Sabtu, 10 Mei 2014

Falsafah "Dialog" Orang-orang Kafir dengan Kulitnya & Hubungannya dengan Malaikat Pencatat Amal





بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم
Khazanah Ruhani Surah  Shād
Bab   213
Falsafah   “Dialog” Orang-orang Kafir dengan Kulitnya & Hubungannya  dengan Malaikat Pencatat Amal
 Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam akhir Bab sebelumnya  telah dikemukakan  mengenai latar belakang mengapa Sayyidina  Abu Bakar Shiddiq r.a.   menghentikan tunjangan yang biasa beliau berikan kepada Misthah, kerabat  beliau yang miskin tetapi  ikut-serta dalam penyebar  fitnah terhadap Siti ‘Aisyah r.a., dalam firman-Nya:   
وَ لَا یَاۡتَلِ اُولُوا الۡفَضۡلِ مِنۡکُمۡ وَ السَّعَۃِ  اَنۡ یُّؤۡتُوۡۤا  اُولِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡمَسٰکِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۪ۖ وَ لۡیَعۡفُوۡا وَ لۡیَصۡفَحُوۡا ؕ اَلَا تُحِبُّوۡنَ اَنۡ یَّغۡفِرَ اللّٰہُ  لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ   رَّحِیۡمٌ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ یَرۡمُوۡنَ الۡمُحۡصَنٰتِ الۡغٰفِلٰتِ الۡمُؤۡمِنٰتِ لُعِنُوۡا فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۪ وَ  لَہُمۡ  عَذَابٌ  عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  یَّوۡمَ  تَشۡہَدُ عَلَیۡہِمۡ اَلۡسِنَتُہُمۡ وَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ  اَرۡجُلُہُمۡ  بِمَا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  ﴿﴾
Dan  orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelimpahan  di antara kamu janganlah bersumpah  tidak akan memberikan kepada kaum kerabat, kepada orang-orang miskin  dan kepada orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, tidakkah kamu ingin agar Allah mengampuni kamu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  Sesungguhnya orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan bersuami yang menjaga kesucian diri lagi beriman yang lengah,  mereka akan dilaknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang sangat besar.   Pada hari ketika  lidah mereka, tangan mereka dan kaki mereka akan menjadi saksi  atas mereka   menge-nai apa yang senantiasa mereka kerjakan. (An-Nūr [24]:23-25).
       Karena mentaati perintah Allah Swt. tersebut  kemudian Sayyidina  Abu Bakar Shiddiq r.a. kembali memberikan tunjangannya kepada Misthah,  hal tersebut benar-benar merupakan  bukti lainnya suatu “pendakian terjal” (QS.90:9-20) yang harus ditempuh oleh hamba-hamba Allah yang melakukan perjalanan ruhani (suluk) menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt..
Makna Rekaman (Catatan) Amal Perbuatan
        Pernyataan Allah Swt. dalam ayat   25  یَّوۡمَ  تَشۡہَدُ عَلَیۡہِمۡ اَلۡسِنَتُہُمۡ وَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ  اَرۡجُلُہُمۡ  بِمَا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ  -- “Pada hari ketika  lidah mereka, tangan mereka dan kaki mereka akan menjadi saksi  atas mereka   mengenai apa yang senantiasa mereka kerjakan” dibuktikan kebenarannya  oleh penyelidikan ilmiah mutakhir telah membuktikan kebenaran ayat ini dan juga dalam QS.17:37; QS.36:66; QS.41:21-23.   Alat-alat ilmiah mutakhir telah diciptakan yang apabila diletakkan pada suatu tempat  dapat merekam percakapan seseorang, dan bahkan dapat mencatat   gerakan-gerakan  tangan, kaki, dan atau anggota-anggota tubuh lainnya.
       Alat-alat perekam ini telah sangat menolong polisi menangkap pencuri-pencuri dan penjahat-penjahat lain dan membuktikan kejahatan mereka. Jadi dengan bantuan alat-alat mutakhir ini lidah, tangan, dan kaki seseorang penjahat seolah-olah dijadikan pemberi kesaksian terhadap dirinya sendiri.
         Ilmu pengetahuan telah pula membuktikan kenyataan bahwa tiap-tiap kata yang diucapkan atau gerakan ataupun perbuatan meninggalkan bekasnya di udara. Menurut Al-Quran bekas-bekas semacam itu di akhirat akan diberi bentuk benda, dan dengan demikian kaki dan tangan orang yang melakukan perbuatan baik atau buruk akan memberikan kesaksian yang memberatkan atau sebaliknya menguntungkan si pelaku itu.
       Dengan menyaksikan tayangan ulang rekaman amal perbuatan tersebut membuat mulut para penjahat tersebut bungkam sebagaimana dikemukakan  firman Allah Swt. berikut ini:
اَلۡیَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلٰۤی اَفۡوَاہِہِمۡ وَ تُکَلِّمُنَاۤ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ تَشۡہَدُ اَرۡجُلُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ  ﴿﴾
Pada hari ini Kami akan memeterai mulut mereka,  sedangkan  tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi  mengenai apa yang dahulu mereka usahakan. (Yā Sīn [36]:66).
      Bila kejahatan-kejahatan orang-orang kafir telah dibuktikan dan dinyatakan senyata-nyatanya, mereka akan bungkam — mulutnya seolah-olah termeterai dan mereka tidak akan mampu menyatakan sesuatu guna membela diri dan memperkecil dosa mereka, dan tangan serta kaki mereka pun akan memberikan kesaksian terhadap mereka, karena tangan dan kaki merupakan alat utama guna melaksanakan perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk.
Kebutaan Mata Ruhani” di Dunia dan di Akhirat
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai tidak berfungsinya peran mata ruhani  orang-orang kafir di dunia dan di akhirat, sehingga  mereka menjadi seperti “orang-orang buta” (QS.17:73; QS.20:125-129):
وَ لَوۡ نَشَآءُ  لَطَمَسۡنَا عَلٰۤی  اَعۡیُنِہِمۡ فَاسۡتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰی یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami dapat melenyapkan penglihatan mata mereka maka mereka akan berlomba-lomba mencari jalan, tetapi bagaimanakah mereka dapat melihat? (Yā Sīn [36]:66).
     Karena Allah Swt.  telah  menganugerahi manusia   kebebasan melakukan sesuatu dan kebebasan mengikuti kemauan sendiri (QS.2:257; QS.18:30), ia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Dan karena orang-orang kafir dengan gigih menolak melihat kebenaran Rasul Allah dan kebenaran yang diajarkannya    maka akibat pasti yang harus mereka rasakan (alami) adalah  mereka sama sekali kehilangan kemampuan melihat kebenaran itu. Itulah juga arti dan maksud kata-kata  “Pada hari ini Kami akan mencap pada mulut mereka” dalam ayat sebelum ini.
      Pendek kata, ucapan dan gerak gerik seseorang sekarang dapat direproduksi dengan persis oleh alat perekam (tape-recorder dll) dan pada layar televisi  atau layar monitor    dari jarak bermil-mil jauhnya. Itulah sebabnya mengapa lidah dan anggota-anggota tubuh manusia bahkan di alam dunia ini pun telah menjadi saksi bagi atau terhadap dia, terlebih lagi di akhirat nanti, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ یُحۡشَرُ اَعۡدَآءُ  اللّٰہِ  اِلَی النَّارِ فَہُمۡ  یُوۡزَعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی  اِذَا مَا جَآءُوۡہَا شَہِدَ عَلَیۡہِمۡ سَمۡعُہُمۡ وَ اَبۡصَارُہُمۡ وَ جُلُوۡدُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah hari ketika  musuh-musuh Allah dihimpun kepada Api, lalu mereka akan dibagi dalam kelompok-kelompok, hingga apabila mereka sampai kepadanya telinga mereka,  mata mereka, dan kulit mereka  menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang selalu mereka kerjakan” (Ha MimAs-Sajdah/  Al-Fushshilat [41]:20-21).
Makna “Memberi Kesaksian” & Hakikat ”Dialog”
    Mata dan telinga orang-orang berdosa akan menjadi saksi terhadap orang-orang  yang ingkar kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya dengan tiga jalan:
(1) Akibat-akibat buruk perbuatan mereka  di   akhirat akan mengambil bentuk fisik yang buruk pula.
(2) Anggota-anggota tubuh  mereka sendiri rusak akibat penyalahgunaan, keadaan demikian menjadi saksi terhadap mereka,  
(3) Segala gerak-gerik anggota-anggota tubuh  mereka yang diabadikan dalam “rekaman” Allah Swt. akan diperlihatkan pada Hari Kiamat.
 Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “dialog” orang-orang kafir tersebut dengan anggota tubuhnya sendiri:
وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan. (Hā Mīm As-Sajdah / Al-Fushshilat [41]:22).
  Perlu dikemukakan bahwa “dialog-dialog” yang dikemukakan dalam Al-Quran seperti itu  sebenarnya  termasuk kepada jenis  berbagai perumpaman (mitsal – QS.17:42 & 90; QS.18:55), jadi tidak perlu diartikan secara harfiah, seperti contohnya dialog antara para malaikat dengan Allah Swt. tentang penciptaan seorang Khalifah di muka bumi (QS.2:35), sebab tugas  para malaikat semata-mata melaksanakan apa pun kehendak Allah Swt. (QS.66:7), firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada  malaikat-malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah,  padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa men-sucikan  Engkau?” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
     Pada hakikatnya   makna firman Allah Swt. mengemukakan salah satu Sunnah-Nya  bahwa jika Allah Swt. berkehendak menciptakan suatu tatanan keruhanian yang baru  di lingkungan umat manusia untuk menggantikan tatanan lama yang sudah rusak (QS.30:42) selalu melalui pengutusan seorang Khalifah Allah atau Rasul Allah, salah ataunya adalah Nabi Adam a.s..
      Tetapi merupakan Sunnah-Nya pula bahwa setiap kali Allah Swt. menciptakan (membangkitkan seorang “Khalifah Allah” (Rasul Allah – QS.7:35-37) pasti akan muncul (bangkitkan) pihak yang menentangnya yang  disebut iblis (QS.2:35), yang disebut oleh malaikat-malaikat sebagai pihak yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah.
        Sunnatullah   mengenai penciptaan “langit baru dan bumi baru  (QS.14:49-53) inilah yang dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran sebagai kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” yang  rincian peristiwanya dikemukakan  berupa perumpamaan dalam bentuk “dialog”, padahal  dialog itu sendiri sebenarnya    tidak ada. 
       Qāla adalah  perkataan  bahasa Arab yang lazim dan berarti  "ia berkata". Tetapi  kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan bila yang dimaksudkannya bukan pernyataan kata kerja, melainkan  keadaan yang sesuai dengan arti kata kerja itu. Ungkapan  Imtala’a al-haudhu wa qāla qathni (Kolam itu menjadi penuh dan ia (kolam) berkata: “Aku sudah penuh”) tidak berarti bahwa kolam itu benar-benar berkata demikian, hanya keadaannya mengandung arti bahwa kolam itu sudah penuh.
“Dialog” Allah Swt. dengan Para Malaikat
       Demikian pula percakapan antara Allah Swt.  dengan  para malaikat dan iblis  tidak perlu diartikan secara harfiah sebagai sungguh-sungguh telah terjadi. Seperti dinyatakan di atas, kata qāla   kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan, untuk mengemukakan hal yang sebenarnya bukan suatu ungkapan lisan, melainkan hanya keadaan yang sama dengan ungkapan lisan. Maka ayat ini hanya berarti bahwa para malaikat itu dengan  keadaan   mereka  menyiratkan jawaban yang di sini dikaitkan kepada kata-kata yang diucapkan mereka.
        Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia me-ngirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada rasul-rasul Allah dan pembaharu-pembaharu samawi.
      Para malaikat tidak mengemukakan keberatan terhadap rencana Ilahi atau    mengaku diri mereka lebih unggul daripada  Nabi Adam a.s.  Pertanyaan mereka didorong oleh     pengumuman Allah Swt.  mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang khalifah. Wujud khalifah diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan.
        Keberatan semu para malaikat menyiratkan bahwa akan ada orang-orang di bumi yang akan membuat kerusakan  dan menumpahkan darah. Karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia, tetapi Allah Swt.  mengetahui bahwa manusia dapat mencapai tingkat akhlak yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) sifat-sifat Ilahi, contohnya adalah Adam. Jawaban Allah Swt. terhadap “keberatan” para malaikat اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"  menyebutkan segi terang tabiat manusia.
Malaikat Pencatat Amal
       Di antara para malaikat ada yang ditugaskan Allah Swt. sebagai pencatat amal  manusia, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾  فِیۡۤ  اَیِّ صُوۡرَۃٍ  مَّا شَآءَ  رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾  کَلَّا  بَلۡ تُکَذِّبُوۡنَ بِالدِّیۡنِ ۙ﴿﴾  وَ  اِنَّ عَلَیۡکُمۡ  لَحٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾  کِرَامًا  کَاتِبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  یَعۡلَمُوۡنَ مَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾
Hai insan (manusia), apa yang telah memperdayai engkau mengenai  Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia. Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu menata tubuh engkau dengan  serasi,  dalam bentuk apa yang Dia kehendaki Dia menyusun tubuh engkau?   Tidak hanya itu, bahkan kamu mendustakan pembalasan.   Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas, pencatat-pencatat mulia,        mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithār [82]:7-13).
   Makna ayat الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ -- “Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu menata tubuh engkau dengan  serasi” yaitu bahwa Alah Swt.  tel menganugerahi manusia kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan fitri agung agar ia dapat naik ke puncak kemuliaan ruhani setinggi-tingginya.
       Sedangkan makna ayat  ۙ  وَ  اِنَّ عَلَیۡکُمۡ  لَحٰفِظِیۡنَ -- “Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas,  کِرَامًا  کَاتِبِیۡنَ    -- pencatat-pencatat mulia, ﴿ۙ﴾  یَعۡلَمُوۡنَ مَا تَفۡعَلُوۡنَ   mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan,” bahwa manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas dan bertanggung-jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya dan menurut Allah Swt. perbuatan-perbuatan yang dilakukannya itu dicatat oleh “Pencatat-pencatat mulia,” yakni para malaikat pencatat amal  manusia.
        Jadi, kembali kepada firman-Nya mengenai dialog   orang-orang kafir  dengan anggota tubuhnya, sebenarnya mereka “berdialog” dengan malaikat pencatat amal:
وَ قَالُوۡا لِجُلُوۡدِہِمۡ  لِمَ شَہِدۡتُّمۡ  عَلَیۡنَا ؕ قَالُوۡۤا اَنۡطَقَنَا اللّٰہُ  الَّذِیۡۤ  اَنۡطَقَ کُلَّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ خَلَقَکُمۡ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka berkata kepada kulit mereka:  ”Mengapa kamu   memberi kesaksian terhadap kami?” Kulit mereka akan menjawab: ”Allah-lah Yang telah membuat kami berbicara seperti Dia telah membuat berbicara segala sesuatu, dan Dia-lah Yang pertama kali telah menciptakan kamu dan kepada Dia-lah kamu dikembalikan. (Hā Mīm As-Sajdah / Al-Fushshilat [41]:22).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
***
Pajajaran Anyar,  15 Maret      2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar