mendustakan dan menentang Rasul Allah tersebut  terutama sekali adalah kaum  yang ajalnya (jangka waktunya)  sebagai “kaum terpilih” sudah selesai,  contohnya adalah penentangan (golongan Ahlikitab) terhadap Nabi Besar Muhammad saw. yang berasal dari Bani Isma’il.
  Sunnatullah tersebut terjadi pula di lingkungan umat Islam  ketika Allah Swt. mengutus Rasul Akhir Zaman,  yang akan mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaff [61]:10).

Turunnya Berbagai Bentuk Pertolongan Allah Swt.

 Mengisyaratkan kepada  Rasul Allah yang akan menggunggulkan agama Islam atas semua agama lainnya itulah  yang dimaksud dengan  Rasul Allah dalam  firman-Nya   sebelum ini:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. (Al-Furqan [25]:31).
     Firman Allah Swt. tersebut diawali dengan ayat-ayat  yang mengemukakan  rasa menyesal (penyesalan) yang dialami oleh orang-orang yang mendustakan serta menentang Rasul Allah tersebut,  ketika “Kerajaan” Allah Swt. yang diperjuangkan oleh Rasul Allah tersebut  benar-benar terwujud,   firman-Nya:
وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  تَنۡزِیۡلًا ﴿﴾  اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾
Dan pada hari  ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan  dan malaikat-malaikat akan diturunkan bergelombang-gelombang.  Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir sangat keras.  Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata:  Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat. Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” Dan syaitan selalu menelantarkan manusia. (Al-Furqan [25]:26-30).
   Makna ayat 26:  وَ یَوۡمَ تَشَقَّقُ السَّمَآءُ بِالۡغَمَامِ وَ نُزِّلَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  تَنۡزِیۡلًا  -- “Dan pada hari   ketika langit akan terpecah-belah dengan awan-awan  dan malaikat-malaikat akan diturunkan   bergelombang-gelombang,” hal itu mengisyaratkan ketika pertolongan Allah Swt. secara bergelombang membantu Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam pada waktu Perang Badar (QS.2:211; QS.6:159; QS.16:34; QS.89:23).
Secara khusus makna kalimat “malaikat-malaikat akan diturunkan  bergelombang-gelombang    mengisyaratkan kepada hukuman terhadap kaum itu melalui peperangan,  sebab kedatangan malaikat-malaikat itu telah disebutkan dalam hubungan dengan pertarungan-pertarungan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan musuh-musuh mereka (QS.3:125, 126 dan QS.8:10).
 Sedangkan istilah “Kedatangan Tuhan” mengungkapkan kehancuran total musuh-musuh kebenaran (QS.2:211),  ada pun makna kalimat “Kedatangan Tanda-tanda” mengisyaratkan kepada azab-azab dunia seperti kelaparan, wabah, bencana, dan sebagaimanya, itulah makna ayat selanjutnya اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا   -- “Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan azab pada  hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.

Penyesalan Para Penentang Rasul Allah

     Hari Badar (Perang Badar) sungguh-sungguh merupakan suatu hari yang penuh dengan kesedihan bagi orang-orang kafir Mekkah, sebab  dengan  terbunuhnya Abu  Jahal dan 7 orang pemimpin kafir Quraisy lainnya,  ada sebanyak 70 orang  kafir Quraisy terbunuh dalam Perang Badar  dan 70 orang lainnya ditawan oleh pasukan Muslim.
    Jadi, pada hari itulah dasar-dasar Islam diletakkan dengan teguhnya, dan kaum Quraisy telah menyadari kehinaan dan kekalahan pahit yang mereka derita. Mengisyaratkan kepada keadaan itulah ayat:
وَ  یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی  یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾  یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًا ﴿﴾  لَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ  بَعۡدَ  اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾
Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat. Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.” Dan syaitan selalu menelantarkan manusia.(Al-Furqan [25]:29-30).
       Pada hakikatnya yang dimaksud dengan  si fulan” mau pun “syaitan” dalam ayat tersebut merujuk kepada obyek yang sama, yaitu  orang-orang kafir yang secara aktif menentang keras Rasul Allah, mereka itulah yang disesali oleh orang-orang zalim  ketika perjuangan suci Rasul Allah   terbukti kebenarannya, firman-Nya:
وَ اِذۡ زَیَّنَ لَہُمُ الشَّیۡطٰنُ اَعۡمَالَہُمۡ  وَ قَالَ لَا غَالِبَ لَکُمُ  الۡیَوۡمَ مِنَ النَّاسِ  وَ اِنِّیۡ جَارٌ لَّکُمۡ ۚ فَلَمَّا تَرَآءَتِ الۡفِئَتٰنِ نَکَصَ عَلٰی عَقِبَیۡہِ وَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکُمۡ  اِنِّیۡۤ  اَرٰی مَا لَا تَرَوۡنَ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ ؕ وَ اللّٰہُ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿٪﴾
Dan ingatlah ketika syaitan  menampakkan indah kepada mereka amal-amal mereka dan berkata: ”Tidak seorang pun di antara manusia yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sesungguhnya aku pelindung kamu.” Tetapi tatkala kedua pasukan itu berhadapan satu sama lain, ia berbalik  atas tumitnya sambil berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah  dan siksaan Allah sangat keras. (Al-Anfāl [8]:49).

Hasutan  dan Jaminan Palsu Suraqah bin Malik bin Jusyam

      Diriwayatkan bahwa orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah  Suraqah bin Malik bin Jusyam, yang  menjelang terjadinya Perang Badar ia menghasut orang-orang Mekkah agar melawan orang-orang Islam, tetapi kemudian dia sendiri  setelah Perang Badar  memeluk agama Islam.
     Ketika lasykar Mekkah masih di Mekkah,  beberapa tokoh kabilah Quraisy menyatakan kekhawatiran bahwa jangan-jangan Banu Bakar -- satu cabang Banu Kinanah -- yang bermusuhan dengan kaum Quraisy menyerang Mekkah secara tak terduga di waktu mereka tidak ada di tempat, atau menyerang lasykar Mekkah dari belakang. Kekhawatiran mereka diredakan oleh  Suraqah bin Malik bin Jusyam, salah seorang pemuka Banu Kinanah, ia meyakinkan mereka bahwa orang-orang dari sukunya tidak akan mendatangkan kemudaratan apa pun kepada mereka (Tafsir Ibnu Jarir, X, 13).
     Tetapi ketika Suraqah menyaksikan tekad membaja orang-orang Islam pada waktu  Perang Badar maka rasa takut menguasai dirinya, sebab  setelah melihat mereka ia memperoleh keyakinan bahwa tekad  orang-orang Islam  adalah menang atau mati. Persis demikianlah dirasakan oleh Utbah dan Umair pada Hari Badar dan ia memberitahukan kepada orang-orang Mekkah, bahwa orang-orang Islam nampaknya “seperti orang-orang yang mencari kematian” (Thabari).
       Pada hakikatnya tekad membaja yang timbul dalam hati orang-orang Islam dan rasa takut yang timbul di kalangan pasukan kafir Quraisy Mekkah – termasuk Suraqah bin Malik  -- adalah karena Allah Swt. telah memerintahkan para malaikat-Nya untuk melaksanakan hal tersebut, firman-Nya:
اِذۡ تَسۡتَغِیۡثُوۡنَ رَبَّکُمۡ فَاسۡتَجَابَ لَکُمۡ اَنِّیۡ مُمِدُّکُمۡ بِاَلۡفٍ مِّنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  مُرۡدِفِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا جَعَلَہُ اللّٰہُ  اِلَّا بُشۡرٰی وَ لِتَطۡمَئِنَّ بِہٖ قُلُوۡبُکُمۡ ۚ وَ مَا النَّصۡرُ اِلَّا مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿٪﴾
Dan ingatlah  ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb (Tuhan) kamu,  lalu Dia mengabulkan doa kamu: “Sesungguhnya Aku akan membantu  kamu dengan seribu  malaikat beriringan.”  Tetapi Allah sekali-kali  tidak menjadikan hal itu melainkan sebagai kabar gembira dan supaya  hati kamu tenteram  karenanya. Dan sekali-kali  tidak ada pertolongan kecuali dari sisi Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Anfāl [8]:10-11).
     Para malaikat membantu kaum Muslimin, yakni di satu pihak dengan meneguhkan hati mereka, dan di pihak lain dengan meresapi hati musuh-musuh dengan rasa gentar dan takut. Jika  Allah Swt.   menghendaki, seorang malaikat  pun  cukup untuk menolong kaum Muslimin pada Perang Badar, tetapi Allah Swt.  menjanjikan akan mengirimkan sebanyak 1000  malaikat.

Kabar Gembira

     Hal itu merupakan isyarat tersembunyi bahwa sejumlah besar kekuatan-alam bekerja menolong mereka. Baik dicatat sambil lalu,  bahwa  beberapa orang beriman dan begitu pula beberapa orang kafir, menurut riwayat, sungguh-sungguh telah melihat para malaikat dalam Perang Badar (Tafsir Ibnu Jarir, IV, 47).
       Jadi, penyebutan jumlah 1000 malaikat  lebih bersifat  memberikan kabar bahwa jumlah pasukan kaum kafir Quraisy   adalah sebanyak 1000 orang, dan bahwa sejumlah besar kekuatan-kekuatan alam akan  mendukung perjuangan suci Nabi Besar Muhammad saw. yang  jumlahnya hanya  313 orang Muslim  saja, dengan perlengkapan perang yang sangat sederhana,  karena memang yang sebenarnya menjadi tujuan mereka adalah rombongan kafilah kaum Quraisy Mekkah yang pengawalannya tidak begitu kuat (QS.8:6-9).
       Tetapi Allah Swt. memiliki tujuan lain, yaitu telah membuat rombongan umat Islam pimpinan Nabi Besar Muhammad saw. harus berhadapan dengan pasukan kaum kafir Quraisy yang bukan saja jumlahnya jauh lebih banyak  tetapi juga pasukan tersebut dipersenjatai secara lengkap,  karena tujuan mereka  adalah untuk menghabisi Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, firman-Nya:
کَمَاۤ اَخۡرَجَکَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَیۡتِکَ بِالۡحَقِّ ۪ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ لَکٰرِہُوۡنَ ۙ﴿﴾
Hal itu karena  Rabb (Tuhan) engkau telah mengeluarkan engkau dari rumah engkau untuk tujuan yang haq,  padahal sesungguhnya segolongan dari  orang-orang beriman tidak menyukainya. (Al-Anfāl [8]:6).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   8 Desember    2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar