Rabu, 14 Mei 2014

Kesempurnaan "Mi'raj" (Kenaikan Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw. dan Hakikat "Pingsannya" Nabi Musa a.s. Ketika Menyaksikan "Tajalli Ilahi" kepada "Gunung"



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم

Khazanah Ruhani Surah  Shād

Bab   218

Kesempurnaan “Mi’raj” (Kenaikan Ruhani)  Nabi Besar Muhammad Saw. dan Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.  Ketika Menyaksikan Tajalli Ilahi  kepada “Gunung”

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam   akhir Bab sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai  peristiwa Mi’raj (Kenaikan Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw,  dalam kaitannya dengan “sungai khamar” serta “kemabukan ruhani” yang dialami para penempuh  suluk (jalan ruhani)   -- sebagaimana telah dikemukakan berkenaan dengan dua Sufi terkenal:  Abu Yazid al-Bisthami dan Mansyur “Al-Hallaj” sehingga  dalam keadaan “mabuk ruhani” mengucapkan kata-kata (ucapan-ucapan) yang sukar  difahami oleh orang-orang yang belum mencapai tingkatan  fana atau  keadaan  dhāllan”  atau “dhāllin  atau “manunggal” seperti itu.
       Dalam Al-Quran Allah Swt. mengemukakan dua macam  fana, yakni (1) yang berkaitan dengan Tuhan (Allah Swt.) yakni  Haququllāh (pemenuhan hak-hak Allah Swt.)   dan (2) yang berkaitan dengan umat manusia yakni  haququl-‘Ibād (pemenuhan hak-hak sesama  hamba Allah Swt.), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾ اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang apabila  jatuh.  Sahabat kamu  tidak  sesat   dan tidak pula keliru.       Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.   Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu yang diwahyukan.  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,     Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,  dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. (An-Najm [53]:1-8).

Bermacam Makna  an-Najm

  An-najm berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh “ (Bintang Kartika atau Pleiades). Kata itu dianggap juga oleh beberapa ulama sebagai mengandung arti pewahyuan  Al-Quran yang diwahyukan secara berangsur-angsur.
   Oleh beberapa sumber lainnya  kata an-Najm dianggap mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri, karena dalam QS.33:46-47 beliau saw. disebut sebagai sirājan- munāran (bintang yang becahaya cemerlang). Kata jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Kasysyaf, Taj-ul ’Arus & Ghara’ib-al-Quran).
Mengingat akan arti yang berbeda-beda maka kata an-najm dalam ayat ini dapat diterangkan:
    (1) Menurut sebuah hadits yang masyhur, sehubungan dengan diwahyukan-Nya Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4, Nabi Besar Muhammad saw.   pernah mengatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang Tsuraya, maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (Bukhari).
    (2) Kata an-najm dalam arti bintang  dapat berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri, sebagaimana matahari memberikan kesaksian atas keberadaan dirinya sendiri sebagai sumber cahaya yang sangat  cemerlang (QS.33:46-48).
    (3) Kata an-najm dalam arti  tumbuhan yang tidak berbatang” mengandung makna bahwa Pohon Islam yang masih lemah, kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah, dan di bawah naungannya yang sejuk, bangsa-bangsa besar akan berteduh (QS.14:25-26; QS.48:30).
  (4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing dalam perjalanan mereka  pada malam hari di padang pasir Arabia oleh peredaran bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah mereka sekarang secara ruhani akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang (QS.33:46-48) dan “cahaya di atas cahaya” – QS.24:36)  yakni  Nabi Besar Muhammad saw..
  (5) Ayat ini dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, yang digambarkan dalam  beberapa Surah Al-Quran sebagai “bintang-bintang berjatuhan” (QS.77:9; QS.81:1-15; QS.82:1-6). Al-Quran suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam QS.54:2. tentang “terbelahnya bulan.”

Kesempurnaan Mi’raj (Kenaikan Ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.

 Makna ayat مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰ -- “Sahabat kamu  tidak  sesat   dan tidak pula keliru” , yaitu bahwa cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak salah  lagi pula beliau sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu  (yakni beliau saw. juga tidak tersesat).
Dengan demikian mengingat cita-cita luhur serta  mulia Nabi Besar Muhammad saw.,   dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau   saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Selanjutnya Allah Swt. berfirman   وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی     – “Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.” Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat-ayat berikutnya.
     Ayat    اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی     -- “Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu yang diwahyukan.” membicarakan sumber asal wahyu  Nabi Besar Muhammad saw. .  yang adalah dari Allah Swt. (QS.26:193-198), maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada tuduhan berdasarkan  khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat, yang menduduh beliau saw. sebagai orang sesat   dan keliru yang mengaku-aku mendapat wahyu Ilahi.
  Namun tuduhan dusta tersebut dibantah dengan ayat selanjutnya  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی     --  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,”  Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی ۙ  – “Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,”   mirrah berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, kete-guhan (Aqrab-ul-Mawarib). Dzū  mirrah dapat juga berarti  “orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari.”
   Ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i  dalam  ayat  فَاسۡتَوٰی ۙ     --  “lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy,” berarti  bahwa  ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., ungkapan itu akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya.

Makna ‘Ufuq Tertinggi & Makna “Terbakarnya Sayap” Malaikat Jibril a.s.

   Mengenai kesempurnaan pribadi Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut lebih lanjut Allah Swt. menjelaskan    وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   --  “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi,” yakni Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mi’raj atau kenaikan ruhani  beliau saw., ketika Allah Swt. menampakkan “Wujud-Nya” (Tajalli Ilahiyyah) kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang paling sempurna, yang mungkin dapat disaksikan oleh manusia.
   Atau,  ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat (‘ufuq) yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dalam ayat     وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   --  “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi,  dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw... Lihat juga ayat 10.
  ‘Ufuq  dalam bahasa Indonesia artinya “cakrawala” atau “garis  pertemuan langit dan bumi”, yang dalam segi ruhani mengisyaratkan kepada batas tertinggi berbagai kemampuan manusia yang dianugerahkan Allah Swt. guna menjangkau “langit ruhani” atau “alam Ketuhanan”.
     Sehubungan dengan makna ‘ufuq tersebut dalam peristiwa mi’raj  Nabi Besar Muhammad saw. digambarkan bahwa Nabi Adam a.s. berada pada tingkatan langit yang pertama, lalu Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Yahya a.s. pada tingkatan langit kedua, kemudian Nabi Musa a.s. pada tingkatan langit kelima, dan Nabi Ibrahim a.s. pada tingkatan langit keenam --  dalam riwayat lain pada tingkatan langit ketujuh --  sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. diceritakan terus “naik(mi’raj) ke tingkatan-tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi lagi, yang bahkan diceritakan malaikat Jibril a.s. pun tidak mampu lagi mendampingi beliau saw., dengan alasan bahwa jika ia memaksakan diri  naik (mi’raj)   ke tingkatan “langit Ketuhanan” yang lebih tinggi  lagi bersama dengan Nabi Besar Muhammad saw. maka seluruh “sayapnya” (QS.35:2) akan “terbakar”  oleh Cahaya Tajalliyat Ilahi  yang tidak sanggup dihadapinya.

Makna “Pingsannya” Nabi Musa a.s.

    Mengenai   makna “seluruh sayap Malaikat Jibril a.s.  akan terbakar   tersebut dapat difahami mengenai “pingsannya” Nabi Musa a.s. ketika menyaksikan Tajalliyat Ilahi  (penampakkan kebesaran Tuhan) kepada sebuah gunung dalam “pengalaman ruhani” beliau di gunung Thur, firman-Nya:
وَ وٰعَدۡنَا  مُوۡسٰی ثَلٰثِیۡنَ  لَیۡلَۃً وَّ اَتۡمَمۡنٰہَا بِعَشۡرٍ فَتَمَّ  مِیۡقَاتُ رَبِّہٖۤ اَرۡبَعِیۡنَ  لَیۡلَۃً ۚ وَ قَالَ مُوۡسٰی  لِاَخِیۡہِ ہٰرُوۡنَ  اخۡلُفۡنِیۡ  فِیۡ  قَوۡمِیۡ وَ اَصۡلِحۡ  وَ لَا تَتَّبِعۡ  سَبِیۡلَ  الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam dan Kami menyempurnakannya dengan sepuluh,  maka sempurnalah waktu yang dijanjikan Rabb-nya (Tuhan-nya) empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada Harun, saudaranya: “Wakililah aku di kalangan kaumku,   perbaikilah mereka dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat  kerusakan.”   Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-Nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.”  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- maka  tatkala  Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.”  (Al-A’rā [7]:143-144).
         Ayat 144  memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt. dengan mata jasmaninya – seperti halnya tuntutan Bani Israil kepada Nabi Musa a.s. (QS.2:56; QS.4:154)?
       Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt.  dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat  Allah Swt.    dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan (tajalli) mereka belaka.
        Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan)  Allah Swt.    sajalah yang dapat kita saksikan, tetapi  Wujud Allah Swt.   sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s.   dengan segala makrifat (pengetahuan) mengenai Sifat-sifat Allah Swt.  akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.

Tajalli Sempurna Allah Swt. kepada  Nabi yang Seperti Musa  yakni Nabi Besar Muhammad Saw.

       Nabi Musa a.s.  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)   Allah Swt ,  dan bukan menyaksikan  Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (QS.28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan:   رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ   -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
       Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Saw.  yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw.  beberapa masa kemudian.  Nabi Musa a.s.   diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22; QS.46:11).
      Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan (diperagakan) Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s.., karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt.  yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu, ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
      Tetapi Nabi Musa a.s.  diberi tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah  Swt. dalam pengalaman ruhani Nabi Musa a.s. tersebut  memilih gunung untuk bertajalli. Gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s. . karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu beliau rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
       Dengan cara demikian Nabi Musa a.s.  dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat (orang)  yang  Allah Swt..  bertajalli  kepadanya sebagaimana dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, yaitu Baginda Nabi Muhammad Besar Muhammad saw..
      Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s.  itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt.  dengan mata lahir (QS.2:56; QS.4:154). Pengalaman ruhani Nabi Musa a.s.  yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak. Itulah sebabnya setelah sadar dari “pingsannya” sengan serta merta beliau berseru:  سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ   -- “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar itu.

Kata-kata  Penghibur Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s.

     Keimanan Nabi Musa a.s.   kepada Nabi Besar Muhammad saw.   itu telah disinggung juga dalam QS.46:11 dan QS28:44-45, walau pun dalam kenyataannya pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. adalah sekitar 2000 tahun kemudian  setelah Nabi Musa a.s., atau  600 tahun setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang menyebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39) atau “Roh Kebenaran” yang datang “membawa seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13).
       Gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu. Lihat Keluaran 24:18 dan juga QS.2:64; QS.7:172. SElanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ یٰمُوۡسٰۤی  اِنِّی  اصۡطَفَیۡتُکَ عَلَی النَّاسِ بِرِسٰلٰتِیۡ  وَ بِکَلَامِیۡ ۫ۖ فَخُذۡ مَاۤ اٰتَیۡتُکَ  وَ  کُنۡ  مِّنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau atas umat manusia dengan risalah-Ku dan firman-Ku, maka pegang-te-guhlah apa yang telah Aku berikan ke-pada engkau dan jadilah engkau ter-masuk orang-orang yang bersyukur.   (Al-‘Arāf [7]:145).
      Ayat  ini nampaknya ditujukan kepada Nabi Musa a.s.  sebagai kata-kata penghibur sesudah Allah Swt.  membuat beliau sadar bahwa beliau tidak dapat mencapai derajat keruhanian yang tinggi seperti Nabi Besar dari keturunan Nabi Isma’il a.s. . yang ditakdirkan akan mencapainya, yakni Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau diminta agar jangan mendambakan kemuliaan tinggi yang disediakan untuk “Nabi itu” tetapi hendaknyalah merasa puas dengan dan bersyukur atas peringkat yang telah dianugerahkan Allah Swt.   kepada beliau.
      Jadi, peristiwa “pingsannya” Nabi  Musa a.s. menjelaskan mengenai makna ucapan Malaikat Jibril a.s.   mengenai akan “terbakarnya” seluruh “sayap” yang dimilikinya jika  beliau menaiki “tingkatan langit Ketuhanan” yang melebihi kemampuan beliau untuk “menaikinya” bersama Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  19 Maret      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar