Rabu, 19 Februari 2014

Pembelaan dan Da'wah "Laki-laki Pemberani" dari Keluarga Fir'aun & Makna "Turunnya Para malaikat" kepada Orang-orang yang Mengucapkan "Rabb (Tuhan) Kami Allah"


 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  159

Pembelaan  dan Da’wah “Laki-laki Pemberani” dari Keluarga Fir’aun & Makna “Turunnya Para Malaikat” kepada Orang-orang yang Mengucapkan “Rabb (Tuhan) Kami Allah          

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai seorang laki-laki  pemberani  -- yang sebelumnya menyembunyikan keimanannya  kepada Nabi Musa a.s.  tersebut --   yang   telah tampil  membela Nabi Musa a.s.      bahkan berdakwah -- di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya secara lantang, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا مُوۡسٰی بِاٰیٰتِنَا وَ سُلۡطٰنٍ مُّبِیۡنٍ ﴿ۙ﴾  اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ قَارُوۡنَ فَقَالُوۡا سٰحِرٌ کَذَّابٌ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡحَقِّ مِنۡ عِنۡدِنَا قَالُوا اقۡتُلُوۡۤا اَبۡنَآءَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ وَ اسۡتَحۡیُوۡا نِسَآءَہُمۡ ؕ وَ مَا کَیۡدُ الۡکٰفِرِیۡنَ   اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ قَالَ فِرۡعَوۡنُ  ذَرُوۡنِیۡۤ  اَقۡتُلۡ مُوۡسٰی وَ لۡیَدۡعُ  رَبَّہٗ ۚ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اَنۡ یُّبَدِّلَ دِیۡنَکُمۡ اَوۡ اَنۡ یُّظۡہِرَ فِی الۡاَرۡضِ الۡفَسَادَ ﴿﴾  وَ قَالَ مُوۡسٰۤی اِنِّیۡ عُذۡتُ بِرَبِّیۡ وَ رَبِّکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مُتَکَبِّرٍ لَّا یُؤۡمِنُ بِیَوۡمِ الۡحِسَابِ ﴿٪﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan Tanda-tanda Kami dan dalil yang nyata,  kepada Fir’aun, Haman dan Qarun,  lalu mereka berkata: “Ia tukang sihir dan pendusta besar!”   Maka tatkala ia  (Musa) datang kepada mereka dengan kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata:  Bunuhlah   anak laki-laki mereka yang telah beriman beserta dia, dan biarkanlah hidup perempuan-perempuan mereka.” Dan sekali-kali tidaklah tipu-daya  orang-orang kafir itu kecuali sia-sia.   Dan Fir’aun berkata: “Biarkanlah aku membunuh Musa dan supaya dia menyeru Rabb-nya (Tuhan-nya),  sesungguhnya aku takut bahwa ia akan mengubah agama kamu atau menimbulkan kerusakan di  bumi.”   Dan Musa berkata:  Aku berlindung kepada Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu dari setiap orang-orang yang sombong yang tidak beriman kepada Hari Perhitungan.” (Al-Mu’mīn [40]:24-28).
     Tiap-tiap nabi Allah mempunyai Fir’aun, Haman dan Qarunnya sendiri. Nama-nama itu masing-masing  melambangkan sifat kekuasaan, pejabat keagamaan, dan kekayaan harta, seperti halnya Haman itu kepala pejabat keagamaan, dan Qarun itu seorang yang kaya raya di antara kaum bangsawan Fir’aun.
       Kekuasaan politik tanpa batas, golongan pejabat keagamaan yang berwatak suka menjilat, dan nafsu kapitalisme yang tidak terkendalikan merupakan tiga keburukan yang senantiasa menghambat dan menghentikan pertumbuhan politik, ekonomi, akhlak, dan ruhani suatu bangsa, dan tentunya terhadap musuh-musuh manusia itulah para Pembaharu Suci – yakni para Rasul Allah -- telah melancarkan perang sengit di sepanjang zaman.

Pembelaan “Seorang Laki-laki  Pemberani dari Keluarga Fir’aun

         Itulah sebabnya  para Rasul Allah dan para pengikut mereka    di setiap zaman  mendapat penentangan hebat dari  pihak-pihak yang dalam Al-Quran dilambangkan oleh Fir’aun, Haman dan Qarun tersebut. Dan  dalam menghadapi perlawanan hebat  ketiga pihak yang bersekutu tersebut   para Rasul Allah hanya meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah Swt. saja, Tuhan  seluruh alam yang telah  mengutus mereka.
  Allah Swt.  merupakan tempat berlindung terakhir bagi para nabi Allah dan para pilihan Tuhan. Mereka menutup pintu-Nya  bila mereka melihat kegelapan di sekitar mereka dan bila kekuatan-kekuatan kejahatan bertekad melenyapkan kebenaran yang dianjurkan dan disebarkan mereka. Itulah makna ayat    وَ قَالَ مُوۡسٰۤی اِنِّیۡ عُذۡتُ بِرَبِّیۡ وَ رَبِّکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مُتَکَبِّرٍ لَّا یُؤۡمِنُ بِیَوۡمِ الۡحِسَابِ  – “Dan Musa berkata:  Aku berlindung kepada Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu dari setiap orang-orang yang sombong yang tidak beriman kepada Hari Perhitungan”.
   Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mengemukakan “seorang laki-laki pemberani” dari kalangan keluarga Fir’aun  -- yang sebelumnya  menyembunyikan keimanannya kepada Nabi Musa a.s.  --   ia  dengan berani tampil membela  kebenaran da’wah Nabi Musa a.s. yang disampaikan kepada Fir’aun dengan dalil-dalil (argumentasi) yang sangat akurat, firman-Nya:
وَ قَالَ رَجُلٌ  مُّؤۡمِنٌ ٭ۖ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ یَکۡتُمُ  اِیۡمَانَہٗۤ  اَتَقۡتُلُوۡنَ رَجُلًا  اَنۡ یَّقُوۡلَ رَبِّیَ اللّٰہُ وَ قَدۡ جَآءَکُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ؕ وَ  اِنۡ یَّکُ  کَاذِبًا فَعَلَیۡہِ کَذِبُہٗ ۚ وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ  بَعۡضُ الَّذِیۡ  یَعِدُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ  کَذَّابٌ ﴿﴾
Dan berkata seorang laki-laki yang beriman dari kaum Fir’aun yang menyembunyikan imannya,  Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia mengatakan: “Rabb-ku (Tuhan-ku) adalah Allah,  padahal    ia telah da-tang kepada kamu dengan Tanda-tanda nyata dari Rabb  (Tuhan) kamu?  Dan jika ia seorang pendusta maka atas dialah kedustaannya, dan jika ia benar maka akan menimpa kamu sebagian dari apa yang diancamkannya  kepada  kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan pembohong besar.” (Al-Mu’mīn [40]:29).
    Orang  beriman yang  menyembunyikan imannya   -- untuk menampakkannya pada kesempatan yang cocok dengan  cara yang tegas dan berani dalam menyatakan imannya dan berbicara kepada kaum Fir’aun -- menunjukkan bahwa penyembunyian imannya itu tidaklah disebabkan oleh perasaan takut.
 Perkataan laki-laki  yang beriman   kepada Fir’aun dan para pembesarnya اَتَقۡتُلُوۡنَ رَجُلًا  اَنۡ یَّقُوۡلَ رَبِّیَ اللّٰہُ وَ قَدۡ جَآءَکُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ مِنۡ رَّبِّکُم – “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia mengatakan: “Rabb-ku (Tuhan-ku) adalah Allah,  padahal    ia telah datang kepada kamu dengan Tanda-tanda nyata dari Rabb  (Tuhan) kamu?” perkataannya tersebut memiliki persamaan dengan perkataan tulang-tulang sihir ketika mendapat ancaman mengerikan dari Fir’aun atas pernyataan keimanan mereka kepada  Rabb  (Tuhan) Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s., firman-Nya:
قَالُوۡۤا اِنَّاۤ  اِلٰی رَبِّنَا مُنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ مَا تَنۡقِمُ مِنَّاۤ  اِلَّاۤ  اَنۡ  اٰمَنَّا بِاٰیٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَا ؕ رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا  وَّ تَوَفَّنَا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾٪
Mereka berkata: “Sesungguhnya Kami  kepada Rabb (Tuhan) kamilah  akan kembali. Dan  sekali-kali tidaklah  engkau menuntut balas dari kami melainkan karena kami telah beriman kepada Tanda-tanda Rabb (Tuhan) kami tatkala Tanda-tanda itu datang kepada kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri.” (Al-A’rāf [7]:126-127). Lihat pula QS.20:71-74.

Makna “Turunnya Para Malaikat

    Jadi, betapa  keimanan yang hakiki kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya,  telah membuat para pengikut Rasul Allah benar-benar menjadi para  laki-laki pemberani” yang siap mengalami  kezaliman dari para penentang Rasul Allah, sebagaimana yang diperagakan oleh tukang-tukang sihir tersebut.
       Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud oleh firman Allah Swt. mengenai orang-orang yang mengatakan  رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا  --  “Rabb (Tuhan)  kami Allah  lalu mereka  istiqamah (teguh)” (QS.41:31-33), bukanlah perkataan biasa yang dapat diucapkan oleh setiap Muslim yang mengucapkan “Laa ilaaha illallaahu” (tidak ada Tuhan kecuali Allah), karena ucapan tersebut adalah ucapan orang-orang yang beriman kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka, yang karena pernyataan keimanan tersebut lalu mereka diperlakukan secara zalim  oleh para penentang Rasul Allah tersebut, itulah sebabnya  selanjutnya dikatakan  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا   -- “kemudian mereka teguh” dalam keimanannya tersebut , firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh,  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu.  Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan diri kamu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta, sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā MimAs-Sajdah (Al-Fushshilat) [41]:31-33).
  Bukan hanya di alam akhirat saja, melainkan dalam kehidupan   di dunia inilah malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman, untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat atas pernyataan keimanan mereka terhadap Tauhid Ilahi yang diajarkan Rasul Allah yang datang kepada mereka (QS.98:1-9).
  Itulah makna   ayat selanjutnya  تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ    --  “kepada mereka turun  malaikat-malaikat” memberikan kabar-kabar gembira kepada mereka  mengenai  berbagai ganjaran Allah Swt.  yang disediakan bagi mereka dibalik penderitaan-penderitaan yang mereka alami di jalan Allah, para malaikat tersebut berkata:
اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪﴾
Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu.  Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan bagi  kamu di dalamnya apa yang diinginkan diri kamu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta, sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
     Jadi, pada hakikatnya “turunnya para malaikat” itulah yang membuat para pengikut Rasul Allah di setiap zaman   -- termasuk di Akhir Zaman ini --  dapat menghadapi berbagai  bentuk kezaliman yang dilakukan oleh para penentang Rasul Allah akibat pernyataan keimanan mereka kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka, termasuk di Akhir Zaman ini.

Amanat Allah Swt. Kepada Bani Adam Tentang Kesinambungan Kedatangan Rasul Allah

       Kembali kepada da’wah atau pembelaan yang dilakukan “laki-laki beriman” pemberani di hadapan  Fir’aun dan para pembesarnya, selanjutnya  ia berkata  mengenai   apa yang dikemukakan oleh Nabi Musa a.s. dalam da’wahnya:
وَ  اِنۡ یَّکُ  کَاذِبًا فَعَلَیۡہِ کَذِبُہٗ ۚ وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ  بَعۡضُ الَّذِیۡ  یَعِدُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ  کَذَّابٌ
“Dan jika ia (Musa) seorang pendusta maka atas dialah kedustaannya, dan jika ia benar maka akan menimpa kamu sebagian dari apa yang diancamkannya  kepada  kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan pembohong besar.”
        Jadi, “laki-laki pemberani” tersebut mengemukakan  cara yang paling sederhana untuk menguji benar-tidaknya  pendakwaan orang  yang mendakwakan sebagai Rasul Allah atau orang yang mendakwakan memperoleh wahyu Ilahi, yakni   وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ  بَعۡضُ الَّذِیۡ  یَعِدُکُمۡ    -- “Dan jika ia (Musa) seorang pendusta maka atas dialah kedustaannya, dan jika ia benar maka akan menimpa kamu sebagian dari apa yang diancamkannya  kepada  kamu.”
      Dalil atau argumentasi akurat yang dikemukakan oleh “laki-laki pemberani” di kalangan keluarga Fir’aun tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. berikut ini, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾   یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktu mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.   Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37). 
Dalam ayat 35  Allah Swt. menyatakan bahwa tidak ada satu umat atau kaum yang menjadi “umat pilihan” Allah Swt. selamanya, karena itu apabila  waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba -- karena kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan Rasul Allah yang diutus kepada mereka --  maka waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda.
 Dalam ayat selanjutnya (36) Allah Swt. memberi peringatan kepada Bani Adam (anak keturunan Adam), bahwa seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam,  bukan ditujukan kepada kaum-kaum purbakala setelah zaman Nabi Adam a.s., melainkan ditujukan kepada umat manusia di zaman  Nabi Besar Muhammad saw., dan juga ditujukan kepada generasi-generasi yang akan lahir setelah masa beliau saw. hingga Akhir Zaman.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman   -- sesuai dengan ucapan “laki-laki pemberani   kepada Fir’aun dan para pembesarnya -- yang menjadi pokok bahasan:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Maka   siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan dalam Kitab,  hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka te-lah lenyap dari kami.” Dan mereka  memberi kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:38).

Nasib Buruk yang Pasti  Menimpa Para Pendusta

      Menurut Allah Swt. dalam ayat tersebut  ada dua macam  orang yang zalim, yaitu:
       (1) orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah Swt.,  misalnya mengaku-aku sebagai Rasul  Allah padahal dusta, mengaku-aku mendapat wahyu Ilahi padahal tidak.
          (2) Orang-orang yang mendustakan Rasul Allah yang datang kepada mereka padahal Rasul Allah tersebut datang dengan membawa Tanda-tanda dari Allah Swt..
         Itulah makna ayat  فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہ  --  Maka   siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya?”, firman Allah Swt. tersebut sesuai dengan perkataan “laki-laki pemberani”  yang dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelumnya:
وَ  اِنۡ یَّکُ  کَاذِبًا فَعَلَیۡہِ کَذِبُہٗ ۚ وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ  بَعۡضُ الَّذِیۡ  یَعِدُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ  کَذَّابٌ
“Dan jika ia (Musa) seorang pendusta maka atas dialah kedustaannya, dan jika ia benar maka akan menimpa kamu sebagian dari apa yang diancamkannya  kepada kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan pembohong besar.” (Al-Mu’min [40]:29).
       Ayat selanjutnya menegaskan mengenai nasib  buruk yang pasti menimpa kedua jenis orang zalim tersebut, yakni:   اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ  -- “Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan dalam Kitab,   bahwa  sesuai dengan  ayat   وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- “Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya” (37),   bahwa mereka yang menolak  Rasul-rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (ayat 36) -- mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib (nubuatan) yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22). Mereka akan merasakan hukuman (azab) yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka karena menentang  Rasul-rasul Allah.

Ancaman Keras Allah Swt. Bagi Para Pendakwa Palsu

         Berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan  wahyu Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw., dan kebinasaan yang pasti menimpa orang-orang yang mengada-ada kedustaan terhadap Allah,  termasuk beliau saw.  -- na’uudzubillaahi min dzaalik -- seandainya  beliau saw. pun melakukan hal yang sama,  sebagaimana tuduhan para penentang beliau  saw. (QS.25:5-6), firman-Nya:
 فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾   وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾   تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾   وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾  لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat,  dan apa yang tidak kamu lihat, Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia,    dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai.   Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. Al-Quran ini  adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam.   Dan seandainya ia mengada-adakan sebagaian perkataan  atas na-ma Kami, niscaya Kami akan menang-kap dia dengan tangan kanan,  kemudian niscaya Kami me-motong urat nadinya,  dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya (Al-Hāqqah [69]:39-48).
      Dalam ayat ini dan dalam tiga ayat sebelumnya keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila Nabi Besar Muhammad saw. ` itu pendusta, maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliausaw.  dan pasti beliau saw. telah menemui ajal yang pedih, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu. Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20 tentang nasib buruk yang pasti dialami nabi palsu.
   Pernyataan keras Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut pasti  berlaku pula di Akhir Zaman  ini bagi Mirza Ghulam Ahmad a.s., seandainya --  sebagaimana tuduhan para penentang beliau – bahwa beliau adalah seorang nabi palsu. Namun kenyataan membuktikan ancaman Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut tidak menimpa Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan Jemaat Ahmadiyah yang beliau dirikan atas perintah Allah Swt., guna mewujudkan kejayaan Islam kedua kali di Akhir Zaman ini. (QS.61:10).
   Dengan demikian benarlah perkataan “laki-laki pemberani” dari keluarga Fir’aun sebelum ini:
وَ  اِنۡ یَّکُ  کَاذِبًا فَعَلَیۡہِ کَذِبُہٗ ۚ وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ  بَعۡضُ الَّذِیۡ  یَعِدُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ  کَذَّابٌ
“Dan jika ia (Musa) seorang pendusta maka atas dialah kedustaannya, dan jika ia benar maka akan menimpa kamu sebagian dari apa yang diancamkannya  kepada kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan pembohong besar.” (Al-Mu’min [40]:29).     

Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   22 Januari      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar