Selasa, 28 Oktober 2014

Perumpamaan "Pohon yang Baik" & Hakikat Perbedaan Urutan Tugas Mulia Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Doa Nabi Ibrahim a.s. dengan Kenyataan yang Terjadi



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   347

Perumpamaan “Pohon yang Baik” & Hakikat Perbedaan  Urutan Keempat Tugas Mulia Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Doa Nabi Ibrahim a.s. dengan Kenyataan yang Terjadi

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dijelaskan ayat  mengenai  misal wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para rasul Allah – terutama  wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.  – yaitu ibarat air hujan yang turun dari  langit, sedangkan berbagai macam tanggapan   -- baik dan buruk -- yang dilakukan oleh manusia terhadap  para rasul Allah tersebut bagaikan tumbuhnya aneka ragam tumbuh-tumbuhan yang baik dan buruk pada bidang  tanah yang sama yang disiram oleh   air hujan yang sama pula, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ مَدَّ الۡاَرۡضَ وَ جَعَلَ  فِیۡہَا رَوَاسِیَ وَ اَنۡہٰرًا ؕ وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ یُغۡشِی الَّیۡلَ النَّہَارَ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّ جَنّٰتٌ مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Dan  Dia-lah Yang telah membentangkan bumi ini dan menjadikan di dalamnya gunung-gunung dan sungai-sungai, وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ -- dan dari setiap macam  buah-buahan Dia menjadikan dua jenis berpasang-pasangan,  Dia menyebabkan malam menutupi siang, sesungguhnya dalam hal itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang merenungkan.  وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ  --   dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling berdampingan, dan kebun-kebun anggur,  ladang-ladang,   pohon-pohon kurma berumpun yang tumbuh dari satu akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  -- semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --   tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya,  sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d [13]:4-5).

Pentingnya Keberadaan “Pasangan” Bagi Segala Sesuatu

     Meskipun ayat 4  hanya menyinggung adanya pasangan-pasangan pada buah-buahan, yakni  وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ  -- “dan dari setiap macam  buah-buahan Dia menjadikan dua jenis berpasang-pasangan,” tetapi di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa Allah  Swt.   telah membuat pasangan-pasangan jantan dan betina bagi segala sesuatu, firman-Nya:
وَ اٰیَۃٌ  لَّہُمُ الۡاَرۡضُ الۡمَیۡتَۃُ ۚۖ اَحۡیَیۡنٰہَا وَ اَخۡرَجۡنَا مِنۡہَا حَبًّا فَمِنۡہُ  یَاۡکُلُوۡنَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا فِیۡہَا جَنّٰتٍ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ وَّ فَجَّرۡنَا فِیۡہَا مِنَ الۡعُیُوۡنِ ﴿ۙ﴾  لِیَاۡکُلُوۡا مِنۡ ثَمَرِہٖ ۙ وَ مَا عَمِلَتۡہُ اَیۡدِیۡہِمۡ ؕ اَفَلَا  یَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾  سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan suatu Tanda bagi mereka  bumi yang mati, Kami menghidupkannya dan Kami mengeluarkan darinya padi-padian lalu mereka makan darinya.   Dan Kami menjadikan di dalamnya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami memancarkan di dalamnya mata-mata air, supaya mereka dapat makan buah-buahannya, وَ مَا عَمِلَتۡہُ اَیۡدِیۡہِمۡ ؕ اَفَلَا  یَشۡکُرُوۡنَ  -- dan sekali-kali bukan tangan mereka yang mengerjakannya,  lalu  mengapakan mereka tidak bersyukur? سُبۡحٰنَ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ کُلَّہَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ  مِمَّا لَا یَعۡلَمُوۡنَ    --    Maha Suci Dzat Yang men-ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan  baik dari apa yang ditum-buhkan oleh bumi dan  dari diri mereka sendiri, mau pun  dari apa yang  tidak mereka ketahui.  (Yā Sīn [36]:34-37). Lihat pula  QS.51:50.
        Kiasan  (perumpamaan) yang dipakai dalam ayat sebelum ini diteruskan di sini. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa dari tanah gersang Arabia akan memancar sumber-sumber dan mata-mata air ilmu keruhanian, dan pohon-pohon dengan berbagai macam buah-buahan ruhani akan tumbuh di mana-mana di seluruh negeri.
Dalam QS.13:4  suatu haki-kat yang untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Al-Quran, salah satu di antara semua kitab suci. 
        Para Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan terdapat dalam segala sesuatu — dalam alam nabati, dan malahan Ilmu pengetahuan telah menemukan kenyataan bahwa pasangan-pasangan  dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya. Unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud. dalam zat anorganik. Bahkan yang disebut unsur-unsur pun tidak terwujud dengan sendirinya. Unsur-unsur itu pun bergantung pada zat-zat lain untuk dapat mengambil wujud.
       Ayat  QS.13:4 dan QS.36:37 tersebut menarik perhatian kita kepada kenyataan, bahwa hukum mengenai segala sesuatu mempunyai pasangan-pasangan itu berlaku pula pada kecerdasan manusia. Sebelum Nur Ilahi berupa wahyu   Ilahi turun kepada manusia ia tidak dapat memiliki pengetahuan sejati, yang lahir dari  paduan antara wahyu Ilahi dan akal manusia atau kecerdasan otak manusia (QS.42:52-54).

Air Hujan dan Bidang Tanah yang Disiraminya Sama Tetapi  Menghasilkan Buah-buahan   yang Berbeda

        Ungkapan ayat   وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ  --  “dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling berdampingan” ….. یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  -- semuanya itu disirami dengan air yang sama,”  mengandung arti,  bahwa bila pohon-pohon (tanam-tanaman) yang diairi oleh air yang sama, tetapi berbuah sangat berbeda dalam rasa dan warna, maka  begitu juga Nabi Besar Muhammad  saw.   — yang meskipun beliau saw. tinggal di kota yang sama dan di antara kaum yang sama — bagaimana mungkin  beliau saw. tidak dapat melebihi mereka; apalagi mengingat bahwa beliau saw. dipupuk (disirami) dengan air-kehidupan berupa wahyu Ilahi, sedang musuh-musuh beliau  saw. dibesarkan di bawah asuhan syaitan, contohnya Abu Jahal dan para pemuka kaum kafir Quraisy lainnya.
        Jadi, kembali kepada firman-Nya  Allah Swt. sebelumnya yang  menarik perhatian para pembaca Al-Quran kepada berbagai macam tumbuhan yang baik dan bermanfaat di permukaan bumi:
  اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اِلَی الۡاَرۡضِ کَمۡ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ  کُلِّ  زَوۡجٍ   کَرِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  ؕوَ مَا کَانَ اَکۡثَرُ ہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ ﴾ وَ  اِنَّ  رَبَّکَ  لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ﴿٪﴾
Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyak Kami menumbuhkan di dalamnya  dari setiap jodoh (pasangan)  yang mulia?  Sesungguhnya dalam hal  itu benar-benar ada suatu Tanda  tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman.  Dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.  (Asy-Syu’ara (26]:8-10).
         Makna ayat   وَ  اِنَّ  رَبَّکَ  لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ  --  “dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang” mengandung arti, bahwa sekali pun lingkungan hidup  Nabi Besar Muhammad  saw.   akan mempunyai lingkungan hidup para nabi Allah  yang tersebut dalam Surah Asy-Syu’ara ini, Tuhan Yang Maha Perkasa telah merenggut dan menghancurkan musuh para nabi Allah itu, demikian juga halnya dengan para penentang Nabi Besar Muhammad saw, terutama dalam Perang Badar, dimana Abu Jahal dan 7 pemimpin kafir Quraisy lainnya terbunuh, sedangkan Abu Lahab – yang terkenal sangat pemarah (QS.111:1-6) -- di Makkah mati setelah mendengar kekalahan tragis pasukan mereka dalam perang Badar.
         Namun berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw., Allah Swt. --  Tuhan Yang Maha Perkasa   -- tidak akan hanya menjelmakan kekuasaan dan kekuatan-Nya dengan memberikan kejayaan kepada  beliau saw.  dan membuat misi beliau saw. menang serta mekar sentausa bagaikan pertumbuhan pohon-pohon yang baik (QS.14:25-26), tetapi juga Allah Swt. akan memperlihatkan kasih-sayang kepada umat (kaum) beliau saw., sebab hanya sebagian kecil saja dari mereka akan dibinasakan, sedang sebagian terbesar akan menerima  pengampunan dan kasih-sayang (Rahīmiyat) Allah Swt., dan pada akhirnya mereka akan menerima amanat beliau  saw., sebagaimana terbukti setelah terjadinya peristiwa Fathah Makkah (Penaklukan Makkah), sebagaimana halnya Nabi Yusuf a.s. telah mengampuni kesalahan saudara-saudara seayah beliau (QS.12:91-93).

Perumpamaan “Pohon yang Baik” dan “Pohon yang  Buruk

        Jadi, kembali kepada   kata bākhi’un dalam  firman-Nya:   لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ  -- “boleh jadi engkau akan membinasakan diri sendiri  karena mereka tidak mau beriman.  (QS.26:4), karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. – sebagai rahmat bagai seluruh alam (QS.21:108) --  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw. dan juga umat manusia,  sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. (At-Taubah [9]:128).
      Jadi, betapa siraman  wahyu Al-Quran -- sebagai air hujan ruhani yang paling sempurna -- benar-benar telah membuat wilayah Arabia yang keadaannya kering-kerontang, seperti halnya kering-kerontang serta kerasnya hati bangsa Arab, hanya dalam waktu 23 tahun melalui Nabi Besar Muhammad saw.  telah berubah menjadi wilayah yang rimbun  berbagai “pohon ruhani” yang sangat menakjubkan,  sebagaimana digambarkan oleh firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ کَیۡفَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ ﴿ۙ﴾  تُؤۡتِیۡۤ  اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ  بِاِذۡنِ رَبِّہَا ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ  الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ ﴿﴾  یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ﴿٪﴾
Tidakkah engkau melihat, bagaimana Allah mengemukakan مَثَلًا کَلِمَۃً طَیِّبَۃً  کَشَجَرَۃٍ  طَیِّبَۃٍ اَصۡلُہَا ثَابِتٌ وَّ فَرۡعُہَا فِی  السَّمَآءِ -- perumpamaan satu kalimat yang baik? Kalimat itu seperti sebatang pohon yang baik, yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau  langit?  تُؤۡتِیۡۤ  اُکُلَہَا کُلَّ حِیۡنٍۭ  بِاِذۡنِ رَبِّہَا  -- ia memberikan buahnya  setiap waktu dengan izin Rabb-nya (Tuhan-Nya); وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ  الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ -- dan  Allah mengemukakan  perumpamaan-perumpamaan itu bagi manusia, supaya mereka mendapat nasihat.  اجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا  لَہَا مِنۡ  قَرَارٍ  وَ مَثَلُ کَلِمَۃٍ خَبِیۡثَۃٍ کَشَجَرَۃٍ خَبِیۡثَۃِۣ -- dan perumpamaan kalimah yang buruk adalah seperti  pohon buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, ia se-kali-kali tidak   memiliki kemantapan.   یُثَبِّتُ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِالۡقَوۡلِ الثَّابِتِ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan firman yang kokoh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, وَ یُضِلُّ اللّٰہُ الظّٰلِمِیۡنَ ۟ۙ وَ یَفۡعَلُ  اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ  -- dan Allah menyesatkan orang-orang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim [14]:25-28).

Perbedaan “Pohon yang Baik” dengan “Pohon yang Buruk

        Firman Allah Swt. dalam ayat-ayat ini – yakni wahyu Al-Quran -- diumpamakan sebatang pohon yang mempunyai empat macam sifat yang penting:
     (a) Kalam Ilahi  itu baik, artinya bersih dari segala ajaran-ajaran yang bertentangan dengan akal dan kata hati manusia atau berlawanan dengan perasaan dan kepekaan tabiat manusia.
       (b) Seperti sebatang pohon yang baik, akarnya dalam serta buahnya subur; Kalam Ilahi itu mempunyai dasar yang kuat dan kokoh, dan menerima hayat serta jaminan hidup yang tetap segar dari sumbernya (QS.15:10); dan laksana sebatang pohon yang kuat  firman Ilahi itu tidak merunduk oleh tiupan angin perlawanan serta kecaman yang timbul dari rasa permusuhan, tetapi berdiri tegak di hadapan segala taufan badai. Firman Allah itu mendapat hayat dan jaminan hidup hanya dari satu sumber yakni Allah Swt. dan oleh karena itu tidak ada ketidak-serasian atau pertentangan dalam prinsip-prinsip dan ajarannya (QS.4:83; QS.47:25) sebagaimana halnya keserasian tatanan alam semesta (QS.21:23; QS.67:1-5).
          (c) Dahan-dahannya menjangkau sampai ke langit, yang berarti bahwa dengan mengamalkannya, orang dapat menanjak ke puncak-puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS.3:32; QS.4:70-71).
      (d) Kalam Ilahi itu menghasilkan buahnya yang berlimpah-limpah di segala musim, yang berarti bahwa berkat-berkatnya nampak di sepanjang masa. Kalam Ilahi itu di sepanjang abad terus-menerus membuahkan orang-orang yang karena beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya (QS.3:103-111; QS.61:3-5)  mencapai perhubungan dengan Allah Swt. (QS.3:32; QS.4:70-71),   dan karena kejujurannya serta kesucian dalam tingkah lakunya, menjulang tinggi dan mengatasi orang-orang yang sezaman dengan mereka (QS.62:3-5). Al-Quran memiliki semua sifat itu dalam kadar (ukuran) yang sepenuhnya.
       Berbeda dari pohon yang baik, keadaan kitab yang diciptakan oleh seorang pemalsu, adalah seperti pohon yang buruk. Ia tidak memiliki kekekalan atau kemantapan. Ajarannya tidak didukung oleh akal maupun hukum-hukum alam. Kitab semacam itu tak dapat bertahan terhadap kritikan, dan asas-asas serta cita-citanya terus berubah bersama dengan berubahnya keadaan manusia dan lingkungannya.
      Kitab seperti itu merupakan ajaran yang campur aduk, dikumpulkan dari sumber-sumber yang meragukan.  Kitab semacam itu tidak bisa melahirkan orang-orang yang dapat menda'wakan pernah mengadakan perhubungan yang hakiki dengan Allah Swt.. Kitab seperti itu tidak menerima daya hidup yang baru dari sumber Ilahi dan selamanya terancam keruntuhan dan kemunduran.

Empat Macam   Tugas  Mulia  Nabi Besar Muhammad Saw.

       Penjelasan mengenai gambaran “kalimat yang baik  atau “pohon yang baik” tersebut terangkum dalam firman-Nya berikut ini mengenai 4 tugas mulia Nabi Besar Muhammad saw.:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾     وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾    
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  -- itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [63]:3-5).
   Tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.   meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini, yakni: (1) membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  (2) mensucikan mereka, (3)  mengajarkan kepada me-reka Kitab, (4) mengajarkan Hikmah-hikmahnya.
  Keempat tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.,  sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau saw., Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau yaitu  ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s.  beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah, firman-Nya:
رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
“Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Baqarah [2]:130).
       Perlu dijelaskan, bahwa ada perbedaan urutan  mengenai  keempat macam tugas  mulia Nabi Besar Muhammad saw. yang dikemukakan dalam doa Nabi Ibrahim a.s. dengan kenyataannya yang berhasil dilakukan   oleh Nabi Besar Muhammad  saw., yakni dalam doa Nabi Ibrahim a.s.  kalimat  yang akan mensucikan mereka  ada pada urutan terakhir, sedang dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3 tersebut ada pada urutan kedua, seperti juga dalam dua firman Allah Swt. berikut ini:
کَمَاۤ  اَرۡسَلۡنَا فِیۡکُمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡکُمۡ  اٰیٰتِنَا وَ یُزَکِّیۡکُمۡ وَ یُعَلِّمُکُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُعَلِّمُکُمۡ مَّا لَمۡ تَکُوۡنُوۡا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ؕۛ فَاذۡکُرُوۡنِیۡۤ اَذۡکُرۡکُمۡ  وَ اشۡکُرُوۡا لِیۡ وَ لَا تَکۡفُرُوۡنِ ﴿﴾٪
Sebagaimana   Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu, yang membacakan Ayat-ayat Kami kepada kamu, mensucikan kamu, mengajar kamu Kitab serta hikmah, dan mengajar kamu apa yang  tidak  pernah kamu ketahui,   maka kamu  ingatlah   Aku, Aku pun akan mengingat kamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kafir  kepada-Ku. (Al-Baqarah [2]:152-153).
      Dalam firman-Nya tersebut  kalimat وَ یُعَلِّمُکُمۡ مَّا لَمۡ تَکُوۡنُوۡا تَعۡلَمُوۡنَ  -- “dan mengajar kamu apa yang  tidak  pernah kamu ketahuimenggantikan kalimat  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  -- “walaupun sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata”, tetapi memiliki makna yang sama, sebab  kata “kesesatan yang nyata” menunjukkan “ketidak-tahuan akan kebenaran,” sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini:
لَقَدۡ مَنَّ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اِذۡ بَعَثَ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ۚ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾

Sungguh Allah benar-benar telah menganugerahkan karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia  membangkitkan di kalangan mereka seorang Rasul dari antara mereka,  yang membacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- dan walaupun sebelum itu mereka benar-benar dalam kesesat-an yang nyata. (Ali ‘Imran [3]:165). 

Hikmah Perbedaan Urutan Tugas Mulia Nabi Besar Muhammad Saw.

        Jadi, dengan perubahan sedikit pada urutan kata-katanya,   doa Nabi Ibrahim a.s. dalam QS.2:130 menunjuk kepada karya agung Nabi Besar Muhammad saw.  dalam QS.62:3 dengan kata-kata yang persis sama dengan doa Nabi Ibrahim a.s.  kepada Allah Swt. mengenai kedatangan seorang Rasul Allah  di antara kaum Makkah (QS.2:130). Hal demikian menampakkan dengan jelas bahwa doa Nabi Ibrahim a.s. .  itu telah menjadi sempurna dalam wujud  Nabi Besar Muhammad saw..
       Ada pun salah satu hikmah  adanya perbedaan urutan tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw. selalu  melebihi   melampau “prediksi” logika secara umum, yaitu dalam makna selalu lebih sempurna daripada yang   telah dilakukan atau telah dihasilkan oleh para Rasul Allah sebelumnya.
        Jadi, kembali kepada keempat tugas agung Nabi Besar Muhammad  saw.  yang dikemukakan dalam keempat firman Allah SWt. tersebut, bahwa pada hakikatnya tidak ada Pembaharu (Reformer/Mushlih) dapat benar-benar berhasil dalam misi sucinya  bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), itilah sebabnya dalam Surah Al-Jumu’ah dan kedua Surah lainnya penyebutan  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ   -- “yang mensucikan mereka” merupakan urutan kedua setelah   یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ    -- “yang membacakan Ayat-ayat-Nya”.
          Suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain.
        Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini.

(Bersambung

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  9  Oktober     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar