Rabu, 19 Februari 2014

Keimanan yang Hakiki kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya Menimbulkan Keberanian Menghadapi Penderitaan di Jalan Allah Swt.



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab  158

     Keimanan yang Hakiki kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya Menimbulkan Keberanian Menghadapi Penderitaan di Jalan Allah Swt.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

P
ada  akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai,  penolakan Bani Israil untuk memasuki  Kanaan – “negeri yang dijanjikan” --  kepada mereka ketika mereka diajak oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. untuk  memasukinya (QS.5:21-27), bahwa  hal itu merupakan bukti  keberhasilan Fir’aun melakukan politik  divide et impera (memecah-belah dan menjajah), yang telah membuat umumnya Bani Israil kehilangan sifat-sifat kejantanan (keperwiraan) mereka, sebagaimana dihendaki oleh Fir’aun dengan membunuh anak-anak lak-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka (QS.2:50; QS.7:128 & 142; QS.28:5).
        Bahkan, ketika Nabi Musa a.s. mendakwaan  kerasulan beliau  di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya,  hanya  beberapa orang  pemuda Bani Israil sajalah yang berani menyatakan  beriman kepada Nabi Musa a.s. (QS.10:84), sedangkan kebanyakan Bani Israil takut kepada kezaliman Fir’aun,  bahkan mereka menyalahkan Nabi Musa  a.s. dengan semakin beratnya penderitaan  mereka setelah kedatangan Nabi Musa a.s. (QS.7:128-130).
       Justru yang kemudian memperlihatkan keberanian  menyatakan beriman kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya adalah  tukang-tukang sihir, setelah pengaruh sihir mereka yang hebat dilenyapkan oleh lemparan tongkat Nabi Musa a.s.. Mereka  benar-benar tidak mempedulikan ancaman sadis  Fir’aun  kepada mereka (QS.7:110-127), firman-Nya:
وَ اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنۡ اَلۡقِ عَصَاکَ ۚ فَاِذَا  ہِیَ تَلۡقَفُ  مَا  یَاۡفِکُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَوَقَعَ الۡحَقُّ وَ بَطَلَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ۚ  فَغُلِبُوۡا ہُنَالِکَ وَ انۡقَلَبُوۡا صٰغِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ اُلۡقِیَ  السَّحَرَۃُ  سٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ۚۖ  قَالُوۡۤا  اٰمَنَّا  بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  رَبِّ  مُوۡسٰی  وَ ہٰرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami mewahyukan kepada Musa:  Lemparkanlah tongkat engkau!” Maka tiba-tiba tongkat itu nampak seperti menelan  apa yang   dibuat-buat mereka. Maka tegaklah yang benar dan lenyaplah yang telah mereka kerjakan.   Lalu  mereka dikalahkan di situ dan kembalilah mereka dalam keadaan terhina.  Dan   tukang-tukang sihir itu jatuh bersujud.   Mereka berkata: “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan) seluruh alam, Rabb (Tuhan) Musa dan Harun.”  (Al-A’rāf [7]:118-123). 
       Bukan “ular” yang terbuat dari tongkat itu, melainkan tongkat itu sendiri yang menggagalkan daya sihir tukang-tukang sihir. Tongkat Nabi Musa a.s.  yang diberi daya oleh kekuatan ruhani seorang Nabi Besar dan dilemparkan atas perintah Allah Swt., menyingkap kedok penipuan yang telah dilakukan mereka atas penonton-penonton dan menghancurkan berkeping-keping barang-barang yang dengan kekuatan sihir mereka, telah menyebabkan penonton-penonton menyangka  atau mengkhayal  seakan-akan ular-ular sungguhan. 
      Kalimat “tongkat itu menelan apa-apa yang disihir mereka” maksudnya adalah bahwa  tongkat yang dilemparkan oleh Nabi Musa a.s. tersebut  segera menyingkapkan tabir tipu-daya  yang dilakukan oleh tukang-tukang sihir itu. “Menelan” mengandung arti “membinasakan pengaruh atau meniadakan kesan yang ditimbulkan oleh sesuatu.”

Kehinaan yang Menimpa Fir’aun dan Para Pembesarnya

       Ayat   فَغُلِبُوۡا ہُنَالِکَ وَ انۡقَلَبُوۡا صٰغِرِیۡنَ  -- “Lalu  mereka dikalahkan di situ dan kembalilah mereka dalam keadaan terhina agaknya mengisyaratkan kepada Fir’aun dan pemuka-pemukanya   -- dan bukan kepada tukang-tukang sihir. Adapun ihwal tukang-tukang sihir diterangkan di dalam ayat berikutnya.
    Kata “terhina” tidak boleh ditujukan kepada orang-orang yang memperlihatkan rasa hormat demikian rupa terhadap kebenaran sehingga menerima kebenaran itu tanpa menanti keputusan   Fir’aun atas hal itu. Artinya ialah, mereka (Fir’aun dan pemuka-pemukanya) yang beberapa saat sebelumnya telah datang ke tempat pertarungan dengan sikap sombong lagi angkuh dan merasa yakin akan menang, sekarang  mereka pulang dengan perasaan terhina dan kecewa.
     Kekalahan tukang-tukang sihir itu begitu telaknya sehingga nampaknya seolah-olah suatu kekuatan tersembunyi telah melenyapkan landasan tempat kaki mereka berpijak. Mereka tersungkur dan bersujud di atas lantai dalam sikap ibadah dan merendahkan diri di hadapan  Allah Swt., itulah makna ayat      وَ اُلۡقِیَ  السَّحَرَۃُ  سٰجِدِیۡنَ   ۚۖ    -- “Dan   tukang-tukang sihir itu jatuh bersujud.  قَالُوۡۤا  اٰمَنَّا  بِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ   ۙ     --     Mereka berkata: “Kami beriman kepada Rabb (Tuhan) seluruh alam,   رَبِّ  مُوۡسٰی  وَ ہٰرُوۡنَ   --  Rabb (Tuhan) Musa dan Harun.”  
    Menyaksikan  peristiwa yang sama sekali tidak diduga tersebut Fir’aun memuntahkan kemurkaaannya   kepada tukang-tukang sihir tersebut, firman-Nya:
قَالَ فِرۡعَوۡنُ اٰمَنۡتُمۡ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ اٰذَنَ لَکُمۡ ۚ اِنَّ ہٰذَا لَمَکۡرٌ  مَّکَرۡتُمُوۡہُ فِی الۡمَدِیۡنَۃِ  لِتُخۡرِجُوۡا مِنۡہَاۤ  اَہۡلَہَا ۚ فَسَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  لَاُقَطِّعَنَّ اَیۡدِیَکُمۡ وَ اَرۡجُلَکُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ ثُمَّ لَاُصَلِّبَنَّکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾ 
Fir’aun berkata: “Apakah kamu telah beriman terhadapnya sebelum kamu aku beri izin? Sesungguhnya  ini  benar-benar makar yang   kamu telah merancangnya dalam kota supaya kamu dapat mengusir penduduknya  dari kota maka kamu segera akan  mengetahui akibatnya.  Niscaya aku akan memotong tangan kamu dan kaki kamu karena pembangkangan kamu, kemudian niscaya aku akan menyalib kamu semuanya.”    (Al-A’rāf [7]:118-126). 
       Perkataan Fir’aun:   اٰمَنۡتُمۡ بِہٖ قَبۡلَ اَنۡ اٰذَنَ لَکُمۡ   -- “Apakah kamu telah beriman terhadapnya sebelum kamu aku beri izin?” benar-benar merupakan ucapan yang sangat takabbur  karena ia telah mengklaim bahwa  masalah beriman dan tidak berimannya  orang-orang kepada Tuhan yang disembah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. harus terlebih dulu mendapat izin darinya (QS.20:72; QS.26:50), sebab  Fir’aun menganggap dirinya sebagai “tuhan sembahan (QS.26:30; QS.28:39), bahkan  Fir’aun  dengan takabbur menganggap dirinya “Tuhan yang  Maha tinggi” QS.79:25.
        Oleh karena itu ketika Fir’aun dengan takabbur memerintahkan  kepada Haman   --  pemimpin para pendeta Mesir -- untuk membuat bangunan tinggi (menara) untuk mengintai (melihat) keberadaan “Tuhan” yang disembah Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun  a.s. (QS.40:37-38), maka Allah Swt. telah membuat Fir’aun melihat keberadaan dan kekuasaan “Tuhan” sembahan Nabi Musa a.s.  dan Nabi Harun  a.s. bukan di ketinggian langit melainkan di lautan ketika ia akan mati tenggelam (QS.10:91-93). Demikianlah  cara Allah Swt.  menghinakan orang-orang yang takabbur.
      Kata-kata “penduduknya”  dalam ucapan Fir’aun  لِتُخۡرِجُوۡا مِنۡہَاۤ  اَہۡلَہَا -- “supaya kamu dapat mengusir penduduknya  dari kota” yang dimaksud adalah kaum Fir’aun sendiri,  yang adalah bukan penduduk asli Mesir, tetapi telah merebut negeri itu dari penduduk pribumi.

Keimanan yang Hakiki  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya Menumbuhkan Kejantanan Hakiki  

      Ancaman Fir’aun  terhadap tukang-tukang sihir  yang dilandasi oleh rasa kecewa, rasa malu dan rasa terhina benar-benar menampakkan  kemurkaannya yang hebat, لَاُقَطِّعَنَّ اَیۡدِیَکُمۡ وَ اَرۡجُلَکُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ ثُمَّ لَاُصَلِّبَنَّکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ  -- “Niscaya aku akan memotong tangan kamu dan kaki kamu karena pembangkangan kamu, kemudian niscaya aku akan menyalib kamu semuanya.”
      Walaupun penyaliban berarti kematian yang penuh dengan kesakitan, hukuman penggal tangan dan kaki ditambahkan pula untuk membuat penganiayaan itu dirasakan lebih keras lagi dan kematiannya lebih hebat lagi pedihnya. Secara sepintas lalu ayat ini menunjukkan bahwa di zaman Nabi Musa a.s.  pun hukuman mati dengan dipalangkan di atas kayu salib itu sudah lazim dijalankan.
      Dapat juga ayat tersebut diartikan sebagai hukuman potong tangan dan kaki secara bersilangan.  Kata nuqattilu adalah dalam bentuk kesangatan dan mengandung arti pembunuhan yang tidak mengenal belas kasihan dan melalui proses lamban dan berangsur-angsur.
       Terhadap ancaman mengerikan Fir’aun tersebut   tukang-tulang sihir itu   --- yang sebelumnya meminta upah kepada Fir’aun  jika mereka unggul dalam pertandingan  melawan Nabi Musa a.s. (QS.7:114-115; QS.26:42-43) --  mereka benar-benar memperlihatkan keberanian yang luar biasa, firman-Nya:
قَالُوۡۤا اِنَّاۤ  اِلٰی رَبِّنَا مُنۡقَلِبُوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ مَا تَنۡقِمُ مِنَّاۤ  اِلَّاۤ  اَنۡ  اٰمَنَّا بِاٰیٰتِ رَبِّنَا لَمَّا جَآءَتۡنَا ؕ رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا  وَّ تَوَفَّنَا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾٪
Mereka berkata: “Sesungguhnya Kami  kepada Rabb (Tuhan) kamilah  akan kembali. Dan  sekali-kali tidaklah  engkau menuntut balas dari kami melainkan karena kami telah beriman kepada Tanda-tanda Rabb (Tuhan) kami tatkala Tanda-tanda itu datang kepada kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri.” (Al-A’rāf [7]:126-127). 
        Jadi, betapa  keimanan yang hakiki kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya,  telah membuat para pengikut Rasul Allah benar-benar menjadi para  laki-laki pemberani” yang siap mengalami  kezaliman dari para penentang Rasul Allah, sebagaimana yang diperagakan oleh tukang-tukang sihir tersebut.

Seorang laki-laki  dari Keluarga Fir’aun  Yang Datang Berlari-lari

       Dari Al-Quran diketahui, bahwa  ketika Nabi Musa a.s. berdakwah kepada Fir’aun dan para pembesarnya, ternyata di kalangan keluarga  Fir’aun pun ada “seorang laki-laki” pemberani yang tampil membela Nabi Musa a.s. dan Nabi harun a.s., firman-Nya:
وَ جَآءَ رَجُلٌ مِّنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ یَسۡعٰی ۫ قَالَ یٰمُوۡسٰۤی  اِنَّ الۡمَلَاَ یَاۡتَمِرُوۡنَ بِکَ لِیَقۡتُلُوۡکَ فَاخۡرُجۡ  اِنِّیۡ لَکَ  مِنَ  النّٰصِحِیۡنَ ﴿﴾  فَخَرَجَ مِنۡہَا خَآئِفًا یَّتَرَقَّبُ ۫ قَالَ  رَبِّ نَجِّنِیۡ مِنَ الۡقَوۡمِ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾   
Dan seorang laki-laki datang dari bagian yang jauh kota itu dengan berlari-lari, ia berkata:  “Hai Musa, sesungguhnya pemuka-pemuka sedang berunding mengenai diri engkau untuk membunuh engkau maka keluarlah engkau,  sesungguhnya aku bagi engkau termasuk orang-orang yang memberi nasihat yang tulus.” Maka ia (Musa) keluar darinya dalam keadaan takut sambil waspada. Ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”    (Al-Qashash [28]:20-21).
       “Laki-laki  pemberani”  -- yang sebelumnya menyembunyikan keimanannya  kepada Nabi Musa a.s.  tersebut -- tersebut  telah tampil  membela Nabi Musa a.s.   bahkan berdakwah -- di hadapan Fir’aun dan para pembesarnya secara lantang, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا مُوۡسٰی بِاٰیٰتِنَا وَ سُلۡطٰنٍ مُّبِیۡنٍ ﴿ۙ﴾  اِلٰی فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ قَارُوۡنَ فَقَالُوۡا سٰحِرٌ کَذَّابٌ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡحَقِّ مِنۡ عِنۡدِنَا قَالُوا اقۡتُلُوۡۤا اَبۡنَآءَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ وَ اسۡتَحۡیُوۡا نِسَآءَہُمۡ ؕ وَ مَا کَیۡدُ الۡکٰفِرِیۡنَ   اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ قَالَ فِرۡعَوۡنُ  ذَرُوۡنِیۡۤ  اَقۡتُلۡ مُوۡسٰی وَ لۡیَدۡعُ  رَبَّہٗ ۚ  اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اَنۡ یُّبَدِّلَ دِیۡنَکُمۡ اَوۡ اَنۡ یُّظۡہِرَ فِی الۡاَرۡضِ الۡفَسَادَ ﴿﴾  وَ قَالَ مُوۡسٰۤی اِنِّیۡ عُذۡتُ بِرَبِّیۡ وَ رَبِّکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مُتَکَبِّرٍ لَّا یُؤۡمِنُ بِیَوۡمِ الۡحِسَابِ ﴿٪﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan Tanda-tanda Kami dan dalil yang nyata,  kepada Fir’aun, Haman dan Qarun,  lalu mereka berkata: “Ia tukang sihir dan pendusta besar!”   Maka tatkala ia  (Musa) datang kepada mereka dengan kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata:  Bunuhlah   anak laki-laki mereka yang telah beriman beserta dia, dan biarkanlah hidup perempuan-perempuan mereka.” Dan sekali-kali tidaklah tipu-daya  orang-orang kafir itu kecuali sia-sia.   Dan Fir’aun berkata: “Biarkanlah aku membunuh Musa dan supaya dia menyeru Rabb-nya (Tuhan-nya),  sesungguhnya aku takut bahwa ia akan meng-ubah agama kamu atau menimbulkan kerusakan di  bumi.”   Dan Musa berkata:  Aku berlindung kepada Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu dari setiap orang-orang yang sombong yang tidak beriman kepada Hari Perhitungan.” (Al-Mu’mīn [40]:24-28).
     Tiap-tiap nabi Allah mempunyai Fir’aun, Haman dan Qarunnya sendiri. Nama-nama itu masing-masing  melambangkan sifat kekuasaan, pejabat keagamaan, dan kekayaan harta, seperti halnya Haman itu kepala pejabat keagamaan, dan Qarun itu seorang yang kaya raya di antara kaum bangsawan Fir’aun.
      Kekuasaan politik tanpa batas, golongan pejabat keagamaan yang berwatak suka menjilat, dan nafsu kapitalisme yang tidak terkendalikan merupakan tiga keburukan yang senantiasa menghambat dan menghentikan pertumbuhan politik, ekonomi, akhlak, dan ruhani suatu bangsa, dan tentunya terhadap musuh-musuh manusia itulah para Pembaharu Suci – yakni para Rasul Allah -- telah melancarkan perang sengit di sepanjang zaman.

Pembelaan “Seorang Laki-laki Pemberani dari Keluarga Fir’aun

       Itulah sebabnya  para Rasul Allah dan para pengikut mereka    di setiap zaman  mendapat penentangan hebat dari  pihak-pihak yang dalam Al-Quran dilambangkan oleh Fir’aun, Haman dan Qarun tersebut. Dan  dalam menghadapi perlawanan hebat  ketiga pihak yang bersekutu tersebut   para Rasul Allah hanya meminta perlindungan dan pertolongan kepada Allah Swt. saja, Tuhan  seluruh alam yang telah  mengutus mereka.
  Allah Swt.  merupakan tempat berlindung terakhir bagi para nabi Allah dan para pilihan Tuhan. Mereka menutup pintu-Nya  bila mereka melihat kegelapan di sekitar mereka dan bila kekuatan-kekuatan kejahatan bertekad melenyapkan kebenaran yang dianjurkan dan disebarkan mereka. Itulah makna ayat    وَ قَالَ مُوۡسٰۤی اِنِّیۡ عُذۡتُ بِرَبِّیۡ وَ رَبِّکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مُتَکَبِّرٍ لَّا یُؤۡمِنُ بِیَوۡمِ الۡحِسَابِ  – “Dan Musa berkata:  Aku berlindung kepada Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu dari setiap orang-orang yang sombong yang tidak beriman kepada Hari Perhitungan”.
   Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mengemukakan “seorang laki-laki pemberani” dari kalangan keluarga Fir’aun  -- yang sebelumnya “menyembunyikan keimanannya” kepada Nabi Musa a.s.  --   ia  dengan berani tampil membela  kebenaran da’wah Nabi Musa a.s. yang disampaikan kepada Fir’aun dengan dalil-dalil (argumentasi) yang sangat akurat, firman-Nya:
وَ قَالَ رَجُلٌ  مُّؤۡمِنٌ ٭ۖ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ یَکۡتُمُ  اِیۡمَانَہٗۤ  اَتَقۡتُلُوۡنَ رَجُلًا  اَنۡ یَّقُوۡلَ رَبِّیَ اللّٰہُ وَ قَدۡ جَآءَکُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ؕ وَ  اِنۡ یَّکُ  کَاذِبًا فَعَلَیۡہِ کَذِبُہٗ ۚ وَ اِنۡ یَّکُ صَادِقًا یُّصِبۡکُمۡ  بَعۡضُ الَّذِیۡ  یَعِدُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ مُسۡرِفٌ  کَذَّابٌ ﴿﴾
Dan berkata seorang laki-laki yang beriman dari kaum Fir’aun yang menyembunyikan imannya,  Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia mengatakan: “Rabb-ku (Tuhan-ku) adalah Allah,  padahal    ia telah da-tang kepada kamu dengan Tanda-tanda nyata dari Rabb  (Tuhan) kamu?  Dan jika ia seorang pendusta maka atas dialah kedustaannya, dan jika ia benar maka akan menimpa kamu sebagian dari apa yang diancamkannya  kepada  kamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan pembohong besar.” (Al-Mu’mīn [40]:29).
    Orang  beriman yang  menyembunyikan imannya   -- untuk menampakkannya pada kesempatan yang cocok dengan  cara yang tegas dan berani dalam menyatakan imannya dan berbicara kepada kaum Fir’aun -- menunjukkan bahwa penyembunyian imannya itu tidaklah disebabkan oleh perasaan takut.

Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,   21 Januari      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar