Sabtu, 17 Mei 2014

Perbedaan Kualitas FanafilLaah yang Dialami Para Wali Allah dan Para Nabi Allah



 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab   221

Perbedaan Kualitas FanafilLāh  yang Dialami Para Wali Allah dan Para Nabi Allah

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam   akhir Bab sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai  makna kata      dalam ayat  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی     --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukankadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-al-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah menurunkan wahyu Al-Quran  kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!, firman-Nya:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾    فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾    اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    -- lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.   مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.   Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  -- dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی --  dekat pohon Sidrah tertinggi,          عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  -- yang di dekatnya ada surga tempat tinggal.  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.   مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی       --  penglihatannya  sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.    لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی    -- sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya.  (An-Najm [53]:9-19).

Kesempurnaan Penglihatan Hati Nabi Besar Muhammad Saw.

    Ayat  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat” bahwa pada hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  dalam peristiwa mi’raj tersebut  adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..
       Makna ayat        وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  --  “dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali” bahwa  kasyaf  (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.   itu suatu pengalaman ruhani berganda.
 Makna ayat    عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی --  dekat pohon Sidrah tertinggi,     yaitu bahwa pada waktu mi’raj,  Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) sangat  tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi; sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah.
   Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran Islam  (Al-Quran)  yang diwahyukan  Allah Swt. kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak hanya kebal (terpelihara) terhadap bahaya kerusakan (QS.15:10),  melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akhlak dan  ruhani, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.    (Al-Hijr [15]:10).
Firman-Nya lagi:
   اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,   dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguh-nya Allāh sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
        Semua agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam Islam (Al-Quran) sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.   dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi.
    Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allāh) dalam arti  yang sebenarnya. meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.    dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan demikian telah terjadi. Jadi  dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Allah, dalam arti kata yang sebenarnya.

Arti Ikmāl (Menyempurnakan) dan Itmām (Melengkapkan)

        Semua agama yang benar, lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah  (QS.22:79), tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran, firman-Nya:  
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan  telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).
         Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan). 
        Kata  Ikmāl (menyempurnakan) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang  itmām (melengkapkan)  berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.  Atad dasar kenyataan tersebut dalam Surah lain Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya  umat manusia menerima dan mengamalkan agama Islam  (Al-Quran), firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran [3]:86).
       Kata-kata “yang menutupi  dalam ayat     اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی          -- “ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi”,  maknanya ialah penjelmaan Ilahi atau tajalliyyati Ilahiyah  yang paling sempurna, yang mengenainya  hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang mampu  menerima dan mengamalkannya, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, akan sedangkan insan (manusia) memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.  Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan, dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki   dan perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Ahzāb [33]:73-74).

Perbedaan Kesempurnaan Tingkatan Fanafillāh yang Dialami Para Wali Allah dan Para Nabi Allah

       Mengenai firman Allah Swt. ini telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya  mengenai  makna zhalim dan jahul  berkenaan dengan Insan Kamil (manusia sempurna) yakni Nabi Besar Muhammad saw. dan hubungannya dengan makna “pingsannya” Nabi Musa a.s. dalam QS.7:144  akibat hebatnya “gunjangan” yang ditimbulkan  oleh hancurnya gunung karena tidak mampu menerima Tajalliyat Ilahiyah  (Penjelmaan Keagungan Tuhan), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ﴿﴾
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-Nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.”  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- maka  tatkala  Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.”  (Al-A’rāf [7]:144).
         Dari keberadaan para Rasul Allah di setiap tingkatan langit yang berbeda-beda ketinggiannya dalam peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw., dan  dari peristiwa ruhani  “pingsannya”   Nabi Musa a.s.  tersebut dapat ditarik kesimpulan,  bahwa tingkatan  fāna fillāh  yang dialami para wali Allah dan para nabi Allah  tidak sama kesempurnaannya.
        Oleh karena itu  keliru jika  ada yang beranggapan bahwa ketika seorang wali Allah yang mengalami “kemabukan ruhani” pada saat mengalami fāna fillāh   -- seperti yang dialami oleh Abu Yaziz al-Bisthami dan Mansyur “Al-Hallaj”   --   bahwa  mereka telah mencapai tingkatan puncak  persatuan (manunggal)   dengan   Allah Swt. sebagaimana yang dipercayai  atau disalah-tafsirkan oleh golongan penganut faham Wihdatul Wujud  atau hulul  ajaran Syeikh Ibnu ‘Arabi atau pun ajaran Abu Yaziz al-Bisthami dan Mansyur “Al-Hallaj.”  
       Kenapa demikian? Sebab dari ayat   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی   --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi” (QS.53:9-10) diketahui, bahwa terjadinya “pertemuan”  (manunggal) antara seseorang hamba Allah Swt. dengan Allah Swt. dalam tingkatan  fāna fillāh  adalah karena Allah Swt.  bergerak “turun mendekati” hamba-hamba-Nya yang bergerak “naik mendekati” kepada-Nya.
         Dengan demikian tingkatan kualitas fāna fillāh    Nabi Adam a.s. berbeda dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Yahya a.s., demikian juga antara  fāna fillāh  Nabi Musa a.s.   berbeda kualitasnya  dengan fāna fillāh  Nabi Ibrahim a.s.., terlebih lagi jika dibandingkan  dengan kualitas  fāna fillāh   sempurna Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.6:162-164) yang telah mencapai “Sidratul Muntaha”, firman-Nya:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾    فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾    اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    -- lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.   مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.   Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  -- dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی --  dekat pohon Sidrah tertinggi,          عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  -- yang di dekatnya ada surga tempat tinggal.  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.   مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی       --  penglihatannya  sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.    لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی    -- sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya.  (An-Najm [53]:9-19).
       Itulah sebab ketika Nabi Musa a.s.  menyaksikan penjelmaan Tajalliyyati Ilahiyah sempurna kepada Nabi Besar Muhammad saw., yang diperlihatkan Allah Swt.  melalui sebuah gunung -- yang  kemudian hancur-lebur karena “tidak sanggup memikulnya” (QS.33:73) – maka Nabi Musa a.s. rebah  pingsan karena  beliau  tidak  mampu mengalami “goncangannya” yang sangat dahsyat.

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  23 Maret      2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar