Senin, 09 Desember 2013

Perbedaan Kata "Dzanb" dengan Kata "Junah, Itsm dan Jurm" (Dosa) Berkenaan dengan "Kemenangan" yang Diraih Nabi Besar Muhammad Saw.

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  96

Perbedaan Kata Dzanb dengan Kata Junah, Itsm, dan Jurm   (Dosa) Berkenaan dengan  "Kemenangan" yang Diraih  Nabi Besar Muhammad Saw.  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

Dalam Akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai  terjemahan hadits sehubungan dengan  kepiawaian Nabi Bear Muhammad saw. melakukan  langkah-langkah politik   dalam rangka perjanjian Hudaibiyah, yang  menurut umumnya para sahabat –  termasuk sahabat yang sangat cerdas dan kritis, Umar bin Khaththab r.a. --  sangat  merugikan  pihak umat Islam:
   Telah menceritakan kepadaku 'Ubaidullah bin Mua'd Al 'Anbari telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dia berkata: Aku mendengar Al Barra bin 'Azzib berkata, "Ali bin Abu Thalib pernah menuliskan perjanjian damai antara Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam dengan orang-orang musyrik (Makkah) ketika perjanjian Hudaibiyyah. Ali menuliskan, "Ini adalah perjanjian yang ditulis oleh Muhammad Rasulullah." Lantas mereka berkata, "Jikalau kami tahu bahwa engkau adalah Rasulullah, tentu kami tidak akan memerangi engkau." Maka Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam bersabda kepada Ali: "Hapus kata-kata itu (tulisan 'Rasulullah')." Ali menjawab, "Aku tidak mau menghapusnya." Maka Nabi shallallāhu 'alaihi wasallam yang menghapusnya dengan tangannya sendiri." Al Barra` berkata, "Isi perjanjian itu antara lain menetapkan bahwa kaum Muslimin boleh masuk dan tinggal di kota Makkah selama tiga hari. Tidak boleh membawa senjata kecuali diletakkan dalam sarungnya." Aku bertanya kepada Abu Ishaq, "Apa yang dimaksud dengan sarung pedang?" dia menjawab, "Yaitu sarung pedang dan sesuatu yang ada di dalamnya." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dia berkata; aku mendengar Al Barra` bin 'Azib berkata, "Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam pernah mengadakan perjanjian Hudaibiyyah, lantas Ali menulis suatu catatan di antara mereka." Al Barra` berkata, "Lalu dia menulis; Muhammad Rasulullah...kemudian dia menyebutkan seperti hadits Mu'adz, namun dalam haditsnya dia tidak menyebutkan, "Ini adalah perjanjian yang ditulis olehnya."
 Pendek kata, syarat-syarat itu nampaknya merupakan penghinaan besar. Orang-orang Islam  sangat bingung. Tidak ada kata memadai untuk melukiskan keprihatinan mereka dan rasa terhina serta rasa harga diri mereka yang ternoda. Teristimewa syarat yang ketigalah dirasakan pahit sepahit empedu.  
 Tetapi  Nabi Besar Muhammad saw.  tetap tenang dan berkepala dingin. Oleh karena yakin akan kekuatan moral Islam, beliau saw. mengetahui bahwa "seorang beriman yang telah sekali mencicipi manisnya keimanan akan lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekafiran" (Bukhari), dan bahwa ia akan membuktikan diri menjadi sumber kekuatan bagi agamanya di mana pun ia berada.

“Kemenangan yang Nyata” & Makna  Memohon Ampunan” Allah Swt.

    Perjanjian Hudaibiyah terbukti kemudian menjadi "kemenangan yang nyata." Para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  sewajarnya merasa bangga atas kehadiran mereka pada peristiwa itu, dan tepat sekali memandang Perjanjian Hudaibiyah itulah   — dan bukan peristiwa penaklukan Makkah— sebagai "kemenangan yang diisyaratkan dalam ayat ini" (Bukhari).
     Menurut mereka tidak ada kemenangan yang lebih besar dan lebih jauh jangkauannya dalam hasil dan pengaruhnya daripada Perjanjian itu (Hisyam). Dan Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri menyebutnya kemenangan besar (Baihaqi). Al-Quran menyebutnya "kemenangan nyata" (QS.48:2), "keberhasilan besar" (QS.48:6), "ganjaran besar" (QS.48:11) dan penggenapan serta penyempurnaan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48: 3),  sebab peristiwa (perjanjian Hudaibiyah) itu membukakan pintu-air-kemenangan ruhani dan politik agama Islam, firman-Nya:  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا  --   “Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata” (QS.48:2).
     Jadi, kembali kepada pernyataan  Allah Swt. dalam Surah Al-Fath mengenai “kemenangan yang nyata”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata, supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang,  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,   dan Allah akan menolong eng-kau dengan pertolongan yang perkasa.   (Al-Fath [48]:1-4).
   Makna ayat selanjutnya  ۙ   لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ  -- “supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang”, sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya mengenai  Surah An-Nashr [110]:1-4), bahwa perintah “memohon ampunan-Nya” tersebut   tidak ada hubungannya dengan “dosa-dosa” yang telah dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana telah disalah-artikan oleh  pihak-pihak penentang  Nabi Besar Muhammad saw.
      Jadi, ayat tersebut dengan sengaja disalah-tafsirkan, atau, karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. – na’ūdzubillāhi min dzālik --   mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki.
  Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi (rasul) Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28). 
   Karena para rasul Allah  diutus oleh Allah Swt.  untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa. Dari antara utusan-utusan Allah,  Nabi Besar Muhammad saw. adalah paling mulia dan paling suci, sehingga beliau saw. merupakan satu-satunya rasul Allah yang dienugerahi gelar “Khātaman Nabiyyīn” (QS.33:41).
   Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup  Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22). 

Makna Kata Dzanb (Dzunub)

  Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu agung dan sempurna seperti Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.68:5), yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang telah tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam (QS.30:42) — ke puncak kemulaian ruhani tertinggi, tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian, seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..
 Sepatah kata sederhana dan polos, dzanb, telah dimanfaatkan untuk memfitnah beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan akan menimbulkan akibat-akibat merugikan.
   Ayat    لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ  -- “supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang   mengandung arti,  bahwa Allah Swt. akan melindungi  Nabi Besar Muhammad saw.   terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya (QS.48:2).
   Oleh karena itu berbondong-bondongnya  orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah sebabnya  tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada Nabi Besar Muhamm ad saw.,  pada waktu itu diperintahkan supaya memohon perlindungan Allah Swt. terhadap dzanb    beliau saw. --  yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw. – firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,  maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
 Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm,), yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, hal itu menunjukkan  bahwa kata  dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
   Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya; atau dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”
 Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka (bagi engkau) dalam ayat  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ      ini akan berarti  “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.

Membantah “Fitnah-fitnah” yang Dikemukakan
di Masa Lalu dan di Masa Datang  

   Jadi, ayat yang sedang dibahas ini    --      لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ  (supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang)    -- akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar (Perjanjian Hudaibiyah) itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw.  kepada beliau, yakni bahwa beliau saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua sebab segala macam orang, yang mempunyai hubungan dengan para pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.   akan menjumpai kebenaran mengenai beliau.
 Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Makkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam  maka dosa mereka diampuni.
 Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas  Nabi Besar Muhammad saw. yang diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti dosa.
  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan (dihindarkan) dan beliau  saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu. Itulah makna firman-Nya berkenaan dengan  makna  perintah “memohon ampunan” kepada Allah: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata, supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang,  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,   dan Allah akan menolong eng-kau dengan pertolongan yang perkasa.   (Al-Fath [48]:1-4).
Firman-Nya lagi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,  maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   26 November    2013


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar