Sabtu, 01 Maret 2014

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah "Kaum pengganti" yang Dijanjikan Allah Swt. di Akhir Zaman




 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  163

     Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah “Kaum Pengganti” yang Dijanjikan Allah Swt. di Akhir Zaman ini            

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai  contoh, jika ada seorang da’i Muslim berkata kepada umat-umat beragama selain Islam:  Marilah  bergabung  sebagai umat Islam sebab agama Islam (Al-Quran) dan umat Islam adalah sebagai agama dan umat yang terbaik  yang dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia (QS.5:4; QS.2:144; QS.3:111).
      Lalu mereka balik bertanya: Islam dan Umat Islam yang mana yang menurut Anda  yang terbaik tersebut? Bukankah  menurut nabi Anda sendiri (Rasulullah saw.)  umat Islam di Akhir Zaman ini akan  terpecah-belah menjadi 73 firqah? Suatu perpecahan yang lebih besar dari perpecahan yang terjadi di kalangan kami, yakni 72 firqah?

Jawaban yang Paling Tepat Adalah Jawaban Nabi Besar Muhammad Saw.

       Jawaban paling tepat atas pertanyaan baik dari pihak Non-Muslim tersebut  adalah  penjelasan selanjutnya Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits-hadits tersebut, yaitu ketika para sahabah r.a. bertanya kepada beliau saw.  
ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي
“Dan siapakah mereka itu ya Rasulullah?” Bersabda: “Apa-apa yang aku dan para   sahabatku ada  padanya.”
       Hadits Pertama:  “Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’ anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallaghu’ ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh-sungguh kamu akan mengikuti/mencontoh tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dlob (biayak) niscaya kamu akan meniru/mencontoh mereka. Kami pun bertanya: Apakah (yang engkau maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab: “Siapa lagi?” (HRS Muttafaqun ‘Alaih)
    Hadits Kedua:   “Dari sahabat Abu Hurairah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan umat nasrani berpecah belah seperti itu pula, sedangkan umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.” (HRS Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abi ‘Ashim, dan dishohihkan oleh Al Albani).
      Dalam riwayat lain disebutkan: “Dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Dan (pemeluk) agama ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka, dan (hanya) satu golongan yang masuk surga, yaitu Al Jama’ah.” (HRS Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Abi ‘Ashim dan Al Hakim, dan dishahihkan oleh Al Albani).
      Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Dari sahabat Abdullah bin Amer rqdhiallaahu  ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: yang berpegang teguh dengan ajaran yang aku dan para sahabatku jalankan sekarang ini.” (Riwayat At Tirmizy dan Al Hakim).
      Dalam menghadapi fenomena perpecahan ummat ini, kita diharuskan untuk senantiasa meniti jalan yang ditempuh oleh golongan selamat (Al Jama’ah), dan menjauhi jalan-jalan yang ditempuh oleh golongan-golongan lain, karena jalan-jalan mereka akan menghantarkan ke dalam neraka. Hal ini sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada sahabat Huzaifah bin Yaman radhiallahu ‘anhu, yakni beliau saw. bersabda:
      “Berpegang teguhlah engkau dengan jama’atul Muslimin dan pemimpin (imam/khalifah) mereka”. Akupun bertanya: “Seandainya tidak ada Jama’atul Muslimin, juga tidak ada Pemimpin (imam/kholifah)? Beliaupun menjawab: “Tinggalkanlah seluruh kelompok-kelompok tersebut, walaupun engkau harus menggigit batang pepohonan, hingga datang ajal engkau, dan engkau dalam keadaan demikian itu.” (HRS Bukhari dan Muslim).

Khilāfatun- ‘alā minhāji- Nubuwwah (Khalifah Kenabian)

      Di Akhir Zaman ini Allah Swt. tidak membiarkan kekhawatiran Sahabat  Huzaifah bin Yaman radhiallaahu ‘anhu  terjadi, sebab Sunnatullaah penciptaan “langit baru dan bumi baru  (QS.14:46-51; QS.17:17:50-53; QS.39:70) pasti terjadi lagi melalui Rasul Akhir Zaman dan jama’ah Muslim yang dibentuknya atas perintah Allah Swt., yaitu Mirza Ghulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah,   firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu   murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah, Dia mem-berikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai pelindung, maka  sesungguhnya   jamaat Allah pasti menang. (Al-Māidah [5]:55-57).
       Sesuai dengan Sunnatullāh, keberadaan “kaum pengganti” yang dibangkitkan dari kalangan umat Islam tersebut dimulai dengan pengangkatan salah seorang dari antara pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai khalifah  oleh Allah Swt., sebab masalah khilafat (kekhalifahan) bukan wewenang   umat Islam berupa ijma’ (kesepakatan) para ulama Islam, firman-Nya: 
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ﴿﴾  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿﴾  لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مُعۡجِزِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ۚ وَ مَاۡوٰىہُمُ النَّارُ ؕ وَ لَبِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang durhaka. Dan dirikanlah shalat,  bayarlah zakat, dan taatilah Rasul supaya kamu mendapat rahmat.   Janganlah engkau menyangka bahwa orang-orang kafir  akan dapat menggagalkan Kami di bumi,  dan tempat tinggal mereka adalah Api, dan sesungguhnya sangat buruk  tempat kembali itu. (An-Nūr [24]:56-58).
       Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.24:52-55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
    Janji itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.

Jemaat Muslim Ahmadiyah adalah “Kaum Pengganti” yang Dijanjikan Allah Swt.

        Karena kini Nabi Besar Muhammad saw.,  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
        Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan  Nabi Besar Muhammad saw.  yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul Allah lainnya.  Dan di Akhir Zaman ini janji Allah Swt. mengenai khalifah ruhani beliau saw. tersebut telah terwujud dalam  bentuknya  yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat  Ahmadiyah, yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., -- yang datang darii kalangan “ākharīna minhum   --  (kaum lain dari antara mereka)   --yang atas perintah Allah Swt. telah mendirikan Jemaat Muslim Ahmadiyah, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾      وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf  seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
      Dalam ayat    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ    --  “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” terkandung nubuatan (kabar gaib), bahwa  setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (300 tahun),  masa  kejahiliyah di kalangan bangsa Arab  yang terjadi di masa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang pertama  tersebut  akan kembali terulang di kalangan mereka di Akhir Zaman,    ketika kaum atau umat Nabi Besar Muhammad saw.  -- sekali pun  sudah memeluk agama Islam --  namun demikian umumnya mereka telah memperlakukan Al-Quran sebagai sebagai sesuatu yang tidak bernilai, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا  الۡقُرۡاٰنَ  مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan  (Al-Furqān [25]:31).
 Yang dimaksud dengan “rasul” dalam ayat tersebut  tidak tepat jika  ditujukan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., sebab ketika itu  bangsa Arab   tidak mempercayai beliau saw. dan Al-Quran sebagai Rasul Allah dan sebagai wahyu Ilahi, melainkan mengisyaratkan kepada Rasul Akhir Zaman   yang dibangkitkan Allah Swt. dari kalangan umat Islam  --  yakni ayat    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ    --  “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” (QS.62:4)  -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., yang sangat sedih menyaksikan keadaan umumnya umat Islam  di Akhir Zaman ini telah memperlakukan Al-Quran sebagai sesuatu yang telah ditinggalkan.
  Justru  di Akhir Zaman ini  melalui Mirza Ghulam Ahmad a.s.   Allah Swt. telah membukakan khazanah-khazanah ruhani Al-Quran  yang luar biasa (QS.3:180; QS.72:27-29), sehingga bukan saja kemunduran yang melanda  umat Islam selama 1000 tahun sejak 3 abad masa kejayaannya yang pertama dapat beliau hentikan, bahkan sebaliknya pihak Islam -- yang sebelumnya menjadi “mangsa yang tidak berdaya” dari pihak lawan --- melalui karya-karya tulis beliau telah berbalik menjadi “pemangsa” perkasa yang membuat pihak lawan tidak berdaya lagi. Benarlah firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ   وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaff [61]:10).

Jawaban Akurat Para Da’i  Jemaat Muslim Ahmadiyah

       Dengan demikian  contoh kasus yang dikemukakan  sebelum ini mengenai para da’i Muslim lainnya  tidak pernah berlaku bagi para da’i Muslim dari Jemaat Ahmadiyah, yakni:
     Marilah  bergabung  sebagai umat Islam sebab agama Islam (Al-Quran) dan umat Islam adalah sebagai agama dan umat yang terbaik  yang dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia  (QS.5:4; QS.2:144; QS.3:111).”
      Lalu mereka yang diseur (dida’wahi)  balik bertanya: Islam dan Umat Islam yang mana yang menurut Anda  yang terbaik tersebut? Bukankah  menurut nabi Anda sendiri (Rasulullah saw.)  umat Islam di Akhir Zaman ini akan  terpecah-belah menjadi 73 firqah? Suatu perpecahan yang lebih besar dari perpecahan yang terjadi di kalangan kami, yakni 72 firqah?
      Para da’i Muslim dari Jemaat Ahmadiyah akan memberikan jawaban  bahwa: “Kamilah yang dimaksud oleh sabda Nabi Besar Muhammad saw., sebab hanya Jemaat kamilah yang sepenuhnya sama dengan keadaan umat Islam di masa Nabi Besar Muhammad saw., kecuali melakukan peperangan secara fisik, sebab jika kami melakukan hal tersebut seperti yang lainnya   akan semakin memperburuk citra Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. yang suci dan merupakan rahmat bagi seluruh alam":
ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي
“Dan siapakah mereka itu ya Rasulullah?” Bersabda: “Apa-apa yang aku dan para   sahabatku ada  padanya.”
      Berikut adalah beberapa contoh (bukti) bahwa di Akhir Zaman ini hanya Jemaat  Ahmadiyah sajalah komunitas Muslim yang benar-benar sama keadaannya dengan umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw.:
     (1) Umat Islam di masa  awal didirikan oleh Rasul Allah – yakni Nabi Besar Muhammad saw.   – dan di Akhir Zaman ini juga Jemaat Muslim Ahmadiyah didirikan oleh seorang Rasul Allah, yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang atas perintah Allah telah mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s. dan  Al-Masih Mau’ud a.s.. (QS.11:18; QS.62:3-4).
      (2) Sebagaimana halnya umat Islam di masa  Nabi Besar Muhammad saw. mendapat penentangan serta kezaliman yang sangat hebat atas pendakwaan beliau saw. sebagai Rasul Allah, demikian juga hal yang sama dialami oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan Jemaat Muslim Ahmadiyah atas pendakwaan  beliau a.s. sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.36:31; QS.51:53-54).
      (3) Sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam adalah Rasul Allah dan umat  untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS. QS.21:108; QS.25:2;  QS.34:29), demikian pula  Mirza Ghulam Ahmad a.s., sebagai Khalifah Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman – dan juga sebagai perwujudan kedatangan kedua kali para   Rasul Allah yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh berbagai umat beragama  dengan nama yang berlainan (QS.77:12-20)  --    da’wah beliau telah berhasil  menyebarkan  siar Islam yang hakiki  ke seluruh dunia  serta mendirikan   Jemaat Ahmadiyah    di  203 negara di dunia  -- baik di negara-negara yang tergabung dalam PBB mau pun yang belum bergabung.
      (4) Sebagaimana umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan di zaman para Khulafa-ur Rasyidin merupakan suatu Jama’ah  yang dipimpin oleh Imam yang diangkat oleh Allah Swt., demikian juga halnya dengan Jemaat Ahmadiyah, setelah wafatnya Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau  Al-Masih Mau’ud a.s. (Al-Masih yang Dijanjikan)  pada  1908,  komunitas Muslim Ahmadiyah  tetap merupakan suatu “jama’ah” yang hakiki,  karena secara berturut-turut telah dipimpin para Khalifatul Masih, yakni Khalifatul Masih I (Hakim Nuruddin -- 1908-1914); Khalifatul Masih II (Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad -- 1914-1965); Khalifatul Masih III (Mirza Nasir Ahmad -- 1965-1974); Khalifatul Masih IV (Mirza Tahir Ahmad -- 1974-2004), dan sejak tahun 2004 sampai saat sekarang Jemaat Ahmadiyah dipimpin oleh  Khalifatul Masih V, Mirza Masroor Ahmad.   
     Banyak lagi  bukti-bukti lainnya mengenai Jemaat Ahmadiyah yang menggenapi sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang   satu golongan yang selamat” dari 73 golongan (firqah) Islam yang berada dalam “api” sebagaimana yang ditanyakan oleh sahabat beliau saw.:  
ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي
“Dan siapakah mereka itu ya Rasulullah?” Bersabda: “Apa-apa yang aku dan para   sahabatku ada  padanya.”

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   27 Januari      2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar