Minggu, 23 Februari 2014

Makna "Penyembahan" Golongan Ins (Masyarakat Awam) Terhadap Golongan Jin (Para Pemuka Kaum)



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  161

     Makna Penyembahan Golongan Ins (Masyarakat Awam) Terhadap Golongan Jin (Para Pemuka Kaum)           

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai   laki-laki beriman dari kalangan keluarga Fir’aun  yang benar-benar  memiliki  pengetahuan yang luas mengenai  nasib buruk yang menimpa  kaum-kaum purbakala,  yang telah mendustakan dan berbuat zalim kepada para Rasul Allah yang diutus kepada kaum-kaum tersebut, firman-Nya: 

وَ قَالَ الَّذِیۡۤ  اٰمَنَ یٰقَوۡمِ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ  مِّثۡلَ  یَوۡمِ الۡاَحۡزَابِ ﴿ۙ﴾  مِثۡلَ  دَاۡبِ قَوۡمِ نُوۡحٍ وَّ عَادٍ وَّ ثَمُوۡدَ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ  بَعۡدِہِمۡ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا  لِّلۡعِبَادِ ﴿﴾  وَ یٰقَوۡمِ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ  یَوۡمَ التَّنَادِ ﴿ۙ﴾  یَوۡمَ تُوَلُّوۡنَ  مُدۡبِرِیۡنَ ۚ مَا  لَکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ  مِنۡ عَاصِمٍ ۚ وَ  مَنۡ یُّضۡلِلِ  اللّٰہُ  فَمَا لَہٗ  مِنۡ ہَادٍ ﴿﴾
Dan orang yang beriman berkata:  “Hai kaumku, sesungguhnya aku takut atas kamu seperti hari kebinasaan  golongan persekutuan,  seperti yang menimpa kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang sesudah mereka. Dan Allah  sekali-kali tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Dan hai kaumku, sesungguhnya aku takut  atas kamu   hari ketika orang-orang saling memanggil meminta pertolongan,  yaitu hari  ketika kamu akan berbalik ke belakang melarikan diri, tidak ada bagi kamu seorang pun penyelamat bagi kamu dari Allah. Dan siapa yang disesatkan Allah maka baginya tidak ada   pemberi petunjuk.” (Al-Mu’mīn [40]:30-34).

Itikad Sesat “Tidak  Ada Lagi Nabi  Berkenaan Wafatnya Nabi Yusuf a.s.

  Makna ayat  یَوۡمَ تُوَلُّوۡنَ  مُدۡبِرِیۡنَ یَوۡمَ التَّنَادِ ﴿ۙ﴾    --   hari ketika orang-orang saling memanggil meminta pertolongan,  yaitu hari  ketika kamu akan berbalik ke belakang melarikan diri”, yaitu hari ketika orang-orang akan ketakutan dan terpencar ke berbagai jurusan pada saat azab Ilahi yang dijanjikan Rasul Allah benar-benar terjadi secara tiba-tiba; atau bila mereka akan saling membenci dan tentang menentang dan akan menjadi terpisah, atau bila mereka seru menyeru meminta pertolongan (Aqrab-ul-Mawarid).
 Lebih lanjut laki-laki beriman yang pemberani tersebut melanjutkan da’wahnya di hadap Fir’aun dan para pembesarnya:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepada kamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.  Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu.  Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap (menyegel) setiap  hati orang sombong lagi sewenang-senang. (Al-Mu’mīn [40]:35-36).
  Laki-laki beriman  yang pemberani tersebut   nampaknya mengetahui pula   peristiwa   Nabi Yusuf a.s.  -- yang  kemudian  menjadi  seorang pejabat tinggi kepercayaan  Fir’aun  kerajaan Mesir pada masa itu (QS.55-58) -- yang terjadi sekitar 4 abad sebelumnya.
  Nabi-nabi telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam, tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak serta menentangnya;   dan   ketika ia wafa  lalu  orang-orang yang beriman kepada nabi itu berkata, tiada nabi akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya.

Makna Segolongan Jin yang Mendengarkan  Wahyu Al-Quran & Itikad Sesat “Tidak  Ada Lagi Nabi

   Mengisyaratkan kepada itikad sesat warisan kaum-kaum purbakala para penentang Rasul Allah itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini, firman-Nya:
وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul (Al-Jin [72]:8).
 Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan  serombongan jin dalam  Surah Al-Jin  ayat 2 bukanlah tentang makhluk halus yang disebut jin  melainkan mengisyaratkan kepada serombongan orang-orang Yahudi yang datang ke Mekkah dan pada malam hari mereka – karena takut penentangan dari para pemuka kota Mekkah    -- mereka bertemu dengan Nabi Besar Muhammad saw. secara sembunyi-sembunyi di suatu tempat pada malam hari,    untuk mendengar langsung wahyu Al-Quran  dari Nabi Besar Muhammad saw. -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ  اُوۡحِیَ  اِلَیَّ  اَنَّہُ  اسۡتَمَعَ  نَفَرٌ مِّنَ الۡجِنِّ فَقَالُوۡۤا  اِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡاٰنًا عَجَبًا  ۙ﴿﴾ یَّہۡدِیۡۤ  اِلَی الرُّشۡدِ فَاٰمَنَّا بِہٖ ؕ وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾ وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً وَّ لَا وَلَدًا ۙ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya  serombongan jin mendengarkan Al-Quran, lalu  mereka berkata: “Sesungguhnya  kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan.   Al-Quran itu memberi petunjuk kepada kebenaran, maka kami te-lah beriman kepadanya. Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami,  Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak, (Al-Jin [72]:1-4).
   Isyarat ini tertuju kepada segolongan orang Yahudi dari Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab dan karena mereka itu orang-orang asing  maka mereka disebut “jin”, yang berarti antara lain orang asing (Lexicon Lane). Peristiwa yang disebut dalam ayat ini nampaknya lain (berbeda) dari peristiwa  “serombongan jin” yang disebut dalam QS.46:30-33, meskipun ayat ini dianggap oleh beberapa sumber menunjuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat ini mempunyai kemiripan dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam QS.46:30-33.

Persamaan dan Perbedaan “Rombongan Jin  dalam Surah Al-Ahqaf    dengan “Rombongan Jin  dalam Surah Al-Jin 

   Persamaannya kedua Surah tersebut adalah bahwa yang dimaksud dengan “golongan jin  tersebut adalah mengisyaratkan kepada golongan Ahlikitab atau orang-orang Yahudi;  sedangkan perbedaannya adalah  golongan jin” dalam QS.46:30-33  dengan jelas menyebutkan bahwa Al-Quran adalah  Kitab  yang diturunkan sesudah  Musa” -- hal ini mengisyaratkan bahwa mereka itu adalah orang-orang Yahudi yang beriman kepada Taurat yang diwahyukan kepada Nabi Musa a.s. -- sedang “golongan jin” yang dikemukakan dalam QS.72:1-16 menyinggung kepercayaan agama Kristen  bahwa “Tuhan memiliki  anak laki-laki”, sebagaimana  dikemukakan ayat berikut ini:  وَ لَنۡ نُّشۡرِکَ بِرَبِّنَاۤ   اَحَدًا ۙ﴿﴾           وَّ اَنَّہٗ  تَعٰلٰی جَدُّ  رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَۃً  وَّ لَا وَلَدًا   -- Dan kami  tidak akan pernah menyekutukan seseorang dengan Rabb (Tuhan) kami, dan sesungguhnya Maha Luhur Keagungan Rabb (Tuhan) kami,  Dia sekali-kali tidak beristri dan tidak pula beranak” (Al Jin [72]:3-4).
      Ayat tersebut menunjukkan bahwa “serombongan jin” itu  adalah orang-orang Kristen yang berpegang kepada Tauhid, atau orang-orang Yahudi, yang bersekutu erat dengan mereka , atau  yang karena ada di bawah pengaruh mereka – baik dalam sikap dan hubungan dengan paham-paham Kristen. Selanjutnya  pemimpin rombongan “jin” tersebut berkata:
وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾  وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah.  Dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah. Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari ins (manusia)  yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka,” (Al Jin [72]:5-7).
  Karena kata rijāl hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam ayat-ayat ini (QS.72:1-16 dan dalam Surah Al-Ahqāf (QS.46:30-33) itu adalah  manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun, yakni bukan golongan makhluk halus yang juga disebut jin.
  Penyebutan “jin” dan “syaitan” berkenaan dengan “orang-orang asing   atau “orang kafir” dipergunakan juga dalam Al-Quran berkenaan dengan Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. (QS.21:79-83; QS.34:11-15; QS.38:31-41).  Dengan demikian kata bahasa Arab jin  dalam QS.72:5-7 sebelum ini dapat berarti  pula orang-orang besar dan berpengaruh, dan ins – orang-orang rendah dan hina atau orang-orang awam (umum).

Penyembahan Golongan Ins  Terhadap “Jin-jin” di Kalangan Ahlikitab

    Menurut ayat tersebut bahwa  ketaatan golongan ins  (masyarakat awam) terhadap golongan jin   (para pembesar kaum mereka) serta secara taqlid mencari perlindungan dari mereka itu (golongan jin), maka hal tersebut telah  meningkatkan kesombongan dan keangkuhan mereka.
  Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini mengenai kemusyrikan yang terjadi kalangan Ahli-Kitab (Yahudi dan Nashrani)   -- yakni penyembahan yang dilakukan golongan ins terhadap golongan jin:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka de-ngan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal  mereka tidak dipe-rintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. (At-Taubah [9]:30-31).
      ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi.     
    ‘Uzair atau Ezra mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil. Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting.
     Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.  Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish  Encyclopaedia & Encyclopaedia  Biblica).
       Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani yang dimaksud oleh ayat  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- “Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”

Pewarisan Itikad Sesat “Tidak  Ada Lagi Nabi  dari  Zaman ke Zaman

     Dengan demikian jelaslah makna  penyembahan terhadap  golongan jin  oleh golongan ins (manusia) yang dimaksud  dalam Surah Jin sebelum ini: 
وَّ اَنَّہٗ  کَانَ یَقُوۡلُ سَفِیۡہُنَا عَلَی اللّٰہِ شَطَطًا ۙ﴿﴾  وَّ اَنَّا ظَنَنَّاۤ  اَنۡ  لَّنۡ تَقُوۡلَ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا ۙ﴿﴾  وَّ  اَنَّہٗ کَانَ رِجَالٌ مِّنَ الۡاِنۡسِ یَعُوۡذُوۡنَ بِرِجَالٍ  مِّنَ  الۡجِنِّ فَزَادُوۡہُمۡ  رَہَقًا ۙ﴿﴾   وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya  orang-orang bodoh di antara kami berkata dusta berlebihan terhadap Allah.  Dan sesungguhnya  kami menyangka ins (manusia) dan jin   tidak akan pernah mengatakan perkataan  dusta terhadap Allah. Dan sesungguhnya   ada beberapa orang dari ins (manusia)  yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin maka  menambah kesombongan mereka.  Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul” (Al Jin [72]:5-8).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   24 Januari      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar