Rabu, 18 Juni 2014

Pentingnya Beriman dan Bai'at kepada Rasul Allah yang Kedatangannya Dijanjikan Allah Swt.



  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   242

Pentingnya Beriman  dan Baiat kepada Rasul Allah yang kedatangannya Dijanjikan Allah Swt.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam   akhir Bab sebelumnya   telah dikemukakan   penjelasan Mirza Ghulam Ahmad a.s. mengenai  “curhat” seorang Hindu yang    -- sampai batas tertentu --  pernah mengalami suatu “pemandangan ruhani”  atau “pengalaman ruhani” berupa rukya atau kasyaf  (terbuka  hijab), antara lain beliau menjelaskan:       
       “….Aku ingat, seseorang datang kepada saya mengatakan  bahwa orang-orang suci terdahulu dapat menyampaikan [manusia] sampai ke langit dengan cara menjampinya.   Saya katakan, “Anda keliru, tidak demikian hukum (ketentuan) Allah Ta’ala. Jika Anda mau membuat lantai di sebuah rumah maka pertama-tama adalah penting melakukan perbaikan terlebih dulu pada bagian-bagian yang perlu diperbaiki. Dan dimana saja  terdapat kotoran serta ketidakbersihan  akan dibersihkan dengan dengan menggunakan alat tertentu.”
     Ringkasnya, setelah melalui banyak upaya dan proses barulah akan layak untuk dibuat di atasnya lantai. Seperti itu pula, sebelum hati manusia layak untuk dihuni oleh Allah Ta’ala, [hati] itu merupakan singgasana setan dan berada di dalam kerajaan setan. Kini,  untuk kerajaan yang berikutnya (Kerajaan Ilahi – pent.) adalah mutlak untuk menghancur-leburkan kerajaan setan.
      Sangat malanglah nasib orang-orang yang  berangkat untuk mencari kebenaran dan kemudian mereka tidak menerapkan sikap  berpraduga baik. Lihatlah perajin keramik, apa saja yang harus dilakukan untuk membuat  mangkuk keramik. Lihatlah tukang cuci ketika dia mulai membasuh pakaian yang penuh daki dan kotoran, betapa berat pekerjaan yang harus dia lakukan. Kadang-kadang pakaian itu direbus, kadang-kadang disabuni, lalu dengan berbagai cara dia mengeluarkan kotoran dan daki pakaian tersebut. Akhirnya kain itu bersih dan tampil putih.
      Sekian banyak daki (kotoran) yang ada di dalamnya semua telah keluar. Tatkala untuk hal-hal  kecil seperti itu saja terpaksa harus menerapkan sikap sabar,  maka betapa bodohnya orang yang untuk memperbaiki hidupnya dan untuk perbaikan hidupnya serta untuk membersihkan kotoran-kotoran serta sampah kalbunya dia berkeinginan supaya semua itu keluar melalui  penyemburan (jampi-jainpian) sehingga bersihlah kalbunya.
      Ingatlah, sabar merupakan syarat untuk  melakukan ishlah (perbaikan). Kemudian  yang kedua, tidak akan berlangsung pensucian akhlak dan jiwa selama tidak hidup bergaul dengan insan yang berjiwa suci. Pintu pertama yang terbuka adalah  hapusnya kekotoran tadi, sedangkan kotoran-kotoran  yang memperoleh kesesuaian [di dalam diri manusia] akan tetap bertahan di dalam. Akan tetapi  ketika dia  memperoleh tariyaaqi shuhbat (pergaulan yang mengobati), maka kotoran-kotoran intern itu lambat-laun akan mulai  lenyap, sebab Ruh Suci – yang dalam istilah Al-Quran Karim dinamakan Ruhul Qudus  tidak akan dapat terjalin hubungan dengannya selama tidak ada kesesuaian dengannya. 
    Saya tidak dapat mengatakan kapan hubungan itu terbentuk.  Ya, hendaknya manusia menerapkan sikap fana (meleburkan diri) sebagai debu di jalan ini, dan tempuhlah jalan ini dengan penuh sabar dan teguh, akhirnya Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan upaya gigih sejati orang itu, dan Dia akan menganugerahkan nur serta cahaya kepada orang itu, yaitu [nur dan cahaya) yang memang dia cari-cari.
       Saya menjadi heran dan tidak mengerti sedikit pun, mengapa manusia berani-beranian, padahal dia tahu bahwa Tuhan itu ada.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 226-227).

Keterkecohan Para Salik (Penempuh Jalan Ruhani) Pencari “Aksesoris Ruhani

        Kemudian  sehubungan dengan rukya, kasyaf (terbuka hijab) dan ilham yang tidak sempurna, yang sampai batas tertentu dialami orang-orang yang mencari  berbagai “aksesoris” yang terdapat dalam suluk  atau pengamalan   thariqah sufi,  pada bulan April 1901 tengah diperbincangkan tentang keterkecohan kondisi Munshi Ilahi Bakhs Sahib dan kelompoknya, Al-Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
     “Pada umumnya kondisi awal,  rukya, kasyaf, dan ilham terjadi pada setiap orang. Namun manusia hendaknya jangan  terkecoh oleh itu sehingga beranggapan bahwa dia telah mencapai tujuan yang dimaksud, sebab sebenarnya di dalam fitrat manusia telah ditanamkan potensi ini,  yakni setiap orang dapat menerima mimpi atau kasyaf mau pun ilham.
       Demikianlah,  telah disaksikan bahwa kadang-kadang orang-orang kafir, orang-orang Hindu, dan kadang-kadang orang fasiq (durhaka) dan jahat pun mendapat mimpi-mimpi, dan kadang-kadang mimpi-mimpi mereka  itu juga terbukti benar. Sebabnya adalah Allah Ta’ala Sendiri telah menanamkan sedikit contoh demikian di kalangan mereka, dan hal itu ditanamkan dalam bentuk yang sempurna di kalangan para wali Allah dan para nabi Allah, supaya orang-orang itu tidak dapat mengingkari para nabi  dengan alasan bahwa mereka tidak tahu menahu tentang ilmu tersebut.
      Hal-hal itu diberikan kepada mereka sebagai  dalil yang mematikan, sehingga dengan mendengar pengakuan-pengakuan para nabi, mereka pun bersumpah menyatakan bahwa hal itu memang demikian dan dapat terjadi seperti itu, sebab suatu perkara yang tidak diketahui oleh manusia  sangat cepat dia ingkari.
       Di dalam kitab “Matsnawi Rumi” terdapat uraian tentang seorang buta yang menyebut-nyebut bahwa, “Matahari sebenarnya tidak ada, dan orang-orang berkata dusta. Jika matahari ada tentu aku pun dapat melihatnya!” Matahari pun berkata, “Hai orang buta! Engkau meminta bukti keberadaanku? Pertama-tama panjatkanlah kepada Tuhan supaya Dia menganugerahkan mata kepada engkau.
    Allah Ta’ala Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Jika hal itu tidak Dia tanamkan dalam fitrat manusia maka bagaimana mungkin masalah kenabian dapat dipahami oleh orang-orang. Melalui rukya  atau ilham tahap awal, Allah Ta’ala memanggil hamba (manusia), akan tetapi itu bukanlah suatu kondisi yang memberikan ketenteraman (kepuasan).
      Dahulu ada ilham-ilham yang turun kepada Bal’am, namun dari firman Allah Ta’ala berikut ini terbukti bahwa ia tidak mengalami rafa’ (kenaikan ruhani):
 وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا
(dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami  tinggikan   dengan Ayat-ayat itu” – Al-‘Araf, 177).
Yakni  dia hingga saat itu belum menjadi hamba yang benar dan disukai di sisi Allah Taala, sampai-sampai ia pun jatuh.
      Ilham-ilham dan sebagainya dapat membuat manusia menjadi sesuatu, tetapi manusia tidak dapat menjadi milik Tuhan selama dia belum mengalami ribuan kematian dan tidak melepaskan diri dari gejolak kemanusiaan. Ada tiga macam manusia  yang menempuh jalan ini:
      Pertama, mereka yang memegang dīnul ‘ajāiz, yakni mazhab  perempuan-perempuan tua.  Mereka mendirikan salat, mengerjkan puasa, membaca Al-Quran Syarif dan melakukan taubat,  istighfar. Mereka memegang teguh perkara-perkara secara taqlid dan berdiri kokoh di atasnya.
     Kedua, adalah orang-orang yang lebih maju daripada yang pertama dan menginginkan makrifat, dan dengan berbacai cara mereka berusaha serta memperlihatkan kesetiaan dan keteguhan langkah, dan dalam makrifatnya mereka mencapai derajat yang puncak. Mereka berhasil dan mencapai cita-cita mereka.
     Ketiga, adalah orang-orang yang tidak suka menetap dalam kondisi dīnul ‘ajāiz  dan telah melampaui tahap itu serta telah melangkahkan kaki di kawasan makrifat,  namun mereka tidak dapat mempertahankan derajat (kondisi) tersebut dan mereka tersandung dari jalan itu lalu jatuh. Inilah  orang-orang yang tidak bertahan ke sana dan tidak pula bertahan ke sini.
     Tamsil (perumpamaan) orang yang demikian itu adalah bagaikan seorang yang kehausan dan padanya terdapat sedikit air, tetapi air yang ada pun kotor, supaya terhindar dari maut (kematian) maka air tersebut diminum. Kemudian seseorang mengabarkan kepadanya bahwa dalam jarak lima atau tujuh kos (km) lagi  terdapat sebuah mata air bening, maka air yang ada padanya tadi itu pun dibuangnya, dan dia maju untuk menuju mata air bening itu. Dikarenakan ketidaksabarannya dan kesialan serta kesesatannya dia tidak sampai ke sana.  Lihatlah, bagaimana nasibnya. Dia mati, dan  kematiannya sangat tragis sekali.
   Atau, tamsil keadaan-keadaan demikian adalah seperti sebuah sumur sedang digali. Pertama-tama ia hanya berupa sebuah lubang yang tidak ada gunanya, bahkan menimbulkan bahaya jatuhnya orang yang lalu-lalang di situ. Kemudian sumur itu digali lebih dalam lagi, sampai timbul (keluar) lumpur dan air yang kotor. Keadaan tahap seperti itu pun tidak bermanfaat.  Ketika sumur tersebut sudah sempurna digali dan airnya keluar dengan bersih (bening) maka ia dapat menimbulkan kehidupan bagi ribuan orang.
     Orang-orang yang menjadikan diri mereka sebagai  faqir dan petapa, mereka semua berada dalam kondisi yang tidak sempurna, sedangkan para nabi datang sebagai pemilik air yang bersih. Selama seseorang tidak datang membawa sesuatu dari Tuhan, selama itu pula ia tidak berguna.
     Ilahi Bakhs Sahib, jika [benar pengakuannya bahwa] dia menjadi Musa, hendaknya ditanyakan kepadanya, apa tujuan dia menjadi Musa? Orang-orang yang datang dari Tuhan, mereka bagaikan buruh (pekerja), dan mereka melangkah maju untuk memberikan manfaat kepada manusia, dan mereka menyebarkan ilmu pengetahuan serta tidak pernah menimbulkan kesulitan. Mereka tidak malas serta duduk berpangku-tangan.” (Malfuzat, jld. II, hlm. 266-268).

Pentingnya Beriman dan Baiat kepada Rasul Allah

        Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah  -- Mirza Ghulam Ahmad a.s. --  tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini”
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ الَّذِیۡۤ  اٰتَیۡنٰہُ  اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ  الۡغٰوِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ  تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ مَنۡ یَّہۡدِ اللّٰہُ فَہُوَ الۡمُہۡتَدِیۡ ۚ وَ مَنۡ یُّضۡلِلۡ  فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡخٰسِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka  berita orang-orang yang telah Kami berikan Tanda-tanda Kami kepadanya, lalu ia melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat.  Dan seandainya  Kami meng-hendaki niscaya Kami meninggikan derajatnya dengan itu, akan tetapi ia cenderung ke bumi  dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing yang kehausan, jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia tetap menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, maka kisahkanlah kisah ini supaya mereka merenungkannya.   Sangat buruk misal  orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sen-dirilah mereka berbuat zalim. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah   maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang Dia sesatkan  maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-A’rāf [7]:176-179).
      Kemudian sehubungan dengan pernyataan Al-Masih Mau’ud a.s.  mengenai pentingnya kedatangan seseorang yang datang dari Allah Swt.-- yakni para Rasul Allah  (QS.7:35-37) -- serta pentingnya  beriman dan melakukan bai’at kepadanya, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:11).
   Isyarat  mengenai baiat  tersebut  ditujukan kepada sumpah setia orang-orang beriman di tangan  Nabi Besar Muhammad saw.  di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (Bukhari), firman-Nya:
لَقَدۡ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  اِذۡ یُبَایِعُوۡنَکَ تَحۡتَ الشَّجَرَۃِ  فَعَلِمَ  مَا فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ  فَاَنۡزَلَ السَّکِیۡنَۃَ  عَلَیۡہِمۡ وَ اَثَابَہُمۡ  فَتۡحًا  قَرِیۡبًا ﴿ۙ﴾
Sungguh Allah benar-benar telah ridha terhadap orang-orang beriman ketika mereka baiat kepada engkau di bawah pohon itu,  maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenteraman kepada mereka, dan Dia mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat, (Al-Fath [48]:19).

Bai’at-ur-Ridwan”  (Baiat yang Diridhai)
  
 Peristiwa baiat itu terjadi di Hudaibiyah di bawah sebuah pohon Akasia, setelah kabar sampai kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   bahwa karena suatu pelanggaran atas kebiasaan dan sopan santun diplomatik,   yakni  duta beliau saw., Sayyidina Utsman bin ‘Affan r.a. telah dibunuh orang-orang Mekkah.
Berita terbunuhnya   Utsman r.a. barangkali tidak kurang mengejutkannya daripada pelanggaran terhadap suatu adat kebiasaan suci dan antik, sehingga menyebabkan  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak dapat bersabar lagi. Baiat itu kemudian dikenal sebagai “baiat-ur-ridwan”,  yang berarti bahwa orang-orang yang berbahagia berkat baiat itu sudah mendapat keridhaan llahi.
      Bukti apa lagi yang lebih besar bagi kenyataan  فَاَنۡزَلَ السَّکِیۡنَۃَ  عَلَیۡہِمۡ   -- “maka Tuhan telah menurunkan ketenteraman hati atas orang-orang Muslim” daripada fakta bahwa kendatipun jumlah mereka hanya kira-kira 1500 orang dan karena jauh dari kampung halaman dan kendati pun tidak berkawan, lagi pula di kelilingi oleh suku-suku bangsa yang tidak bersahabat pula dihadapi oleh musuh yang sangat kuat lagi terlindung di dalam kubu-kubu, namun para sahabah Nabi Besar Muhammad saw. tersebut   lebih bersedia berkelahi (perang) daripada menyetujui syarat-syarat yang digariskan di dalam Perjanjian Hidaybiyah itu, yang dari satu segi nampak sangat merugikan pihak Muslim.
 Kata-kata  وَ اَثَابَہُمۡ  فَتۡحًا  قَرِیۡبًا – dan akan mengganjar mereka dengan  kemenangan yang dekat” menunjukkan kepada kemenangan di Khaibar. Waktu kembali dari Hudaibiyah  Nabi Bear Muhammad saw.  -- bersama orang-orang Muslim yang menyertai beliau saw. di Hudaibiyah   --  beliau saw. memimpin suatu gerakan pasukan melawan orang-orang Yahudi di Khaibar,  yang merupakan peti eraman besar atau markas tipu muslihat dan rencana jahat orang-orang Yahudi, yang sebelumnya  mereka itu telah diusir dari Madinah  karena seringkali melakukan pengkhianatan, termasuk ketika terjadi Perang Ahzab (QS.59:3-7).

Kemajuan  akhlak dan Ruhani yang Dihasilkan Baiat kepada Rasul Allah

   Kembali kepada pentingnya beriman dan melakukan baiat  kepada Rasul Allah (QS.48:11), dalam Surah berikut ini Allah Swt. berfirman mengenai berbagai kemajuan   dalam  berbagai hal   -- termasuk kemajuan dalam bidang akhlak dan ruhani  -- yang dihasilkan  baiat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ﴿﴾  اَلتَّآئِبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰکِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ النَّاہُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡحٰفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya   Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka dan harta mereka bahwa sesungguhya mereka akan memperoleh ganjaran surga.  Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh dan  terbunuh, janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam Taurat,  Injil  dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati  janji-nya  daripada Allah?  فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ   -- maka bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, dan itulah kemenangan yang besar.   اَلتَّآئِبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰکِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ النَّاہُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡحٰفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- Yaitu orang-orang yang bertaubat,   yang beribadah, yang memuji Allah, yang bepergian pada jalan Allah, yang ruku', yang sujud,  yang menyuruh terhadap kebaikan, melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. (At-Taubah [9]:111-112).
     Mengenai ayat  وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ  --   janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam Taurat,  Injil  dan Al-Quran”, lihat Taurat (Ulangan 6:3-5) dan Injil (Matius 19:21 dan 27-29).
     Jadi, jelaslah bahwa orang-orang yang beriman dan baiat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, mereka itu akan mengalami berbagai  kemajuan --   baik dalam hal pelaksanaan haququllāh (habun-minallāh) mau pun dalam   haququl ‘ibād (hablun –minan-nās)   -- mereka itu bukan para pencari berbagai  aksesoris ruhani” berupakan  karamah” (kekeramatan) bagi dirinya, sebagaimana yang dilakukan para salik  penempuh suluk atau para penganut  berbagai thariqah   para wali Allah terkenal yang telah disalah-tafsirkan.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   28 Mei    2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar