Senin, 17 November 2014

Kelumpuhan "Indra-indra Ruhani" & Hakikat "Penyegelan Hati" Para Penentang Rasul Allah



بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡم


Khazanah Ruhani Surah  Shād


Bab   358

Kelumpuhan Indra-indra Ruhani  & Hakikat Penyegelan  Hati  Para Penentang Rasul Allah

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian   Bab sebelumnya  telah dijelaskan    mengenai   perumpamaan para penentang Rasul Allah dan  lecutan “Cemeti Azab Ilahi” kepada orang-orang yang indera-indera ruhaninya tidak berfungsi, seperti dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka. Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172).
       Para rasul Allah – terutama Nabi Besar Muhammad saw.   --  menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada   umat manusia, tetapi  mereka yang mendustakan dan menentang Rasul Allah   -- yang merupakan Penyeru dari Allah Swt.  --    mereka itu mendengar suara beliau saw. tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.

Orang-orang yang Indera-indera Ruhaninya Lumpuh

       Jadi, kata-kata (seruan) Nabi Besar Muhammad saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّسۡتَمِعُوۡنَ اِلَیۡکَ ؕ اَفَاَنۡتَ تُسۡمِعُ الصُّمَّ وَ لَوۡ کَانُوۡا لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡظُرُ اِلَیۡکَ ؕ اَفَاَنۡتَ تَہۡدِی الۡعُمۡیَ وَ لَوۡ کَانُوۡا لَا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan dari antara mereka ada  orang yang mendengarkan engkau,  tetapi dapatkah engkau  membuat orang-orang tuli mendengar, walau pun mereka  tidak dapat mengerti?    Dan  dari antara mereka ada orang yang memandang kepada engkau, tetapi dapatkah engkau memberi petunjuk orang-orang buta, walaupun mereka  tidak melihat?  (Yunus [10]:43-44).
      Orang-orang kafir -- yakni para penentang rasul Allah -- tidak memiliki pengertian dan daya pengamatan. Dalam ayat 34 selain mereka disebut sebagai mahrum dari “daya mendengar” juga sebagai “kosong dari pengertian” dan dalam ayat ini mereka itu disebut buta dan juga hampa dari “daya pengamatan”. Mengisyaratkan kepada kebutaan mata ruhani itu pulalah firman-Nya berikut ini:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan bahkan mungkin lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:73).
       Mereka yang tidak mempergunakan mata ruhani mereka dengan cara yang wajar di dunia ini akan tetap  luput dari penglihatan ruhani di dalam akhirat. Al-Quran menyebut mereka  buta” yaitu yang tidak merenungkan Tanda-tanda Allah serta tidak memperoleh manfaat darinya  (QS.3:191-196),  dan orang-orang seperti itu di alam akhirat pun akan tetap dalam keadaan buta, sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿ ﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا ﴿ ﴾ قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿ ﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿ ﴾   اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿ ﴾٪
Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.  Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesung-guhnya dahulu aku dapat melihat?”  Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya (mengabaikannya)  dan demikian pula engkau dilupakan (diabaikan) pada hari ini.  Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab  akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.  اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ   --  maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی  --  sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā[20]:125-129).

Penyebab Munculnya “Katarak” Pada Mata  (Penglihatan) Ruhani Orang-orang Kafir

   Seseorang yang sama sekali tidak ingat kepada Allah Swt. di dunia serta menjalani cara hidup yang menghalangi dan menghambat perkembangan ruhaninya, dan dengan demikian membuat dirinya tidak layak menerima nur dari Allah Swt., maka ia akan dilahirkan (dibangkitan) dalam keadaan buta di waktu kebangkitannya kembali di  akhirat.
     Hal itu menjadi demikian  karena ruhnya di dunia ini - yang akan berperan sebagai tubuh  bagi ruh yang lebih maju ruhaninya di alam akhirat -- telah menjadi buta, sebab ia telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa di dunia ini, sehingga telah menimbulkan “katarak” (karat) pada mata (penglihatan ruhaninya), firman-Nya:
کَلَّاۤ  اِنَّ  کِتٰبَ الۡفُجَّارِ لَفِیۡ  سِجِّیۡنٍ ؕ﴿﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا سِجِّیۡنٌ ؕ﴿۸﴾  کِتٰبٌ مَّرۡقُوۡمٌ ؕ﴿۹﴾  وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یُکَذِّبُوۡنَ بِیَوۡمِ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾  وَ مَا یُکَذِّبُ بِہٖۤ  اِلَّا کُلُّ مُعۡتَدٍ اَثِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾  کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ﴿﴾  کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Sekali-kali tidak, sesungguhnya  kitab para pendurhaka adalah di dalam sijjīn.  Dan apakah yang engkau ketahui,  apa  sijjīn itu?   Yaitu sebuah kitab tertulis.  Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan,   yaitu orang-orang yang men-dustakan Hari Pembalasan.  Dan sekali-kali tidak ada yang mendustakannya kecuali setiap pelanggar batas lagi sangat berdosa,  اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا    --   apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ --  ia berkata: “Al-Quran ini  dongeng orang-orang dahulu!”  کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ   --   sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka.   کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ   --  sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka be-nar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka.  ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ  --    kemudian sesungguhnya  mereka pasti masuk ke dalam Jahannam.    ﴿ؕ﴾  ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ   -- Kemudian  dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu  dustakan.   (Al-Muthaffifīn [83]:8-18).  
   Kembali kepada Surah Thā Hā ayat 125-129,  sebagai jawaban terhadap keluhan orang kafir mengapa ia di akhirat dibangkitkan  dalam keadaan buta,  padahal dalam kehidupan sebelumnya (di dunia) ia memiliki penglihatan, Allah Swt. akan mengatakan bahwa ia telah menjadi buta ruhani dalam kehidupannya di dunia sebab telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa, dan karena itu ruhnya — yang akan berperan sebagai tubuh untuk ruh lain yang ruhaninya jauh lebih berkembang di akhirat  --  maka di hari kemudian (akhirat) ia dilahirkan buta pula.
    Ayat ini dapat pula berarti bahwa karena orang kafir tidak mengembangkan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi melalui pelaksanaan  hukum-hukum syariat sebagaimana yang diperagakan oleh rasul Allah – khususnya Nabi Besar Muhammad saw. – sehingga  ia  tetap asing dari Sifat-sifat itu, maka pada hari kebangkitan   ketika Sifat-sifat Ilahi  itu  akan dinampakkan  dengan segala keagungan dan kemuliaan maka    keadaannya sebagai seseorang yang terasing dari Sifat­-sifat  Ilahi itu  tidak akan mampu mengenalnya,  dan dengan demikian akan berdiri seperti orang buta yang tidak mempunyai ingatan atau kenangan sedikit pun kepada  penjelmaan (tajalli) sempurna Sifat-sifat Ilahi tersebut.

Kedegilan Hati Para Penentang Nabi Besar Muhammad Saw.

   Mengenai orang-orang kafir yang   indra-indra ruhaninya lumpuh seperti itu   Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
وَ  مِنۡہُمۡ مَّنۡ  یَّسۡتَمِعُ  اِلَیۡکَ ۚ وَ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ  اَکِنَّۃً  اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ  وَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ  وَقۡرًا  ؕ وَ  اِنۡ  یَّرَوۡا کُلَّ  اٰیَۃٍ  لَّا یُؤۡمِنُوۡا بِہَا ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءُوۡکَ یُجَادِلُوۡنَکَ یَقُوۡلُ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  وَ ہُمۡ یَنۡہَوۡنَ عَنۡہُ  وَ یَنۡـَٔوۡنَ عَنۡہُ ۚ وَ اِنۡ یُّہۡلِکُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡفُسَہُمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan dari antara mereka ada orang-orang yang  mendengarkan engkau,  padahal Kami telah menjadikan tutupan atas hati mereka  hingga mereka tidak dapat memahaminya serta kepekakan di dalam telinga mereka. Dan jika mereka melihat Tanda-tanda, mereka tidak akan beriman kepadanya, sehingga apabila mereka datang kepada engkau, mereka berbantah dengan engkau,  orang-orang kafir itu berkata:  اِنۡ ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ   -- “Tidak lain Al-Qur-an ini kecuali hikayat-hikayat orang-orang dahulu belaka!  Dan mereka melarang orang lain  darinya  sedangkan mereka sendiri pun menjauhkan diri darinya,   وَ اِنۡ یُّہۡلِکُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡفُسَہُمۡ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ -- dan tidak lain yang mereka binasakan  kecuali dirinya sendiri tetapi mereka sekali-kali tidak menyadarinya. (Al-An’ām [6]:26-27).
       Selanjutnya dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai mereka yang tuli dan buta  indra-indra pendengaran dan penglihatan ruhaninya  tersebut: 
وَ  اِنۡ تَدۡعُوۡہُمۡ  اِلَی الۡہُدٰی لَا یَسۡمَعُوۡا ؕ وَ تَرٰىہُمۡ یَنۡظُرُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ ہُمۡ لَا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾  خُذِ الۡعَفۡوَ وَ اۡمُرۡ بِالۡعُرۡفِ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ  الۡجٰہِلِیۡنَ﴿﴾
Dan  jika engkau menyeru mereka kepada petunjuk, mereka tidak akan mendengar, dan  engkau melihat mereka memandang kepada engkau padahal mereka tidak melihat.  Hai Nabi,  jadilah engkau pemaaf,  suruhlah orang beramal yang baik  dan berpalinglah dari orang-orang jahil. (Al-A’rāf [7]:199-200).
  Seseorang yang bergelimang dalam kesesatan senantiasa enggan menerima kebenaran yang dikemukakan para rasul Allah,  betapa pun terangnya dan tidak kelirunya Tanda-tanda Ilahi yang diperlihatkan kepadanya. Hal demikian membuktikan bahwa kedudukannya  dalam kekafiran tidak dapat dipertahankan.
   Orang-orang kafir melihat perjuangan Islam berderap maju dengan cepatnya di hadapan mereka namun mereka berpura-pura tidak melihat dan enggan mengakuinya, termasuk di Akhir Zaman ini. Berikut firman-Nya lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
وَ اِذَا قَرَاۡتَ الۡقُرۡاٰنَ جَعَلۡنَا بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَ  الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ حِجَابًا مَّسۡتُوۡرًا  ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ  اَکِنَّۃً  اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ  وَ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِذَا ذَکَرۡتَ رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ  وَلَّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِہِمۡ  نُفُوۡرًا ﴿﴾  نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا ﴿﴾  اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan apabila engkau membaca Al-Quran, Kami menjadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat suatu penghalang yang tersembunyi.    Dan Kami menjadikan tutupan di atas hati mereka supaya mereka tidak memahaminya dan dalam telinga mereka ada ketulian. وَ اِذَا ذَکَرۡتَ رَبَّکَ فِی الۡقُرۡاٰنِ وَحۡدَہٗ  وَلَّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِہِمۡ  نُفُوۡرًا  --  dan apabila engkau menyebutkan Rabb (Tuhan) engkau Yang Tunggal dalam Al-Quran mereka membalikkan punggungnya karena benci. نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَسۡتَمِعُوۡنَ بِہٖۤ  اِذۡ یَسۡتَمِعُوۡنَ  اِلَیۡکَ وَ اِذۡ ہُمۡ نَجۡوٰۤی  اِذۡ یَقُوۡلُ الظّٰلِمُوۡنَ  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا   --  Kami lebih mengetahui untuk apa mereka mendengarkannya ketika mereka mendengarkan engkau dan ketika mereka sedang berunding secara rahasia, ketika  orang-orang zalim itu berkata satu sama lain:  اِنۡ تَتَّبِعُوۡنَ  اِلَّا رَجُلًا  مَّسۡحُوۡرًا  --  Kamu tidak lain melainkan mengikuti seorang laki-laki yang terkena sihir.”   اُنۡظُرۡ کَیۡفَ ضَرَبُوۡا لَکَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا  فَلَا  یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ  سَبِیۡلًا --    perhatikanlah  bagaimana mereka mengada-adakan tamsil-tamsil mengenai diri engkau, maka akibatnya mereka menjadi sesat lalu mereka tidak dapat menemukan jalan lurus (Bani Israil [17]:46-49). 

Penyebab Utama Pengingkaran Terhadap Kebenaran Rasul Allah

         Adalah tutupan dengki dan cemburu, atau tutupan perasaan hormat yang palsu dan rasa kebanggaan atas kebangsaan, atau tutupan yang timbul dari kekhawatiran akan kehilangan kedudukan dalam masyarakat, atau berkurangnya penghasilan duniawi atau pun tutupan sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan lama yang dipegang dengan erat dan asyiknya itulah yang menjadi penghalang bagi orang-orang kafir untuk menerima kebenaran.
       Tutupan-tutupan itulah yang sungguh tidak disadari oleh orang-orang kafir sendiri. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا سَوَآءٌ  عَلَیۡہِمۡ ءَاَنۡذَرۡتَہُمۡ  اَمۡ  لَمۡ  تُنۡذِرۡہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ  وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang  kafir  sama saja bagi mereka, apakah   engkau  memperingatkan mereka atau pun engkau tidak pernah memperingatkan mereka, mereka tidak akan beriman. خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ  وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  --  Allah   telah mencap (menyegel) hati mereka dan pendengaran mereka, sedangkan pada penglihatan  mereka   ada tutupan, dan bagi mereka ada siksaan yang amat besar. (Al-Baqarah [2]:7-8).
        Ayat ini membicarakan orang-orang kafir, yang sama sekali tidak mengindahkan kebenaran dan keadaan mereka tetap sama, baik mereka itu mendapat peringatan atau pun tidak. Mengenai orang-orang semacam itu dinyatakan bahwa selama keadaan mereka tetap demikian mereka tidak akan beriman.
       Bagian tubuh manusia yang tidak digunakan untuk waktu yang lama, berangsur-angsur menjadi merana dan tak berguna. Orang-orang kafir yang disebut di sini menolak penggunaan hati dan telinga mereka untuk memahami kebenaran. Akibatnya daya pendengaran dan daya tangkap mereka hilang.
      Apa yang dinyatakan dalam anak kalimat, خَتَمَ اللّٰہُ -- Allah telah mencap, hanya merupakan akibat wajar dari sikap mereka sendiri yang sengaja tidak mau mengacuhkan. Karena semua hukum datang dari  Allah Swt.  dan tiap-tiap sebab diikuti oleh akibatnya yang wajar menurut kehendak  Alah Swt.   maka pencapan hati dan telinga orang-orang kafir itu  dikaitkan (dinisbahkan)  kepada  Allah Swt..

Lebih Buruk Daripada “Binatang ternak”

      Jadi, kembali kepada firman-Nya mengenai perumpamaan penggembala dengan  binatang ternak gembalaannya:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka. Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172).
        Para rasul Allah – terutama Nabi Besar Muhammad saw.   --  menyampaikan Amanat Allah Swt. kepada   umat manusia, tetapi  mereka yang mendustakan dan menentang para rasul Allah   -- yang merupakan Penyeru dari Allah Swt.  --    mereka itu mendengar suara beliau saw. tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.
        Jadi, kata-kata (seruan) Nabi Besar Muhammad saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya. Dengan demikian benarlah pernyataan keras Allah Swt. berikut ini mengenai mereka yang indra-indra ruhaninya lumpuh tersebut:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
 Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan manusia, لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا  --   mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya,    وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا  -- dan mereka  memiliki mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya,  وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا  -- dan mereka memiliki telinga  tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  --  mereka itu  seperti binatang ternak,  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ -- bahkan mereka lebih sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ   -- mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
    Huruf lam (lā) di awal ayat ini adalah  lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin.
  Kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar suatu kaum. Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka atau untuk menjadi penghuni neraka jahannam, firman-Nya:
مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا ﴿﴾  وَ اِذَاۤ  اَرَدۡنَاۤ  اَنۡ نُّہۡلِکَ قَرۡیَۃً  اَمَرۡنَا مُتۡرَفِیۡہَا فَفَسَقُوۡا فِیۡہَا فَحَقَّ عَلَیۡہَا الۡقَوۡلُ  فَدَمَّرۡنٰہَا  تَدۡمِیۡرًا ﴿﴾  وَ کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا مِنَ الۡقُرُوۡنِ مِنۡۢ  بَعۡدِ نُوۡحٍ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ بِذُنُوۡبِ عِبَادِہٖ خَبِیۡرًۢا  بَصِیۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya,  dan barangsiapa sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan atas dirinya,  dan  tidak ada pemikul beban akan memikul beban orang lain. وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا  --     Dan  Kami tidak pernah menimpakan azab  hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul. وَ اِذَاۤ  اَرَدۡنَاۤ  اَنۡ نُّہۡلِکَ قَرۡیَۃً  اَمَرۡنَا مُتۡرَفِیۡہَا فَفَسَقُوۡا فِیۡہَا  --  Dan  apabila Kami   hendak membinasakan suatu kota,  Kami terlebih dahulu memerintahkan warganya yang hidup mewah untuk menempuh kehidupan yang saleh, tetapi mereka durhaka di dalamnya,  فَحَقَّ عَلَیۡہَا الۡقَوۡلُ  فَدَمَّرۡنٰہَا  تَدۡمِیۡرًا -- maka berkenaan dengan kota itu firman Kami menjadi genap, فَدَمَّرۡنٰہَا  تَدۡمِیۡرًا  --  lalu Kami menghancur-leburkannya. وَ کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا مِنَ الۡقُرُوۡنِ مِنۡۢ  بَعۡدِ نُوۡحٍ  --  dan  betapa banyaknya generasi yang telah Kami binasakan sesudah Nuh, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ بِذُنُوۡبِ عِبَادِہٖ خَبِیۡرًۢا  بَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau Maha Mengetahui,  Maha Melihat dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (Bani Israil [17]:16-18).
       Dengan demikian jelaslah bahwa terjadinya berbagai  bentuk azab Ilahi  bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan terbit dan timbul dari dalam diri manusia sendiri. Pada hakikatnya siksaan-siksaan neraka dan ganjaran-ganjaran surga akan hanya merupakan sekian banyak perwujudan dan penjelmaan perbuatan manusia — baik atau buruk — yang pernah dilakukannya dalam kehidupan ini.
   Jadi, dalam kehidupan ini manusia menjadi perancang nasibnya sendiri, dan seolah-olah pada kehidupan yang akan datang (di akhirat) ia sendiri akan menjadi pengganjar dan penghukum terhadap dirinya sendiri, firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ لَیۡسَ  بِظَلَّامٍ   لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾  کَدَاۡبِ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ  کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ  بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Azab itu  disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan kamu dan  Allah sesungguhnya sekali-kali tidak zalim  terhadap hamba-hamba-Nya  Seperti keadaan kaum Fir-’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka kafir terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, sesungguhnya Allah Mahakuat,  Maha keras dalam menghukum.  ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ   --   Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya  Allah tidak   pernah  mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ   --   hingga mereka mengubah ke-adaan diri mereka sendiri,  وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ   --   dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:52-54). Lihat pula QS.13:12.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

                                                             ***
Pajajaran Anyar, 1 November    2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar