Rabu, 25 Juni 2014

Makna Manusia Diciptakan dari "Shalshal" (Tanah Kering Berdenting) dan "Hamaa-in- Masnuun" (Lumpur Hitam yang Diberi Bentuk) & Kesaksian Ruh Mengenai "Tauhid Ilahi"




بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   248

Makna  Manusia Diciptakan dari “Shalshal” (Tanah Kering Berdenting) dan “Hamā-in Masnūn (Lumpur Hitam yang Diberi Bentuk) & Kesaksian Ruh Mengenai Tauhid Ilahi

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai  proses pengangkatan  Adam sebagai Khalifah Allah  atau Rasul Allah di kalangan manusia pada zamannya, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk,  lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam,"  maka mereka bersujud ke-cuali iblis, ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud. (Al-A’rāf [7]:12).
       Kata yang dipergunakan dalam ayat tersebut adalah kum (kamu), artinya bahwa ketika Allah Swt. hendak menjadikan Adam sebagai “Khalifah-Nya”,  ketika itu ia bukan satu-satunya manusia melainkan bagian dari suatu kaum, dan dari kaum tersebut Allah Swt. telah memilih Adam  sebagai Khalifah  (Rasul Allah).
       Makna ayat  ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ   -- “kemudian  Kami memberi kamu bentuk” artinya bahwa manusia telah dianugerahi kemampuan oleh Allah Swt.  untuk  menuangkan wujud akhlaknya ke dalam berbagai bentuk, sebagaimana tanah liat mudah diberi bentuk apa pun oleh pengrajin keramik.
      Di antara kaum tersebut  yang paling sempurna dalam menuangkan “wujud akhlaknya  seperti  akhlak   atau Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt. adalah Adam, karena itulah Allah Swt.  pada waktu itu telah   memilih Adam sebagai Khalifah-Nya  (QS.2:31)  serta mengajarkan kepadanya berbagai rahasia Sifat-sifat-Nya yang lain, yang para malaikat pun tidak mampu  melaksanakannya atau memberitahukan hal tersebut kepada Allah Swt., firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ﴿﴾قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya   kemudian Dia mengemukakan mereka itu  kepada para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.” Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pengetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”  Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala diberitahukannya kepada mereka na-ma-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:32-34). 

Makna “Shalshal” (Tanah Kering Berdenting)

         Mengetahui kenyataan itulah, ketika Allah Swt. memerintahkan para malaikat untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam maka mereka semua “sujud” kecuali iblis  menolak perintah Allah Swt. dengan alasan ia merasa lebih mulia daripada Adam     ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ  -- “lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam,"  maka mereka bersujud kecuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.” (QS.7:12).
  Karena perintah supaya sujud  kepada Adam   itu ditujukan kepada malaikat-malaikat, maka perintah itu berlaku untuk semua makhluk   --  termasuk iblis --   sebab para malaikat adalah "tangan-tangan" atau instrument Allah Swt.   yang bertugas melaksanakan perintah-perintah-Nya (QS.66:7).
  Iblis itu bukan malaikat (QS.18:51). Iblis adalah gembong (pemimpin)  ruh-ruh jahat sedangkan malaikat  Jibril a.s. adalah pemimpin malaikat-malaikat. Kejadian yang disebutkan dalam ayat ini  serta dalam Surah-surah lainnya  sama sekali tidak ada hubungannya dengan nenek-moyang pertama umat manusia yang dapat disebut Adam pertama.
Kejadian yang dikemukakan dalam Al-Quran mau pun Bible  hanya berhubungan dengan Nabi Adam    -- yang tinggal di bumi ini kira-kira 6.000 tahun yang lalu  yang dan menurunkan  Nabi Nuh a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. . serta keturunan beliau-beliau -- yang dibahas dalam kisah ini.
       Dalam Surah berikut ini proses pengangkatan Adam sebagai   sebagai Khalifah Allah  dan pemberitahuan mengenai  berbagai Asma (Sifat-sifat) Allah Swt.  kepada Adam (QS.2:31-34) digambarkan sebagai “peniupan ruh” Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ صَلۡصَالٍ مِّنۡ حَمَاٍ مَّسۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ الۡجَآنَّ خَلَقۡنٰہُ مِنۡ قَبۡلُ مِنۡ نَّارِ السَّمُوۡمِ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah menciptakan insan  (manusia) dari tanah liat kering yang berdenting, dari lumpur hitam yang telah diberi bentuk.  Dan sebelumnya Kami telah menjadikan  jin dari api angin panas.  (Al-Hijr [15]:27-28).
       Diciptakan-Nya  manusia  dari  shalshal (tanah liat  kering-denting)  mengandung arti, bahwa ia telah diciptakan dari zat yang di dalamnya terkandung kemampuan dan sifat-sifat yang latent (tersembunyi) untuk berbicara. Ini menunjukkan, bahwa manusia telah dianugerahi kekuatan untuk menyambut suara dari langit, yakni seruan Allah Swt. melaui Rasul Allah.
       Akan tetapi karena shalshal itu mengeluarkan suara hanya apabila terkena oleh sesuatu benda dari luar, maka kata itu mengisyaratkan, bahwa kekuatan manusia untuk menyambut itu bergantung pada penerimaan dia terhadap seruan Ilahi. Kemampuan ini membuktikan keunggulannya dari seluruh makhluk.

Hakikat Kesaksian Ruh Manusia Mengenai Tauhid Ilahi

         Mengisyaratkan kepada  kemampuan ruh (jiwa) manusia  memberikan jawaban  (tanggapan) terhadap seruan Allah Swt. itulah firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman:    اَلَسۡتُ بِرَبِّکُم  -- “Bukankah Aku  Rabb (Tuhan) kamu?” Mereka berkata: بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- “Ya benar, kami menjadi saksi.” Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”   Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’raf [7]:173-175).
   Ayat 173 menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat  atau ruh manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt..
 Ungkapan  مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ   -- “dari sulbi  bani (keturunan) Adam”, maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus (QS.7:35-37). Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap pengutusan  rasul baru itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُم    -- “Bukankah  Aku  Rabb (Tuhan) kamu?”
    Pertanyaan itu berarti bahwa jika Allah Swt.   telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia,   demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian betapa ia (manusia) dapat mengingkari Ketuhanan-Nya. Sesungguhnya  jika manusia menolak nabi Allah  yang diutus kepada  mereka  (QS.7”35-37) maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih (alasan) bahwa  mereka tidak mengetahui keberadaan Allah atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan. Itulah makna ayat:
  اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ  اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾    
Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”   (Al-A’raf [7]:174-175).
  Dengan demikian kemunculan seorang nabi Allah juga menghalangi  (menafikan) kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas bahwa “mereka tidak tahu menahu atas hal tersebut” atau berdalih bahwa “mereka hanya sekedar keturunan yang mengikuti kebiasaan leluhur mereka”, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela.

Makna “Lumpur Hitam yang Diberi Bentuk

      Kata hamā’ (lumpur hitam), mengandung arti  bahwa manusia telah diciptakan dari lumpur hitam, yakni campuran  tanah dan air. Tanah merupakan sumber badan jasmani, dan air itu sumber ruh. Di lain tempat Al-Quran menyebutkan “tanah” dan “air” (QS.21:31) secara terpisah sebagai benda-benda yang darinya manusia telah diciptakan, firman-Nya:
اِنَّ مَثَلَ عِیۡسٰی عِنۡدَ اللّٰہِ کَمَثَلِ اٰدَمَ ؕ خَلَقَہٗ مِنۡ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَہٗ  کُنۡ فَیَکُوۡنُ ﴿﴾
Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti misal penciptaan Adam. Dia menjadikannya dari debu  kemudian Dia berfirman kepadanya: “Jadilah!”  maka  terjadilah ia. (Ali ‘Imran [3]:60).
        Pada hakikatnya ayat ini merupakan salah satu dari sekian banyak dalil Al-Quran yang menolak paham sesat “ketuhanan” Isa Ibnu Maryam a.s., sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun seperti umumnya manusia lainnya diciptakan berasal dari tanah dan terbentuk  sebagai manusia di dalam rahim  perempuan.
       Kata Adam utamanya berarti orang laki-laki, yakni anak-cucu Adam a.s (Bani Adam)  seumumnya. Dengan demikian  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  dinyatakan sama seperti makhluk lainnya tunduk kepada hukum mati dan semuanya dijadikan dari debu (QS.40:68),   oleh karena itu tiada sifat Ketuhanan melekat pada diri beliau.
       Tetapi bila kata  Adam  diartikan menunjuk kepada leluhur umat manusia, maka ayat itu harus diartikan mengisyaratkan kepada persamaan antara Isa dan Adam dalam hal adanya telah dilahirkan tanpa perantaraan seorang ayah. Kenyataan bahwa Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. itu mempunyai ibu, tidak mempengaruhi persamaan itu, dan seperti dinyatakan di atas persamaan itu tidak seharusnya lengkap dalam segala hal.
       Di tempat lain dinyatakan bahwa manusia dijadikan dari thīn (tanah liat -- QS.6:3). Perbedaan yang hendak dikemukakan  penggunaan kata turab (debu)  dan thīn (tanah liat) adalah,    bila dipakai kata “debu” wawasan mengenai wahyu (air ruhani) tidak dimasukkan, tetapi kalau “tanah liat   -- yakni campuran  tanah dengan air --  yang dipakai maka wawasan wahyu juga termasuk di dalamnya.

Manusia  adalah Micro Cosmos

    Jadi, jika Allah Swt.  menggunakan kata thīn  (tanah liat) berkenaan dengan penciptaan manusia maka hal itu mengandung isyarat halus bahwa  Allah Swt. telah menanamkan dalam jiwa  setiap manusia    potensi  (kemampuan)  untuk menerima wahyu Ilahi atau pun menerima wahyu syaitan, firman-Nya:
وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya.     Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya,    dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya. (Asy-Syams [91]:8-11).
    Makna  ayat وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا   --   Dan demi jiwa dan penyempurnaannya” berarti,  bahwa semua khasiat yang dipersembahkan benda-benda langit seperti matahari, bulan, dan lain-lain dalam rangka melayani (mengkhidmati) makhluk-makhluk Allah – yang dikemukakan dalam ayat 2 sampai ayat 9 sebagai obyek-obyek persumpahan Allah Swt. --  dan yang mengenai kenyataan itu telah disebutkan dalam ayat 10, memberi kesaksian bahwa manusia telah dianugerahi sifat-sifat serupa itu dalam derajat lebih tinggi.
     Pada hakikatnya, manusia adalah alam semesta ukuran mini (micro cosmos) dan dalam dirinya ditampilkan dalam skala kecil segala sesuatu yang terwujud di alam semesta, yakni:
(1)Bagaikan matahari ia memancarkan cahayanya ke alam dunia serta meneranginya dengan kilauan cahaya hikmah dan ilmu.
(2) Penaka bulan ia memancarkan (memantulkan) kembali  cahaya kasyaf, ilham, dan wahyu yang dipinjamnya dari Sumber Asli lagi agung, untuk ditujukan kepada mereka yang bermukim di dalam kegelapan.
(4) Ia terang benderang laksana siang hari dan menunjukkan jalan kebenaran dan kebajikan.
(5) Bagaikan malam ia menutupi keaiban dan kesalahan amal orang-orang lain, meringankan beban mereka, dan memberikan istirahat kepada si lelah dan si letih.
(6) Seperti langit ia menaungi setiap jiwa yang bersusah hati dan menghidupkan bumi yang telah mati dengan hujan yang member kesegaran.
 (7) Laksana  bumi ia menyerahkan diri dengan segala kerendahan untuk diinjak-injak di bawah telapak kaki orang-orang  sebagai percobaan (ujian) bagi mereka, dan dari ruhnya yang telah disucikan itu  tumbuhlah dengan berlimpah-ruah bermacam-macam pohon  ilmu pengetahuan dan kebenaran, dan dengan keteduhan rindangnya dahan-dahan, dan dengan bunga-bunganya, dan dengan buah-buahnya ia menjamu sesama umat manusia.
 Demikianlah keadaan orang-orang kudus (suci) dan para mushlih rabbani yakni para Rasul Allah di antaranya yang terbesar dan paling sempurna ialah Muhammad, Rasulullah saw., sehingga beliau saw.  sebagai suri teladan terbaik (QS.33:22)dan pemilik akhlak yang agung (QS.68:5) mendapat gelar  Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41).
     Makna ayat   فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا  -- “Maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya”,  Allah Swt.  telah menanamkan  dalam fitrat manusia perasaan atau pengertian mengenai apa yang baik dan buruk, dan telah mewahyukan kepadanya bahwa ia dapat memperoleh kesempurnaan ruhani dengan menjauhi apa yang buruk dan salah dan menerima apa yang benar dan baik.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  5 Juni    2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar