Rabu, 05 Maret 2014

Makna Perintah Allah Swt. Kepada "Laki-laki Pemberani" Untuk "Masuk Surga"



  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  166

Makna Perintah Allah Swt. kepada "Laki-laki Pemberani"  Untuk "Masuk Surga"       

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan mengenai kedegilan kaum  Nabi Nuh a.s. serta pengaduan beliau kepada Allah Swt., firman-Nya:
قَالَ نُوۡحٌ  رَّبِّ اِنَّہُمۡ عَصَوۡنِیۡ وَ اتَّبَعُوۡا مَنۡ لَّمۡ  یَزِدۡہُ  مَالُہٗ وَ وَلَدُہٗۤ  اِلَّا خَسَارًا ﴿ۚ﴾ وَ مَکَرُوۡا مَکۡرًا کُبَّارًا ﴿ۚ﴾ وَ قَالُوۡا لَا تَذَرُنَّ  اٰلِہَتَکُمۡ وَ لَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّ لَا سُوَاعًا ۬ۙ وَّ لَا یَغُوۡثَ وَ یَعُوۡقَ وَ نَسۡرًا ﴿ۚ﴾ وَ قَدۡ  اَضَلُّوۡا کَثِیۡرًا ۬ۚ وَ لَا تَزِدِ الظّٰلِمِیۡنَ  اِلَّا ضَلٰلًا ﴿﴾ مِمَّا خَطِیۡٓــٰٔتِہِمۡ  اُغۡرِقُوۡا فَاُدۡخِلُوۡا نَارًا ۬ۙ  فَلَمۡ یَجِدُوۡا  لَہُمۡ  مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَنۡصَارًا ﴿﴾
Nuh berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), mereka sesungguhnya telah mendurhakai aku, dan mengikuti orang-orang yang hartanya dan keturunannya tidak menambah kepadanya selain kerugian. Dan mereka telah merencanakan makar buruk yang besar,  dan mereka berkata:  Janganlah kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu, dan janganlah meninggalkan Wadd dan jangan pula Suwa’, dan jangan pula Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” Dan   sungguh  mereka telah menyesatkan banyak orang, dan Eng-kau tidak akan menambah bagi orang-orang zalim kecuali kesesatan.” Disebabkan dosa-dosa mereka, mereka ditenggelamkan dan dimasukkan ke dalam Api, dan mereka tidak mendapati bagi mereka penolong-penolong selain Allah.  (Nuh [71]:22-26). 
       Wadd adalah suatu berhala yang disembah oleh Banu Kalb di Daumat-al-Jandal. Berhala itu berbentuk seorang laki-laki, melambangkan tenaga kejantanan. Suwa’ adalah suatu berhala Banu Hudzail, bentuknya seperti perempuan, melambangkan kecantikan perempuan. Yaghuts adalah berhala suku Murad, dan Ya’uq dalam bentuk kuda, disembah oleh suku Hamdan., sedangkan  Nasr, berhala suku Dzu’l-Kila’, bentuknya seperti seekor burung garuda atau ruak-ruak pemakan bangkai, melambangkan hidup panjang dan pengertian mendalam.
 Kaum Nabi Nuh a.s.  bergelimang dalam kemusyrikan. Mereka mempunyai banyak berhala, lima di antaranya yang disebutkan di dalam ayat ini adalah yang termasyhur. Orang-orang Arab, beberapa abad kemudian, diduga telah membawa berhala-berhala itu dari Irak.
   Hubal, berhala mereka yang paling masyhur dibawa dari Siria oleh ‘Amir bin Lohay. Berhala-berhala mereka yang utama ialah, Lat, Manat dan Uzza (QS.53:20-24) Atau, mereka mungkin menamakan berhala-berhala mereka sendiri dengan nama berhala-berhala suku Nabi Nuh a.s. , karena kedua bangsa itu tinggal tidak berjauhan antara satu sama lain dan memang perhubungan umum ada di antara kedua bangsa itu. Tiada yang mustahil atau di luar kemungkinan bahwa kedua bangsa yang musyrik itu, mempunyai nama-nama yang sama bagi berhala-berhala mereka.

Ucapan  Penuh Rahmat Nabi Besar Muhammad saw. Ketika Terluka Parah dalam Perang Uhud

Selanjutnya  Allah Swt. berfirman mengenai doa Nabi Nuh a.s. mengenai kaum beliau yang hatinya degil serta takabbur tersebut:
وَ قَالَ نُوۡحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَی الۡاَرۡضِ مِنَ  الۡکٰفِرِیۡنَ دَیَّارًا ﴿﴾ اِنَّکَ اِنۡ تَذَرۡہُمۡ یُضِلُّوۡا عِبَادَکَ وَ لَا یَلِدُوۡۤا  اِلَّا  فَاجِرًا کَفَّارًا﴿﴾ رَبِّ اغۡفِرۡ لِیۡ  وَ لِوَالِدَیَّ  وَ لِمَنۡ دَخَلَ بَیۡتِیَ  مُؤۡمِنًا وَّ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ لَا تَزِدِ الظّٰلِمِیۡنَ  اِلَّا تَبَارًا ﴿٪﴾ 
Dan Nuh berkata: “Hai Rabb-ku (Tuhan-ku), janganlah Engkau membiarkan di atas bumi penghuni dari kalangan orang-orang kafir. Sesungguhnya jika Engkau membiarkan mereka, mereka akan menyesatkan hamba-hamba Engkau dan mereka tidak akan melahirkan kecuali orang-orang berdosa lagi kafir. (Nuh [71]:27-28). 
   Nabi-nabi Allah sarat dengan nilai-nilai kebajikan manusiawi. Doa Nabi Nuh a.s. menunjukkan bahwa perlawanan terhadap beliau tentu berlangsung sangat lama, gigih, dan tidak kunjung berkurang, dan bahwa segala usaha beliau membawa kaum beliau kepada jalan lurus telah kandas dan gagal serta tidak ada kemungkinan yang tinggal untuk penambahan lebih lanjut jumlah pengikut yang kecil itu, dan pula bahwa para penentang beliau telah melampaui batas-batas yang wajar dalam menentang dan menganiaya beliau dengan para pengikut beliau,  serta berkecimpung di dalam perbuatan-perbuatan jahat. Keadaan telah begitu jauh sehingga seorang yang begitu berpembawaan kasih sayang seperti Nabi Nuh a.s. terpaksa mendoa buruk untuk kaum beliau, karena memang setiap orang – termasuk para Rasul Allah – memiliki batas-batas kesabaran yang  berbeda.  
Dalam keadaan yang sama, sikap  Nabi Besar Muhammad saw.   terhadap para penentang beliau saw. menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Dalam pertempuran Uhud, ketika dua buah gigi beliau  saw. patah dan beliau saw. terluka parah serta darah beliau mengucur dengan derasnya, tetapi walau demikian kata-kata yang keluar dari mulut  penuh berkat  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah: Betapa suatu kaum akan memperoleh keselamatan, sedang mereka telah melukai nabi mereka dan melumuri mukanya dengan darah, karena kesalahan yang tidak lain selain ia telah mengajak mereka kepada Tuhan. Ya, Tuhan-ku, ampunilah kiranya kaumku ini, sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat” (Zurqani dan Hisyam).

Kenabian Ummati atau Kenabian Buruzi (Bayangan)

    Kembali kepada persamaan ucapan “kedua laki-laki pemberani” yang berlainan zaman dalam Surah Al-Mu’min dan Surah Yā Sīn, salah satu alasan mengapa “laki-laki pemberani” dari kalangan keluarga Fir’aun tidak mengatakan:   Hai kaumku ikutikah Musa” melainkan berkata  Hai kaumku, ikutilah aku”? Sebab  ia mengetahui bahwa pada hakikatnya pengutusan Nabi Musa a.s. – seperti juga Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. --  hanya untuk kalangan Bani Israil saja (QS.2:88-89; QS.62:6-7),   bukan  diutus kepada Fir’aun dan kaumnya  karena mereka itu bukan kaum Bani Israil.
       Sedangkan dalam Surah Yā Sīn, salah satu  alasan  ucapan “laki-laki pemberani” yang muncul di Akhir Zaman dalam diawali dengan seruan   یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ  -- “Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul  itu,      اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ    --  ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk,” kemudian diakhiri dengan seruan  اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ  -- “Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb (Tuhan) kamu  maka dengarlah aku.”
      Mengapa demikian?  sebab pada hakikatnya  laki-laki pemberani” tersebut bukanlah Rasul Allah yang membawa syariat baru,  melainkan Rasul Allah yang sepenuhnya patuh-taat kepada syariat Islam (Al-Quran) yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32), sehingga memperoleh derajat ruhani sebagai nabi  (rasul) Allah,  firman-Nya: 
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka  itulah sahabat yang sejati.  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Menge-tahui. (An-Nisā [4]:70-71).
        Ayat ini sangat penting, sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —  nabi-nabi,  shiddiq-shiddiq,  syuhada (saksi-saksi) dan  shālihin (orang-orang saleh) — sejak diutus-Nya  Nabi Besar Muhammad saw.  semua  derajat keruhanian tersebut  dapat dicapai   dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.3:32)    dan Al-Quran (agama Islam - QS.3:20 & 86; QS.5:4).   
        Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata, sebab hanya beliau saw. sajalah yang diberi gelar Khātaman-Nabiyyīn (QS.33:41) dan doa shalawat (QS.33:57).  Tidak ada nabi (rasul) Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan kehormatan  dan  nikmat ini.
      Kesimpulan tersebut  lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan, firman-Nya:  
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ  اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan  rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan syuhada (saksi-saksi)  di sisi Rabb (Tuhan) mereka, bagi mereka ganjaran dan cahaya mereka. Dan  orang-orang yang kafir dan mendustakan Tanda-tanda Kami mereka itu penghuni neraka jahim.(QS.57: 20).

Ketinnggian Ruhani “Laki-laki Pemberani” di Akhir Zaman

      Apabila kedua ayat  tersebut dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi juga, yakni kenabian ummati atau buruzi  (zhilli – bayangan), yakni seperti seseorang berdiri di depan cermin maka dirinya menjadi dua sosok, yaitu sosok asli dan sosok bayangan  pada cermin.
      Kenabian jenis inilah yang tetap terbuka bagi para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. yang benar-benar fana   dalam kepatuh-taatan terhadap Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana dikemukakan dalam ayat sebelumnya (QS.4:70-71).
       Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
       Di Akhir Zaman ini martabat kenabian  jenis inilah yang yang telah dicapai oleh “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh kota itu”, yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.,  itulah sebabnya atas perintah Allah Swt. beliau telah mendakwakan sebagai Imam Mahdi a.s. sekaligus juga sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58),   yakni  Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama (sebutan) yang berbeda-beda (QS.77:12), guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali (QS.61:20), firman-Nya: 
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَا لِیَ  لَاۤ  اَعۡبُدُ الَّذِیۡ فَطَرَنِیۡ وَ  اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ ءَاَتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً اِنۡ یُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغۡنِ عَنِّیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  وَّ لَا  یُنۡقِذُوۡنِ ﴿ۚ﴾ اِنِّیۡۤ   اِذًا  لَّفِیۡ  ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ﴾
Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan berlari-lari, ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul  itu.  Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.   Dan mengapakah aku tidak menyembah Tuhan Yang menciptakan diriku  dan  Yang kepada-Nya  kamu akan dikembalikan?  Apakah aku akan mengambil selain Dia sebagai sembahan-sembahan, padahal jika Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki sesuatu kemudaratan bagiku  syafaat mereka itu  tidak akan bermanfaat bagiku sedikit pun, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku?    Sesungguhnya jika aku berbuat demikian niscaya berada dalam kesesatan yang nyata.    Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb (Tuhan) kamu  maka dengarlah aku.” (Yā Sīn [36]:21-25). 

Makna Perintah “Masuk Surga

      Ucapan “laki-laki pemberani” dari kalangan umat Islam tersebut dalam ayat  selanjutnya  ءَاَتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً اِنۡ یُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغۡنِ عَنِّیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  وَّ لَا  یُنۡقِذُوۡنِ -- “Apakah aku akan mengambil selain Dia sebagai sembahan-sembahan, padahal jika Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki sesuatu kemudaratan bagiku  syafaat mereka itu  tidak akan bermanfaat bagiku sedikit pun, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku?”
        Maknanya adalah bahwa orang-orang pada masa   pengutusan  Al-Masih Mau’ud a.s., atau Rasul Akhir Zaman akan menyembah berbagai berhala yaitu  Mammon, kekuasaan kebendaan, filsafat politik yang palsu, dan teori ekonomi yang tidak terpraktekkan, dan sebagainya, dengan demikian terdapat kemiripan dengan kemusyrikan  yang dilakukan kaum Nabi Nuh a.s.  dalam firman Allah sebelumnya.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “seorang laki-laki pemberani” di Akhir Zaman tersebut:
قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ﴾  بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿﴾
Dikatakan kepadanya:  Masuklah ke dalam surga.”  Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui, karena apa Rabb-ku (Tuhan-ku) telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang di-muliakan.” (Yā Sīn [36]:27-28). 
        Penyebutan surga secara khusus dalam ayat ini sehubungan dengan rajulun yas’a (seorang laki-laki yang berlari-lari) itu sangat penting artinya. Kalau kepada semua orang yang beriman sejati dalam Al-Quran telah dijanjikan surga, maka penyebutan secara khusus ini nampaknya seperti berlebih-lebihan dan tidak pada tempatnya, padahal tidak demikian.
          Salah satu maknanya berkenaan  laki-laki pemberani” di Akhir Zaman ini – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- adalah pembuatan suatu kuburan khusus – bagi  para Ahmadi peserta gerakan Al-Wasiyat -- di Qadian yang terkenal,  yakni  Bahisyti Maqbarah (Pekuburan Surgawi) oleh Al-Masih Mau’ud a.s.  atas perintah Ilahi secara istimewa, dapat merupakan penyempurnaan secara fisik bagi perintah yang terkandung dalam salah satu wahyu Ilahi yang diterima oleh Pendiri  Jemaat Ahmadiyah yakni: “Inni anzaltu ma’aka al-jannah,” artinya, “Aku telah menyebabkan surga turun bersama engkau” (Tadzkirah).
         Nubuatan  dalam wahyu Ilahi yang diterima Pendiri Jemaat Ahmadiyah tersebut  pun agaknya mendukung penjelasan bagi kata-kata perintah   قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ   -- “Masuklah ke dalam surga”, serta sesuai dengan beberapa firman Allah Swt.  berikut ini mengenai surga:
وَ اُزۡلِفَتِ  الۡجَنَّۃُ   لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  بُرِّزَتِ الۡجَحِیۡمُ  لِلۡغٰوِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ  قِیۡلَ  لَہُمۡ اَیۡنَمَا کُنۡتُمۡ تَعۡبُدُوۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ ہَلۡ یَنۡصُرُوۡنَکُمۡ  اَوۡ یَنۡتَصِرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  فَکُبۡکِبُوۡا فِیۡہَا  ہُمۡ  وَ الۡغَاوٗنَ ﴿ۙ﴾  وَ  جُنُوۡدُ   اِبۡلِیۡسَ  اَجۡمَعُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Dan surga akan didekatkan  bagi orang-orang yang bertakwa,   dan Jahannam akan ditampakkan dengan jelas kepada orang-orang yang sesat.   Dan akan dikatakan kepada mereka: “Di manakah mereka yang kamu sembah    selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” Lalu mereka akan dijungkirkan ke dalamnya, mereka dan orang-orang yang sesat,  dan lasykar-lasykar iblis semuanya.  (Asy-Syu’ara [26]:91-96). 

 Nafs Muthmainnah  (Jiwa yang Tentram)  & “Surga”

  Kata-kata  وَ اُزۡلِفَتِ  الۡجَنَّۃُ   لِلۡمُتَّقِیۡنَ    --    Dan surga akan didekatkan bagi orang-orang yang bertakwa  berarti bahwa orang-orang bertakwa akan diberi kemampuan-kemampuan baru lagi lebih baik untuk menikmati nikmat surga di dalam kehidupannya di dunia ini juga, sebab bagi mereka Allah Swt. menjanjikan dua  surga, firman-Nya:
وَ  لِمَنۡ خَافَ مَقَامَ  رَبِّہٖ  جَنَّتٰنِ ﴿ۚ﴾
Dan bagi orang yang takut akan   Keagungan Rabb-nya (Tuhan-nya) ada dua surga.  (Ar-Rahmān [55]:47).
   Kata “dua surga” dapat berarti: (1) ketenteraman pikiran yang merupakan hasil menjalani kehidupan yang baik, dan (2) kebebasan dari kekhawatiran dan kecemasan yang mencekam hati akibat menjalani hidup mengejar kesenangan dan kebahagiaan duniawi.
Kebun surgawi pertama terdapat di dunia ini dalam hal melepaskan keinginan sendiri (hawa-nafsu) karena Allah Swt., dan kebun surgawi lainnya dalam memperoleh berkat dan keridhaan Ilahi di akhirat.
 Seorang mukmin sejati selama-lamanya berjemur di dalam sinar matahari rahmat Ilahi di dunia ini, yang tidak dapat diusik oleh pikiran-pikiran susah. Inilah surga dunia, yang dianugerahkan kepada hamba Allah yang bertakwa dan di dalamnya ia akan tinggal selamanya, yakni bagi hamba-hamba Allah  yang  telah mencapai tingkatan  ruhani nafs muthmainnah (jiwa yang tentram),  firman-Nya: 
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾    ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾  وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Tuhan eng-kau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:28-31).
   Ayat-ayat ini mengisyaratkan kepada  tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah -- dan bukan sesudah mati  -- perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah  dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
   Inilah salah satu makna    perintah Allah Swt. kepada “laki-laki pemberani” dalam  ayat    قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ   --  “masuklah ke dalam surga” (QS.36:27), sebab hamba Allah tersebut    -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- telah mencapai tingkatan tertinggi dari keempat martabat keruhanian yang disediakan Allah Swt. bagi para pecinta sejati Nabi Besar Muhammad saw., yakni kenabian (QS.3:32; QS.4:70-71).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   30 Januari      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar