Senin, 09 Juni 2014

Perumpamaan "Keledai Pemikul Buku" Bersuara Buruk & Penyebab Munculnya "Kekerasan Atas Nama Agama"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab   236

  Perumpamaan  Keledai Pemikul Buku  Bersuara Buruk &  Penyebab Munculnya “Kekerasan Atas Nama Agama 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   akhir Bab sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai  peringatan Allah Swt. dan  kecaman keras Yesus Kristus terhadap golongan Ahli Taurat  dan orang-orang Farisi (Matius 23:1-39),  yang karena kebutaan mata ruhani mereka  dan ketakaburan, mereka telah membunuh atau menyiksa orang-orang suci yang dibangkitkan di kalangan mereka  (Matius 23:1-39):
23:29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi   dan memperindah tugu orang-orang saleh 23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.   23:32 Jadi, penuhilah juga takaran   nenek moyangmu! 23:33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!   Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?   23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan,   yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu   dan kamu aniaya dari kota ke kota,   23:35 supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel,    orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya,   yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.   23:36 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!   " 23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!   Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,   tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.    23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga   kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"

Pendakwaan Dusta Sebagai “Kekasih-kekasih Tuhan” dan “Pewaris Surga

         Sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab-bab sebelumnya, kepada   Rasul Allah itulah Allah Swt. membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.3:180; QS.72:27-29), yang memungkinkan manusia  memiliki makrifat Ilahi yang hakiki,  sehingga  membuat mereka secara bertahap  menjadi “orang-orang yang dekat   bahkan “bertemu” dengan Allah Swt., yakni meraih martabat fana,  baqa, dan liqaillāh – bukan menjadi seperti “keledai- pemikul  muatan buku-buku tebal” yang tetap bodoh  dan  bersuara buruk (QS.31:19-20) --  berikut firman-Nya mengenai pendakwaan dusta golongan ahli Kitab:
وَ قَالُوۡا لَنۡ یَّدۡخُلَ الۡجَنَّۃَ اِلَّا مَنۡ کَانَ ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی ؕ تِلۡکَ اَمَانِیُّہُمۡ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan mereka berkata:   Tidak akan pernah ada yang akan masuk surga, kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.” Ini hanyalah angan-angan mereka belaka. Katakanlah: “Kemukakanlah bukti-bukti kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang benar.   Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri kepada  Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:112-113).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  وَ النَّصٰرٰی  نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ ؕ قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ  بِذُنُوۡبِکُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ ؕ یَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani berkata:  Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." Katakanlah: “Jika benar demikian mengapa Dia mengazab kamu karena dosa-dosamu? Tidak, bahkan kamu ada-lah manusia-manusia biasa dari antara mereka yang telah Dia ciptakan.  Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan Dia mengazab siapa yang Dia kehendaki." Dan kepunyaan   Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya-lah  kembali segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:19).
      Dalam kedua firman Allah Swt. tersebut orang-orang Yahudi dan Kristen kedua-duanya berkhayal kosong   sebagai para pewaris surga bahwa hanya orang Yahudi atau Kristen saja yang dapat meraih najat (keselamatan), padahal di antara mereka sendiri  saling mengkafirkan, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿ ﴾ 
Dan orang-orang Yahudi mengatakan:  Orang-orang Nasrani sekali-kali  tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,” dan orang-orang Nasrani mengatakan: ”Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran.” Padahal mereka membaca Alkitab yang sama. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu, maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. (Al-Baqarah [2]:114).
     Syay-’i berarti: sesuatu; sesuatu yang baik; kepentingan; apa yang dihendaki (Lexicon Lane). Tidak ada yang lebih asing di dalam jiwa Islam daripada perlawanan terhadap kebenaran. Islam mengajarkan bahwa semua agama mempunyai kebenaran-kebenaran tertentu,  dan suatu agama disebut benar, tidak karena memonopoli kebenaran, melainkan karena mempunyai segala kebenaran dan bebas dari segala bentuk ketidakbenaran.
    Sambil mengatakan mengenai dirinya agama yang sempurna dan lengkap (QS.5:4),  Islam dengan terus terang mengakui  adanya kebenaran dan kebaikan-kebaikan tertentu yang dimiliki oleh agama-agama lain, walau pun tidak dapat dibandingkan dengan kebenaran sempurna yang dimiliki Al-Quran sebagai agama terakhir yang diwahyukan  kepada Nabi Besar Muhammad saw. bagi seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).

Fana, Baqa dan Liqa

      Kembali kepada  QS.2:113   yang menafikan (menolak) pendakwaan orang-orang Yahudi dan Nashrani (Kristen) pada ayat 112 sebagai para  pewaris surga  dan “kekasih Allah”, Dia berfirman:
بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ  وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),  tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:113).
        Wajh dalam ayat مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ  -- “Tidak demikian, bahkan yang benar ialah barangsiapa berserah diri  kepada  Allah” berarti: wajah (muka); benda itu sendiri; tujuan dan motif; perbuatan atau tindakan yang kepadanya seseorang menujukan perhatian; jalan yang diinginkan, anugerah atau kebaikan (Aqrab-al-Mawarid).
      Ayat ini memberi isyarat kepada ketiga taraf penting ketakwaan sempurna, yaitu:  fana (menghilangkan diri), baqa (kelahiran kembali), dan liqa (memanunggal dengan Allah Swt.). Kata-kata  وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ   -- “berserah diri kepada Allah” berarti  segala kekuatan dan anggota tubuh kita, dan apa-apa yang menjadi bagian diri kita, hendaknya diserahkan kepada Allah Swt. seutuhnya dan dibaktikan kepada-Nya. Keadaan itu dikenal sebagai fana atau kematian yang harus ditimpakan seorang Muslim atas dirinya sendiri.
     Anak-kalimat kedua  وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ  -- “dan ia berbuat ihsan” menunjuk kepada keadaan baqa atau kelahiran kembali, sebab bila seseorang telah melenyapkan dirinya (fana) dalam cinta Ilahi atau kehendak Ilahi dan segala tujuan serta keinginan duniawi telah lenyap,   ia seolah-olah dianugerahi kehidupan baru yang dapat disebut baqa atau kelahiran kembali, maka ia hidup untuk Allah Swt.   dan bakti kepada umat manusia.
      Kata-kata penutup وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ   --  tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih” menjelaskan taraf kebaikan ketiga dan tertinggi — taraf liqa-illah atau  manunggal (menyatu) dengan Allah Swt.  dalam Sifat-sifat, yang dalam Al-Quran (QS.89:28) disebut pula “jiwa yang tenteram” atau nafs-al- Muthma’innah, firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾   
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau,  maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-29).  
  Ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi  di dunia ini ketika manusia ridha kepada  Rabb-nya (Tuhan-nya) dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, ia diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia    manunggal” dengan Allah Swt.  dalam Sifat-sifat-Nya dan kehendak-Nya, serta dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati  perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
       Tanpa  mengarungi  tiga tingkatan suluk tersebut maka  para pemeluk agama apa pun akan mengalami keadaan sebagaimana yang dikemukakan oleh  Syeikh Abdul Qadir al-Jailani   dan peringatan    Allah Swt. dalam Al-Quran dan sebelum ini:
Orang yang tidak bisa menemui pengetahuan ini di dalam dirinya tidak akan menjadi arif walaupun dia membaca seribu buah buku.”
Yakni akan seperti “keledai yang memikul buku-buku tebal ilmu pengetahuan  tetapi tetap saja bodoh, penakut   dan  bersuara buruk  (QS.31:19-20   & QS.74:50-57), firman-Nya:
مَثَلُ  الَّذِیۡنَ حُمِّلُوا  التَّوۡرٰىۃَ  ثُمَّ  لَمۡ یَحۡمِلُوۡہَا کَمَثَلِ  الۡحِمَارِ یَحۡمِلُ اَسۡفَارًا ؕ بِئۡسَ مَثَلُ  الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
“Misal (perumpamaan) orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah semisal keledai yang memikul kitab-kitab. Sangat  buruk misal kaum yang mendustakan Tanda-tanda Allah. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kaum yang zalim. (Al-Jumu’ah [62]:6).

Para Pembuat Kerusakan di Muka Bumi  Hidangan Para Penghuni Neraka

       Karena mereka tidak memahami  secara mendalam  hakikat ajaran agama  -- terutama agama Islam (Al-Quran)  --  serta  memahami  pentingnya  mengalami  mi’raj ruhani  atau suluk  (perjalanan ruhani) menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt.,  maka mereka akan menjadi golongan yang karena hanya mempelajari “kulit agama” saja maka  pendalaman agama” yang mereka lakukan hanya berkisar melakukan perdebatan sengit  masalah  halal dan haram   yang     -- karena keakuan dan ketakaburan    masing-masing pihak  -- berujung satu sama lain  saling   mengkafirkan, dan bahkan saling serang  secara fisik (QS.3:106-108 & QS.98:1-9),  sebagaimana yang terjadi  di masa menjelang diutus-Nya Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan, termasuk di Akhir Zaman ini  (QS.61:10) -- firman-Nya:  
  وَ مَنۡ اَظۡلَمُ  مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی فِیۡ خَرَابِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ مَا کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ لَہُمۡ  فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ﴿ ﴾
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi orang yang menyebut nama-Nya di dalam mesjid-mesjid Allah dan berupaya merobohkannya? Mereka itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut.  Bagi mereka ada kehinaan di dunia,  dan bagi mereka azab yang besar di akhirat. (Al-Baqarah [2]:115).
       Ayat ini merupakan tudingan keras terhadap mereka yang membawa perbedaan-perbedaan agama mereka sampai ke titik runcing, sehingga malahan tidak segan-segan merobohkan atau menodai tempat-tempat beribadah milik agama-agama lain.
    Mereka menghalang-halangi orang menyembah Tuhan di tempat-tempat suci mereka sendiri, dan bahkan bertindak begitu jauh, hingga membinasakan rumah-rumah ibadah mereka. Tindakan kekerasan demikian di sini dicela dengan kata-kata keras dan di samping itu ditekankan ajaran toleransi dan berpandangan luas.
      Al-Quran mengakui adanya kebebasan dan hak yang tidak dibatasinya bagi semua orang untuk menyembah Tuhan di tempat ibadah, sebab  kuil, gereja atau masjid adalah tempat yang dibuat untuk beribadah kepada Allah, sedangkan orang yang menghalangi orang lain beribadah kepada Tuhan dalam tempat itu, pada hakikatnya telah membantu kehancuran dan kebinasaan tempat tersebut. 
 Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Surah  Al-Wāqi’ah  mengenai para penghuni surga golongan  as-sābiqūna-sābiqūn ( yang benar-benar paling dahulu)  atau golongan al-muqarrabūn (yang  dekat dengan  Tuhan – QS.56:11-12) yang menikmati berbagai jenis minuman dan makanan surgawi  pilihan mereka  (QS.56:13-27),     bertolak-belakang  dengan   mereka  sebaliknya penghuni neraka akan disuruh minum air yang sangat panas atau sangat dingin sebagaimana akanb dijelaskan  selanjutnya, firman-Nya:
ہٰذَا  ذِکۡرٌ ؕ وَ  اِنَّ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ لَحُسۡنَ مَاٰبٍ ﴿ۙ﴾  جَنّٰتِ عَدۡنٍ مُّفَتَّحَۃً  لَّہُمُ  الۡاَبۡوَابُ ﴿ۚ﴾ مُتَّکِـِٕیۡنَ  فِیۡہَا یَدۡعُوۡنَ فِیۡہَا بِفَاکِہَۃٍ  کَثِیۡرَۃٍ   وَّ  شَرَابٍ ﴿﴾  وَ عِنۡدَہُمۡ  قٰصِرٰتُ الطَّرۡفِ  اَتۡرَابٌ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ  لِیَوۡمِ الۡحِسَابِ ﴿ؓ﴾   اِنَّ  ہٰذَا  لَرِزۡقُنَا مَا  لَہٗ  مِنۡ  نَّفَادٍ﴿ۚۖ﴾
Inilah suatu peringatan,  dan sesungguhnya bagi orang-orang bertakwa benar-benar sebaik-baik tempat kembali.   Kebun-kebun abadi yang   pintu-pintunya selalu terbuka untuk mereka.  Di dalamnya mereka duduk  bersandar, mereka di dalamnya meminta berbagai buah-buahan yang banyak dan minuman.   Dan di sisi mereka ada  jodoh-jodoh dengan pandangan mereka tunduk, yang sebaya umurnya.   Inilah apa yang telah dijanjikan kepada kamu untuk  Hari Perhitung-an.  Sesungguhnya ini benar-benar rezeki Kami yang tidak ada habis-habisnya. (Shād [38]:50-55).

Hidangan Buruk  Para Penghuni Neraka &  Saling Mengutuk

      Makna “Hari Perhitungan” adalah  ketika seluruh kaum layak menerima ganjaran atau azab Ilahi sesuai dengan amal perbuatan mereka. Hari Perhitungan akan datang kepada setiap orang, masyarakat, dan bangsa dalam kehidupan di dunia  ini juga (QS.7:35-37). Selanjutnya Dia berfirman:
ہٰذَا ؕ وَ  اِنَّ  لِلطّٰغِیۡنَ  لَشَرَّ  مَاٰبٍ ﴿ۙ﴾  جَہَنَّمَ ۚ یَصۡلَوۡنَہَا ۚ فَبِئۡسَ الۡمِہَادُ ﴿﴾  ہٰذَا ۙ فَلۡیَذُوۡقُوۡہُ حَمِیۡمٌ  وَّ غَسَّاقٌ ﴿ۙ﴾  وَّ اٰخَرُ  مِنۡ شَکۡلِہٖۤ  اَزۡوَاجٌ ﴿ؕ﴾
Inilah untuk orang-orang beriman.  Dan sesungguhnya untuk orang-orang durhaka benar-benar seburuk-buruk tempat-kembali,   yaitu neraka Jahannam,  mereka akan masuk ke dalamnya, maka alangkah buruknya tempat tinggal itu!   Inilah balasan mereka, maka   mereka merasakannya,  cairan mendidih dan minuman sangat dingin yang berbau busuk, dan berbagai macam lainnya yang  serupa   dengannya. (Shād [38]:56-59).
   Penghuni neraka akan disuruh minum air yang sangat panas atau sangat dingin karena mereka ketika hidup di dunia tidak memfaedahkan dengan sebaik-baiknya berbagai  potensi (kemampuan)   yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka  dan  menggunakannya sampai batas-batas maksimum,  serta tidak mengambil jalan-tengah yang sehat, maka mereka akan disuruh minum air yang sangat panas atau air yang sangat dingin,  sesuai dengan sikap buruk mereka.    
   Di samping arti yang diberikan dalam terjemahan ayat, ayat  وَّ اٰخَرُ  مِنۡ شَکۡلِہٖۤ  اَزۡوَاجٌ --  dan berbagai macam lainnya yang  serupa   dengannya” ini dapat juga berarti “Dan seperti mereka akan ada rombongan-rombongan lain dengan corak yang sama dengan mereka”  (QS.7:38-42). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
ہٰذَا فَوۡجٌ مُّقۡتَحِمٌ  مَّعَکُمۡ ۚ لَا مَرۡحَبًۢا بِہِمۡ ؕ اِنَّہُمۡ صَالُوا النَّارِ ﴿﴾  قَالُوۡا بَلۡ  اَنۡتُمۡ ۟ لَا مَرۡحَبًۢا بِکُمۡ ؕ اَنۡتُمۡ  قَدَّمۡتُمُوۡہُ   لَنَا ۚ فَبِئۡسَ الۡقَرَارُ ﴿﴾  قَالُوۡا رَبَّنَا مَنۡ قَدَّمَ لَنَا ہٰذَا فَزِدۡہُ عَذَابًا ضِعۡفًا فِی النَّارِ ﴿﴾ 
Mereka ini adalah rombongan  yang  masuk berdesakan beserta kamu. Tidak ada sambutan selamat datang bagi mereka, sesungguhnya mereka akan  masuk ke dalam Api.   Mereka berkata:  Tidak, bahkan kamulah yang tidak ada sambutan selamat datang bagi kamu.  Kamulah yang telah menyiapkannya bagi kami.” Maka alangkah buruknya tempat tinggal itu  Mereka berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, barangsiapa yang telah menyediakan ini bagi kami  maka tambah-kanlah kepadanya azab yang  berlipat-ganda dalam Api.” (Shād [38]:60-62).
 Ketika para pemimpin kekafiran  yang menentang Rasul Allah melihat serombongan pengikut mereka datang ke neraka, mereka akan diberitahu, bahwa serombongan pengikut mereka pun akan masuk ke dalam api bersama-sama mereka. Karena pengikut-pengikut mereka buru memburu  atau berlomba-lomba mengikuti mereka dengan membabi-buta dan tanpa panjang pikir lagi menolak kebenaran maka mereka akan memasuki neraka berdesak-desakan.
   Para pengikut pemimpin-pemimpin keingkaran akan mengutuk para pemimpin mereka dengan kata-kata itu. Para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin akan kutuk-mengutuk. Telah menjadi fitrat manusia bahwa bila manusia dihadapkan kepada akibat-akibat buruk perbuatannya, ia berusaha melemparkan tuduhan kepada orang lain. Tepat seperti itulah umumnya diperbuat orang-orang bersalah ketika mereka berhadapan dengan akibat-akibat perbuatan buruk mereka yang mengerikan itu, itulah makna  perbantahan di antara mereka” dalam ayat 60.
    Dalam ayat berikutnya para pengikut pemimpin-pemimpin kekafiran akan berseru supaya kutukan Tuhan menimpa para pemimpin mereka dahulu قَالُوۡا رَبَّنَا مَنۡ قَدَّمَ لَنَا ہٰذَا فَزِدۡہُ عَذَابًا ضِعۡفًا فِی النَّارِ -- “Mereka berkata: Hai Rabb (Tuhan) kami, barangsiapa yang telah menyediakan ini bagi kami  maka tambahkanlah kepadanya azab yang  berlipat-ganda dalam Api.”

Pengulangan  Kebenaran Ucapan Nabi Nuh a.s. Mengenai Nasib Buruk Para Penentang Beliau

  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai keheranan para penghuni neraka karena  para pengikut Rasul Allah yang mereka tuduh sebagai orang-orang yang sesat  dan menyesatkan tidak ada bersama mereka di neraka jahannam:
وَ قَالُوۡا مَا لَنَا لَا نَرٰی رِجَالًا کُنَّا نَعُدُّہُمۡ مِّنَ الۡاَشۡرَارِ ﴿ؕ﴾  اَتَّخَذۡنٰہُمۡ سِخۡرِیًّا  اَمۡ  زَاغَتۡ عَنۡہُمُ الۡاَبۡصَارُ ﴿﴾  اِنَّ  ذٰلِکَ  لَحَقٌّ  تَخَاصُمُ   اَہۡلِ النَّارِ ﴿٪﴾
Dan ahli neraka berkata: “Apa yang terjadi dengan kami sehingga kami tidak melihat orang-orang yang kami duga  termasuk  orang-orang buruk?   Apakah karena kami telah  memperolok-olok mereka, ataukah mata kami  menyimpang dari melihat  mereka?”   Sesungguhnya  itu pasti terjadi, yaitu  pertengkaran ahli neraka. (Shād [38]:63).
 Yang diisyaratkan dengan “orang-orang yang kami duga  termasuk  orang-orang buruk ” adalah orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah yang mereka dustakan dan perolok-olokkan.  Para penghuni neraka akan saling bertanya, “Apakah gerangan yang terjadi atas diri kita ini sehingga kita tidak melihat di sini orang-orang yang kita anggap tidak berarti dan kita cemoohkan itu dalam kehidupan di dunia. Tidak layakkah mereka kita ejek, ataukah mereka sungguh-sungguh orang-orang baik dan kudus, ataukah mereka itu ada di neraka  tetapi kita tidak melihat mereka?”
   Dengan demikian benarlah   firman Allah Swt. mengenai ucapan Nabi Nuh a.s. yang dikemukakan dalam Bab  228 sebelum ini mengenai nasib buruk yang akhirnya akan menimpa  para penentang beliau,  firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ اَجۡرَمُوۡا کَانُوۡا مِنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا یَضۡحَکُوۡنَ ﴿۫ۖ﴾ وَ اِذَا  مَرُّوۡا بِہِمۡ یَتَغَامَزُوۡنَ ﴿۫ۖ﴾ وَ اِذَا  انۡقَلَبُوۡۤا  اِلٰۤی  اَہۡلِہِمُ  انۡقَلَبُوۡا فَکِہِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ وَ اِذَا رَاَوۡہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّ ہٰۤؤُلَآءِ لَضَآلُّوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ  مَاۤ  اُرۡسِلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  حٰفِظِیۡنَ ﴿ؕ﴾ فَالۡیَوۡمَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنَ الۡکُفَّارِ یَضۡحَکُوۡنَ ﴿ۙ﴾ عَلَی الۡاَرَآئِکِ ۙ یَنۡظُرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ  ثُوِّبَ الۡکُفَّارُ  مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang berdosa biasa menertawakan    orang-orang yang beriman,  dan apabila mereka lewat di dekat mereka itu, mereka saling mengedipkan mata.   Dan apabila  mereka kembali kepada sanak-saudara mereka, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat mereka itu, mereka berkata, “Sesungguhnya  mereka itu pasti sesat!”   Dan mereka tidak diutus kepada mereka itu sebagai penjaga. Maka pada hari itu orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir akan menertawakan, mereka duduk di atas dipan-dipan sambil  memandang. Bukankah orang-orang kafir  diganjar untuk apa yang senantiasa mereka kerjakan? (Al-Muthaffifīn [83]:30-37).
   Orang-orang kafir selalu  dengan diam-diam menertawakan nubuatan-nubuatan dalam Al-Quran mengenai penyebaran serta kemenangan Islam secara cepat, yang dikumandangkan Nabi Besar Muhammad saw.   pada saat ketika Islam sedang berjuang mati-matian mempertahankan wujudnya sendiri.
  Kata-kata  فَالۡیَوۡمَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنَ الۡکُفَّارِ یَضۡحَکُوۡنَ  -- “Maka pada hari itu orang-orang mukmin terhadap orang-orang kafir akan menertawakan, mereka duduk di atas dipan-dipan sambil  memandang” ini berarti:
(1) sambil duduk di atas singgasana kemuliaan, orang-orang beriman akan menyaksikan nasib sedih yang akan menimpa orang-orang kafir sombong.
(2) sambil duduk di atas singgasana kekuasaan, mereka akan berlaku adil terhadap orang banyak,
(3) mereka akan menaruh perhatian layak terhadap keperluan orang lain, itu pula arti kata nazhara (Lexicon Lane).
       Nubuatan  (kabar gaib) atau Sunnatullah berkenaan “mereka yang mentertawakan” para Rasul Allah dan para pengikutnya  lalu  mereka  akan menjadi   pihak yang ditertawakan”, hal tersebut  dikemukakan pula oleh Nabi Nuh a.s. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ اُوۡحِیَ  اِلٰی نُوۡحٍ اَنَّہٗ  لَنۡ یُّؤۡمِنَ مِنۡ قَوۡمِکَ اِلَّا مَنۡ قَدۡ اٰمَنَ فَلَا تَبۡتَئِسۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ﴿ۚۖ﴾ وَ اصۡنَعِ الۡفُلۡکَ بِاَعۡیُنِنَا وَ وَحۡیِنَا وَ لَا تُخَاطِبۡنِیۡ فِی الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ۚ اِنَّہُمۡ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿﴾ وَ یَصۡنَعُ الۡفُلۡکَ ۟ وَ کُلَّمَا مَرَّ عَلَیۡہِ مَلَاٌ مِّنۡ قَوۡمِہٖ  سَخِرُوۡا مِنۡہُ ؕ قَالَ  اِنۡ تَسۡخَرُوۡا مِنَّا فَاِنَّا نَسۡخَرُ  مِنۡکُمۡ کَمَا  تَسۡخَرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ مَنۡ یَّاۡتِیۡہِ عَذَابٌ یُّخۡزِیۡہِ  وَ یَحِلُّ  عَلَیۡہِ  عَذَابٌ  مُّقِیۡمٌ﴿﴾
Dan telah diwahyukan kepada Nuh: “Tidak akan pernah beriman seorang pun dari kaum engkau  selain orang yang telah beriman sebelumnya maka janganlah engkau bersedih mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan.   Dan  buatlah bahtera itu di hadapan pengawasan mata   Kami dan  sesuai dengan wahyu Kami. Dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku mengenai orang yang zalim, se-sungguhnya mereka itu  akan ditenggelamkan.”    Dan ia mulai membuat bahtera itu, dan setiap kali pemuka-pemuka kaumnya sedang melewatinya, mereka itu menertawakannya. Ia, Nuh, berkata:  Jika kini kamu mentertawakan kami maka saat itu akan datang ketika kami pun akan mentertawakan kamu, seperti kamu mentertawakan kami. Maka segera kamu akan mengetahui siapa yang kepadanya akan datang azab yang akan menistakannya, dan kepada siapa akan menimpa azab yang tetap.” (Hūd [11]:37-40).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

***
Pajajaran Anyar,   16 Mei    2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar