Selasa, 11 November 2014

"Hawaariyyiin" Akhir Zaman & Kedatangan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Sebagai "As-Saa'ah" (Tanda Kiamat)



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   354

Hawāriyyīn  Akhir Zaman & Kedatangan   Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Sebagai As-Sā’ah (Tanda Kiamat)

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya  telah dijelaskan ayat  mengenai    maksud dengan kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam hadits oleh Nabi Besar Muhammad saw.   adalah misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  yakni  Al-Masih Mau’ud a.s., salah seorang dari  para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
 وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  --  tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا -- mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ   -- bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Az-Zukhruf [43]:58-60).

Pengulangan Pendustaan Terhadap Yesus Kristus di Akhir Zaman  & Nubuatan yang  Berulang Lagi di Akhir Zaman

       Shadda (yashuddu)  dalam ayat اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ   -- “tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).
        Padahal Allah Swt. dengan tegas telah memerintahkan umat Islam untuk meniru sikap golongan hawāriyyīn   -- bukan meniru kezaliman para pemuka agama Yahudi yang berusaha membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.4:158-159) – firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada  pengikut-pengikutnya, مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ -- “siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?”  قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ    --  pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah.” فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ  -- maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ  -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang. (Ash-Shaff [61]:15).
   Dari ketiga golongan agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menyampaikan tablighnya – kaum Farisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  termasuk golongan terakhir (kaum Essenes) sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah untuk kalangan Bani Israil.    
    Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum inilah berasal bagian besar dari para pengikut beliau di masa permulaan yaini para hawariyyin (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Para Penolong” oleh Eusephus, sebagaimana dalam firman Allah Swt. tersebut.
  Kata-kata penutup Surah ini: فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ  -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”,   sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi.
     Kaum Nashrani   telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”), karena mereka bukan saja telah kehilangan “nikmat kenabian” tetapi juga telah kehilangan “nikmat kerajaan” sehingga mereka tidak lagi memiliki “tanah-air” (negara) selama 2000 tahun, akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. karena  kedurhakaan mereka (QS.5:79-81; QS.2:88-89; QS.17:5-9).
         Jadi, kedatangan Al-Masih a.s.  selain sebagai tanda  as-Sā’ah (tanda Kiamat) bagi Bani Israil, juga sebagai tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian dan tanah-air (negeri yang dijanjikan) untuk selama-lamanya.

Kejadian yang Berulang di Kalangan Umat Islam

        Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum  Nabi Besar Muhammad saw.  — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui  akhlak dan ruhani mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka dari bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya dalam wujud Al-Masih Mau’ud a.s..
       Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. mengenai orang-orang Yahudi dan Nasrani    -- yang orang-orang lainnya yang seperti mereka di kalangan umat Islam   -- bahwa mereka akan saling menghujat satu sama lain,    firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi mengatakan:  Orang-orang Nasrani sekali-kali  tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,” dan orang-orang Nasrani mengatakan:  Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas  sesuatu kebenaran.” وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ  -- padahal mereka membaca Kitab yang sama.  کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  -- demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu, فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ  -- maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka per-selisihkan. (Al-Baqarah [112-113).
         Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman membantah pernyataan dusta mereka   -- dan juga orang-orang yang seperti mereka: کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  -- demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu, فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ  -- maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka per-selisihkan”,  Allah Swt. berfirman:  بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ   --  Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah,  وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ  --  dan ia berbuat ihsan,     maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ  --    tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:113).

Saling Mengkafirkan di Kalangan Sekte (Firqah) Muslim   & “Agama Fitrah”

        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai perselisihan hebat yang terjadi di kalangan Ahli Kitab   -- yakni antara kaum Yahudi dan Nashrani:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi mengatakan: لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ  --  Orang-orang Nasrani sekali-kali  tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,” dan orang-orang Nasrani mengatakan:  النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ --  Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas  sesuatu kebenaran.”   وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ -- padahal mereka membaca Alkitab yang sama. کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  -- demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu, فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ  -- maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. (Al-Baqarah [2]:114).
        Pernyataan Allah Swt. mengenai keburukan yang terjadi di kalangan  golongan Ahli Kitab tersebut  terjadi juga di kalangan  berbagai firqah (sekte) umat Islam, padahal mereka    membaca Al-Quran yang sama, dengan demikian benarlah firman-Nya:  کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  -- demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu.”  
       Yakni di kalangan berbagai firqah Islam pun  bukan saja satu sama lain saling mengkafirkan  dan saling menyatakan pihak lain sebagai  golongan yang sesat dan menyesatkan, tetapi juga mereka satu sama lain saling mendakwakan bahwa “tidak akan ada yang masuk surga kecuali firqah (sekte) mereka”, karena masing-masing firqah Islam tersebut  meyakini bahwa mereka itulah fihak yang paling benar pemahaman dan pengamalannya mengenai Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allahitulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat,  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ   -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا  --  yaitu orang-orang yang me-mecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ --    tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Rūm [30]:31-32).

Fitrah Allah” dan “Dīnul Fitrah” (Agama Fitrah)

         Ayat 31 menjelaskan bahwa  Tuhan adalah  Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia (QS.7:173-175) — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri.
       Menurut Nabi Besar Muhammad saw. di dalam “agama“ inilah seorang bayi dilahirkan  dalam keadaan suci, akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari), yang kemudian berpecah-belah dan  saling mengkafirkan, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi mengatakan:  Orang-orang Nasrani sekali-kali  tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,” dan orang-orang Nasrani mengatakan:  Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas  sesuatu kebenaran.” وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ  -- padahal mereka membaca Kitab yang sama.  کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  -- demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu, فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ  -- maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka per-selisihkan. (Al-Baqarah [112-113).

 Allah Swt.  Kemurkaan  Terhadap  Para  Perusak “Rumah-rumah Ibadah”

       Surah Ar- Rūm ayat 32 lebih jauh menjelaskan, bahwa hanya semata-mata percaya (iman) kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan   --  yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki   -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalatlah yang harus mendapat prioritas utama, firman-Nya:
مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat,  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ   -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. (Ar-Rūm [30]:32).
         Ayat 33 mengemukakan keburukan yang ditimbulkan   perpecahan umat  -- yang merupakan suatu bentuk kemusyrikan  --  bahwa penyimpangan dari agama sejati (agama fitrah) menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran (sekte dan firqah) yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa berkepanjangan di antara mereka,  firman-Nya: مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا  -- yaitu orang-orang yang me-mecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ --   tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Rūm [30]:33).
       Terjadinya kemusyrikan berupa  perpecahan umat beragama tersebut  sering kali berujung kepada tindak kekerasan terhadap harta dan jiwa sesama umat beragama, yakni timbul   pertumpahan darah dan korban jiwa yang tak terhingga, sebagaimana dikemukakan Allah Swt. dalam  firman-Nya berikut ini:
وَ مَنۡ اَظۡلَمُ  مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی فِیۡ خَرَابِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ مَا کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ لَہُمۡ  فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi orang yang menyebut nama-Nya di dalam mesjid-mesjid Allah dan berupaya merobohkannya? Mereka itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut. لَہُمۡ  فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  -- bagi mereka ada kehinaan di dunia,  dan bagi mereka azab yang besar di akhirat. (Al-Baqarah [2]:115). 
       Ayat ini merupakan tudingan keras terhadap mereka yang membawa perbedaan-perbedaan agama mereka sampai ke titik runcing, sehingga malahan tidak segan-segan merobohkan atau menodai tempat-tempat beribadah milik agama-agama lain.
      Mereka menghalang-halangi orang menyembah Tuhan di tempat-tempat suci mereka sendiri dan malahan bertindak begitu jauh, hingga membinasakan rumah-rumah ibadah mereka. Tindakan kekerasan demikian di sini dicela llah Swt. dengan kata-kata keras dan di samping itu ditekankan ajaran toleransi dan berpandangan luas.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                             ***
Pajajaran Anyar,  21 Oktober     2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar