Senin, 06 Oktober 2014

Pemberi "Syafaat" Dalam Ayat Kursiy adalah Rasul Allah, Khususnya Nabi Besar Muhammad Saw.



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


 Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   330

  Pemberi Syafa’at Dalam Ayat Kursiy adalah Rasul Allah, Khususnya Nabi Besar Muhammad saw.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan berbagai firman Allah Swt. mengenai penolakan “sembahan-sembahan” selain Allah Swt. yang dianggap sebagai “wasilah” (perantaraan) oleh para “penyembah mereka”, termasuk juga penolakan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,   yang telah “disembah” oleh orang-orang yang mempertuhankan beliau dan juga ibunya (Siti Maryam) sebagai dua sembahan selain Allah Swt., beliau  membantah keras  sebagai penyebab  terjadinya penyembahan (kemusyrikan) mereka itu, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,   sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. رَبَّکُمۡ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ --  “Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku  (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.”   شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ  کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  وَ  --  dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,    کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ            --  tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ   شَیۡءٍ   شَہِیۡدٌ     وَ    -- dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ --   Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Māidah [5]:17-19). Lihat pula QS. 4:172-173; QS.5:18; QS. 73-74; QS. 9:30; QS.19: 36-37 & 89-94.
        Jadi, di Akhir zaman ini orang-orang yang menunggu-nunggu kedatangan  kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   – baik sebagai “tuhan” atau sebagai nabi  atau sebagai wasilah (perantara)   -- hal tersebut merupakan penantian yang sia-sia, sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sendiri menyatakan bahwa setelah  beliau diwafatkan Allah Swt., sebagaimana para nabi Allah yang lainnya (QS.21:35-36),  maka  beliau sama sekali tidak-tahu menahu dan berlepas-diri tentang “penyembahan” terhadap beliau dan ibunya  yang dilakukan oleh orang-orang yang mempertuhankan beliau dan ibunya.

Penolakan Mereka yang Dianggap Sebagai “Wasilah” (Perantara) antara Allah Swt. dengan Manusia

       Jadi, semua wasilah (perantara) palsu  yang telah  dipersekutukan” dengan Allah Swt. tersebut  di akhirat  mereka itu akan berlepas diri  dari pengakuan orang-orang yang mempersekutukan mereka, sebagaimana dikemukakan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam  firman-Nya tersebut.
      Sehubungan dengan penolakan  sembahan-sembahan” yang dianggap sebagai wasilah (perantaraan) tersebut terhadap pengakuan para penyembahnya, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai benarnya  jawaban” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam firman Allah sebelumnya terhadap “pertanyaan” Allah Swt. tentang penyembahan terhadap beliau dan  ibunya, (QS.5:17-19), firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا نُوۡحِیۡۤ  اِلَیۡہِ اَنَّہٗ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّاۤ  اَنَا فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾  وَ قَالُوا اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ  عِبَادٌ   مُّکۡرَمُوۡنَ ﴿ۙ﴾  لَا یَسۡبِقُوۡنَہٗ  بِالۡقَوۡلِ وَ ہُمۡ  بِاَمۡرِہٖ یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  وَ لَا یَشۡفَعُوۡنَ ۙ اِلَّا لِمَنِ ارۡتَضٰی وَ ہُمۡ مِّنۡ خَشۡیَتِہٖ مُشۡفِقُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّقُلۡ مِنۡہُمۡ  اِنِّیۡۤ  اِلٰہٌ  مِّنۡ دُوۡنِہٖ فَذٰلِکَ نَجۡزِیۡہِ جَہَنَّمَ ؕ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak  mengutus seorang rasul sebelum engkau melainkan Kami  wahyukan kepadanya   اَنَّہٗ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّاۤ  اَنَا فَاعۡبُدُوۡنِ -- bahwa: “Sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku maka sembahlah Aku.”   وَ قَالُوا اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا  -- Dan mereka berkata:  Yang Maha Pemurah telah mengambil seorang anak.” سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ  عِبَادٌ   مُّکۡرَمُوۡنَ -- Maha Suci Dia. Bahkan mereka adalah hamba-hamba-Nya yang dimuliakan. لَا یَسۡبِقُوۡنَہٗ  بِالۡقَوۡلِ وَ ہُمۡ  بِاَمۡرِہٖ یَعۡمَلُوۡنَ  --   Mereka  tidak mendahului-Nya dalam berbicara dan mereka hanya melaksanakan perintah-Nya.  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ مَا خَلۡفَہُمۡ    --    Dia mengetahui segala yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka,   وَ لَا یَشۡفَعُوۡنَ ۙ اِلَّا لِمَنِ ارۡتَضٰی وَ ہُمۡ مِّنۡ خَشۡیَتِہٖ  -- dan   mereka itu  tidak memberi syafaat, melainkan kepada siapa yang Dia ridhai dan mereka gemetar karena  takut kepada-Nya. (Al-Anbiya [21]:26-29).

Orang yang Diberi Izin Allah Swt. Memberi Syafaat

      Kata pengganti “mereka”  dalam ayat seperti nampak dari hubungan kalimat menunjuk kepada para nabi Allah, dan  rasul-rasul  Allah tersebut tidak mungkin durhaka kepada Allah Swt.   atau melakukan pelanggaran moral atau berbuat dosa. Ayat ini membuktikan kemaksuman (kesucian) para nabi Allah atau kebersihan mereka dari perbuatan dosa.
        Kata-kata  Dia mengetahui segala yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, ” itu dapat berarti  Apa yang mereka perbuat dan apa yang tidak mereka perbuat atau tidak dapat mereka perbuat,” atau kata-kata itu bisa juga mengisyaratkan kepada pengaruh-pengaruh yang di bawahnya mereka berada, atau perubahan-perubahan yang mereka datangkan.
       Firman Allah Swt.   وَ لَا یَشۡفَعُوۡنَ ۙ اِلَّا لِمَنِ ارۡتَضٰی وَ ہُمۡ مِّنۡ خَشۡیَتِہٖ  -- dan   mereka itu  tidak memberi syafaat, melainkan kepada siapa yang Dia ridhai dan mereka gemetar karena  takut kepada-Nya (QS.21:29),  sama dengan firman Allah Swt. dalam Ayat Kursyi  yang dikemukakan dalam   Bab 328 sebelumnya, yaitu mengenai “orang yang diberi izin Allah Swt. untuk memberi syafaat,  yaitu para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:132-133; QS.4:70-72), firman-Nya:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ ﴿۲﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia   Yang Maha Hidup, Yang  Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ  --  kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun  yang ada di bumi.  مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --  Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ     -- Dia mengetahui apa pun yang ada di hadapan mereka dan apa pun di belakang me-reka, وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  --  dan mereka tidak meliputi sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.  وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ  --  Singgasana ilmu-Nya  meliputi seluruh langit dan bumi,  dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:255).
       Makna    orang-orang yang diizinkan  Allah Swt. sebagai  pemberi syafaat dalam ayat مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --  Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?” mengisyaratkan kepada para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw., sebab  setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna – yaitu agama Islam (Al-Quran – QS.5:4)  -- maka hanya dengan beriman dan patuh-taat kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. sajalah, bukan saja     keagamaan  mereka akan diterima Allah Swt. (QS.3:20 & 86), bahkan mereka akan memperoleh syafaat dari Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71),  karena  beliau sajalah satu-satunya washilah (perantara) yang diizinkan Allah Swt. untuk memberikan syafaat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ  وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah. وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ   -- dan  carilah jalan pendekatan diri  kepada-Nya,  وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ  --  dan  berjihadlah  di jalan-Nya supaya kamu berhasil. (Al-Māidah [5]:36).

Nabi Besar Muhammad Saw. Satu-satunya Pemberi Syafaat dan Wasilah yang Hakiki

       Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa kata wasilah   artinya  satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lexicon Lane). Kata itu bukan berarti “penengah antara Tuhan dan manusia,” sebagaimana  banyak yang keliru menafsirkan  wasilah  -- sebab arti yang kedua ini bukan hanya tidak-didukung oleh kelaziman pemakaian bahasa Arab, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan hadits-hadits  Nabi Besar Muhammad  saw..
       Bahwa Nabi Besar Muhammad saw.    --   setelah Allah Swt. menurunkan agama terakhir dan tersempurna  yaitu agama Islam (Al-Quran – QS.5:4)    -- beliau saw. merupakan satu-satu pemberi wasilah, mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman: 
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allāh sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
       Ada pun yang dimaksud dengan ilmu (pengetahuan) dan āyat (Tanda-tanda) dalam ayat tersebut adalah agama Islam (Al-Quran) atau Nabi Besar Muhammad saw., sebab kedengkian yang diperagakan golongan  Ahlikitab  adalah terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan agama Islam (Al-Quran)
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran [3]:86).
        Bahwa Nabi Besar Muhammad saw. merupakan satu-satunya wasilah (perantara) yang diizinkan Allah Swt. memberikan syafaat, mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ  فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:   Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ    -- maka ikutilah aku,  یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Katakanlah:    Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
        Jadi, kembali kepada makna  kata wasilah yang benar:  Wasilah artinya  satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lexicon Lane). Kata itu bukan berarti “penengah antara Tuhan dan manusia,” sebagaimana  banyak yang keliru menafsirkan  wasilah  -- sebab arti yang kedua ini bukan hanya tidak-didukung oleh kelaziman pemakaian bahasa Arab, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan hadits-hadits  Nabi Besar Muhammad  saw..

Kemusyrikan Akibat Keliru Memahami  Makna  Syafaat dan Wasilah & Empat Golongan Martabat Ruhani di Hadirat Allah Swt.

     Sehubungan orang-orang yang keliru  memaknai arti wasilah  tersebut, ketika ditanyakan  kepada orang-orang yang datang menziarahi kuburan para  nabi Allah atau wali Allah  atau ditanyakan kepada mereka yang menyembah berbagai bentuk berhala  --  yang kepada tempat-tempat atau benda-benda tersebut mereka menyampaikan permohonan   -- maka jawaban mereka adalah bahwa semua itu hanya sekedar wasilah  yang memperantarai permohoan (doa) mereka dengan Allah Swt.
        Berikut jawaban Allah Swt. berkenaan makna  wasilah (perantaraan) yang hakiki, yaitu Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ  --   orang-orang  yang Allāh memberi nikmat kepada mereka, مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati.    ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
       Sesuai dengan makna hakiki wasilah (perantara) sebelum ini  – yakni    satu jalan untuk memperoleh suatu kedudukan terhormat di sisi raja; martabat, pertalian, ikatan atau perhubungan (Lexicon Lane)  -- maka  maka dalam pandangan   Allah Swt., tidak ada kedudukan atau martabat atau pertalian atau ikatan atau perhubungan dengan Allah Swt  selain orang-orang beriman dan bertakwa yang karena ketaatannya kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. termasuk ke dalam salah satu dari keempat martabat keruhanian di hadirat Allah Swt. tersebut, yakni:  مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati.      ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --  Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
          Mereka yang menolak  keempat macam martabat keruhanian yang  disediakan Allah Swt. bagi mereka yang benar-benar menginginkan syafaat dan wasilah dari Nabi Besar Muhammad saw.   – dengan alasan  bahwa semua jenis kenabian dan wahyu Ilahi telah tertutup rapat dengan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41) dan diturunkan-Nya agama Islam (Al-Quran) sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4).

Makna Kursiy (Singgasana)

       Setelah menyinggung  orang yang diberi izin memberikan syafaat, selanjutnya Allah Swt. berfirman: یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ     --  Dia mengetahui apa pun yang ada di hadapan mereka dan apa pun di belakang me-reka, وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  --  dan mereka tidak meliputi sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.  وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ  --  Singgasana ilmu-Nya  meliputi seluruh langit dan bumi,  dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:255).
       Kursiy berarti: singgasana, kursi, tembok penunjang; ilmu; kedaulatan  kekuasaan (Aqrab-al-Mawarid); Karāsi itu jamak dari kursiy dan berarti orang-orang terpelajar. Ayat itu dengan indah  menggambarkan Keesaan Allah Swt.  serta Sifat-sifat-Nya yang agung. Konon  Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda bahwa Ayat Al-Kursiy itu ayat Al-Quran yang paling mulia (Muslim).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                                              ***
Pajajaran Anyar,  12  September     2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar