Selasa, 28 Oktober 2014

Pentingnya Peran Wahyu Ilahi Bagi Perkembangan Kecerdasan Akal dan Spiritual Umat Manusia



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   346

Pentingnya Peran Wahyu Ilahi Bagi Perkembangan Kecerdasan Akal dan Spiritual Umat Manusia

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dijelaskan ayat  mengenai makna yang benar dari nasikh-mansukh   dalam Al-Quran  yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ  اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak  mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala se-suatu?  (Al-Baqarah [2]:107).
       Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran.

Tidak Ada Nasikh-Mansukh (Penggantian dan Pembatalan) Ayat-ayat Al-Quran

         Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian  mereka terhadap wahyu baru yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal)  menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah:
        (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu  -- yakni Al-Quran  -- menghendaki pembatalan;
     (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
         Al-Quran telah membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman. Karena itu ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
      Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain.
         Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia  Biblica), karena itu sangat wajar jika Al-Quran secara total menggantikan kedudukan Kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelumnya, karena pada hakikatnya  kesempurnaan Al-Quran dibandingkan dengan Kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelumnya adalah bagaikan samudera   luas tak bertepi yang ke dalamnya seluruh sungai bermuara  (QS.18:110; QS.31:28).

Petingnya Peran Wahyu Ilahi Bagi Perkembangan “Kecerdasan” Akal dan Spriritual Umat Manusia  

        Setelah membahas masalah penolakan orang-orang kafir terhadap para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) dalam Surah  Asy-Syu’ara, firman-Nya:
وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ ذِکۡرٍ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ مُحۡدَثٍ  اِلَّا  کَانُوۡا عَنۡہُ  مُعۡرِضِیۡنَ﴿﴾  فَقَدۡ کَذَّبُوۡا  فَسَیَاۡتِیۡہِمۡ  اَنۡۢبٰٓؤُا مَا کَانُوۡا  بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ﴿﴾ اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اِلَی الۡاَرۡضِ کَمۡ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ  کُلِّ  زَوۡجٍ   کَرِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  ؕوَ مَا کَانَ اَکۡثَرُ ہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿۸﴾ وَ  اِنَّ  رَبَّکَ  لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka peringatan yang baru  dari Tuhan Yang Maha Pemurah melainkan mereka selalu berpaling darinya.   Maka  sungguh  mereka (rasul-rasul)  telah mendustakan, tetapi segera datang kepada mereka kabar-kabar mengenai apa (azab) yang  mereka perolok-olokkan.  (Asy-Syu’ara (26]:6-7).
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman sambil menarik perhatian kepada berbagai macam tumbuhan yang baik dan bermanfaat di permukaan bumi:
  اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اِلَی الۡاَرۡضِ کَمۡ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ  کُلِّ  زَوۡجٍ   کَرِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  ؕوَ مَا کَانَ اَکۡثَرُ ہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ ﴾ وَ  اِنَّ  رَبَّکَ  لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ﴿٪﴾
 Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyak Kami menumbuhkan di dalamnya  dari setiap jodoh (pasangan)  yang mulia?  Sesungguhnya dalam hal  itu benar-benar ada suatu Tanda  tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman.  Dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.  (Asy-Syu’ara (26]:8-10).
       Dalam Surah lain Allah Swt. memisalkan wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para rasul Allah – terutama  wahyu Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.  – ibarat air hujan yang turun dari  langit, sedangkan berbagai macam tanggapan   -- baik dan buruk -- yang dilakukan oleh manusia terhadap  para rasul Allah tersebut bagaikan tumbuhnya aneka ragam tumbuh-tumbuhan pada tanah yang sama yang disiram oleh   air hujan yang sama pula, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ مَدَّ الۡاَرۡضَ وَ جَعَلَ  فِیۡہَا رَوَاسِیَ وَ اَنۡہٰرًا ؕ وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ یُغۡشِی الَّیۡلَ النَّہَارَ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ وَّ جَنّٰتٌ مِّنۡ اَعۡنَابٍ وَّ زَرۡعٌ وَّ نَخِیۡلٌ صِنۡوَانٌ وَّ غَیۡرُ صِنۡوَانٍ یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ ۟ وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Dan  Dia-lah Yang telah membentangkan bumi ini dan menjadikan di dalamnya gunung-gunung dan sungai-sungai, وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ -- dan dari setiap macam  buah-buahan Dia menjadikan dua jenis berpasang-pasangan,  Dia menyebabkan malam menutupi siang, sesungguhnya dalam hal itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang merenungkan.  وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ  --   dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling berdampingan, dan kebun-kebun anggur,  ladang-ladang,   pohon-pohon kurma berumpun yang tumbuh dari satu akar dan yang tidak berumpun, یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  -- semuanya itu disirami dengan air yang sama, وَ نُفَضِّلُ بَعۡضَہَا عَلٰی بَعۡضٍ فِی الۡاُکُلِ  --   tetapi Kami melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam buahnya,  sesungguhnya dalam yang demikian itu benar-benar  ada Tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar-Rā’d [13]:4-5).
      Meskipun ayat 4  hanya menyinggung adanya pasangan-pasangan pada buah-buahan, yakni  وَ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِیۡہَا زَوۡجَیۡنِ اثۡنَیۡنِ  -- “dan dari setiap macam  buah-buahan Dia menjadikan dua jenis berpasang-pasangan,” tetapi di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa Allah  Swt.   telah membuat pasangan-pasangan jantan dan betina bagi segala sesuatu (QS.36:37; QS.51:50).
         Itulah suatu haki-kat yang untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Al-Quran, salah satu di antara semua kitab suci. Para ahli ilmu pengetahuan mulai menemukan pasangan-pasangan itu juga pada benda-benda anorganik (mati). Ayat ini menarik perhatian kita kepada kenyataan, bahwa hukum mengenai segala sesuatu mempunyai pasangan-pasangan itu berlaku pula pada kecerdasan manusia. Sebelum Nur Ilahi berupa wahyu   Ilahi turun kepada manusia ia tidak dapat memiliki pengetahuan sejati, yang lahir dari  paduan antara wahyu Ilahi dan akal manusia (QS.42:52-54).

Air Hujan dan Bidang Tanah yang Disiraminya Sama Tetapi  Menghasilkan Buah-buahan   yang Berbeda

         Ungkapan ayat   وَ فِی الۡاَرۡضِ قِطَعٌ مُّتَجٰوِرٰتٌ  --  “dan di bumi ini ada bermacam-macam bidang tanah yang saling berdampingan” ….. یُّسۡقٰی بِمَآءٍ وَّاحِدٍ  -- semuanya itu disirami dengan air yang sama,”  mengandung arti,  bahwa bila pohon-pohon (tanam-tanaman) yang diairi oleh air yang sama, tetapi berbuah sangat berbeda dalam rasa dan warna, maka  begitu juga Nabi Besar Muhammad  saw.   — yang meskipun beliau saw. tinggal di kota yang sama dan di antara kaum yang sama — bagaimana mungkin  beliau saw. tidak dapat melebihi mereka; apalagi mengingat bahwa beliau saw. dipupuk (disirami) dengan air-kehidupan berupa wahyu Ilahi, sedang musuh-musuh beliau  saw. dibesarkan di bawah asuhan syaitan.
        Jadi, kembali kepada firman-Nya  Allah Swt. sebelumnya yang  menarik perhatian para pembaca Al-Quran kepada berbagai macam tumbuhan yang baik dan bermanfaat di permukaan bumi:
  اَوَ لَمۡ یَرَوۡا اِلَی الۡاَرۡضِ کَمۡ اَنۡۢبَتۡنَا فِیۡہَا مِنۡ  کُلِّ  زَوۡجٍ   کَرِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً  ؕوَ مَا کَانَ اَکۡثَرُ ہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ ﴾ وَ  اِنَّ  رَبَّکَ  لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ﴿٪﴾
Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyak Kami menumbuhkan di dalamnya  dari setiap jodoh (pasangan)  yang mulia?  Sesungguhnya dalam hal  itu benar-benar ada suatu Tanda  tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman.  Dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.  (Asy-Syu’ara (26]:8-10).
          Makna ayat   وَ  اِنَّ  رَبَّکَ  لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ  --  “dan sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang” mengandung arti, bahwa sekali pun lingkungan hidup  Nabi Besar Muhammad  saw.   akan mempunyai lingkungan hidup para nabi Allah  yang tersebut dalam Surah Asy-Syu’ara ini, Tuhan Yang Maha Perkasa telah merenggut dan menghancurkan musuh para nabi Allah itu, demikian juga halnya dengan para penentang Nabi Besar Muhammad saw, terutama dalam Perang Badar.
        Namun berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw., Allah Swt. --  Tuhan Yang Maha Perkasa   -- tidak akan hanya menjelmakan kekuasaan dan kekuatan-Nya dengan memberikan kejayaan kepada  beliau saw.  dan membuat misi beliau saw. menang dan mekar sentausa bagaikan pertumbuhan pohon-pohon yang baik (QS.14:25-26), tetapi juga Allah Swt. akan memperlihatkan kasih-sayang kepada umat (kaum) beliau saw., sebab hanya sebagian kecil saja dari mereka akan dibinasakan, sedang sebagian terbesar akan menerima  pengampunan dan kasih-sayang (Rahīmiyat) Allah Swt., dan pada akhirnya mereka akan menerima amanat beliau  saw., sebagaimana terbukti setelah terjadinya peristiwa Fathah Makkah (Penaklukan Makkah), sebagaimana halnya Nabi Yusuf a.s. telah mengampuni kesalahan saudara-saudara seayah beliau (QS.12:91-93).
        Jadi, kembali kepada   kata bākhi’un dalam  firman-Nya:   لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ  -- “boleh jadi engkau akan membinasakan diri sendiri  karena mereka tidak mau beriman.  (QS.26:4), karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. – sebagai rahmat bagai seluruh alam (QS.21:108) --  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw. dan juga umat manusia,  sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. (At-Taubah [9]:128).

(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  7  Oktober     2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar