Kamis, 09 Oktober 2014

Hubungan Erat "Kehidupan Surgawi" Dalam Keluarga dengan Terwujudnya "Kehidupan Surgawi" Umat Manusia di Dunia



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


 Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   333

Hubungan Erat ”Kehidupan Surgawi  Dalam Keluarga  dengan Terwujudnya  Kehidupan Surgawi” Umat Manusia di Dunia

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan berbagai firman Allah Swt.  dalam Al-Quran dan Bible mengenai  nubuatan terjadinya azab Ilahi yang terjadi  1000 tahun  setelah 3 abad masa kejayaan Islam yang pertama, yaitu di  abad 14 Hijrah atau abad 19 Masehi   berupa Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
        Dengan demikian jelaslah bahwa  ada azab Ilahi yang terjadi di masa Nabi Besar Muhammad saw. sendiri yang  telah menimpa Abu Jahal dan kawan-kawannya dalam Perang Badar (QS.8:33-34),  dan ada pula  nubuatan mengenai  azab Ilahi lainnya yang akan menimpa para penentang Nabi Besar Muhammad saw. lainnya yang  akan terjadi 1000 tahun setelah masa kejayaan Islam yang pertama selama 300 tahun, yakni pada abad keempat belas Hijriyah, yaitu di Akhir Zaman ini, dimana hampir seluruh wilayah umat Islam pernah dikuasai oleh Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)    -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang “bermata biru   (QS.20:103-104).  termasuk Nusantara selama 350 tahun.

Pelepasan Kembali  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  dari Pemenjaraannya  Selama 1000 Tahun

       Pada hakikatnya pelepasan kembali penyebaran Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)    -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang “bermata biru   (QS.20:103-104)  -- dari pemenjaraannya selama 1000 tahun tersebut pada abad 17 Masehi  merupakan penggenapan peringatan Allah Swt. kepada umat Islam mengenai terjadinya hukuman kedua kali Allah Swt. kepada mereka, sebagaimana   sebelumnya pernah terjadi kepada Bani Israil, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.   Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar   dari sebelumnya.  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا  --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri.  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا --  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu   dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai.   عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman, وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا -- dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir.  (Bani Israil [17]:5-9).

Nubuatan Dalam Bible:  Wahyu Yohanes & Surat Kiriman Petrus

        Berikut adalah nubuatan  dalam Kitab Wahyu 20:1-10, penglihatan ruhani yang dialamiu oleh  Yohanes mengenai pemenjaraan dan pelepasan kembali Gog (Yajuj) dan Magog  (Ma’juj) selama 1000 tahun:

Kerajaan seribu tahun
20:1 Lalu aku melihat seorang malaikat turun dari sorga   memegang anak kunci   jurang maut    dan suatu rantai besar di tangannya; 20:2 ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.  Dan ia mengikatnya seribu tahun   lamanya   , 20:3 lalu melemparkannya ke dalam jurang maut,  dan menutup jurang maut itu dan memeteraikannya  di atasnya, supaya ia jangan lagi menyesatkan bangsa-bangsa ,    sebelum berakhir masa seribu tahun itu; kemudian dari pada itu ia akan dilepaskan untuk sedikit waktu lamanya. 20:4 Lalu aku melihat takhta-takhta  dan orang-orang yang duduk di atasnya ; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi.  Aku juga melihat jiwa-jiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya  karena kesaksian tentang Yesus  dan karena firman Allah;  yang tidak menyembah binatang  itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan  mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah  sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun . 20:5 Tetapi orang-orang mati yang lain tidak bangkit sebelum berakhir masa yang seribu tahun itu. Inilah kebangkitan  pertama. 20:6 Berbahagia  dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu . Kematian  yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam i  Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, j  seribu tahun lamanya.
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,  Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa  pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog,  dan mengumpulkan mereka untuk berperang  dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka, t  dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang,     yaitu tempat binatang   dan nabi palsu    itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.
      Gambaran azab Ilahi     setelah 1000 tahun  pemenjaraan iblis   pada bagian akhir Kitab Wahyu Yohanes tersebut – yakni rangkaian terjadinya Perang Dunia – dikemukakan juga oleh Petrus dalam surat kirimannya sebagai berikut:
Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan, supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu. Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan."  Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia. (II Petrus 3:1-14).

Ancaman Perang Nuklir yang Sangat Mengerikan

       Jadi, menurut Petrus,  bahwa kalau azab Ilahi yang terjadi di zaman Nabi Nuh a.s. adalah berupa air bah (banjir)  yang sangat dahsyat, sedangkan di Akhir Zaman ini    -- yakni di masa kedatangan Al-Masih Mau’d a.s. --  yang terjadi adalah berupa kobaran api yang dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya sangat mengerikan.   
        Nubuatan dalam Al-Quran dan Bibel (Kitab Wahyu)  tersebut telah sempurna dengan terjadinya Perang Dunia I (1914) dan Perang Dunia II (1945), dan bangsa-bangsa pada saat ini tengah dicekam oleh kekhawatiran  meletusnya Perang Dunia III atau Perang Nuklir, yang kehebatan akibat-akibat   mengerikan  yang ditimbulkannya digambarkan dalam Surah Al-Ma’ārij yang tengah dibahas, firman-Nya:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  سَاَلَ  سَآئِلٌۢ  بِعَذَابٍ  وَّاقِعٍ ۙ﴿﴾   لِّلۡکٰفِرِیۡنَ لَیۡسَ لَہٗ  دَافِعٌ ۙ﴿﴾ مِّنَ اللّٰہِ  ذِی الۡمَعَارِجِ ؕ﴿﴾  تَعۡرُجُ  الۡمَلٰٓئِکَۃُ  وَ الرُّوۡحُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ  خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ﴿﴾  فَاصۡبِرۡ  صَبۡرًا  جَمِیۡلًا ﴿﴾  اِنَّہُمۡ  یَرَوۡنَہٗ  بَعِیۡدًا ۙ﴿﴾  وَّ  نَرٰىہُ  قَرِیۡبًا ؕ﴿﴾  یَوۡمَ  تَکُوۡنُ  السَّمَآءُ  کَالۡمُہۡلِ ۙ﴿﴾  وَ تَکُوۡنُ  الۡجِبَالُ کَالۡعِہۡنِ  ۙ﴿﴾ وَ لَا یَسۡـَٔلُ  حَمِیۡمٌ حَمِیۡمًا ﴿ۚۖ﴾  یُّبَصَّرُوۡنَہُمۡ ؕ یَوَدُّ  الۡمُجۡرِمُ لَوۡ  یَفۡتَدِیۡ مِنۡ عَذَابِ یَوۡمِئِذٍۭ بِبَنِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ صَاحِبَتِہٖ وَ اَخِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ فَصِیۡلَتِہِ الَّتِیۡ تُــٔۡوِیۡہِ ﴿ۙ﴾  وَ مَنۡ  فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ ثُمَّ  یُنۡجِیۡہِ ﴿ۙ﴾  کَلَّا ؕ اِنَّہَا  لَظٰی ﴿ۙ﴾  نَزَّاعَۃً   لِّلشَّوٰی  ﴿ۚۖ﴾    تَدۡعُوۡا  مَنۡ  اَدۡ  بَرَ  وَ تَوَلّٰی ﴿ۙ﴾  وَ  جَمَعَ   فَاَوۡعٰی ﴿﴾  
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Seorang penanya menanyakan mengenai  azab yang akan terjadi,   untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun   dapat   menghindarkannya, مِّنَ اللّٰہِ  ذِی الۡمَعَارِجِ --  azab itu dari Allah Yang memiliki  tempat-tempat naik.  تَعۡرُجُ  الۡمَلٰٓئِکَۃُ  وَ الرُّوۡحُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗ  خَمۡسِیۡنَ اَلۡفَ سَنَۃٍ ۚ  -- Malaikat-malaikat dan ruh itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun.  فَاصۡبِرۡ  صَبۡرًا  جَمِیۡلًا   -- maka bersabarlah dengan sabar yang baik. اِنَّہُمۡ  یَرَوۡنَہٗ  بَعِیۡدًا  -- sesungguhnya mereka memandang hari itu sangat jauh, وَّ  نَرٰىہُ  قَرِیۡبًا --  sedangkan Kami melihatnya dekat.  یَوۡمَ  تَکُوۡنُ  السَّمَآءُ  کَالۡمُہۡلِ   -- pada hari langit akan menjadi seperti cairan tembaga, وَ تَکُوۡنُ  الۡجِبَالُ کَالۡعِہۡنِ  --  dan gunung-gunung akan menjadi seperti bulu domba yang dihamburkan. وَ لَا یَسۡـَٔلُ  حَمِیۡمٌ حَمِیۡمًا --  dan tidak akan bertanya  sahabat karib kepada sahabat karib lainnya. یُّبَصَّرُوۡنَہُمۡ ؕ یَوَدُّ  الۡمُجۡرِمُ لَوۡ  یَفۡتَدِیۡ مِنۡ عَذَابِ یَوۡمِئِذٍۭ بِبَنِیۡہِ --  Hari itu akan diperlihatkan dengan jelas kepada mereka.  Orang ber-dosa ingin seandainya  dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya,    وَ صَاحِبَتِہٖ وَ اَخِیۡہِ  --  dan isteri-istrinya serta  saudaranya,  وَ فَصِیۡلَتِہِ الَّتِیۡ تُــٔۡوِیۡہِ     -- dan kaum kerabatnya yang melindunginya. وَ مَنۡ  فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا ۙ ثُمَّ  یُنۡجِیۡہِ  -- dan semua orang yang ada di bumi kemudian  menyelamatkannya. کَلَّا ؕ اِنَّہَا  لَظٰی  -- sekali-kali tidak dapat,    sesungguhnya  itu nyala api,   نَزَّاعَۃً   لِّلشَّوٰی     --   yang melucuti kulit  kepala.   تَدۡعُوۡا  مَنۡ  اَدۡبَرَ  وَ تَوَلّٰی  -- yang memanggil orang yang membelakangi dan yang  berpaling, وَ  جَمَعَ   فَاَوۡعٰی  --   dan menimbun harta serta menahannya. (Al-Ma’arīj [70]:1-19). 
   Dalam abad-abad atom dan hidrogen atau nuklir  di Akhir zaman ini beterbangan gunung-gunung laksana bulu domba itu sungguh mungkin sekali terjadi.   Alangkah mengerikannya lukisan Hari Pembalasan yang diberikan dalam ayat-ayat ini! Berhadap-hadapan dengan suatu malapetaka, manusia bersedia pisah dari segala sesuatu, bahkan bersedia mengorbankan orang-orang yang paling karib dan tersayang sekalipun, asalkan saja dengan berbuat demikian ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Kegoncangan  Dahsyat “Hari Kiamat

   Mengisyaratkan kepada  kegoncangan sangat dahsyat yang menimpa kehidupan manusia itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ ۚ اِنَّ  زَلۡزَلَۃَ  السَّاعَۃِ  شَیۡءٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾  یَوۡمَ تَرَوۡنَہَا تَذۡہَلُ کُلُّ مُرۡضِعَۃٍ عَمَّاۤ اَرۡضَعَتۡ وَ تَضَعُ کُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَہَا   وَ تَرَی النَّاسَ سُکٰرٰی وَ مَا ہُمۡ  بِسُکٰرٰی وَ لٰکِنَّ عَذَابَ اللّٰہِ شَدِیۡدٌ ﴿۲﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb (Tuhan) kamu, اِنَّ  زَلۡزَلَۃَ  السَّاعَۃِ  شَیۡءٌ  عَظِیۡمٌ   -- sesungguhnya  ke-goncangan Saat  itu sesuatu yang sangat dahsyat. یَوۡمَ تَرَوۡنَہَا تَذۡہَلُ کُلُّ مُرۡضِعَۃٍ عَمَّاۤ اَرۡضَعَتۡ وَ تَضَعُ کُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَہَا   --  Pada hari ketika engkau melihatnya,  setiap perempuan  yang menyusui akan lupa kepada yang disusuinya dan setiap perempuan  yang mengandung akan  menggugurkan kandungannya, وَ تَرَی النَّاسَ سُکٰرٰی وَ مَا ہُمۡ  بِسُکٰرٰی  -- dan engkau akan melihat manusia mabuk,  padahal mereka itu tidak mabuk,  وَ لٰکِنَّ عَذَابَ اللّٰہِ شَدِیۡدٌ   -- tetapi azab Allah sungguh sangat keras. (Al-Hājj [22]:1-3).
         As-Sā’at (Saat)  atau al-Qiyāmat, dipergunakan dalam 3 pengertian: (a) Kematian seorang pribadi yang besar dan ternama (assā’at ashshughra); (b) suatu bencana nasional (assā’at alwustha); (c) Hari Peradilan (assā’at alkubra). Kata itu telah dipergunakan dalam Al-Quran dengan kedua pengertian yang disebut terakhir. Letaknya menunjukkan bahwa di sini kata itu dipergunakan dalam pengertian bencana nasional yang menggoncangkan sendi-sendi kekuatan suatu kaum.
Kata itu dapat pula menunjuk secara khusus kepada nasib yang ketika itu sedang mengancam orang-orang Arab, ketika Mekkah -- benteng kekuasaan politik mereka   -- akan jatuh serta kekuasaan politik dan sistem kemasyarakatan mereka akan patah dan ambruk.
Atau,   peristiwa itu dapat menunjuk kepada suatu bencana amat dahsyat yang akan menimpa umat manusia berupa rangkaian Perang Dunia, dan sebagai akibatnya akan mendatangkan perubahan-perubahan yang amat dahsyat.  Ayat ini, jika dibaca bersama-sama dengan QS.2:213, memberikan lagi dukungan kepada kesimpulan, bahwa kata-kata assā’at atau yaumalqiyāmah yang dipergunakan dalam Al-Quran pada umumnya menunjuk kepada suatu bencana nasional besar yang menimpa sesuatu kaum seluruhnya.
       Ayat 3  telah memakai 3  perumpamaan atau tamsil untuk menyatakan sangat kerasnya “gempa bumi Saat itu” yang disebut dalam ayat sebelumnya. Tidak ada yang lebih dicintai oleh seorang ibu selain bayi yang ia susui, dan tidak ada kengerian yang lebih menakutkan akibatnya, selain kengerian yang membuat   seorang perempuan gugur kandungannya dan membuat kaum laki-laki jadi kalap.
         Namun demikian ayat ini mengatakan bahwa sekonyong-konyong dan hebatnya kengerian yang ditimbulkan oleh kejadian yang amat dahsyat begitu tidak terpikirkan sehingga kaum ibu akan meninggalkan bayi-bayi yang sedang disusuinya serta perempuan-perempuan hamil akan menggugurkan kandungannya dan orang-orang akan menjadi gila oleh rasa takutnya dan seperti orang mabuk tidak akan menguasai perbuatannya.

Sakralnya Penikahan Dalam Islam & Tercipnya “Langit Baru dan “Bumi Baru

          Jadi, kembali kepada masalah  sakralnya masalah pernikahan dalam ajaran Islam (Al-Quran) serta peringatan Allah Swt. kepada para kepala keluarga (suami) agar kecintaan kepada anak dan istri jangan melalaikan mereka dari dzikr Ilahi  atau membuat  lalai melakukan  ibadah kepada Allah Swt,. (QS.63:10-13; QS.64:15-19; QS.66:7), yakni mereka hendaknya mengamalkan ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang telah disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw..
      Mengapa demikian? Sebab keberhasilan para kepala keluarga  (suami) menciptakan “kehidupan surgawi” di lingkungan  keluarga (rumah-tangga)  mereka akan menjadi landasan bagi terciptanya “kehidupan surgawi” di kalangan masyarakat yang lebih luas lagi ruang-lingkupnya (QS.24:36-39), dan Insya Allah akan berujung kepada terciptanya “kehidupan surgawi” di dalam kehidupan  di dunia ini juga (QS.49:14), sebab itulah tujuan utama  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai  rahmat  bagi seluruh alam (QS.21:108), dan dibangkitkannya umat Islam sebagai “umat yang terbaik” bagi manfaat  seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
        Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah nubuatan dalam Bible dan Al-Quran mengenai  akan terciptanya “langit baru dan bumi baru  di Akhir Zaman ini (QS.14:49-53; Wahyu 21:1-4), setelah terjadinya berbagai rangkaian  azab Ilahi yang sangat dahsyat,  karena umumnya umat manusia  terus menerus  berkeras-kepala  mendustakan dan menentang secara zalim  Rasul Akhir Zaman  atau Al-Masih Mau’ud a.s. yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama  dengan sebutan (nama) yang berlainan (QS.61:10; QS.77:1-20).  
       Pada waktu  terciptanya “langit baru dan bumi baru” tersebut  (QS.14:49-53),  bumi akan disinari dengan “cahaya Allah” (QS.39:69-76), sebab ketika itu umumnya umat beragama  akan berlaku seperti pengantin  perempuan yang menghias dirinya  untuk  “suaminya” (Wahyu  21:9-10), bukan seperti istri-istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s., firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat  kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: “Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  16  September     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar