Jumat, 16 Mei 2014

Hakikat "Sidratul Muntaha" dan Hubungannya dengan Kesempurnaan Al-Quran




 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم
Khazanah Ruhani Surah  Shād
Bab   220
Hakikat “Sidratul Muntaha  dan Hubungannya dengan Kesempurnaan Al-Quran 
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam   akhir Bab sebelumnya   telah dikemukakan   mengenai  kesempurnaan pribadi Nabi Besar Muhammad saw. dalam Surah An Najm ayat 1-8,     وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   --  “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi,” yakni Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mi’raj atau kenaikan ruhani  beliau saw., ketika Allah Swt. menampakkan “Wujud-Nya” (Tajalli Ilahiyyah) kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang paling sempurna, yang mungkin dapat disaksikan oleh manusia.
   Atau,  ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat (‘ufuq) yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dalam ayat     وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی   --  “dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi,  dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw... Lihat juga ayat 10.
  ‘Ufuq  dalam bahasa Indonesia artinya “cakrawala” atau “garis  pertemuan langit dan bumi”, yang dalam segi ruhani mengisyaratkan kepada batas tertinggi berbagai kemampuan manusia yang dianugerahkan Allah Swt. guna menjangkau “langit ruhani” atau “alam Ketuhanan”.
Kedekatan Nabi Besar Muhammad Saw. dengan Allah Swt. Bagaikan “Seutas Tali dari Dua Busur
     Sehubungan dengan makna ‘ufuq tersebut dalam peristiwa mi’raj  Nabi Besar Muhammad saw. digambarkan bahwa Nabi Adam a.s. berada pada tingkatan langit yang pertama, lalu Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Yahya a.s. pada tingkatan langit kedua, kemudian Nabi Musa a.s. pada tingkatan langit kelima, dan Nabi Ibrahim a.s. pada tingkatan langit keenam --  dalam riwayat lain pada tingkatan langit ketujuh --  sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. diceritakan terus “naik”(mi’raj) ke tingkatan-tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi lagi, yang bahkan diceritakan malaikat Jibril a.s. pun tidak mampu lagi mendampingi beliau saw., dengan alasan bahwa jika ia memaksakan diri  naik (mi’raj)   ke tingkatan “langit Ketuhanan” yang lebih tinggi  lagi bersama dengan Nabi Besar Muhammad saw. maka seluruh “sayapnya” (QS.35:2) akan “terbakar”  oleh Cahaya Tajalliyat Ilahi  yang tidak sanggup dihadapinya.
   Makna “terbakarnya sayap” Malaikat Jibril a.s. tersebut telah diterangkan  sehubungan dengan makna “pingsannya” Nabi Musa a.s. ketika Allah Swt. bertajalli (menampakkan keagungan-Nya) ke atas gunung dalam pengalaman ruhani Nabi Musa a.s. (QS.7:144).
    Selanjutnya Allah Swt. menerangkan mengenai  ketinggian mi’raj (kenaikan ruhani)  Nabi Besar Muhammad saw. – setelah Malaikat Jibril a.s. tidak sanggup lagi mendampingi beliau saw. dalam mi’raj tersebut – firman-Nya:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾    اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.   مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.   Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  -- dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی --  dekat pohon Sidrah tertinggi,            عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  -- yang di dekatnya ada surga tempat tinggal.  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی       -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی           --  penglihatannya  sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.    لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی    -- sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya.  (An-Najm [53]:9-19).
Makna “Seutas Tali Dua Buah Busur
     Makna ayat  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی   --    Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,”  ungkapan   dalla al-dalwa berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-‘Arab).
   Ayat ini berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. pun    turun mendekat  kepada beliau. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.,  dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau  saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
   Selanjutnya Allah Swt. berfirman     فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی       -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.” Kata qāb berarti:
   (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
   (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain;
   (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
    Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane, Lisan-al ‘Arab , dan Zamakhsyari).
   Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  terus naik  (mi’raj)  menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allsh Swt.   – yang juga bergerak turun “mendekati” beliau  saw. -- sehingga jarak antara keduanya hilang sirna  atau fāna dan  Nabi Besar Muhammad saw.  seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”.
    Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
   Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  naik (mi’raj) menuju Allah  Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi  “satu wujud”, yang kemudian telah disalah-tafsirkan menjadi faham Wihdatul wujud (Kesatuan wujud), pdahal yang benar adalah “Wihdatusy- Syuhud” (Kesatuan kesaksian) atau “Kesatuan dalam Sifat-sifat”, sebab mustahil wujud makhluk (manusia) dapat bersatu  dengan  Dzat (Wujud) Allah Swt.   dalam makna yang sebenarnya, melainkan dalam makna kiasan.
   Ungkapan  ayat  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی       -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi   tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak  Nabi Besar Muhammad saw.  menjadi sama sekali  fāna (sirna) dalam  Sifat-sifat Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau  saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, inilah jenis  fāna (kesirnaan) Nabi Besar Muhammad saw. yang pertama dalam hal HaququlLāh.
   Ada pun jenis fāna (kesirnaan)  Nabi Besar Muhammad saw. yang kedua adalah   setelah “bertemu” dan “bersatu  dengan Allah Swt. kemudian  beliau saw. turun kembali kepada umat manusia  sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108) dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka (QS.6:36; QS.9:6 & 128; QS.18:7; QS.26:4-5) melalui pelaksanaan haququl- ‘ibād,  sehingga Sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan, yang diabadikan dalam bentuk “Dua Kalimah Syahadat”.
   Kata-kata  اَوۡ اَدۡنٰی  --  “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Allah  Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
Peristiwa Mi’raj Berbeda Waktunya dengan Peristiwa Isra
     Jadi ayat-ayat 8 sampai 18 Surah An-Najm menggambarkan mi’raj  Nabi Besar Muhammad saw. ketika beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit Ketuhanan dan dianugerahi pemandangan  suatu penjelmaan   ruhani Allah, dan secara ruhani beliau saw. naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mi’raj merupakan dua pengalaman ruhani; yakni (1) kenaikan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. dan (2)  turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Allah Swt. kepada beliau saw., itulah makna firman-Nya:
ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾    فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾    اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,  maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    -- lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.   مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.   Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  -- dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی --  dekat pohon Sidrah tertinggi,          عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  -- yang di dekatnya ada surga tempat tinggal.  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.   مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی       --  penglihatannya  sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.    لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی    -- sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya.  (An-Najm [53]:9-19).
   Dalam pikiran umumnya  umat Islam, mi’raj telah dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan  Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam ke Yerusalem – QS.17:2), sedangkan masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Isra  terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal  Nabi Besar Muhammad saw.   telah lebih dahulu mengalami  mi’raj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi isra’.
  Penelaahan saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits  juga mendukung pendapat ini. Untuk keterangan lebih  terinci  mengenai kedua peristiwa  mi;raj dan isra  keduanya merupakan kejadian  ruhani yang terpisah dan berbeda satu sama lain sekitar 6 atau 7 tahun, lebih dulu peristiwa mi’raj (Surah An Najm)  barulah  terjadi peristiwa Isra (Surah  Al-IsraBani Israil).
Kesempurnaan Wahyu Al-Quran
     dalam ayat  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی     --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukankadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-al-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah menurunkan wahyu Al-Quran  kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
     Ayat  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat” bahwa pada hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  dalam peristiwa mi’raj tersebut  adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw...
       Makna ayat        وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  --  “dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali” bahwa  kasyaf  (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.   itu suatu pengalaman ruhani berganda.
 Makna ayat    عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی --  dekat pohon Sidrah tertinggi,     yaitu bahwa pada waktu mi’raj,  Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) sangat  tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi; sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah.
   Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran Islam  (Al-Quran)  yang diwahyukan  Allah Swt. kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak hanya kebal (terpelihara) terhadap bahaya kerusakan (QS.15:10),  melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akhlak dan  ruhani.
       Kata-kata “yang menutupi”  dalam ayat     اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی          -- “ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi”,  maknanya ialah penjelmaan Ilahi atau tajalliyyati Ilahiyah  yang paling sempurna, yang mengenainya  hanya Nabi Besar Muhammad saw. sajalah yang mampu  menerima dan mengamalkannya, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadapnya, akan sedangkan insan (manusia) memikulnya, اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا  -- sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.  Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan,  dan Allah senantiasa kembali dengan kasih sayang kepada orang-orang lelaki   dan   perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Ahzāb [33]:73-74).
      Mengenai firman Allah Swt. ini telah dijelaskan dalam Bab sebelumnya  mengenai  makna zhalim dan jahul  berkenaan dengan Insan Kamil (manusia sempurna) yakni Nabi Besar Muhammad saw. dan hubungannya dengan makna “pingsannya” Nabi Musa a.s. dalam QS.7:144.
 (Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  21 Maret      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar